Menjejakkan Kaki di Bumi Sultan Hasanuddin

00.23.00

Terbang di malam hari ternyata tak hanya menyajikan pemandangan pekatnya malam. Beruntung seat yang saya duduki berada paling ujung, dekat dengan jendela hingga sesaat sebelum pesawat landing saya bisa menikmati indahnya kerlap kerlip lampu kota Makassar.


Dari atas pesawat, daratan yang saya lihat bak kotak pandora yang berisi aneka perhiasan yang berkilau. Kilauan yang berasal dari sorot lampu dari berbagai penjuru kota. Indah sekali. Kepenatan 5 jam menanti datangnya pesawat luruh sudah. Sayangnya, karena begitu menikmati pemandangan tersebut, saya lupa untuk mengabadikan keindah moment tersebut. Sesuatu yang saya sesali seumur hidup!


Bersyukur banget, akhirnya saya bisa menjejakkan kaki di bumi Makassar. Tempat raja-raja Goa berada. Tempat Sultan Hasanuddin memperjuangkan kedaulatan negeri ini. Tempat yang tak pernah saya bayangkan bisa saya datangi. Dan, inilah berkah dari ngeblog. Ya, ngeblog tak hanya bisa menjadi self healing semata, blog juga bisa sebagai tempat berlatih menulis dan menjadi jalan rejeki.


Makassarku


Hawa dingin langsung menerpa wajah saya saat keluar dari pesawat. Waktu menunjukkan pukul 21.30 WITA. Saya sedikit terkagum-kagum saat keluar dari pesawat. Tak menyangka jika Makassar adalah kota besar. Yeah, bandara Adisucipto kalah megah dan besarnya dibandingkan bandara Sultan Hasanuddin. Dan, kemegahan Bandar Udara Internasional Sultan Hasanuddin mengingatkan saya saat menjejakkan kaki di bumi para Nabi pada perjalanan haji delapan tahun silam.


Selesai mengemasi barang bawaan, saya berjalan menuju pintu terminal bandara dimana para penjemput dari team SunCo menanti kedatangan saya. Perjalanan saya kali ini disponsori minyak goreng SunCo. Saya termasuk salah satu dari keenam orang yang beruntung memenangkan lomba blog yang diadakan oleh SunCo.


***


Perjalanan dari bandara menuju hotel Aston saya lewati dengan menikmati hiruk pikuk kota Makassar di malam hari. Sama halnya dengan kota-kota besar lain di Indonesia, Makassar tetap ramai walaupun saat itu jam sudah menunjukkan lewat pukul 11 malam.


Ada sesuatu yang menyesakkan dada saat saya lihat pengemis dan pengamen jalanan berkeliaran di sudut kota ini. Mereka rata-rata anak-anak usia sekolah. Bahkan beberapa diantaranya anak-anak usia balita yang diajak ibu mereka untuk mengemis.


Ya Allah.... sementara anak-anak saya tertidur pulas diperaduan mereka, anak-anak jalanan ini tetap terjaga demi sesuap nasi. Betapapun sederhananya dipan yang dipakai anak saya sebagai alas tidur, rasanya jauh lebih hangat daripada mereka. Dan sesederhana apapun kehidupan yang saya dan keluarga jalani, rasanya saya tetap lebih beruntung daripada mereka. Dan, inilah pengalaman batin yang menjadikan saya semakin mensyukuri apapun keadaan saya dan keluarga.



"Sometimes it's the journey that teaches you a lot about your destination.....


Pantai Losari


Menikmati keindahan senja pantai Losari


Pantai Losari letaknya tak terlalu jauh dari hotel tempat saya menginap. Losari sebenarnya masih bisa di jangkau dengan berjalan kaki. Berhubung sebelum ke Losari saya dan rombongan muter-muter mencicipi kuliner khas Makassar, jadilah kami ke pantai Losari menggunakan bus. Sampai di Losari sudah hampir pukul 17.00 WITA. Saya pun bergegas menuju masjid Terapung untuk menunaikan shalat Ashar sebelum berjalan-jalan mengelilingi pantai dan menikmati senja di pantai Losari.


Senja di pantai Losari


Masijid Terapung berada satu lokasi dengan pantai Losari. Karena keunikannya, masjid ini menjadi daya tarik tersendiri. Terlihat banyak orang duduk-duduk di teras masjid ataupun bergerombol di pelataran masjid.


Sesuai dengan namanya, masjid ini berada di bibir pantai dan terlihat mengapung dengan desain kokoh dan berkubah biru. Masjid Terapung seolah-olah ingin mempertegas keindahan pantai Losari.

Saat memasuki area masjid, saya bisa melihat jika masjid Terapung dikelola secara profesional. Jangan khawatir sandal atau sepatu tertukar ataupun hilang saat menunaikan shalat di masjid ini, sebab dibagian depan masjid terdapat tempat penitipan sandal dan sepatu.

Masjid Terapung


Tak hanya pelataran dan dalam masjid yang terlihat nyaman dan bersih, kamar mandinya pun bersih dan tidak tercium bau pesing. Sayangnya hanya terdapat 1 kamar mandi putri. Kebetulan saya datang saat dipenghujung waktu shalat, jadi tak terlihat antrian panjang. Nggak kebayang bagaimana antrinya saat waktu shalat tiba.

Selesai shalat, saya berdiri dipinggir jendela masjid yang didesain tinggi dan terbuat dari kaca. View pantai Losari memantul dari jendela. Keindahan yang berpadu dengan sejuknya udara sore hari.

[caption id="attachment_9059" align="aligncenter" width="512"]Pasar Tiban Hiruk pikuk pasar tiban di pantai Losari[/caption]

Berhubung sore harinya saya tak sempat mencicipi pisang epek, sementara saya penasaran sekali dengan rasa pisang epek yang saya lihat mangkal dipinggir pantai, maka keesokan harinya saya pun kembali pergi ke pantai Losari menggunakan becak.


Pantai Losari ternyata lebih ramai di hari minggu. Selain banyaknya warga yang terlihat berolahraga, pantai Losari makin ramai dengan adanya pasar tiban (pasar musiman) yang menjual aneka kebutuhan warga.



Benteng Fort Rotterdam


Awalnya saya membayangkan benteng ini berada di bibir pantai, tapi nyatanya tidak. Dahulu benteng ini memang berada di bibir pantai. Seiring perkembangan kota, benteng tereklamasi hingga kini Fort Rotterdam tak lagi berada di bibir pantai.


FR


---oOo---


FR2


Dari informasi yang saya dengar, Fort Rotterdam merupakan benteng peninggalan kesultanan Gowa-Tallo. Benteng Fort Rotterdam terlihat kokoh dengan dinding terbuat dari batu cadas. Konon kabarnya batu cadas diambil dari Pegunungan Karst yang berada di daerah Maros. Bangunannya terlihat masih terjaga hingga kini. Untuk ukuran bangunan yang dibangun pada tahun 1545, Rotterdam terlihat sangat mewah.


Inset FR


Pada bagian depan benteng terlihat berupa tonjolan kecil seperti kepala penyu. Konon kabarnya bentuk benteng ini menyesuaikan dengan filosofi kerajaan Gowa yakni penyu. Penyu bisa hidup di darat dan di laut. Begitu pula dengan Kerajaan Gowa yang konon kabarnya mampu berjaya di daratan maupun di lautan.


Gedung-gedung di bagian dalam benteng dimanfaatkan sebagai museum. Salah satu teras dimanfaatkan untuk belajar bahasa Inggris untuk berbagai golongan dan usia.



Tips perjalanan dengan sponsor


Travelling bersponsor tentu berbeda dengan travelling mandiri atau bersama keluarga. Kita tidak memiliki kebebasan menentukan destinasi wisata yang akan dikunjungi. Bahkan terkadang hanya satu dua tempat yang dikunjungi, seperti kunjungan saya ke Makassar ini.


Perjalanan ke Makassar kali ini bertemakan Culinary Trip. Terbayangkan tempat apa saja yang kami kunjungi. Pasti tak jauh-jauh dari urusan perut. Awalnya direncanakan 2 obyek wisata yang akan dikunjungi, yakni pantai Losari dan benteng Ford Rotterdam. Berhubung waktu tak memungkinkan, panitia hanya mampu mengajak peserta mengunjungi pantai Losari. Sementara kunjungan saya ke Fort Rotterdam bersama teman-teman blogger atas inisiatif kami sendiri sambil menunggu kegiatan selanjutnya.


Nah, agar perjalanan bersponsor tetap asyk, ada beberapa tips yang bisa dilakukan, diantaranya:

Baca dengan seksama rencana perjalanan dan acara selama di tempat tujuan wisata. Biasanya penyelenggara menggirimkan jadual acara bersamaan dengan tiket perjalanan. Manfaatkan waktu kosong untuk mengunjungi tempat wisata ataupun mencicipi masakan khas setempat yang berada diseputar hotel.


Cari info sebanyak-banyaknya tempat-tempat wisata ataupun tempat makan khas yang berada diseputar hotel. Cari tahu juga moda menuju lokasi beserta tarifnya. Jangan sampai karena ketidaktahuan kita akhirnya kita diberi banderol tarif yang lebih tinggi dari seharusnya.

Asik ngobrol


Perjalanan ke Makassar meninggalkan kesan mendalam buat saya. Bukan hanya karena perjalanan kali ini saya tak mengeluarkan biaya sepeserpun untuk akomodasi dan transportasi, melainkan banyak pelajaran batin yang saya dapatkan selama perjalanan. Selain itu, saya juga bertemu dengan teman-teman blogger yang telah menelurkan buku bacaan anak diantaranya kang Iwok, Firmaisuta dan Marissa. Banyak pelajaran yang saya dapatkan tentang bagaimana menulis buku anak. Bagi saya esensi sebuah perjalanan bukan jauh dan indahnya tempat yang dituju, akan tetapi pengalaman batin yang mampu membuat bibir saya berucap,"SUBHANALLAH, SUBHANA MA KHALAKTA HADZA BATHILA."


"My Itchy Feet...Perjalananku yang tak terlupakan"

You Might Also Like

21 komentar

  1. Fotonya keren2 mbak Ika. Alhamdulillah ... senang sekali bisa kopdar dengan mbak Ika. Walau itu hadiah buat kalian berlima dari SunCo, saya merasanya itu hadiah buat saya lho. Karena bisa bertemu kalian, gratis (tidak perlu mendatangkan kalian ke kota ini) dan sambil makan gratis pula di Kampung POPSA ^_^

    Kapan ya saya bisa ke kota mbak Ika ....

    BalasHapus
  2. Sama mbak Niar, aku juga seneng akhirnya bisa melihat penampakan mabka Niar. hag..hag..hag..

    Mudah-mudahan suatu saat mbak Niar bisa silaturrahim ke jawa

    BalasHapus
  3. Makasar indah yaa :D
    Ini jalan-jalannya dapat dari hadiah yaa?

    BalasHapus
  4. keren ... keren, sekali perjalanan semua terkayuh dengan komplit apalagi ini ditunjang dengan persiapan rencana perjalanan yang sangat baik. Sayapun demikian sebelum mengunjungi suatu daerah yang belum pernah saja datangi, terlebih dahulu mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya sebagai bekal agar di lokasi kita bisa memaksimalkan waktu.
    Duh bisa kopdar dengan mbak Niar juga yak

    BalasHapus
  5. Haghaghag ... jadi ingat palu mara, mbak Ika. Seumur2 baru kali itu saya makan palu mara seharga 65ribu hehehe.

    BalasHapus
  6. Sering sudah saya melihat teman2 berfoto di tulisan Losari itu, jadi mupeng hehehee....
    Asyik ya mba, meskipun tempat yg dikunjungi tak banyak, asalkan bisa memaknainya, tentu rasanya luar biasa :)

    BalasHapus
  7. Selamat ya mba Ika. Seru sekali bisa mengunjungi daerah lain dengan jalan memenangkan lomba blog. Apalagi bisa bertemu sahabt blogger yang lain..

    BalasHapus
  8. Bandara Sultan Hasanuddin memang bagus ya Mbak ...
    Saya juga terkagum-kagum ...

    Waktu itu ketemu Bu Mugniar nggak mbak ?

    Semoga sukses di perhelatan Mak Indah

    Salam saya

    BalasHapus
  9. Akang tunggu deh buku tentang anak-nya Mba Ika :-) Semangat ya Mba !!!

    BalasHapus
  10. sy terkesan dgn fort rotterdam. tetap kokoh dan indah meski telah berusia ratusan tahun....

    BalasHapus
  11. Saya bertemu dengan mbak Niar Om. Orangnya ternyata mungil dan imut ^^

    BalasHapus
  12. Aku juga terkenang-kenang palumarra mbak. Pengen lagi nih

    BalasHapus
  13. mba ikaaa.. mau dong dkirim foto2 di bangku yg ber3 kang iwok :D

    BalasHapus
  14. Mak Ika...pengalaman yang menyenangkan sekaligus memperkaya batin. Lucky you mak! bisa menikmati semua berkat ngeblog, ya mak :D...senang melihat Indonesia yang cantik...semoet makan apa aja mak :D...terima kasih sudah ikutan GAku mak..serunya berItchyFeet ria...

    BalasHapus
  15. seru banget mbak ikaa...

    BalasHapus
  16. Wuah...potonya keren bu...

    Dan free jalan2 itu lho yg bikin iri....

    BalasHapus
  17. Waah kebetulan minggu depan udah tugas di Makassar. Cukup membantu utk mengetahui kondisi disana secara umum. ;)

    BalasHapus
  18. ngeblog berbuah aneka kemanisan ya Jeng Ika. wah cocok tenan jadi duta wisata Makasar nih Jeng. Saya baru sempat transit di bandaranya puluhan tahun silam Jeng, dan keindahan Losari selalu memanggil. Menanti postingan lain dari perjalanan ke Makasar ah. Salam

    BalasHapus
  19. Aaiihh.. berkah ngeblog, akhirnya berangkat juga ke Makassar... ;)

    BalasHapus
  20. Jalan-jalan ke Makassar tak perlu mengeluarkan ongkos untuk akomodasi dan transportasi itu luar biasa, Mbak Ika. Ikut senang membaca dan melihat-lihat foto-fotonya :)

    BalasHapus
  21. Ke Makassar baru sekedar transit aja :P pengen main-main ke Pantai Losari juga, selama ini cuma dengar lagunya yang sering diputar tetangga. Di Makassar banyak peminta-minta & pengamen jalanan ya:( Saya justru jarang melihat pengemis dan pengamen di Manado. Kalaupun ada yang meminta2, mereka sambil membawa kacang goreng bungkus sebagai ganti uang yang kita sumbangkan.

    BalasHapus