Melek Huruf = Melek Baca?

12.20.00

Sedikit terpekik sambil lari tergopoh-gopoh saat memasuki rumah mendapati Azzam, anak kedua saya duduk manis di sofa hitam sedang bersiap membaca buku Mahogany Hills.


Alhamdulillah, Azzam tak menyadari kehebohan saya. Ia tetap asyik membolak balik Mahogany Hills ditangannya. Sementara saya, sambil menenangkan diri, mendekati Azzam. Pelan saya katakan padanya,"Zam, maaf, itu buku ummi. Buku milik orang dewasa. Azzam harus minta ijin ummi dulu kalau mau baca buku-buku ummi. Tuh, bukunya adek yang di rak buku juga belum semua dibaca, kan. Yuk, kita baca sama-sama bukunya adek"


Bersyukur saya selalu mengingatkan anak-anak untuk meminta ijin terlebih dahulu jika ingin meminjam ataupun memakai barang-barang milik orang lain. Termasuk barang-barang saya dan suami. Kami mencoba mengajarkan apa itu hak dan kewajiban secara sederhana pada anak-anak. Jadi, saat saya katakan seperti kalimat diatas, Azzam pun paham dengan aturan yang ada. Tanpa banyak tanya, ia pun beralih ke rak bukunya sambil memilih buku yang akan ia baca.


Buku itu sebelumnya tergeletak di meja dekat sofa. Sengaja saya menaruhnya di meja itu setelah saya selesai membacanya, agar mudah saya jangkau saat akan menuliskan resensinya. Saya sama sekali tidak menyangka jika Azzam tertarik untuk membacanya.


Buku Mahogany Hills memiliki sampul yang sangat 'manis'. Putih dengan gambar villa dua lantai berdinding kayu khas rumah-rumah pegunungan di luar negeri. Terdapat tanaman bunga mawar yang sedang berkembang menghiasi halaman depan villa. Tepatnya dipojok sebelah kiri sampul buku. Lalu, apa yang membuat saya terpekik kaget saat melihat Azzam akan membaca buku itu?


Mahogany Hills merupakan buku pemenang lomba menulis novel Amore penerbit Gramedia Pustaka Utama (GPU). Stempel Amore merujuk pada Harlequin versi Indonesia. So, bisa kebayangkan gimana paniknya saya saat anak saya mulai tergerak untuk membaca Mahogany Hills. Jujur, saya belum siap saat ia bertanya macam-macam dalam buku itu yang kaitannya dengan aktivitas orang dewasa. Walaupun Amore tak sedahsyat Harlequin versi aslinya. Lebih sopan dan tidak 'membakar'.


asyik-baca


Akhir-akhir ini Azzam mulai tertarik untuk membaca buku-buku saya. Terutama buku-buku yang mempunyai sampul yang menarik buat dia.


Beberapa waktu lalu Azzam juga tertarik dengan buku yang berjudul Totto Chan. Sampul bergambar anak perempuan bertopi itu beberapa kali dipegang dan dibolak-balik sebelum akhirnya ia baca. Sekitar 3 bab buku Totto Chan telah ia baca hingga tuntas, serta 4 bab ia baca separohnya. Kebetulan buku Totto Chan terbagi dalam beberapa bab singkat.


Melek baca tentunya berbeda dengan melek huruf. Anak yang mampu mengeja huruf belum tentu memiliki kecintaan pada buku. Saya tak pernah memaksa anak untuk belajar mengeja huruf. Alhamdulillah-nya, sekolah SD anak saya tidak mensyaratkan bisa membaca saat pendaftaran dulu.


 Fathiin membaca


Saya pupuk kecintaan membaca sejak anak-anak lahir. Saya sering membacakan buku sejak bayi. Saat menyusui, saya juga berusaha terlihat sedang membaca buku. Jadi nyusuinnya sambil baca buku. Ilmu ini saya dapat saat mengikuti seminar methode membaca ala Glenn Doman 8 tahun lalu. Alhamdulillah, terlihat dari foto diatas, Fathiin, anak saya yang pertama sudah menikmati aktivitas membacanya walaupun masih berusia 11 bulan 8 hari. Oya, ini bukan melek huruf, jadi diusia itu tentu Fathiin belum bisa membaca. Hanya saja, saat dia memegang koran, majalah ataupun buku bergambar ia akan membolak balik dan mengamatinya dalam waktu lumayan lama.


Selain itu, saya selalu menempatkan buku-buku dimana pun sekiranya mudah dijangkau oleh anak-anak. Saya juga tak sayang jika buku yang saya beli dirobek anak-anak. Ilmu ini saya dapat dari majalah Tarbawi edisi spesial yang berjudul Surat-Surat Cinta Sang Pejuang.


Nah, di majalah tersebut ditulis pengalaman Agus Salim dalam mengajarkan kecintaan membaca pada anak-anaknya. Sedikit info, semua anak Agus Salim tidak ada yang bersekolah formil. Mereka menerapkan home schooling (bahasa keren sekarang. Kalau dulu sih bilangnya sekolah di rumah) tapi entah sampai jenjang apa saya lupa.


Dan satu hal terpenting dalam memupuk kecintaan anak membaca ialah TELADAN. Saat orang tua menginginkan anak senang membaca, maka si orang tua pun harus memiliki kecintaan yang sama. Saya selalu membawa buku kemanapun saya pergi. Kebetulan saya termasuk orang yang bisa menikmati aktivitas membaca dalam kondisi apapun, termasuk diatas kendaraan.

You Might Also Like

29 komentar

  1. Ini memang bisa menjadi perhatian kita semua...

    Kadangkala ruang dirumah kita itu terbatas ... sehingga (katakanlah) perpustakaan kita itu bercampur dengan buku bacaan punya anak-anak ...
    Buku kita jadi (kadang) dibaca oleh anak-anak
    Buku anak-anak ... kadang juga saya baca ... hahaha ...

    (mudah-mudahan bisa nabung untuk bisa bikin rak ... untuk menyimpan buku koleksi masing-masing)

    Salam saya Mbak Ika

    BalasHapus
  2. sulungku Vivi juga sudah mulai suka ngintip2 buku koleksi emaknya nih mba, apalagi klo itu pas buku antologi yg ada tulisan emaknya di dalamnya hihihii... untunglah yg terbaru kemarin bebas dibaca segala umur, tentang kekagumanku pada ibunda :)
    Emang bener ya mba, cinta buku dan gemar membaca memang harus dicontohkan. Meskipun seringnya aku numpuk buku aja sih setelah beli dari tobuk, bacanya kapan2 pas sempet hehehee...

    BalasHapus
  3. Aaamiin, makasih doanya Om ^^

    BalasHapus
  4. Betul mbak, itu point paling penting. ^^

    BalasHapus
  5. Betul mba, minat membaca harus kita pupuk sedini mungkin. Salah satu cara yg ampuh adalah kita memberi contoh pada mereka, dgn kita rajin membaca buku.

    BalasHapus
  6. Saya termasuk orang yang sangat rapi kalau dalam urusan buku mbak. Kalau barang lain sih mau berantakan berserakan dalam rumah gpp hehehe.... Nah namanya anak2 itu kan sukanya bikin berantakan. Waktu anak-anak umur setahunan, buku2 sudah tertata di rak diambili, diamat-amati, dilempar sembarangan. Ambil lagi, diamati, dibawa ke kamar, lalu ditinggal begitu saja. Diambil, dijejer-jejer, terus dibuat jalan diatasnya, alias diinjak-injak. Ada pula yang disobek beberapa lembarannya. Pokoknya sampai isi rak bersih dan buku berserakan. Pengen marah, tapi mereka masih anak-anak. Pengen melarang, takutnya mereka nanti nggak mau pegang buku setelah beranjak besar. Jadi ya bersabar aja, koleksi buku diobrak-abrik sama mereka.
    Alhamdulillah sekarang sudah lebih bertanggungjawab, berantakin masih, nyobek juga kadang masih. tapi sekarang dah mau merapikan lagi. semoga bisa jadi awal mereka gemar membaca nantinya

    BalasHapus
  7. Tidak hanya buku, bila bukan "miliknya" penting sekali membiasakan izin meski di rumah sendiri. Ahaaa, itu Totto-Chan bukan hanya Azzam yang suka membacanya, saya pun beberapa kali mengkhatamkannya. Ada juga yang asyik, Mbak, Sang Alkemis.

    BalasHapus
  8. Jadi inget kejadian saat anakku tiba2 melihat novel karya mbak Alaika di atas meja. Dia tertarik karena ada nama mbak Al disana, dia kan sudah sering ketemu mbak Al. Untung cepet ketauan, kalau ngga ..waduh, kan isi novelnya untuk 17 tahun ke atas :)
    Salah saya juga sih, menyimpan buku itu kok di atas meja.

    BalasHapus
  9. Saya memiliki perpustakaan kecil yang ada di ruang shalat, kebetulan isinya nggak ada buku dalam bentuk novel ataupun cerita, yang ada hanyalah buku islami dan khususnya untuk anak-anak saya siapkan buku Muhammad teladan, jadi selama ini nggak ada pembatasan khusus siapa saja yang boleh baca. Hanya saja saya sangat tertarik dengan pendidikan budi pekerti yang Njenengan terapkan mengenai 'ijin' untuk menggunakan milik orang lain yang belum bisa saya terapkan untuk anak-anak seperti yang Bu Ika contohkna.
    Terima kasih telah berbagi kebaikan

    BalasHapus
  10. Hmmm jadi pelajaran juga nih mbak buat Chi, ponakan Chi juga kadang-kadang gitu. Kalo lihat sampul buku yang menarik jadi penasaran, padahal isinya belum pantes buat mereka konsumsi.

    BalasHapus
  11. seneng ya mbak, kalau anak anak sdh sejak kecil suka membaca, Salut sama ortunya nih :)

    BalasHapus
  12. setuju sekali dengan alinea terakhir mak, TELADAN, percuma klo ingin anak suka baca tapi ortunya gak suka baca n di rumah tidak ada buku. alhamdulillah, si kecil saya pun udah mulai ada keinginan baca buku sendiri

    BalasHapus
  13. Wih Azzamnya keren, Bunda, udah bisa baca Totto Chan, saya baru mulai baca novel level gitu kelas 5/6 SD. Ibu saya juag kayak Bunda Ika, getol banget ngebacain buku anak-anaknya.

    BalasHapus
  14. First of all, aku ngiri sekali pda mu yg bisa baca di atas kendaraan, kl aku boro2 bca buku, ngeri SMS di mobil aja puyeng :(
    Alhamdulillah aku jg dr kecil biasanya nadia bca buku, ga pernah ngajakin cukup liat contohnya aja yg gila buku, hampir setiap hri sejak bayi nadia liat emaknya baca buku, aku jg ajarkan punya ma2 kl mo pinjam hrs bilang dulu n dia ngerti. Buku nadia pun lmyn banyak, baru bisa bca jd lg semangat bgt tiap hri baca :)

    BalasHapus
  15. Kalau saya pribadi sih tidak terlalu memfokuskan kepada anak untuk membaca, orang buku pelajaran mereka aja sudah numpuk dan harus dibaca semua. Kebetulan ketiga anak laki-laki saya hobinya menggambar, yah saya suport di bidang seni gambar. Hanya anak perempuan saya yang hobi buku cerita.

    BalasHapus
  16. Kebayang paniknya Jeng Ika, dan syukur peletakan dasar 'minta izin' tertanam baik shg jadi pemilah awal. Selamat membaca para jagoan.

    BalasHapus
  17. kerennnnn.... sekeren mamahnya. ngiri, daku arang baca, pulang kerja dah capek. inetan aja kadang susah cari waktunya

    BalasHapus
  18. Totto Chan <3
    *udah cuma komen ini aja hahaha*

    BalasHapus
  19. Mbak Ika..untungnya anak-anak saya kurang paham bahasa Indonesia yg ada di buku2 saya...hehe

    saya mah pusiiing kalau baca buku di atas kendaraan itu mbak Ika.
    Anak-anak disini tidak diwajibkan bisa membaca saat masuk SD mbak Ika, tapi semakin besar, yang gadis-gadis jajannya buku selain baju :)

    Dan yang namanya ijin pake atau pinjem kayanya disini ko gimanaaa gitu, kalau saya memakai sesuatu kepunyaan anak saya, dan lupa bilang mereka, mereka agak sedikit marah, pdhl yg minjem emaknya dan cuma sebentar hehehe... pokoknya tdak ada pengecualian, minjem ya harus minta izin dulu titik gitu. :D

    BalasHapus
  20. Wuaaah syukurlah... Ikutan panik pas baca palagraf pertama.
    Saya pertama melek baca dibuat tertarik oleh novel cerita lima sekarang Mbak, tadinya masih ngeja menjadi lancar

    BalasHapus
  21. Senang ya Mbak saat anak2 senang membuka2 buku ^^

    BalasHapus
  22. Tapi Azzam tuh keren, kok bisa dia tertarik dengan novel. Secara novel gak banyak gambarnya. :)

    BalasHapus
  23. O metode Gllen Doman ya Mba Ika? Akang pernah mempraktekannya kepada Gilang di usia 3 tahun dengan harapan Gilang bisa mengikutinya. Namun ternyata Gilang divonis tak bisa mengikuti metode tersebut karena masalah penglihatannya. Kini kartu2-nya (bikinan sendiri) dipake oleh akbar, meskipun tidak konsisten. Akang melakukan "flashing" jika akbar sedang ingin mengikutinya aja, jika sedang malas akang nggak paksain.

    BalasHapus
  24. biasanya kalu ada buku "dewasa" ku tarohnya terpisah.. di kamar masingmasing sih, bukan di ruang keluarga.. jadi kamar itu daerah kita.. kudu minta ijin.. termasuk buku..
    ada beberapa ponakan yang suka baca sherlock, padahal serius bukunya.. itu ditaroh di ruang keluarga.. juga gajahmada.. walo begitu, kita tetap keteteran kalu ponakan minta komik.. ada loh komik yang radarada dewasa.. jadi ortu emang kudu awas..

    BalasHapus
  25. waahh.. senang ya anaknya udah mulai seneng baca :D

    BalasHapus
  26. Duh...kebayang paniknya mbak Ika waktu Azzam buka2 buku dewasa ya. Terima kasih sudah dituliskan di sini mbak, saya jadi ikutan belajar nih, betul2 harus dibuatkan rak buku khusus untuk anak2 berarti ya...

    BalasHapus
  27. buku anak-anak simpan di bawah mbak, kalau buku aku dan suami di rak atas, yang emang aku pesan tinggi raknya. Azzam sudah suka baca ya

    BalasHapus
  28. Baca tulisan mba ika mendapat ilmu gratis di pagi hari. Di rumah malah masih tercampur :D Harus dibetulin yah hihi :D

    BalasHapus
  29. Aku bacanya via tablet. Gimana ya? Mudah2n doi tetep bisa nular suka baca..soalnya aku suka rempong bawa buku

    BalasHapus