Menghabiskan Weekend di Pasar Kangen

14.59.00

Pasar kangen, event tahunan yang biasanya hanya digelar selama 1 minggu ini mulai berlangsung sejak tanggal 18 hingga 24 Agustus 2014. Tak mau ketinggalan seperti tahun lalu, saya pun langsung capcuz ke lokasi bersama anak-anak saat saya pulang ke Jogja kemarin.


Untuk memasuki pasar kangen pengunjung tidak ditarik tiket masuk. Pasar Kangen yang diadakan di Taman Budaya Yogyakarta ini selalu menyedot perhatian pengunjung untuk datang. Terlihat beberapa pengunjung datang sendiri tetapi lebih banyak yang datang berombongan. Selain bisa membeli aneka jajanan khas tempo dulu, pengunjung juga bisa menyaksikan pameran seni dan pagelaran budaya yang ditampilkan di panggung pelataran gedung budaya.


Kata seorang teman yang tahun lalu juga menyaksikan event ini, alat transaksi untuk tahun ini berbeda dengan tahun lalu. Tahun lalu alat transaksi yang digunakan yaitu kreweng (pecahan genting-Jawa). Mungkin karena secara teknis merepotkan, tahun ini alat pembayarannya berupa uang. Sebenernya lebih unik kalau menggunakan kreweng ketimbang menggunakan uang. Atmosfer tempo dulunya jadi terasa banget. Jaman saya kecil, kreweng biasanya digunakan untuk alat transaksi saat bermain pasar-pasaran. Jangan ditanya tahun berapa, ya :D


PS1


Saya jarang menonton Jathilan sampai tuntas. Biasanya saya hanya melihat tari-tariannya saja, sebab saya suka ngeri lihat tingkah polah pemain saat sudah mulai 'diisi'. Aroma mistisnya kental. Saat menyaksikan Jathilan kemarin saya segera menepi saat pemain sudah bertingkah yang aneh-aneh seperti memakan kembang, lari pontang panting tak terkendali dan melakukan aksi-aksi yang tidak wajar. Anak-anak sedikit kecewa saat saya tarik kebelakang penonton. Saya lalu mengajak anak-anak berputar-putar mencari jajanan yang mereka senangi sambil memberi penjelasan apa itu Jathilan dan mengapa mereka saya tarik kebelakang.


Setelah Jathilan, kesenian yang ditampilkan selanjutnya yakni Hadrah. Kesenian warisan para sufi ini biasanya berisi lantunan dzikir, nasyid, khotbah, tilawah Al Qur'an, wirid, puisi dan lain sebagainya dengan diiringi musik rebana dan tabuhan gendang.  


2


Tak hanya menampilkan kesenian tradisional, di sekeliling panggung juga terdapat gubuk yang menyediakan aneka jajan tradisional khas tempo dulu contohnya hawug-hawug, gathot-tiwul, lopis ketan, grontol, wedhang uwuh, cenil, jamu, baceman, es dung-dung, mie lethek, aneka godhogan, jamu, klepon, serabi kocor dll. Nggak hanya jajanan jadul, dijual juga tahu mercon, aneka jus, dawet ireng dll. Camilan tempo dulu seperti emprit juga ditemukan disini. Sore itu saya mencicipi kehangatan mie lethek ditemani jus mangga, sementara anak-anak menikmati es dung-dung dan burger.


3Puas menikmati aneka jajanan, saya lalu mengajak anak-anak menuju gedung budaya untuk menyaksikan pameran. Sebelum memasuki ruang pamer, saya dan anak-anak melihat-lihat barang kolektibel jadul seperti kartu pos, filateli, radio, buku, majalah, koran dan masih banyak lagi yang berbau jadul yang dijual murah. Saya sebetulnya penasaran pengen aduk-aduk kartu pos jadul, sayangnya anak-anak sudah keburu berlarian memasuki gedung karena tertarik dengan lampion-lampion lucu yang digantung ditengah ruangan.


Benda-benda yang dipamerkan antara lain, keris, tombak, patung wayang serta aneka hasil kerajinan dari berbagai daerah. Ada juga replika kereta kencana yang diletakkan disisi utara ruangan. Sementara disisi selatan selain benda-benda hasil budaya, juga dipamerkan kursi dan gebyok kayu.


Mengelilingi ruangan pamer sambil menerangkan satu persatu benda-benda budaya sangat mengasyikkan. Anak-anak terlihat menikmati weekend kali ini. Saya juga senang, anak-anak jadi lebih kenal aneka jenis budaya negerinya, mulai dari kesenian, kuliner hingga hasil kriya.

You Might Also Like

11 komentar

  1. Nama pasarnya lucu ...
    Sesuai maknanya mungkin ya ...
    Tombo kangen barang-barang yang khas

    Salam saya Mbak
    (24/8 : 1)

    BalasHapus
  2. Kok asik sih?
    Kalau ngga salah kalau beli dawet yang di nikahan-nikahan orang Jawa itu pake kreweng juga kan ya.

    BalasHapus
  3. Saya dulu di Pasar Kangen tahun 2012 pernah beli kodok-kodokan dari tanah liat. Tahun ini apa masih ada yang jual ya? hihihi

    BalasHapus
  4. Seingat aku kemarin nggak ada yang jual kodok2an ^^

    BalasHapus
  5. Waduh udah lama banget ga ke yogya....
    kota yang bener-bener ngangenin nih.. selain pasar kangennya masih banyak obyek laen yang menarik buat dikunjungin...
    Keep blogging ya, Sist.. salam kenal yaa..

    BalasHapus
  6. Aku baru sekali ke Pasar Kangen mak, krn dulu2 pasti mudiknya udah habis. Suka atmosferenya yg santai & nggak terlalu besar. Ini foto pas jathilan berarti aku juga disitu lo. Tapi gak ketemua ya :D

    BalasHapus
  7. Wih asyik yo mba, tau gitu titip kartu pos deh :)

    BalasHapus
  8. saya termasuk yang baru tau pasar kangen ini,
    ternyata 'kangen' itu terhadap transaksi, kebudayaan, makanan dulu,
    waktu baca judulnya dikira dilatar belakangi kisah sepasang kekasih yang janjian ketemu dipasar :D
    *jadi kangen es dung-dung.

    BalasHapus
  9. seru banget, surga makanan dan budaya :D

    BalasHapus
  10. Padahal unik tuh kalau pake uang yg kreweng itu. Jadi kerasa.

    BalasHapus
  11. Belom pernah liat ginian di Medan.. :(

    BalasHapus