Dee's Coaching Clinic Solo

10.49.00

Buat saya, namanya itu rejeki bentuknya bisa apa aja. Termasuk mendapat undangan untuk menghadiri Dee's Coaching Clinic di Solo tanpa harus bersusah payah ikutan lomba review buku "Gelombang"nya Dewi "Dee" Lestari. Alhamdulillah, saya termasuk diantara 3 blogger yang diberi kesempatan untuk meliput acara tersebut.


Acara yang digelar hari minggu tanggal 15 Maret 2015 di hotel Sunan ini, sesuai undangan yang dikirim lewat email akan dimulai pukul 08.00 WIB. Alhamdulillah acaranya molor. Alhamdulillah??! Iya, soalnya saya baru sampai di stasiun Purwosari, Solo jam 08.30. Sempat tergopoh-gopoh menuju lokasi acara. Pukul 09.00 kurang sedikit saya baru sampai di lokasi. Celingak-celinguk kirain udah telat, ternyata acara belum dimulai. Lega... nggak ketinggalan pelajaran. Hahaha


Acara yang berlangsung selama 2 jam ini sengaja disetting model tanya jawab untuk menampung semua pertanyaan peserta. Dan, animo peserta untuk bertanya seputar penulisan cukup tinggi. Waktu yang disediakan panitia terasa kurang.


Kesan yang saya tangkap dari seorang Dewi Dee, dia orangnya terbuka, simple, dan humble. Saya betul-betul terkesan dengan artis sekaligus penulis yang satu ini. Meski Dewi ''Dee" Lestari seorang penulis dan artis terkenal, saya tak merasa ada jarak antara dia dan kami para peserta Dee's Coaching Clinic yang berasal dari berbagai latar belakang yang beragam. Mulai dari penulis novel yang telah menerbitkan beberapa novel, wartawan, blogger ataupun pecinta garis keras karya-karya Dee yang memenangkan lomba review buku Gelombang.


dewi

Dee Si Pengkhayal Ulung


Dee kecil memiliki mimpi buku yang ia tulis berada di jajaran rak-rak toko buku. Pernah suatu ketika ia membeli buku gambar yang ia penuhi dengan tulisan lalu ia bayangkan bukunya itu berada diantara buku-buku di toko buku.


Dee juga mengungkapkan jika ia adalah penulis diary yang berdedikasi tinggi. Sejak kecil, ia tak pernah melewatkan hari yang ia lalui tanpa menulis diary. Karena dedikasinya, buku diary yang ia miliki hingga 1 peti. Bahkan Dee kecil berimajinasi jika suatu saat Indonesia rata dengan tanah, seorang petualang akan menemukan tumpukan diary berisi banyak cerita yang ia tulis dan simpan didalam peti tersebut.


Jadi, menjadi penulis adalah impian Dee sejak kecil. Dalam buku Filosofi Kopi, Dee mengungkapkan jika menulis sesungguhnya merupakan karier panjang yang berjalan pararel dengan karier musiknya. Jika karier musik lebih dulu muncul, itu karena ia menemukan jalannya terlebih dahulu. Sementara karier menulisnya berjalan diam-diam, dibawah tanah, seperti wombat yang terus menggali tanah.


Dee sekarang adalah Dee yang pernah gagal. Banyak cerita yang tak selesai, cerpen yang terlalu panjang hingga tak bisa dikirim ke majalah, novel yang terlalu pendek hingga tak bisa diikutkan dalam lomba menulis novel, puisi setengah prosa ataupun sebaliknya, hingga tulisan-tulisan yang tak bisa dikategorikan hingga akhirnya didiamkan.


Dalam coaching clinic kemarin, Dee mengungkapkan jika menulis itu butuh ketekunan yang senantiasa dipelihara, dibangun dan dikembangkan. Tak cukup hanya modal bakat dan kemampuan story telling saja. Buat Dee, jam terbang itu bukan terletak pada berapa buku yang telah diterbitkan ataupun prestasi yang telah ia torehkan, melainkan pada berapa lama seorang penulis menulis dan berlatih.


Diawal memulai karier menulisnya, Dee menulis secara otodidak melalui cara trial and eror. Dee mengungkapkan hingga buku ketiganya, ia masih menulis berdasarkan intuisi, insting, belajar dan gagal. Satu pesan Dee, tak perlu takut dengan tulisan yang jelek. Draf pertama bukan final, tapi tanpa draft kita tidak akan bisa menyelesaikan sebuah tulisan. Tulisan buruk masih bisa diperbaiki, sementara apa yang bisa diperbaiki dari halaman yang kosong.



photo.phpBerdamai dengan deadline


Belum ada ide.. lagi nggak mood.. kena writer block nih. Itu adalah beberapa alasan seorang penulis berhenti menulis.


Dee mengungkapkan, seorang penulis profesional tidak menjadikan hal tersebut sebagai alasan. Yang sebenarnya terjadi bukan belum ada ide, tetapi kurang peka menangkap ide. Bukan writer block tapi kekurangan bahan untuk menulis. Sementara mood, please deh, kalau mau jadi penulis profesional harusnya mood yang kita kendalikan, bukan sebaliknya.


Rahasia Dee konsisten menulis adalah deadline! Dee membuat target halaman untuk novel yang ingin ia kerjakan. Dari sana, Dee lalu menghitung mundur berapa halaman yang harus ia selesaikan setiap harinya. Dalam schedule menulis yang ia buat, Dee juga menyisipkan waktu untuk keluar dari rutinitas menulisnya.



Tips & Trik menulis a la Dee


Dee membagi struktur cerita dalam novelnya menjadi 3 babak. Pertama, pengenalan tokoh dan menyisipkan bibit konflik yang akan diolah pada babak kedua. Nah, untuk pengolahan konflik di babak kedua, Dee membagi babak kedua menjadi 2A dan 2B. Dee akan lebih banyak mengeksplorasi cerita di babak ini. Sementara di babak ketiga adalah babak penyelesaian konflik. Babak ini singkat saja. Jika terlalu panjang cerita akan terkesan bertele-tele. Komposisinya, babak 1 30%, babak 2A 30%, babak 2B 30% dan babak 3 10%.


Lalu, apakah mungkin ada 2 klimaks dalam satu cerita? Menurut Dee, hanya ada 1 klimaks dalam sebuah cerita, sebab cerita dalam novel ataupun cerpen pedomannya sama dengan dengan orang menceritakan sebuah peristiwa. Kurvanya akan naik sampai puncak, lalu turun.


Bicara setting, ada beberapa riset yang dilakukan Dee untuk memperkuat setting dalam cerita yang ia buat agar terlihat real. Menurut Dee, idealnya penulis melakukan riset lokasi dengan mengunjungi tempat-tempat yang ia jadikan setting dalam cerita. Itu sih idealnya, ya. Kadang lokasi yang dipakai tak terjangkau oleh penulis. Bisa karena lokasinya yang sangat jauh, ataupun kendala budget. Nah, penulis bisa menggunakan cara lain yakni riset pustaka, cyber dan wawancara. Untuk riset cyber, tak jarang Dee membuka 50 laman untuk memastikan kevalidan informasi yang ia gunakan. Sementara untuk riset wawancara, Dee menekankan untuk mencatat apa saja yang ingin ditanyakan pada narasumber sampai sedetil mungkin. Jangan terjebak pada peristiwa yang diceritakan narasumber, karena bisa saja itu tidak dibutuhkan.




Draf pertama bukan final, tapi tanpa draft kita tidak akan bisa menyelesaikan sebuah tulisan. Tulisan buruk masih bisa diperbaiki, sementara apa yang bisa diperbaiki dari halaman yang kosong. ~ Dewi "Dee" Lestari


Untuk urusan tokoh, Dee selalu memberi nama tokoh-tokohnya dengan nama-nama yang unik yang memiliki makna literal. Konon kata Dee, ia butuh waktu lama untuk menamai tokoh-tokoh dalam ceritanya. Nggak mau asal comot. Dee juga tidak pernah membuat tokoh yang memiliki karakter 100% hitam ataupun sebaliknya, 100% putih. Tokoh yang ia buat memiliki komposisi 90% baik dan 10% buruk. Untuk mendalami karakter tokoh biasanya Dee menggunakan bank data yang ia peroleh dari "kamera penulis" yang ia pasang selama ia terjaga. Seorang penulis adalah seorang pengamat yang baik,"begitu ungkap Dee. Cara lain yang bisa dilakukan penulis adalah dengan mewawancarai target yang akan menjadi sosok dalam cerita.


Novel-novel karya Dee identik dengan diksi yang dalam dan kuat, ternyata hal tersebut tak lepas dari kemampuan Dee dalam membuat lirik lagu. Begitu juga dengan tulisannya yang khas, ia mengatakan jika hal itu merupakan hasil dari proses panjang yang ia lalui. Dee berpesan, teruslah menulis maka karakter tulisanmu akan muncul dengan sendirinya.

You Might Also Like

57 komentar

  1. Buku diary sampai satu peti?? Wowww... banyak bangeeeeet. Memang dia pantas mendapatkan apa yang kita lihat sekarang ya mbak?
    Aku iriiiiii dengan kegiatan ini, kenapa Banda Aceh nggak termasuk salah satu kota yang dikunjunginya, hiks....

    BalasHapus
  2. teruslah menulis maka karakter tulisanmu akan muncul dengan sendirinya. ---> seperti pesan mak Pon Mira Sahid

    BalasHapus
  3. Wah..lengkap mak..masalah klimaks tu aku sakjane bingung. Asline boleh ga ya?

    BalasHapus
  4. Aku punya buku karya beliau "Rectoverso" dan sempat nonton filmnya juga... keren deh tulisan2 mbak "Dee"...

    BalasHapus
  5. Loh mak? Blognya banyak ya?
    Barusan aku blog walking Kayanya bukan ke blog ini.
    Anyway makasih sharingnya event bersama mbak dee :)

    BalasHapus
  6. Bukan e nggak boleh tapi kalau pakai 2 klimaks menyalahi kaidah bercertita mak

    BalasHapus
  7. Nggak banyak, cuma 2 kok hehehe

    BalasHapus
  8. Akuuuu pengen ketemu sama Dee Mba Ika, pokoknya aku pengen ketemuuuu hahaha *ngefans berat*

    BalasHapus
  9. Asyik kyaknya y mak, secara dee gt, jd pengeeennn,
    Tfs yavmak ika :)

    BalasHapus
  10. asik ya mba bisa nyerap ilmu langsung dr ahlinya makasih sharingnya

    BalasHapus
  11. wah, beruntung sekali mbak ternyata kemarin bisa hadir di acara itu.
    saya cuma mengikuti live tweet nya saja

    BalasHapus
  12. pulang dari acara ini punya banyak ilmu ya mak... makasih sharing nya ya... :)

    BalasHapus
  13. Menulis sudah dirintis dari kecil ..? Jelas persiapannya sudah matang sekali ... terasa bedanya dengan diriku yang menulisd hanya sebagai 'obat penat dikala lelah sepulang kerja ... :P

    BalasHapus
  14. Wah banyak pelajaran yang bisa dipetik dari seorang Mbak Dee ya Mbak... :)

    BalasHapus
  15. seneng ya bisa bertemu dengan Dee...kira2 Surabaya ada nggak ya acara macam begini??hehehe

    BalasHapus
  16. Ilmu baru lagi nih :' hihihi

    Yah, Dee lestari memang penulis profesional banget :' keren-keren yah karyanya :'

    BalasHapus
  17. Waaaaahhh, acaranya seru banget mbak.
    Berasa ikut "kecipratan" ilmunya nih ^_^

    BalasHapus
  18. Waahh terimakasih Mba reviewnya, ajdi kebagian nih ilmunya.
    Sukak banget sama kalimat ini, "Tulisan buruk masih bisa diperbaiki, sementara apa yang bisa diperbaiki dari halaman yang kosong" ~ Dewi “Dee” Lestari jadi makin mau nulis terus. :)

    BalasHapus
  19. Buat DL dengan diri sendiri ini yang tersulit. Makasih sharingnya Mbak :)

    BalasHapus
  20. waaa makasih liputannya mak ika.. bermanfaat nii.. saya juga seneng sama buku diary, tempat curhat paling aman *asal gak kebaca mama* hahahaha

    BalasHapus
  21. Menjadi besar adalah dengan berdiri di pundak orang-orang besar. Inilah yang aku niatkan untuk terus menggali ilmu-ilmu dari mereka. Tks

    BalasHapus
  22. Mba Ika terima kasih udah berbagi tulisannya, jadi mupeng nih bisa denger wejangan2 dari seorang Dee.

    BalasHapus
  23. memang benar kalau ingin sukses / bisa menyelesaikan apa yang kita lakukan. Kita harus punya deadline atau target yang harus dipatuhi. Kisah yang inspiratif

    BalasHapus
  24. Ngelihat foto mbak Ety waktu itu yang dapt kesempatan lunch bareng Dee bikin iri.. Hehehiks

    Kalau susah berimajinasi, apa ia bisa nulis fiksi..?

    BalasHapus
  25. Nulis di blog akhir-akhir ini jadi semangat tapi hati belum ada ketertarikan untuk menjadi penulis, hehe

    BalasHapus
  26. coaching clinic dah mirip sepakbola rasanya mbak begitu hebat ya kepopuleran Dee ini dalam menulis

    BalasHapus
  27. Baru tau kalo dee ini darikecil sudah menghayal mencita2kan jadi penulis

    BalasHapus
  28. kalau aku mau bisa menulis haru sjadi penghayal juga ya mbak

    BalasHapus
  29. Rinci sekali mba ika! Setuju banget, Dee humble dan pintar menyampaikan ilmunya. Salam kenal mba, saya kemarin ikut Coaching Clinic di Solo juga, tapi pulang duluan tanpa sempat foto bersama, mengejar kereta hehehe.

    BalasHapus
  30. Draft bs diperbaiki, tp halaman kosong? Menginspirasi skli :D

    BalasHapus
  31. wah keren, saya pengen juga buat buku tapi mau mulainya berat banget

    BalasHapus
  32. Saya termasuk penikmat tulisan Dewi Dee Lestari... Dee keren sekali.. berbagi ilmu lewat coaching clinic.. pastinya, event seperti ini menginspirasi bnyk orang...

    Beruntung mbak Ika terpilih utk meliput... sukses ya...

    BalasHapus
  33. menghayal ternyata nggak selamanya berkonotasi negatif ya, mbak, justru bisa dijadikan bahan but menulis

    BalasHapus
  34. Alhamdulillah ya maak, rejeki bingiiits...dakuw juga grogi banget pas di bus, takut telat..untungnya dee telat hihihihi

    BalasHapus
  35. saya bukan penggemar karyanya dee, tp tetep aja pingin ikut acaranya...
    seru ya, bermanfaat bgt, apalagi buat saya yg msh suka mood2an nulis, hiks :D

    BalasHapus
  36. Aku pengen banget ketemu sama Mbak Dee, Mbaaaak.. :'

    BalasHapus
  37. Selamat Mak... dapat kesempatan untuk meliput acara keren tersebut.
    Meliput sekaligus menimba ilmu ya...
    Wis pokoke top deh...

    BalasHapus
  38. artikel bagus
    enak untuk dibaca
    dan juga Bermanfaat

    BalasHapus
  39. salam kenal mas, ijin berkunjung. makasih

    BalasHapus
  40. Mas? Duh, emang tampangku kayak mas-mas ya :P

    BalasHapus
  41. Perkenalkan, saya dari tim kumpulbagi. Saya ingin tau, apakah kiranya anda berencana untuk mengoleksi files menggunakan hosting yang baru?
    Jika ya, silahkan kunjungi website ini www.kumpulbagi.com untuk info selengkapnya.

    Oh ya, di sana anda bisa dengan bebas mendowload music, foto-foto, video dalam jumlah dan waktu yang tidak terbatas, setelah registrasi terlebih dahulu. Gratis :)

    BalasHapus
  42. wah cocok nih kalau di solo bisa banyak jajanan

    BalasHapus
  43. aku cinta berat dengan Dee...buku-bukunya luar biasa..beyond words! Asyik bangeeet bisa ikutan coaching mba..langsung dengan beliau :)

    BalasHapus
  44. Duh, aku juga penyuka gaya diksi Dee... Makasih reportasenya, Mak. Jleb banget itu tips jadi penulis profesionalnya... *Ingetin diri sendiri

    BalasHapus
  45. saya lagi tahap juga mau buat buku

    BalasHapus
  46. Jadi ikut menikmati keberuntungan Jeng Ika melalui postingan ini. Filosofi Kopi yang bertanda tangan asli Dee ya Jeng.

    BalasHapus
  47. wah emang rejeki tidak kemana mbak,selamat ya mbak..,bisa di ambil ilmunya th mbak,hihihihihi

    BalasHapus
  48. makasih atas info nya, sangat bermanfaat buat saya

    BalasHapus
  49. terimakasih mba atas ilmu nya , saya suka berkunjung ke blog mba, tulisan nya asik.

    BalasHapus
  50. Terimakasih bu ika, telah berbagi pengalamannya.
    Sukses buat bu ika.

    BalasHapus
  51. itu memang suka membaca atau cuma membeli aja buat koleksi mbak,
    keren lengkap makkkkk buanyak banget tuh

    BalasHapus
  52. saya juga penggemarnya dee loh mba, pasti seru kalo saya juga bisa disana.

    BalasHapus
  53. saya dulu pernah menjadi pengkhayal ulung yang berpikir kalau suatu saat saya juga bisa memasarkan buku saya di rak toko buku terkenal, tapi sayangnya saya kurang tekun untuk terus berlatih menulis

    BalasHapus
  54. bagus nih mba sharingnya, makasih ya mba..

    BalasHapus