Mendidik Anak Cerdas Finansial

00.45.00

Reta, sepupu saya yang masih melajang di usianya yang telah menginjak kepala tiga ini kerap kali mengeluhkan gajinya yang tak cukup hingga akhir bulan. Padahal ia bekerja di sebuah perusahaan Multinasional yang berkantor di kawasan perkantoran elit di Jakarta. Gaji yang ia terima sebagai Kepala Bagian pun tak bisa dibilang sedikit. Paling tidak, 20 juta ia kantongi setiap bulannya.


Pergaulan Reta dengan kalangan menengah atas menyebabkan Reta terseret dalam pola konsumsi produk-produk branded yang menggerus gajinya dengan cepat. Sebetulnya tak masalah Reta menyukai produk bermerk jika saja ia pandai mengelola keuangannya. Tahu mana kebutuhan, mana keinginana. Acap kali Reta membeli barang hanya karena sedang tren.


Perencana Keuangan Ahmad Gozali dalam buku RICH KIDS yang ditulis bersama Irawati Istadi mengungkapkan bahwa kecerdasan finansial seseorang tidak selalu berbanding lurus dengan kecerdasan intelektual yang dimilikinya. Mereka yang berpendidikan tinggi tidak selalu pandai mengelola keuangan. Pun sebaliknya, belum tentu mereka yang hanya memahami operasi sederhana tambah-kurang-kali-bagi lantas tidak bisa mengelola keuangan.


Dan, pada kenyataannya tak sedikit pengusaha sukses yang tidak sempat mengenyam pendidikan tinggi. Nyoman Sumerta contohnya. Pemilik resto Bebek Tepi Sawah, restoran lokal Bali dengan menu bebek bertaraf eksklusif ini membangun ‘kerajaan’ kulinernya dari titik paling minus. Terlahir dari keluarga kecil dan sederhana, Nyoman tak punya modal apalagi kekayaan yang melimpah. Ia pun hanyalah lulusan Sekolah Menengah Atas (SMA). Dengan kerja keras dan keuletannya sejak remaja, resto milik Nyoman memiliki omset mencapai ratusan juta setiap bulan dengan gerai-gerai yang tak hanya berada di Bali, juga di luar daerah. Nyoman Sumerta kini menjadi salah satu  pengusaha kuliner sukses di Bali.


Pentingnya edukasi keuangan sejak dini


Indonesia merupakan negara yang memiliki jumlah penduduk terbanyak di Asia Tenggara. Sayangnya, tingkat literasi (pengetahuan) keuangan penduduknya tergolong masih rendah dibandingkan negara anggota ASEAN lainnya. Menurut Deputi Komisioner Edukasi dan Perlindungan Konsumen Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Sri Rahayu Widodo, indeks literasi keuangan di Indonesia hanyalah 21,7 persen. Masih kalah dibandingkan dengan Filipina sudah di atas 30 persen, apalagi Malaysia yang telah berada di kisaran 60-70 persen.


Rendahnya tingkat literasi ini disebabkan kurang imbangnya tingkat pertumbuhan industri jasa keuangan dengan kesadaran masyarakat terhadap produk keuangan. Padahal hal tersebut akan merugikan masyarakat sendiri. Sebab, masyarakat akan mudah tertipu karena tidak memahami produk-produk keuangan yang terus berkembang. Masih banyak masyarakat yang tertipu dengan investasi bodong yang menawarkan hasil yang fantastis menjadi gambaran nyata banyak masyarakat yang belum melek finansial. Fenomena kesadaran masyarakat Indonesia terhadap pengelolaan keuangan yang masih rendah membuat edukasi keuangan sejak dini menjadi sangat penting.


Peran orang tua


Edukasi finansial sebetulnya tak lepas dari peran orang tua. Sayangnya, sebagian besar orang tua berpendapat tak perlu cepat mengenalkan uang pada anak. Masih banyak orang tua yang menganggap tabu membicarakan soal uang dengan anak karena takut membebani anak. Berdasarkan hasil penelitian dari National CPA Financial Literacy Commission, 30% orang tua mengaku mereka tidak pernah atau jarang membicarakan perihal uang bersama anak-anaknya. Hanya 13% orang tua membicarakan masalah keuangan sehari-hari. Namun, 67% orang tua merasa mereka punya ilmu tentang keuangan sehingga bisa mengajari anak-anaknya tentang menabung.


Padahal kecerdasan finansial sejatinya termasuk keterampilan yang menjadi inti kehidupan. Di masa datang, anak-anak akan tumbuh dalam masyarakat modern yang semakin komplek yang membutuhkan pemahaman finansial yang cukup tentang bagaimana mengelola uang, menghasilkan uang, membelanjakan uang, investasi, dan lain sebagainya. Tak hanya itu, konsep-konsep keuangan yang dikenalkan sejak balita akan tertancap dalam otak bawah sadar anak. Orang tua tinggal mengembangkan dan memperkaya pembelajaran yang disesuaikan dengan perkembangan usianya.


Ada banyak cara yang bisa dilakukan orang tua untuk membangun budaya melek finansial pada anak. Cara mengajarkan uang pada anak dipengaruhi banyak hal, diantaranya usia anak, karakter pribadi anak dan nilai-nilai moral yang diterapkan dalam keluarga. Berikut tahapan usia memperkenalkan uang pada anak;




  • Balita. Balita merupakan fase pertama anak belajar mengenai uang. Anak belum mengerti soal uang. Metode yang bisa digunakan orang tua yaitu dengan story telling. Bacakan buku atau ceritakan pada anak apa itu uang dan pentingnya menabung sebelum tidur. Kenalkan pula pada anak konsep bersyukur, bertanggungjawab, hingga tolong menolong di lingkungan.

  • Usia 5-8 tahun. Dalam rentang usia ini si kecil sudah mengenal angka dan uang. Proses edukasi keuangan bisa dimulai dengan memberikan uang saku pada anak. Pada fase ini, orang tua juga mulai mengenalkan anak untuk menabung. Selain itu, fungsi uang juga bisa diajarkan lebih luas lagi, yakni Berbelanja Beramal Menabung (BBM), hingga anak memahami bagaimana mendapatkan sesuatu yang disukainya dengan uang mereka sendiri, menabung sekaligus beramal.

  • Usia 9-12 tahun. Memasuki fase remaja, anak sudah mengerti uang dan memiliki banyak keinginan. Selain mengatur uang saku, pendidikan finansial yang diberikan orang tua yakni dengan mengajarkan anak membuat laporan keuangan sederhana dengan konsep BBM yang telah diajarkan.

  • Usia 13-19 tahun. Pada rentang usia ini anak sudah memasuki bangku SMP dan SMA. Di tahap ini, anak sudah bisa diberi kepercayaan untuk mengelola uang saku mingguan atau bulanan termasuk didalamnya uang untuk keperluan pribadinya seperti pulsa, internet, alat-alat tulis dan lain sebagainya. Di tahap ini orang tua juga harus mulai memberi arahan mengenai tujuan menabung dengan menunda pembelian sebagai pondasi pengetahuan keuangan di masa depan. Anak juga sudah bisa diajarkan cara menghasilkan uang, misalnya memberi kesempatan pada anak untuk berbisnis kecil-kecilan sesuai minatnya.


Peran Sekolah


Sekolah memainkan peran penting dalam membesarkan anak setelah lingkungan keluarga. Sekolah dan guru juga sangat mempengaruhi dan membentuk perilaku anak dalam banyak hal, termasuk pandangan anak terhadap keuangan. Sebab, waktu yang dihabiskan anak di sekolah hampir sama banyaknya dengan waktu yang mereka habiskan di rumah. Bahkan di sekolah yang menerapkan full day school, anak menghabiskan waktu lebih lama di sekolah.




[caption id="attachment_14291" align="aligncenter" width="600"]market-day Market day di SDIT LHI doc. pribadi[/caption]

Beberapa sekolah dasar (SD) telah memperkenalkan edukasi keuangan pada siswa melalui kegiatan market day. Seperti di sekolah anak saya, market day diadakan setiap hari jum'at. Dari pengalaman anak saya mengikuti market day, kegiatan ini tak hanya mengasah kemampuan mengelola keuangan anak, juga sarana aplikasi ilmu pengetahuan, mengasah kreatifitas anak, leadership, mengajarkan anak menyelesaikan masalah dan mengasah komunikasi anak.


Untuk jenjang yang lebih tinggi setingkat sekolah menengah atas, sekolah bisa menjalin kerjasama dengan perusahaan penyedia layanan jasa keuangan seperti PT Sun Life Financial Indonesia dalam meningkatkan dan mengembangkan ketrampilan kewirausahaan siswa.


Tercatat, pada tahun 2012 dan 2013 Sun Life Finansial bekerjasama dengan CARE for the Nation, membuat sebuah program komunitas yang bertujuan untuk membantu 40.000 siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di Bali agar memiliki keterampilan membangun usaha mikro. Masih bekerjasama dengan CARE for the Nation, Sun Life Finansial meluncurkan program “Champion Teens Care for the Nation 2013” yang melibatkan 1.000 siswa di Lampung.


Investasi aman & terpercaya


Faktor penting dalam mengajarkan anak melek keuangan adalah keteladanan orang tua. Kecerdasan dan ketrampilan finansial anak memerlukan contoh nyata dari kedua orang tuanya. Selain menabung, orang tua juga bisa memberikan contoh pada anak dengan berinvestasi di perusahaan penyedia layanan jasa keuangan.


Ada banyak perusahaan penyedia layanan jasa keuangan yang menawarkan produk investasi dengan hasil yang sangat menjanjikan yang bisa dipilih. Yang perlu diingat sebelum memutuskan memilih perusahaan jasa keuangan untuk berinvestasi, pilihlah perusahaan yang memiliki track record yang bagus. Contohnya Sun Life Finansial. Perusahaan yang telah berdiri sejak 1865 ini telah melayani jutaan konsumen dari seluruh dunia. Kantor cabangnya sudah tersebar di beberapa negara diantaranya Amerika Serikat, Canada, Bermuda, Inggris, Irlandia, India, China, Hongkong, Filipina, Vietnam, Malaysia, dan Indonesia.


Sun Life Finansial juga telah mendapatkan berbagai penghargaan baik nasional maupun internasional. Tahun 2014 ini saja Sun Life Finansial telah mendapatkan 4 penghargaan diantaranya, peringkat 1 The Best Risk Management Islamic Life Insurance dengan aset di bawah Rp 150 miliar dari Karim Consulting Indonesia serta peringkat 3 The Profitable Insurance dengan aset di bawah Rp 150 miliar dari Karim Consulting Indonesia. Email Pusat Layanan Nasabah sli_care@sunlife.com meraih predikat “Excellent” untuk kategori asuransi jiwa dan kesehatan dari Carre-CSL dan majalah Service Excellence. Sementara Contact Center Service Excellence Award (CCSEA) mendapatkan predikat “Excellent” untuk kategori industri asuransi dari Carre-CSL dan majalah Service Excellence.


Tak hanya memiliki pengalaman yang tak diragukan lagi, Sun Life Finansial juga memiliki customer service yang memberikan pelayanan selama 24 jam dengan baik. Layanan prima Sun Life Finansial tak perlu diragukan lagi. Terbukti Sun Life Finansial mendapatkan penghargaan dari Carre-CSL dan majalah Service Excellence sebagai Contact Center Service Excellence Award (CCSEA) untuk kategori asuransi jiwa dan kesehatan pada tahun 2013 dengan skor CCSEI sebesar 85.438 serta nilai excellence.




[caption id="attachment_14199" align="aligncenter" width="683"]Melek finansial sejak dini doc. www.sunlife.co.id Melek finansial sejak dini doc. www.sunlife.co.id[/caption]

Kesuksesan edukasi finansial pada anak tak lepas dari peran orang tua dalam memahami tiap fase usia anak dalam memahami finansial, juga teladan orang tua dalam mengelola keuangan. Memilih investasi yang aman dan terpercaya mutlak diperlukan agar tak menyesal dikemudian hari.


Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba blog Sun Anugerah Caraka 2014 kategori Blogger


Referensi:

http://www.sunlife.co.id
http://www.republika.co.id
http://m.neraca.co.id/
http://the-mni.com/
http://www.readersdigest.co.id
http://pondokummi.blogspot.com

 

You Might Also Like

27 komentar

  1. waah... sudah lama juga SUNLife berdiri ya...
    Pengen ikutan, tapi waktunya udah mepet :)

    BalasHapus
  2. Diperpanjang sampai tanggal 25 Oktober mbak. Yuk, ikutan ^^

    BalasHapus
  3. Asyiikk...diperpanjang ya mbak. Moga2 bisa ikutan ah.
    Goodluck ngonteznya mbak :)

    BalasHapus
  4. arifah wulansari30 September 2014 01.04

    Ulasannya menarik mak..btw SDIT LHI keren tenan udah ngajari melek finansial sejak dini. Jadi makin semangat nabung buat nyekolahin Tayo disana. Goodluck ya mak ika.semoga juara:)

    BalasHapus
  5. Aaaamiiin... makasih doanya Mak. Iya, nabung dari sekarang mak ^^

    BalasHapus
  6. Yuk, ikutan mbak Muna. Sapa tahu beruntung

    BalasHapus
  7. Faktor penting dalam mengajarkan anak melek keuangan adalah keteladanan orang tua. ---> AGREE banget dengan ini mak. Memang ortu itu jadi sumber teladan buat anak2. Good luck ya mak.

    BalasHapus
  8. bbm:belanja beramal menabung..setuju....
    jadi makin mupeng sm SDIT LHI, *gagal fokus

    BalasHapus
  9. setuju banget mbak... sejak dini mereka harus sudah diajari pentingnya mengelola keuangan
    #biar jajannya jangan banyak2 he...

    BalasHapus
  10. huwaaa, bener banget ya mak, melek yuk kita semua melek finansial :) syukurlah ada sun life yang membantu kita agar melek finansial ya mak... goodluck mak

    BalasHapus
  11. Tulisannya bagus, Mak. Komplit ada info ttg usia anak lalu pelajaran finansial apa yg cespleng. Sukaak. Good luck ya Mak Ika ^_^

    BalasHapus
  12. Betul maak, pelajaran finansial sejak dini penting ya...klo beneran ditunda, aku ikutaan juga.

    BalasHapus
  13. Anak cerdas finansial adalah cerminan orang tua yang sukses dalam mengelola finansial, termasuk memberikan contoh.


    G'luck ya Mbak.
    Mantabs euy

    BalasHapus
  14. sekolah si abang keren ya mak, sukses ngontesnya : )

    BalasHapus
  15. Bagus ulasan artikelnya mak.. Sukses ya :)

    BalasHapus
  16. tulisannya berbobat bgt mbak ika

    BalasHapus
  17. Sebuah referensi untuk budgeting nih... saya juga termasuk yang tidak pandai memilih dan memilah mana yang seharusnya saya keluarkan dan masih bingung menggunakan pemasukan..
    good luck anyway! :)

    BalasHapus
  18. Hmmm..., gaji 20 juta pun bila tak dimenej dengan baik bisa kedodoran juga ya, Mbak..
    Sun Life ya, Mbak, boleh juga neh...

    BalasHapus
  19. Good luck but lombanya ya mbak

    BalasHapus
  20. Mangstaabbbbb.....ulasanmu Mbak..

    Gutlak... :)

    BalasHapus
  21. setuju, rumah dan orangtua adalah tempat anak menyerap semua informasi penting tentang hidup, termasuk masalah keuangan.
    sukses di lombanya Mak.

    BalasHapus
  22. Keren..gut lak ya mak ika. Semoga masuk nominasi...amin..

    BalasHapus
  23. Yups bener banget tuh mbak, Kita harus mendidik anak cerdas finansial dari kecil

    BalasHapus
  24. urusan finansial memang harus diajarkan sejak dini ya, mak... kalo gak bisa2 seperti saya, gak pernah bisa pegang uang karena tidak dibiasakan sejak kecil...

    BalasHapus
  25. ada yang bilang, gaya hidup kaya malah membuat anda miskin :D
    sukse lombanya ya mbak

    BalasHapus
  26. Nah ini yang aku suka dari sekolah Fayra, ada entrepreneurship day dan ada juga inventory day.

    Anak-anak diajarkan cara berdagang dan menciptakan sesuatu sejak kelas 1 SD.

    Semoga menjadi bekal dan anak tambah cerdas finansial

    BalasHapus