TB-HIV, Soulmate yang Berbahaya

11.09.00


Persekutuan Berbahaya

Meski Tuberkulosis (TB) sudah ada sejak zaman manusia kuno, nyatanya TB masih saja menjadi masalah utama kesehatan dunia. Pada tahun 2012, Badan Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan 8,6 juta orang terjangkit TB dan 1,3 juta diantaranya meninggal karena TB. Sementara 320 ribu kematian diantaranya merupakan orang dengan HIV positif (Global Report  2013).




[caption id="attachment_10608" align="aligncenter" width="436"]Masihkan kita abai dengan TB (credit) Masih abai dengan TB? (credit)[/caption]

TB belum sepenuhnya teratasi, masalah bertambah dengan munculnya epidemi HIV dan AIDS. Meningkatnya epidemi HIV menjadikan TB makin sulit untuk ditanggulangi. Mengapa? TB dan HIV berdampak buruk satu sama lain. Pasien TB dengan HIV positif dan ODHA dengan TB akan menyebabkan ko-infeksi TB-HIV.


Lalu, infeksi simultan (coinfection) tersebut akan seperti apa?


Infeksi HIV menyebabkan seseorang rentan terinfeksi TB dan memudahkan perkembangan TB laten menjadi TB aktif. Lemahnya sistem imunitas pada ODHA menjadi lahan subur berkembangnya kuman TB. Kuman akan cepat memperbanyak diri dan merusak organ tubuh tanpa ada yang menahannya. Ibarat rumah tak memiliki pintu yang kokoh, hingga memungkinkan pencuri dengan leluasa masuk dan mengambil apa saja didalamnya. Risiko ODHA menjadi pasien TB 6x lebih besar daripada mereka yang tanpa HIV. TB juga merupakan infeksi oportunistik terbanyak yang menjadi penyebab kematian pada ODHA. Prosentasenya mencapai 20% dibandingkan TB tanpa HIV yang hanya 5%.


Periksa Segera!


Tak mudah menemukan gejala awal TB pada ODHA. Batuk dalam jangka waktu lama yang merupakan gejala umum TB, tak bisa dijadikan patokan. Kecurigaan adanya TB justru lebih sering ditemukan adanya demam yang lama dan penurunan berat badan yang drastis. Untuk memastikannya, harus dilakukan cek laboratorium serta foto rontgen toraks. Pasien TB dengan resiko tinggi juga harus segera menjalani uji HIV, terutama mereka yang berada dalam kondisi berikut:




  • Pasien TB yang tinggal di daerah dengan prevalensi HIV tinggi seperti Papua.

  • Memiliki riwayat perilaku resiko tinggi tertular HIV seperti pengguna Narkoba jenis suntik, PSK, waria dan homoseksual.

  • Pasien TB dengan tanda ataupun gejala yang menimbulkan dugaan HIV.


[caption id="attachment_10543" align="alignright" width="300"]TB & HIV, Double trouble yang mematikan (credit) TB & HIV, Double trouble yang mematikan (credit)[/caption]

WHO memperkirakan jumlah pasien TB dengan status HIV positif di Indonesia pada tahun 2013 sebesar 7,5%, terjadi peningkatan jika dibandingkan dengan tahun 2012 yang hanya 3,3% (Global Report pada tahun 2013). Hanya dalam waktu 1 tahun saja meningkat menjadi 127%. Jika diibaratkan status gunung berapi, kondisi tersebut telah beralih dari status 'waspada' menjadi 'awas'. Artinya, kita tak boleh abai dan harus semakin aware dengan lingkungan sekitar. Jika menemukan seseorang dengan gejala TB ataupun ODHA dengan gejala TB, segera laporkan kepada petugas Puskesmas setempat agar segera tertangani. Ingat, TB bisa menular pada siapa saja, kapan saja dan dimana saja. Semakin banyak yang terkena TB, maka kemungkinan terpapar pun sangat tinggi.


Tantangan Utama Kolaborasi TB-HIV


Pemerintah telah membuat sebuah kegiatan kolaborasi TB-HIV untuk mempercepat diagnosis dan pengobatan TB pada pasien HIV. Begitu pula sebaliknya, bagi pasein TB, kegiatan ini untuk mempercepat diagnosis dan pengobatan HIV. Pada tahun 2013 sebanyak 17 RS/fasyankes telah mengoperasikan mesin Xpert MTB/RIF sebagai upaya mendiagnosis TB dan ODHA. Namun, kolaborasi TB-HIV masih memiliki PR yang harus diselesaikan.


Masalah utama kolaborasi TB-HIV adalah pada pengelolaan kegiatan kolaborasi TB-HIV seperti peningkatkan akses tes HIV, monitoring, evaluasi dan ekspansi ke seluruh layanan kesehatan di Indonesia, juga bagaimana menjaga komitmen untuk meningkatan jejaring layanan kolaborasi TB-HIV agar pasien yang terdiagnosis TB dan HIV dipastikan mendapatkan pelayanan yang optimal dengan konsep “one stop services” di semua tingkat, agar TB-HIV bisa tertangani hingga ke semua daerah.


---oOo---


Referensi:


http://www.tbindonesia.or.id/tb-hiv/


http://www.odhaberhaksehat.org/2014/hari-tubercolosis-sedunia-2014-mengetahui-kembali-apa-itu-tb-dan-hiv/


You Might Also Like

21 komentar

  1. Keren mbak... lengkap banget. Sukses ngontes nya ya ;)

    BalasHapus
  2. Woh kolaborasi yang nggegirisi....
    Terima kasih Jeng Ika, berbagi ilmu selalu.
    Salam sehat

    BalasHapus
  3. soulmate yang harus dihindari dan harus di basmi

    BalasHapus
  4. serem ya... na'udzubillah...

    BalasHapus
  5. Penyakit ini menakutkan, ya Mbak...akan tetapi untung masih ada obatnya...
    Sukses ngontesnya, Mbak...

    BalasHapus
  6. wahhh... lengkap ya infonya, kolaborasi yang sangat menyeramkan tapi untungnya masih bisa ditangani kalau mengikuti aturan...

    sukses ngontesnya, mak :)

    BalasHapus
  7. duh, ngeri itu kolaborasinya

    BalasHapus
  8. waduhh mengerikan juga yah... jadi takut

    BalasHapus
  9. Luar biasa tulisannya lengkap...
    Penyusunannya pun mnrt sy teratur sekali.. :-)
    Penerapan 5W yg bagus nih hehe...
    Dan tentu sj mudah2an isi tulisan bermanfaat utk org bnyk..
    Sukses yah mba..

    BalasHapus
  10. Wow kolaborasi penyakit yang menyeramkan, dan sampe sekarang blom ada obatnya yah buat HIV?

    BalasHapus
  11. Aaaamiiiin, makasih mbak ^^

    BalasHapus
  12. Sangat mengerikan persekutuan keduanya ^^

    BalasHapus
  13. Iya mbak, ngeri dan perlu di wwaspadai

    BalasHapus
  14. Iya, makanya segera periksa jika mendapati gejala TB agar bisa segera tertangani

    BalasHapus
  15. Walaupun ada obatnya, prinsipnya mencegah lebih baik daripada mengobati harus kita lakukan ^^

    BalasHapus
  16. Mudah-mudahan kita tidak terkena ya mbak :)

    BalasHapus
  17. Betul, dibasmi sampai tuntas ^^

    BalasHapus
  18. Saya punya teman ODHA yang 2 tahun lalu TB. Kemarin sempat berkunjung ke rumahnya, alhamdulillaah TBnya sudah sembuh. Saya juga dulu TB, alhamdulillaah sekarang tidak minum obat lagi :)

    Tulisannya bagus Mak, informatif. Dulu cari blog yang mengulas TB agak sulit.. :)

    BalasHapus
  19. Alhamdulillah sudah sembuh mbak. Ikutan seneng ^^

    BalasHapus