Dari Museum Menuju Identitas Bangsa

23.19.00

Museum Nasional lebih dikenal masyarakat dengan sebutan Museum Gajah (nama lain dari Museum Nasional). Saat saya sampai di stasiun Gambir dan meminta sopir Bajaj mengantarkan saya ke museum ini beberapa waktu lalu, dengan dahi berkerut pertanda bingung ia pun berujar,"Museum Nasional mana ya, Neng?"


Setelah saya memperjelas dengan menyebut Museum Gajah, barulah sopir Bajaj tersenyum dan mengangguk pertanda ia paham dengan tempat yang ingin saya tuju.




[caption id="attachment_10393" align="aligncenter" width="911"]Berfoto di depan Museum Nasional (kiri) Berfoto dengan manusia purba (kanan) dok. pribadi Berfoto di depan Museum Nasional (kiri) Foto berlatar manusia purba (kanan) dok. pribadi[/caption]

Museum Nasional merupakan museum pertama dan terbesar di Asia Tenggara. Maka tak heran jika museum ini begitu indah dan megah. Berdiri sejak tanggal 24 April 1778, museum ini sempat berpindah-pindah tempat dan berganti pengelola.


Awalnya, museum ini bertempat di Jalan Kalibesar dengan koleksi buku dan benda-benda budaya. Pada masa pemerintahan Inggris, Sir Thomas Stamford Raffles memerintahkan untuk membangun gedung baru. Gedung yang di bangun terletak di Jalan Majapahit No.3. Tak hanya dijadikan museum, gedung tersebut juga dilengkapi dengan ruang pertemuan untuk Literary Society. Setelah koleksi museum memenuhi museum yang berada di Jalan Majapahit, pada tahun 1862, pemerintah Hindia-Belanda mendirikan gedung di Jalan Merdeka Barat No. 12 dan ditempati hingga kini.


Museum yang awalnya dikelola oleh Lembaga Kebudayaan Indonesia diserahkan pada pemerintah Republik Indonesia pada tanggal 17 September 1962 dan dikelola oleh Direktorat Jenderal Kebudayaan, di bawah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.  Kini, penggelolaan museum dilakukan oleh Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata.




[caption id="attachment_10388" align="aligncenter" width="926"]Museum Nasional_2 Beberapa koleksi Museum Nasional. dok pribadi[/caption]

Museum Nasional yang begitu menawan ini dibangun dengan arsitektur gaya Klasisisme. Museum dilengkapi dengan fasilitas pendukung yang membuat pengunjung merasa nyaman yang memungkinkan pengunjung betah berlama-lama menikmati koleksi yang dipamerkan. Sayangnya, museum ini memiliki nasib yang hampir sama dengan museum lain di Indonesia. Saat saya berkeliling museum, terlihat hanya beberapa pengunjung saja yang datang.


Padahal museum ini memiliki 240.000 koleksi yang terbagi dalam beberapa kategori yaitu Prasejarah, Numismatik & Ceramic, Etnography serta Archaelogy. Ragam koleksi yang dipamerkan tentunya bisa menjadi sumber pembelajaran sejarah dan budaya bangsa Indonesia.



Museum Collections Make Connections


Jika sebuah bangsa diibaratkan keluarga, maka museum adalah album foto keluarga yang tersusun dan tersimpan rapi dari setiap masa dan generasi. Museum tak cukup hanya dikunjungi sebagai peninggalan masa lampau, sebab waktu bukan hanya terdiri dari ruang dimensi kemarin, hari ini dan esok. Museum haruslah menjadi tempat untuk menatap dan memaknai seluruhnya. Bukan hanya pada peristiwa, akan tetapi lebih pada pemaknaan di balik peristiwa-peristiwa yang telah terjadi. Koleksi museum seharusnya tak hanya dimaknai sebagai sebuah benda.


Selama ini museum hanya dimaknai sebagai tempat menyimpan dan memelihara benda-benda sejarah perkembangan kehidupan manusia. Seandainya masyarakat mau meluangkan waktu untuk datang dan mencoba memahami makna yang terkandung dalam setiap koleksi yang dipamerkan, tentu akan terjadi transformasi nilai warisan budaya bangsa dari generasi terdahulu ke generasi sekarang.


Museum Nasional diharapkan mampu membuat sebuah terobosan dalam mengemas pengelolaan museum agar dapat menarik masyarakat luas dari berbagai kalangan untuk datang ke museum. Berbagai kegiatan yang bisa dilaksanakan antara lain, lomba melukis dan fotografi dengan obyek koleksi museum, ataupun mengundang komunitas untuk datang berkunjung, seperti apa yang telah dilakukan Abah Alwi (Alwi Shahab) bersama HU Republika dengan komunitas pecinta sejarah dalam program 'Melancong Bareng Abah Alwi'. Acara 'Melancong Bareng Abah Alwi' mengajak pecinta sejarah untuk mendatangi tempat-tempat bersejarah di berbagai daerah. Peserta yang mengikuti program ini tak kurang dari 100 orang.


Pengelola museum juga bisa bekerjasama dengan sekolah-sekolah dengan menyusun berbagai program pendidikan di museum serta sarana penunjangnya. Dengan kegiatan observasi yang dilakukan siswa ke museum, harapannya siswa mampu menangkap berbagai informasi penting sejarah dan ragam budaya bangsa ini.


Di masa datang, museum harus mampu mengubah citra tempat usang dan membosankan menjadi tempat yang menyenangkan untuk dikunjungi dengan mengubah metode penyajian menjadi lebih atraktif dan interaktif. Koleksi yang dipamerkan tak hanya memiliki kemampuan untuk menceritakan sebuah cerita masa lalu, tetapi juga membuat masyarakat mampu memahami makna yang terkandung dalamnya dan menjadi pelajaran yang tak ternilai untuk generasi mendatang.


Museum Nasional Indonesia
Jl. Medan Merdeka Barat No.12
Gambir, Jakarta Pusat 10110
Indonesia
+62 21 386 8172


http://www.museumnasional.or.id/


---oOo---


Referensi:

http://236museumnasionalindonesia.com/latar-belakang/

http://id.wikipedia.org/wiki/Museum_Nasional_Indonesia

http://www.museumnasional.or.id

http://article.wn.com

http://media410080037.wordpress.com

Harian Umum Pikiran Rahyat

You Might Also Like

5 komentar

  1. Gutlak Maaakkkkk....! # semoga kali ini menang ..

    BalasHapus
  2. wah... saya belum pernah mngunjungi museum nasional...
    sukses yah :)

    BalasHapus
  3. Nah, kalau museum bisa atraktif, lebih connection ya, Mba.
    Kira2 apa yang bisa di aktraktifkan hayo, Mba. :lol:

    BalasHapus
  4. Jadi, pengen ke museum nasional lagi deh.
    sukses ya mak kontesnya :)

    BalasHapus
  5. Saya belum pernah ke museum ini mak
    Btw, ada award dari saya buat mak Ika..silahkan dicek.. http://buahhatiayahbunda.blogspot.com/2014/05/the-liebster-award-dari-saya-untuk-kamu.html

    BalasHapus