Kreasikan Jamu Agar Tetap Lestari

14.49.00

“Creativity is more than just being different. Anybody can plan weird; that’s easy. What’s hard is to be as simple as Bach. Making the simple, awesomely simple, that’s creativity” – Charles Mingus


***


Dulu, setiap kali adik saya yang masih berusia batita nafsu makannya menurun, ibu selalu membawa adik ke depot jamu depan makam Kerkhof, THR Yogyakarta. Kata ibu, saat saya masih batita, jika saya sulit makan ibu juga membawa saya ke depot jamu ini untuk dicekok seperti adik. Sambil menunggu adik selesai dicekok, ibu biasanya memesankan saya satu gelas beras kencur, jamu kegemaran saya.


Depot jamu yang didirikan oleh Kertowiryo Raharjo pada tahun 1875 ini buka mulai pukul 06.00 hingga 19.30. Dahulu depot jamu Kerkop terkenal sebagai tempat menyembuhkan penyakit batita. Pada masa lalu, jamu Kerkop tak ubahnya dokter spesialis anak di masa kini.


Anak yang selesai dicekok biasanya menangis kejer karena tak tahan dengan rasa jamu yang pahit luar biasa. Jamu cekok yang diyakini mampu membunuh cacing dalam perut anak itu terbuat dari campuran Temulawak, Lempuyang Emprit, Brotowali, Temu Ireng serta daun Pepaya yang digiling halus. Jamu lalu dibungkus kain untuk diminumkan secara paksa (cekok) dengan memeraskannya kedalam mulut bayi atau anak kecil.


Seiring bertambahnya usia dan pengetahuan saya tentang jamu, jamu yang saya minum makin beragam. Tidak hanya jamu beras kencur, saya juga meminum jamu kunir asem yang dicampur dengan air rebusan daun sirih saat menjelang haid. Jika terkena batuk, saya juga memilih meminum air parutan kencur yang dicampur madu ketimbang obat batuk yang banyak beredar. Hemat saya, lebih aman meminum jamu daripada obat-obatan kimia. Jamu tak memiliki efek samping jika diminum sesuai takaran karena dibuat dari bahan-bahan alami.




[caption id="attachment_13238" align="aligncenter" width="655"]Rempah-rempah bahan jamu (credit) Rempah-rempah bahan jamu (credit)[/caption]

Secara turun temurun, jamu diyakini sebagai ramuan yang memiliki banyak khasiat. Jamu merupakan kekayaan budaya Indonesia di bidang estetika dan kesehatan. Konon katanya, jamu telah ada sejak berabad-abad yang lalu. Jejaknya bisa ditemukan di relief-relief Candi Borobudur, Candi Prambanan, dan Candi Sukuh.


Sebagai kekayaan budaya warisan nenek moyang, jamu harus dilestarikan agar tak hilang dan bisa menjadi warisan anak cucu kelak. Sangat disayangkan jika nantinya aneka kekayaan jamu yang kita miliki diakui negara lain sebagai warisan budaya leluhur mereka.


Jika para orang tua dahulu menjadikan jamu sebagai ramuan pilihan untuk menyembuhkan berbagai penyakit pada anak, kini keberadaan jamu sebagai ramuan untuk mengatasi berbagai keluhan kesehatan anak mulai tersisihkan. Contohnya, jika anak terkena cacingan, orang tua masa kini cenderung membelikan anak-anak obat cacing daripada memberikan ramuan yang terbuat dari temulawak yang memiliki khasiat sama. Mengapa?


Selain karena alasan kepraktisan, obat-obatan untuk anak kini diberi tambahan aneka rasa buah yang disukai anak hingga mengurangi rasa pahitnya dan memudahkan orang tua untuk meminumkan pada anak. Sementara, sulit kita temukan jamu yang dijual oleh mbok-mbok jamu dengan rasa yang menarik minat anak untuk meminumnya. Dan kenyataannya, banyak jamu yang tidak pahit pun tak disukai anak-anak. Jangankan temulawak yang pahitnya minta ampun, beras kencur yang terasa manis pun tidak semua anak suka. Selain soal rasa, bau jamu juga kadang membuat anak-anak tidak mau meminumnya.


Tak kenal maka tak sayang, begitu kata pepatah. Anak-anak masa kini adalah generasi yang akan tumbuh di masa datang. Jika tidak dikenalkan dan diajarkan untuk mencintai jamu sejak dini, siapa yang akan melestarikan jamu nantinya.


Untuk menumbuhkan rasa cinta anak pada jamu, anak tak cukup hanya diajak mengunjungi kebun apotek hidup. Anak-anak harus dibiasakan untuk meminum jamu agar tumbuh rasa suka mereka pada jamu. Salah satu cara pembiasaan yang bisa dilakukan orang tua adalah dengan mengkreasikan jamu hingga mampu menarik minat anak untuk meminum jamu tanpa paksaan.


Lestari_5Batuk memang penyakit ringan yang menyebalkan karena 'bandel'. Datang kapan saja tapi susah diusir. Saat keluarga batuk, kencur dan madu adalah duo andalan saya untuk mengusirnya. Jika saya dan suami tak bermasalah dengan ramuan kencur dicampur madu, berbeda dengan anak-anak. Tak mudah meminumkan ramuan ini tanpa paksaan. Padahal saya ingin memberi pengalaman yang menyenangkan saat meminum jamu pada anak-anak agar mereka senang agar tumbuh cintai mereka pada jamu. Saya pun mengkreasikan jamu menjadi minuman yang disukai anak-anak dengan mengolahnya menjadi jus yang segar.


Caranya, ambil 5 gram kencur yang telah dibersihkan, iris tipis masukkan ke dalam blender. Campur irisan kencur dengan 2 sendok makan madu murni, buah secukupnya dan 1 gelas belimbing air. Buah yang dipilih bisa disesuaikan dengan buah kesukaan anak. Tambahkan juga gula pasir secukupnya jika terasa kurang manis. Blender hingga halus dan tercampur rata.


Saya juga mencoba mengkreasikan puding dari temulawak. Temulawak termasuk rimpang yang rasanya pahit. Meskipun terasa pahit, temulawak memiliki banyak khasiat. Temulawak dipercaya dapat melancarkan asi, sebagai antioksidan, dapat menurunkan lemak darah, menjaga kesehatan fungsi hati, digunakan untuk mengurangi radang sendi, memperbaiki fungsi pencernaan juga dapat merangsang nafsu makan dan lain sebagainya.


Sebelum saya kreasikan temulawak menjadi puding, temulawak saya iris tipis, lalu saya jemur. Proses ini saya lakukan untuk mengurangi rasa pahit temulawak. Setelah kering, 5 gram temulawak saya blender dengan telur ayam, pisang ambon, agar-agar, vanili, gula palem dan gula pasir. Setelah semua tercampur rata, baru saya tambahi 3 gelas belimbing air, lalu saya rebus hingga mendidih. Puding temulawak rasanya enak dan tidak terasa pahit. Sayangnya bau temulawak yang menyengat belum juga bisa hilang. Puding ini paling enak diberi saus kinca atau disiram madu.


Jahe dan madu sejak dulu dipercaya memiliki banyak manfaatnya. Tak hanya bisa dijadikan bumbu dan jamu, jahe dan madu bisa diolah menjadi cake yang lezat. Bahan yang diperlukan antara lain, 4 butir telur, 75 gram gula pasir , 1 sendok teh emulsifier (sp/tbm), 30 gram madu, 50 gram jahe parut, 100 gram tepung terigu protein sedang , 15 gram susu bubuk, 75 gram margarin, dilelehkan, 25 gram wijen, disangrai, 100 gram cokelat masak, dilelehkan untuk topping, 10 gram wijen sangrai untuk taburan


Cara membuatnya, kocok telur, gula pasir, dan emulsifier sampai mengembang. Masukkan madu dan jahe. Kocok perlahan. Tambahkan tepung terigu dan susu bubuk sambil diayak dan diaduk rata. Masukkan margarin leleh dan wijen sedikit-sedikit sambil diaduk perlahan. Tuang di loyang diameter 24 cm tinggi 4 cm yang dioles margarin dan dialas kertas roti. Oven  dengan api bawah suhu 190 derajat Celsius 20 menit sampai matang. Hias dengan cokelat masak leleh dan taburan wijen.


Harapan


Sejatinya ada banyak kreatifitas jamu yang bisa digali. Sayangnya, belum ada takaran dan komposisi yang jelas dalam pembuatan jamu tradisional non pabrikan.


Harapannya, Sistem Informasi Indonesia Jamu Herb (SIIJAH) yang dikembangkan Pusat Studi Biofarmaka (PSB) LPPM-IPB yang akan menjadi pusat data ramuan-ramuan jamu dari berbagai daerah di Tanah Air segera bisa diakses masyarakat luas.


Sistem SIIJAH yang berbasis ’website’ juga tak hanya sebagai sarana edukasi dan sosialisasi kekayaan jamu Indonesia pada masyarakat. Sistem ini diharapkan juga mampu menampung ide-ide kreatif pengolahan jamu oleh masyarakat, sehingga jamu bisa menjadi produk yang digemari semua kalangan.


Referensi:


http://biofarmaka.ipb.ac.id/brc-upt/brc-ukbb/bccs-collection


http://biofarmaka.ipb.ac.id/publication/journal


http://health.liputan6.com/read/687869/sijah-pusat-data-ramuan-jamu-seluruh-indonesia


http://www.sinarharapan.co/sehat/read/1923/jamu-yang-berkhasiat-apakah-harus-pahit


http://www.sajiansedap.com

You Might Also Like

34 komentar

  1. Waaaw... keren banget resepnya, mba Ika. Aku mau coba ahhh....
    Anak2 memang susah minum jamu klo ga dikreasikan.

    Mampir ya mba ke tulisanku juga, http://catatanhatiibubahagia.blogspot.com/2014/08/romantisme-tujuhbelasan-di-pantai-kuta.html

    BalasHapus
  2. kalau ngomongin jamu, saya ingat masa kecil yg setiap hari minum jamu gendong :)

    BalasHapus
  3. Aku sukak jamu kunyit asam, Mbak.. Tapi pas masih kecil ngga demen minum sik :P

    BalasHapus
  4. Kreasinya keren sekali mbak, belum kepikiran nih bikin puding jamu :), boleh dicoba tipsnya

    BalasHapus
  5. kalau orang Aceh jarang yang minum jamu mak, jadi saya pun begitu. dari kecil ngga pernah mersakan jamu, sampai sekarang ngga sanggup kalo disuruh minum

    BalasHapus
  6. temulawak menjadi puding
    Wah ... ini menarik ... sehat ... anak-anak pun saya rasa akan tertarik ... karena bentuknya lucu ...
    saya belum pernah merasakannya

    sukses di perhelatan ini ya Mbak ... (almamater ku nih ...)(suka gemetar bagemanaaa gitu kalo ngeliat lamban khas itu)

    salam saya Mbak Ika

    (22/8 : 17)

    BalasHapus
  7. Mari kita minum jamu, selain ikut melestarikan, juga membuat badan kita sehat selalu :D

    BalasHapus
  8. Saya walau gak pernah bikin jamu, suka pada aromanya. Walau tak suka rasa pahit namun suka meminumnya. Dan foto2 ilustrasi Mbak Ika selalu cantik, iri aku dibuatnya :)

    BalasHapus
  9. Jamu ya mbak, saya jarang sekali meminum jamu. Kalau sakit langsung minum obat kimia
    Ini PR untuk kita semua, bagaimana caranya agar jamu bisa masuk dalam keseharian kita dengan memanfaatkannya dengan baik

    BalasHapus
  10. Jamuuuu... jamuuuu... jamunya mbak? Kalo ada bakul jamu lewat depan rumah, aku langsung histeris, pengin glokglok glooook, suegeerrr... Sukses kontesnya ya mak. Keren!

    BalasHapus
  11. saya suka ga tega kalau anak dicekokin jamu mba hehehe soalnya pernah lihat di tv anaknya sampe ngejer2 nangis gitu. Tapi soal puding temulawak saya baru tau setelah baca tulisan mba ini, sepertinya boleh juga dicoba :)

    BalasHapus
  12. wow... harus dicoba nih resep madunya...

    BalasHapus
  13. Cekok temu ireng daun pepaya memang ces pleng ya Jeng, nafsu makan terkoreksi
    Yang saya belum mampu meminumnya brotowali dengan kadar pahit supernya.
    Woo kreatifnya Jeng Ika memperkenalkan jamu dalam menu kesukaan anak2 dari puding hingga cake,
    Selamat dan sukses di GA ini ya Jeng Ika, idem Om NH saat menatap simbol biru itu.
    Salam

    BalasHapus
  14. sampe sekarang masih minum jamu saya mbk,resepnya dari ibu..kl pulang mesti dibikinin jamu,tapi ini kreatif bangett puding pakai temulawak hehe

    BalasHapus
  15. keren nih , baru enak minum jamu kalau dibuat variasi demikian, dulu lagi masih gadis sy selalu dipaksa minum jamu oleh ibuku dan tak bisa menolak, setelah kuliah dan jauh dari ortu kebiasaan itu hilang sampai sekarang

    BalasHapus
  16. Nah, sekarang saatnya berkreasi dengan jamu agar lebih enyak dinikmati ^^

    BalasHapus
  17. Maklum ibu-ibu harus kreatif ^^

    BalasHapus
  18. Aaamiiin... makasih doanya mbakyu ^^

    Wah, ternyata 1 almamater ya sama Om Nh

    BalasHapus
  19. Mari menguprek dapur dan berkreasi dengan jamu

    BalasHapus
  20. Baru tau kalo temulawak itu rasa aslinya pahit, padahal kalo dah jadi minuman enak banget seger ;-)

    BalasHapus
  21. JAMU itu emang produk yang bermutu.

    Minggu kemarin saya baru aja ke biofarmaka, ada keperluan soal penelitian
    semoga langkahnya ini bikin jamu tambah diminati kembali, sebagai suatu tradisi sehat
    yang alamiah

    Oh ya kalau sempat tlng like atua share foto ini ya, soalnya lagi ikut kontes hehehe terima kaish banyak

    http://goo.gl/zbtjwx

    BalasHapus
  22. Wah.. kalau jamu dibikin puding jadi bisa minta jamu tiap hari...

    BalasHapus
  23. Terakhir aku lewat cekokan situ masih ada je mak heheheee.... Utk seger2an aku beli es beras kencur di Ginggang sekitar kompleks Pakualaman. Pernah kesana?

    BalasHapus
  24. jadikan jamu sebagai warisan dunia! hehehe

    BalasHapus
  25. Haiyaaa..kreatif pisan, Mbak Ika. Iya yah, anak-anak yg biasanya males liat jamu, pasti jadi tertarik banget. Apalagi kalo cetakan puding nya dibentuk lucu-lucu. Dikasih fla juga enak kali ya. Pokoknya jangan sampe warisan kita, jamu, jadi ilang karena rasanya ada yg pahit atau penampakannya kurang menarik deh. Setuju bangeett. Sukses ya lombanya ^_^

    BalasHapus
  26. Dikau kreatif sekali sih .... :)

    BalasHapus
  27. Mantap kreasinya Mbak. Salam kenal ya..., semoga sukses untuk artikelnya. Silahkan mampir juga ke blog saya http://sulistyoriniberbagi.blogspot.com/2014/08/melestarikan-jamu-memajukan-budaya.html

    BalasHapus
  28. Mbaakk itu agar2nya anak2 pasti suka...pengen nyobain ...

    BalasHapus
  29. Ini sih keren baget en kreatif pula mak...calon jawara nih . sukses mak ika:)

    BalasHapus
  30. Aaaamiiin mudah-mudahan terkabul mbak *ngarepdotcom* ^^

    BalasHapus
  31. waaah ternyata jamu bisa dikreasikan macem-macem. mantap kali mak, bisa ngga ya kucoba dirumah xixixi

    BalasHapus
  32. saya mengolah tanaman obat cuma jadi minuman aja mak, ternyata mak ika bisa mengolahnya enjadi puding, resepnya boleh dicoba ya mak, buat anak saya biar dia suka jamu

    BalasHapus
  33. Jasi sebenere cekok bikin trauma apa jasdi cinta jamu mak...hihihi aku juga dicekoki dulu

    BalasHapus
  34. Mak, ternyata dirimu kreatif ya, bisaan ngolah jamunya...yg puding kayaknya maknyuss tuh :)

    BalasHapus