Interlude, Selalu Ada Jeda untuk Bahagia

17.01.00

Interlude

Judul : Interlude


Penulis : Windry Ramadhina


Penerbit : Gagas Media


Terbit : Cetakan Pertam, 2014


Tebal : 372 halaman


ISBN : 9789797807221


Harga : Rp.58.000


***


Hanna Sjahrir, gadis yang selalu merindukan laut ini mengalami trauma hebat pasca pemerkosaan yang dialaminya. Kejadian itu membuat Hanna menjadi gadis yang rapuh, lemah dan sentuhan fisik seperti apapun oleh laki-laki (meski tak sengaja) selalu disikapi dengan reaksi yang berlebihan. Perkenalan Hanna dengan Kai di taman kecil yang berada di atap apartemennya membuat Hanna sedikit demi sedikit berubah.


Kai Risjad, lahir di tengah-tengah keluarga mapan dan berpendidikan tak menjamin kehidupannya bahagia. Ayahnya seorang dokter bedah ternama, sementara ibunya adalah pengacara kondang. Tumbuh dalam keluarga yang tak harmonis membuat Kai merasa hidupnya tak ada artinya.


Kai yang piawai memainkan gitar ini sejatinya tak bisa dibilang pemuda baik-baik yang pantas untuk Hanna. Baginya perempuan hanyalah tempat berlabuh sementara. Datang dan pergi silih berganti.


Jadi, untuk apa aku peduli? Aku tidak diinginkan. Di dunia ini, tidak ada tempat untukku. Dan, semua jadi tidak penting. Keluarga, musik, kuliah. Tidak penting. Perempuan juga. Aku tidak bisa serius dengan perempuan. Aku tidak percaya pada hubungan. (hlm. 176).


Ibarat botol dan tutupnya, Hanna dan Kai seperti menemukan tempat yang cocok satu sama lain untuk saling berbagi kepedihan hidup yang mereka jalani. Maka tak heran, seberapa keras usaha Gitta, teman satu apartemen dan universitas Hanna melarang Hanna berhubungan dengan Kai, Hanna seperti tak kuasa menolak.


Kompleksnya masalah hidup tak hanya dialami Hanna dan Kai. Gitta, sang vokalis Second Day Charm, group musik beraliran jazz yang juga beranggotakan Kai dan Jun juga memiliki permasalahan yang tak kalah rumit.


Ambisinya agar Second Day Charm bisa masuk dapur rekaman membuatnya harus menolak cinta Jun dengan alasan tak mau masalah pribadi mereka mengganggu band walaupun ia sendiri memiliki perasaan yang sama dengan Jun. Gitta akhirnya jatuh ke pelukan Ian, drummer group band rock yang terkenal sangat tempramental.


Seperti biasa, Windry selalu mampu menyajikan novel dengan diksi yang memikat dengan bahasa sastra yang mudah dipahami. Windry juga pandai mengolah karakter masing-masing tokoh hingga saya bisa merasakan ketakutan yang dialami Hanna, sinisnya Gitta dan keterputus asaan Kai.


Sayangnya, saya tak merasakan kesan yang mendalam setelah tuntas membaca novel ini. Kalah jauh kualitasnya dibandingkan karya Windry lainnya seperti Memori. Justru perasaan tak nyaman saya rasakan karena novel ini seperti mensahkan pergaulan bebas.


Novel bergenre new adult ini merupakan harlequin versi Indonesia. Tak seperti Amore yang kental budaya timur, new adult versi Gagas Media ini lumayan 'panas'. Jadi, pastikan Anda benar-benar sudah dewasa sebelum membaca novel ini.


You Might Also Like

20 komentar

  1. Settingan ala drama ya, Mbak Ika. Pasti susah berhenti bacanya sebelum tamat :)

    BalasHapus
  2. saya blum sempet baca memori, msh ngantri di tumpukan :D
    mba punya orange ga?
    terlepas dr pergaulan bebasnya, saya sukaaa banget sama interlude, kedua favorit setelah london:angel :)

    BalasHapus
  3. Bukunya bikin penasaaran ja untuk dibaca. Memang sih kalau udah trauma susah dihilangkan.

    BalasHapus
  4. Tulisan Windry memang selalu mudah untuk dipahami, mbak. Sejauh ini Memori tetap yang jadi favorit.

    Sesuai tema "New Adult", pembeli memang harus benar-benar bisa menyesuaikan umurnya. Tapi yang terpenting bisa mengendalikan diri, bisa menyerap dan memilah antara pesan positif dan negatifnya.

    BalasHapus
  5. Mbak Nathalian bakalan lebih sukaaaaa sama Memori. Cepetan baca Memori mbak. Memori the best novelnya Windry ^^

    BalasHapus
  6. Tosh mbak Elisa. Memori pokoknya the best :D

    BalasHapus
  7. Saya juga menulis resensi mengenai Interlude namun catatan saya bukan karena novel ini "panas" akan tetapi lebih ke sikap Hanna. Saya setuju jika karya Windry yang "Memori" lebih kuat dari Interlude.

    Resensi saya bisa dilihat di sini http://www.bebekbulat.com/2014/07/review-novel-interlude-selalu-ada-jeda.html

    Salam kenal ^^

    BalasHapus
  8. Lumayan "panans" isi novelnya? Hemmm klo dibaca sambil minum jus bisa jadi adem gak ya?

    BalasHapus
  9. lihat covernya aja sudah bisa nebak klo cerita hot
    dan akuh lgsg tak menarik

    BalasHapus
  10. Dari covernya sudah kelihatan Mbak..kalo rada 'panas' jadi tahan deh untuk membacanya, takut di baca ABGku juga... :)

    BalasHapus
  11. Nah, itu yang buat aku takut mbak. Ni buku kelar aku baca trus aku tuker sama temenku. Takut anak e baca

    BalasHapus
  12. Kalau belum pernah baca novelnya Windry mending beli Memori aja. Top markotop ^^

    BalasHapus
  13. Hmmm... kalau bacanya sambil berendem kayaknya jadi adem deh mbak :P

    BalasHapus
  14. aku suka baca harlequin dulu mbak :) jadi penasaran dengan novel ini

    BalasHapus
  15. Karaktermya memang sepertinya kuat bangettt. Hanna jadi enggak takut lagi kan sama laki2? :)

    BalasHapus
  16. wah saya jadi belajar dari mbak ika cara meriview sebuah buku atau novel , mksih ya mbak Ika, seru juga nih buku dewasanya hehe...saya juga suka ulasan gak ssetujunya masalah men sahkan pergaulan bebas... hati-hati nih kalo di baca sama generasi penerus berarti....

    BalasHapus
  17. Feelnya ngga dapet ya.. Buat orang Timur kayak kita, rasanya agak gimana gitu kalok ada pergaulan bebas.. :(

    BalasHapus
  18. Jadi penasaran gimana harlequinnya Indonesia. hihihi. tapi sayangnya genre itu bukan genre yang saya suka niatkan baca. kalo ada yang minjemin baru deh. *terkode*
    Hahahaha

    BalasHapus
  19. wiiinkkk... harlequin indonesia? wahhh... dari covernya sih lumayan :p
    sayang ya kalau mensahkan pergaulan bebas, kesannya jadi gimana gitu. bagaimana dg korban pemerkosaan? apakah ada kisah bagaimana cara mengurangi trauma? kalau ada, lumayanlah. nilai + ada

    BalasHapus