Ajining Diri Soko Lathi

18.07.00

Dini dan Ratih, sebut saja begitu. Dua orang sahabat karib yang sejak SMA telah akrab dengan saya. Meski kini semua telah menikah, persahabatan kami tetap terjalin akrab.  Kebetulan kami tinggal di daerah yang tak terlalu berjauhan. Saya tinggal di Purworejo, Dini tetap di Jogja, sementara Ratih kini tinggal di Magelang. Sekali waktu kami tetap meluangkan waktu untuk bertemu. Sekedar ngobrol bertiga atau kadang memboyong semua anggota keluarga.


Ada kebiasaan dari salah seorang sahabat saya yang kurang saya senangi, yakni kebiasaan suka mengeluh. Bukan hanya satu dua kali saya mengingatkan, bahkan sering! Pernah suatu kali saya dan sahabat saya berselisih paham gara-gara masalah ingat mengingatkan ini. Sampai akhirnya saya pikir, ya sudahlah kalau itu membuat dia bahagia. Orang Jawa bilang gawan bayi. Sudah dari sananya begitu, susah dirubahnya!


Bayangkan, mulai dari masalah ringan seperti lipstik mahalnya yang dibuat oret-oretan anaknya ke tembok sampai masalah rumah tangganya, selalu dia keluhkan. Kalau lagi nggak mood mendengarkan cerita sahabat saya yang satu itu, kadang saya suka nyeletuk,"Emang nggak ada sesuatu yang positif dimatamu!"


Keluhan-keluhan sahabat saya itu mengingatkan saya pada sebuah perumpamaan teko dan isinya yang pernah disampaikan oleh Aa' Gym dalam sebuah ceramahnya. Yang dikeluarkan mulut teko itu sesuai dengan apa yang ada didalam teko. Kalau yang ada didalam teko itu teh, maka yang dikeluarkan juga teh. Kalau air putih isi teko, maka yang akan keluar pun air putih. Artinya, kalimat yang keluar dari mulut seseorang itu sejatinya cerminan isi hatinya. Jika bersih hatinya, maka yang keluar dari mulut pun sebuah kebaikkan. Begitu pula sebaliknya. Meski demikian, ada lho orang yang berkata "manis" tapi sejatinya untuk menutupi kebusukkannya. Nah, orang model ini bisa dikategorikan sebagai orang munafik, seperti sabda Rasulullah SAW dalam Shahih Bukhari ke-33. Dari Abu Hurairah, bahwa Nabi SAW bersabda,"Tanda-tanda orang munafik ada tiga: jika berbicara ia berbohong, jika berjanji ia mengingkari, dan jika diberi amanah ia berkhianat"




[caption id="attachment_13947" align="aligncenter" width="600"]menjaga-lisan klik gambar untuk mengetahui sumber[/caption]

Lidah memang tak bertulang. Meskipun tak bertulang, ketajamannya bisa melebihi pedang, melukai bahkan bisa membunuh. Tanpa sadar, lidah yang tak bertulang ini acapkali sulit dikontrol. Mengeluarkan kata-kata yang menyakitkan, terkadang malah menjadi sumber perpecahan. Na'udzubillah.


Ada sebuah pepatah Jawa menyebutkan, ajining diri soko lathi yang artinya, harga diri seseorang ditentukan oleh tutur katanya (lathi=lisan). Jadi, bagaimana orang menilai kita tergantung pada seperti apa tutur kata kita. Ucapan-ucapan yang keluar dari lisan kita akan menimbulkan persepsi dan reaksi orang lain terhadap kita. Misalnya, jika kita terbiasa berbicara kasar, maka orang pun akan menilai kita sebagai orang yang kasar. Pepatah ini juga bisa diartikan perlunya selalu menjaga tutur kata dengan senantiasa berbicara benar, dapat dipercaya dan tidak berlebihan.


Sabda Rasulullah SAW,"Hati-hatilah kamu dengan ini!" dan Rasul pun menunjuk ke arah lidahnya (HR. Imam Bukhari). Rasulullah SAW juga berpesan dalam sebuah sabdanya yang diriwayatkan Imam Buchori dan Muslim,"Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaknya ia mengatakan yang baik atau diam.”


Ada sebuah kisah, suatu ketika sahabat Muadz bin Jabal bertanya tentang suatu amal yang bisa memasukkannya kedalam surga atau sebaliknya, akan menjauhkannya dari surga. Rasul menjawab,“.....Tidakkah engkau mau aku beritahu dengan sesuatu yang sangat menentukan dengan itu semua?” Rasul lalu memegang lisannya dan mengatakan, “peliharalah ini.” Mu’adz kemudian mengatakan, “Ya Rasulullah, apakah kita kan dihukum dengan apa yang akan kita katakan?” Ia menjawab, “Wahai Mu’adz, apakah akan dijerumuskan ke neraka di hadapan mereka, kecuali karena apa yang diucapkan lisannya, “ (HR. Turmudzi).*


Dalam hadist lain disebutkan, dari Abu Hurairah, ia berkata,“Rasulullah saw bersabda: Barangsiapa yang dijaga oleh Allah dari keburukan yang ada di antara kedua rahangnya (mulut) dan keburukan yang ada di antara kedua kakinya (kemaluan), maka ia masuk surga,” (HR. At-Tirmidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah hadits hasan shahih)


Di era kecanggihan teknologi komunikasi seperti sekarang ini, lisan kini telah bertransformasi tak hanya berwujud verbal saja, tetapi juga tulisan. Masih segar dalam ingatan bagaimana perang sosial media membuat perpecahan saat Pilpres belum lama ini. Betapa banyak isu-isu dihembuskan untuk memecah belah. Banyak dari kita yang harus memutuskan unfriend pada sahabat dan memutuskan tali silaturrahiim gara-gara memiliki pilihan yang berbeda dan terhembus isu melalui sosial media. Dan, tanpa sadar kita terkadang ikut-ikutan menyebarkan isu-isu yang kadang karena kelalaian kita seringkali kita tidak tabayyun (cross chek) terlebih dahulu kebenaran beritanya. Hanya dengan sekali klik tombol sebarkan di FB atau media sosial lain, maka kita telah menjadi bagian dari penyebar fitnah.


Satu hal yang perlu diingat, Abu Lahab dan istrinya terabadikan dalam Al Qur'an dan mendapatkan kutukan Allah bukan karena telah menyakiti fisik Rasulullah, karena sesungguhnya siksaan fisik Abu Jahal jauh lebih dahsyat. Abu Lahab mendapatkan kutukan dari Allah karena lisannya. Abu Lahab bersama istrinya disebutkan dalam surat Al Lahab sebagai pembawa kayu bakar. Istilah kerennya sebagai provokator. Dan, persoalan lisan dalam bentuk apapun (verbal maupun tulisan) bukan sesuatu yang ringan, bukan? Yuk, jaga hati dan lisan agar tak tergelincir dalam perkataan sia-sia. Pertimbangkan juga saat akan men-share status di sosisal media jangan sampai karena ucapan dan tulisan yang kita buat menyebabkan kita terseret kedalam neraka.


***


Catatan: *penggalan hadist

You Might Also Like

15 komentar

  1. tulisannya sebagai reminder saya nih, supaya tetap terus menjaga lisan kita dan ditambah menjaga tulisan dari hal2 yg tdk baik. thanks for sharing this article. I like it. sukses ya..

    BalasHapus
  2. Makasih mbak. Reminder buat saya juga yang nulis. ^^

    BalasHapus
  3. Sukses Mbakyu. Dulu di kantor lama ada temen yang tiap hari ngeluuuuuuuh mulu. Sibuk lah. Waktunya kurang lah. Capeklah. Orang departemen lIn gini gituah. Saking capeknya saya denger akhirnya saya jauhin biar ga negatif terus. Hehehe. Maturnuwun remindernya dam soga sukses GAnya.
    hehehe.

    BalasHapus
  4. pepatah jawa yang syarat penuh makna ya bu.
    lain kali share juga dong bu : ajining rogo soko busono :-)

    BalasHapus
  5. Ngurangin ngeluh, Mbak.. Meski susah, tapi ya cobak positive thinking aja :D

    BalasHapus
  6. Reminder buatku jugaa.... :)

    BalasHapus
  7. wah,saya jadi semakin tahu banyak pepatah jawa..makasih mbk sharingnya,buat selfnote :)

    BalasHapus
  8. Terimakasih sdh diingatkan mlli tulisan ini mb Ika... Selain hrs hati2 dg lesan jg lewat tulisan ya mbak..meski itu hanya berupa status atau komen :)
    Sukses di kontes ini mbak..

    BalasHapus
  9. semoga kita juga bisa menjaga tali silaturahmi ya mbak

    BalasHapus
  10. ajining diri dumunung ing lathi,

    lathi itu bisa jadi harimau yang menyakiti orang lain, atau bisa juga jadi bumerang yg nyerang aib kita sendiri. :)

    BalasHapus
  11. Hahaha aku juga sebel sama temenku yang suka ngeluh. Tapi dari dulu gituuu. Jadi aku aja deh yang usaha biar ngga sebel sama tuh orang. Mungkin memang gawan bayi, hahaha. Banyak juga temen yang nulis status ngeluh mulu perasaan ngga pernah nulis status seneng. Mungkin kalau seneng ngga sempet pegang hape, hahaha...

    BalasHapus
  12. Wah,,wah kok jadi ngrasa seperti ditampar-tampar dan diingatkan :D
    Semoga bisa ngurangin sifat buruk yang suka ngeluh... :D

    BalasHapus
  13. arifah wulansari15 September 2014 19.16

    Setuju mak ika..mulutmu harimau mu..btw nek diam adalah emas itu ungkapan jawanya apa ya?

    BalasHapus
  14. Lidah memang setajam pedang ya, Mak.. menjaganya agar selalu berkata baik memang tak selalu mudah..
    Nice post, Mak :)

    BalasHapus
  15. Super, Mbak. Kadang saya juga masih kelepasan ngeluh pada titik gundah tertentu. Habis itu nyeseeel pakai banget.

    Kalau enggak salah kalimat Ajing diri soko lathi suka disambungin sama Ajining Rogo soko busono ... bener atau enggak sih? | Salam santun. Kamubicha

    BalasHapus