Tutup Mata, Telinga & Mulut

17.56.00

Akhir-akhir ini saya harus sering-sering merelakan telinga dan membuka hati lebar-lebar agar selalu diberi kesabaran mendengarkan semua keluh kesah Ira, partner kerja sekaligus sahabat karibku.


Ira yang terkenal sosok yang ceria di kantor itu, kini sedang terjangkiti missing style syndrome. Syndrom yang membuat Ira merasa menjadi orang yang paling menderita dan menganggap masalah kecil seperti raksasa yang menakutkannya.


Syndrom tersebut menjangkiti Ira sejak ia menikah dengan Nompo, pengusaha travel agent asal Makassar dan tinggal bersama mertuanya beberapa bulan lalu.


Walaupun satu kota, Ira dan Nompo jarang sekali bertemu. Nompo sedang sibuk mengembangkan bisnis travel agent-nya. Beruntung Ira termasuk wanita yang mandiri. Walaupun mereka tergolong jarang bertemu, sejak mereka pertama bertemu dan akhirnya memutuskan untuk menikah satu tahun kemudian, hubungan mereka baik-baik saja. Jarang saya dengar konflik antar keduanya.


Masalah Ira dengan mertuanya yang diceritakan pada saya terkadang hanyalah masalah sepele. Bahkan beberapa masalah mereka, bisa dibilang karena kesalahan Ira dalam memahami apa yang dimaksud mertuanya padanya. Maklum, Ira dan mertuanya berasal dari daerah yang berbeda.


Seperti kejadian beberapa waktu lalu. Pagi itu Ira datang tergopoh-gopoh dengan mata sembab. Ia lalu menarik saya menuju pantry. "Pengen curhat!" katanya singkat. Tanpa babibu, saya pun mengikuti Ira menuju pantry. Untungnya hari itu masih pagi dan belum semua karyawan datang hingga tak memancing kegaduhan kantor.


Sampai di pantry, dengan suara terbata-bata Ira menceritakan kejadian pasca ia berbelanja tas dengan saya di Ambarukmo Plaza sehari sebelumnya. Ceritanya, ia ditegur mertuanya karena keseringan berbelanja barang-barang yang sebetulnya sudah ia miliki.


Ira memang termasuk shopaholic. Tak jarang barang-barang yang ia beli merupakan barang yang tak begitu penting untuknya. Ia selalu beralasan bahwa barang tersebut untuk jaga-jaga kalau kebetulan butuh ataupun beralasan belum memiliki warna yang diinginkannya. Tak jarang saya dan Ira berdebat untuk mengingatkannya di outlet tempat kami berbelanja, walaupun pada akhirnya Ira tetap nekat membeli barang tersebut.


Tak biasanya, kemarin, pagi-pagi sekali Ira menelpon. Ira mengajak saya makan siang di luar saat istirahat makan siang.


"Biasa, Ka. Pengen curhat. Udah penuh ni otak,"katanya saat saya tanya mengapa pagi-pagi menelfon.


Kakang mas Prabu yang juga belum beranjak dari tempat tidur tak urung bertanya mengapa Ira pagi-pagi menelepon.


"Ada apa dengan Ira? Masalah lagi dengan mertuanya?" tanya kakang mas prabu sambil geleng-geleng kepala berjalan menuju kamar mandi.


Waktu makan siang tiba. Ira sudah beberapa kali misscall agar saya segera turun. Ia sudah menunggu di parkiran. Saat saya sampai di parkiran, Ira langsung mendorong saya masuk ke dalam mobilnya.


"Yuk, buruan!"katanya tak sabar.


“Makan siang di tempat favorit kita aja ya,”sambungnya tanpa member kesempatan saya untuk memilih.


Sesampainya di restoran favorit kami, Ira lalu menceritakan kejadian yang dialaminya.


"Ka, pulang kerja kemarin aku mampir ke restoran Makassar favorit Amma'. Ceritanya pengen nyenengin Amma'. Aku beliin Amma' Konro sebab beberapa kali aku dengar Amma' bilang pengen makan Konro. Eh, pas kemarin aku belikan Konro, apa coba yang Amma' bilang?"


Saya tak menjawab dan membiarkan Ira menumpahkan semua unek-uneknya.


"Masak Amma' bilang, Ngapain katte beli Konro. Kan, kita bisa bikin sendiri! Lagi pula lebih hemat kalau bikin sendiri."


Setelah Ira selesai menumpahkan semua unek-uneknya, seperti biasa, saya berikan senyuman terindah padanya dan menepuk halus punggungnya, lalu saya katakan padanya,"Sabar Ra, namanya juga orang tua. Nanti kalau kita tua, kali aja lebih parah dari mertuamu."


“Yuk, kita makan. Lapar nih.” lanjut saya sambil memanggil pelayan yang kebetulan lewat di dekat meja kami.


***


Ada kalanya kita harus menutup mata, telinga dan mulut kita untuk membiarkan hati kita melihat, mendengar dan bicara sebab tak semua masalah bisa diselesaikan dengan akal dan kita biarkan bahasa kalbu menyelesaikannya.

You Might Also Like

14 komentar

  1. Kesimpulanya bear adanya.
    Sayangnya kini lebih banyak yang buka semuanya sehingga riuh rendah
    Jika terjadi sesuatu, banyak yang berbicara daripada membantu mencarikan solusi
    Salam hangat dari Surabaya

    BalasHapus
  2. segala sesuatu memang harus dilihat dari segi positifnya ya...

    BalasHapus
  3. Iya Mbak betul. Mendingan tak terlalu banyak nimpali daripada komentar kita malah memperburuk suasana. Semoga Ira makin asyik ma sang mertua...

    BalasHapus
  4. Kyaaa. Yang konro itu masalahnya gitu doang, toh XD XD Baru tahu sindrom itu... tapi aku gugling Missing Tile tuh mbak... :D :D

    BalasHapus
  5. Istilah ini aku dapet di buku Move On yang ditulis Aida MA.

    BalasHapus
  6. setuju banget mbak... cukup dengarkan, komentar seperlunya.. terus lupakan (supaya ga bikin hari kita ikutan bete) :)

    BalasHapus
  7. Bener Mba Ika, kalo denger curhat begini mending ga usah komen apa-apa sih ya daripada malah jadinya kompor dan meledug juga. Baru tahu nama istilahnya itu Mba.

    BalasHapus
  8. awalnya kupikir ini resensi :-D terpaksa ku scroll lagi ke atas dan kulihat ngga ada cover buku apapun, ohhhh sippp ini artinya tulisan mbak Ika memang untuk menumpahkan isi kepalanya saja. Aku suka dengan judul postingan ini, artinya kita punya hak untuk membiarkan diri ini terkontaminasi dengan aura negatif atau tidak, syukurnya mbak Ika menggunakan hak pilihnya :-D

    BalasHapus
  9. kalau dari cerita di atas, menurutku mertuanya bermaksud baik loh, ngajari gemi. hemat. gak perlu beli apa yang gak begitu diperlukan. mungkin nanti ada saatnya ira bisa mencerna apa yang dimaksudkan oleh mertuanya itu. dengan hati, sama seperti apa yang dituliskan di akhir postingan.

    kunjungan pertama,,,, salam kenal :-D

    BalasHapus
  10. Teman yang bijak Mbak Ika. Mau menyediakan telinga dan hati tapi tidak ikut campur urusan domestik sang teman. Keren :)

    BalasHapus
  11. Untung saya sdh ga tinggal bareng mertua lagi :D
    Hal-hal sepele harihari yg bisa bikin makan ati hehe
    Menantu dan mertua beda generasi jadi beda pemikiran juga.

    BalasHapus
  12. apa dunia orang dewasa sesulit itu? :/

    BalasHapus
  13. Ada tiga hal Mbak ...

    1. Ungkapan ...
    ... merasa menjadi orang yang paling menderita dan menganggap masalah kecil seperti raksasa yang menakutkannya ...

    Saya tertawa membaca ungkapan itu. I share the same feeling. Memang ada orang yang merasa paling menderita di dunia ini. Ibarat kata, bulu matanya rontok satu saja ... hebohnya terdengar sampe ke Uzbekistan

    2. Kakang Mas Prabu
    Hahahaha ... saya baru sadar ... Mbak Ika punya panggilan khas untuk solmet nya ...
    Unik ... unik ... eksotis gemanaaaa gituh ...

    3. Tutup Mata - Telinga - Mulut
    Dibutuhkan kesabaran dan pengertian yang sangat tinggi untuk bisa melakukannya. Sebab di ujung lidah sudah ingin terucap kata-kata :"Itu semua karena tingkah laku muuuu Iraaaa ..."
    Nggak kebayang kalau kata-kata itu keluar ... bisa bubar pertemanan ... hahaha

    Salam saya Mbak

    (7/2 : 4 juga)

    BalasHapus
  14. carita yang bagus dan inspiratif

    BalasHapus