Ekonomi Syariah Barokah & Menguntungkan

12.50.00

[caption id="attachment_8803" align="aligncenter" width="448"]kartun-ekonomi-syariah-abu-abu credit[/caption]

Sedih rasanya saat membaca berita di Republika online (2/12) yang mengabarkan jika Jakarta tidak termasuk dalam tiga besar pusat ekonomi syariah dunia. Siapapun pantas bersedih, mengingat Islam merupakan agama mayoritas di negeri ini. Ironisnya lagi, salah satu kota yang menjadi bagian dari tiga pusat ekonomi syariah dunia bukan berasal dari negara dengan mayoritas penduduknya beragama Islam yakni London.


Kondisi ini tentu menjadi pekerjaan rumah untuk semua pihak, baik pemerintah sebagai pembuat kebijakan, pelaku usaha yang berkecimpung didalamnya dan tentunya masyarakat yang memiliki andil besar dalam mensukseskan penerapan ekonomi syariah di negeri ini.


Hambatan terbesar dalam penerapan ekonomi syariah justru datang dari masyarakat. Hambatan tersebut sangat terasa terutama pada instrumen keuangan syariah. Masih banyak masyarakat yang belum memahami sepenuhnya seperti apa sesungguhnya sistem kerja bank syariah. Tak sedikit yang menganggap bank syariah sama dengan bank konvensional.


Masyarakat yang sudah paham ekonomi syariah pun tidak lantas sepenuhnya percaya pada kemurnian bank syariah. Masih banyaknya bank-bank syariah yang berkantor sama dengan bank konvensional (Office Channelling) yang menjadi induk bank syariah tersebut, hingga masyarakat menganggap bank syariah masih terkontaminasi dengan bank konvensional. Tak hanya itu, masih adanya rumor yang beredar di masyarakat yang mengatakan jika syariah pada bank-bank syariah hanya labeling semata. Hanya labelnya saja yang syariah, sementara prakteknya sama dengan bank konvensional membuat masyarakat ragu.


Sementara disisi lain, bank yang sejak awal berdiri konsen menjadi lembaga keuangan syariah juga memiliki kendala berupa terbatasnya cabang yang dimilikinya, sehingga tidak semua daerah bisa menggunakan jasanya.



Prinsip Dasar Ekonomi Syariah


Terlepas dari semua kendala yang melingkupinya, sistem ekonomi syariah sejatinya merupakan sistem yang paling adil dan menguntungkan serta lebih barokah. Sistem ini jelas bukan bertujuan untuk mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya. Tapi, bagaimana agar kesejahteraan bersama dapat dicapai serta mampu memberikan rasa adil pada semua.


Ekonomi syariah yang mempunyai prinsip sinergi (ta’awun) ini memungkinkan orang-orang yang lebih sukses untuk membantu sesamanya yang kurang beruntung. Mekanisme peralihan kepemilikan yang berlandaskan pada prinsip ridha atau ikhlas ini melalui beberapa cara diantaranya shadaqah, infaq, hadiah dan hibah.


Selain itu, sistem bagi hasil yang dimiliki ekonomi berbasis syariah memungkinkan kerugian dan keuntungan ditanggung bersama (pemodal dan pengelola). Besarnya tanggungan tentu disesuaikan dengan akad yang telah disetujui bersama. Dan disinilah letak keadilan sistem ekonomi dalam Islam. Tidak ada salah satu pihak yang dieksploitasi maupun dirugikan.



Pilar-pilar Ekonomi Syariah


Bangunan ekonomi syariah yang memiliki pondasi berupa tauhid, kesempurnaan syariat dan kemuliaan akhlak ini memiliki tiga pilar pengokohnya diantaranya;




  • Pertama, meninggalkan seluruh unsur-unsur yang dihukumi haram menurut syariat. Sistem ekonomi Islam mencakup dua dimensi yakni dimensi vertikal (hablum minallah) dan dimensi horizontal (hablum minannas). Keduanya mempunyai arti ibadah, yakni ketaatan seorang hamba kepada Allah SWT. Artinya, hukum yang melandasi ekonomi syariah adalah syariat yang telah ditetapkan Allah SWT, bukan pada pemikiran manusia semata.



  • Kedua, prinsip keseimbangan antara sektor riil dengan sektor keuangan. Ketidakseimbangan dalam kedua sistem ini akan menyebabkan bubble economy pada sistem ekonomi kapitalisme. Lain halnya dengan ekonomi kapilatis yang cenderung mengutamakan sektor moneter, sistem ekonomi Islam lebih mengutamakan sektor riil dibandingkan sektor moneter. Dalam perspektif Islam, kekayaan negara tidak diukur dengan jumlah uang yang beredar, tetapi dengan produksi barang yang dapat dihasilkan oleh negara tersebut. Maka tak heran jika sistem ekonomi syariah mengukur perkembangan ekonomi negara bukan pada pertumbuhan ekonomi, tetapi pada aspek pemerataan dan pengurangan jumlah kemiskinan.



  • Ketiga, prinsip proses transaksi jual beli yang adil, tidak menguntungkan satu pihak dan merugikan pihak yang lain. Dimensi ibadah dalam ekonomi Islam menjadikannya menuntut kualitas ketaatan yang tinggi pada pelakunya. Ketaatan yang bersifat horizontal adalah berlaku adil. Dan salah satu tangga untuk mencapai tingkat adil ialah kejujuran. Maka tak heran, jujur menjadi poin penting dalam hal ini.


Picture12


Gerakan Ekonomi Syariah (Gres!)


Bisnis syariah tak hanya menjadi tren di Indonesia. 'Demam' syariah kini sudah menjadi fenomena global dan tak hanya terjadi di negara-negara yang berpenduduk mayoritas Muslim. Perkembangan ini terutama terjadi di lembaga bisnis keuangan seperti bank, asuransi, dan pasar modal.


Indonesia termasuk negara yang terlambat mengalami 'demam' syariah. Krisis moneter tahun 1997 menyentak kesadaran kita bahwa sistem ekonomi yang selama ini kita jalani ternyata rapuh.


Negara lain telah menerapkan ekonomi syariah jauh sebelum kita, contohnya Banama. Negara kecil yang terdapat di kawasan kepulauan Karibia di Samudra Atlantik ini telah memiliki sebuah lembaga investasi Islam sejak tahun 1981 bernama Dar Al-Mal Al Islam Trust, Nassau dan Masraf Faisal Islamic Bank & Trust pada tahun 1982. Sementara di Toronto, Kanada, telah ada lembaga pembiayaan perumahan syariah yang bernama Cooperative Housing Corporation sejak 1980. Negara Denmark telah berdiri lembaga keuangan syariah sejak 1983 bernama Islamic Bank International of Denmark.


Bahkan di beberapa negara ASEAN, lembaga keuangan Islam telah lebih dulu ada seperti di Filipina. Negara tersebut telah berdiri Amanah Islamic Investment Bank pada tahun 1990. Sementara di Thailand Bank for Agriculture and Agriculture Cooperatives telah memiliki 30 cabang bank Islam pada tahun 1999.


Kurang berkembangnya ekonomi syariah di negeri ini disebabkan belum terwujudnya sebuah entitas padu dalam sebuah kekuatan jamaah ekonomi nasional oleh seluruh elemen ekonomi syariah di negeri ini. Pusat Komunikasi Ekonomi Syariah (PKES) menggandeng seluruh elemen stakeholder dan shareholders ekonomi syariah nasional, didukung pihak eksekutif dan legislatif membuat sebuah gerakan yang bernama Gerakan Ekonomi Syariah (Gres!).


Gerakan massal yang bertujuan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi syariah Indonedia agar lebih padu, atraktif, masif, dan akseleratif telah diluncurkan oleh Pemerintah melalui Bank Indonesia beserta lembaga keuangan dan perbankan syariah pada hari ahad 17 November lalu. Peluncuran yang dibuka langsung oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Lapangan Silang Monumen Nasional, Jakarta diharapkan mampu mendorong misi Indonesia untuk menjadi pusat ekonomi syariah dunia.


Gres! digagas untuk mendorong kesadaran kolektif para pemangku kepentingan syariah untuk bahu membahu bersinergi membangun sistem ekonomi syariah nasional agar ekonomi syariah bisa terintegrasi dan menjadi gaya hidup masyarakat serta dapat berkembang dan maju.



Ekonomi Syariah Barokah & Menguntungkan


Awal tahun 2008 menjadi tahun terburuk dalam catatan sejarah bisnis saya. Tahun itu saya tertipu sahabat sendiri. Usaha saya limbung dan berada diambang kebangkrutan. Saya yang sebelumnya tak pernah berhubungan dengan bank terkait pinjam meminjam pun pada akhirnya terpaksa melakukannya.


Angin segar datang saat saya mendapat informasi pinjaman dengan bunga ringan dari salah satu bank konvensional terbesar di negeri ini. Bak seorang pahlawan, bank tersebut memberi pinjaman lebih dari yang saya butuhkan. Malangnya, bukan berangsur membaik, usaha saya semakin terseok-seok. Saya lalu berpikir dan merenung, dosa apa yang telah saya lakukan hingga kemalangan ini tak jua menemukan jalan keluarnya. Padahal Allah berjanji jika 1 kesulitan pasti diapit 2 kemudahan (merujuk pada Al Qur'an [94]: 6 ).


Hingga suatu hari, saya membaca artikel sebuah majalah yang menceritakan profil seorang pengusaha yang mampu bangkit dari keterpurukkannya berkat memindahkan semua pinjamannya pada bank syariah. Dan mulai saat itu, saya menyadari, dosa yang membuat usaha saya makin terpuruk adalah melanggar syariah yang telah ditetapkan Allah SWT terkait riba.


Awal tahun ini saya mencoba melebarkan sayap usaha. Pilihan saya jatuh pada usaha rental mobil. Berhubung masih taraf coba-coba, saya membeli 1 unit mobil dengan pembiayaan menggunakan bank syariah. Alhamdulillah, bisnis yang didanai dengan cara yang tepat benar-benar memberi keberkahan pada usaha rental mobil saya. Hingga pemilu 2014 nanti mobil saya sudah disewa oleh salah satu calon legislatif (caleg).


Saya juga bersyukur telah berhijrah menggunakan bank syariah disaat ekonomi negara ini sedang tidak stabil. Pasca kenaikkan BBM bulan agustus lalu, negeri ini dilanda inflasi dan melemahnya nilai tukar rupiah. Beruntung saya telah menggunakan pembiayaan syariah, pinjaman saya tak terpengaruh dengan gejolak ekonomi negeri ini. Tak terbayang berapa lonjakan bunga yang harus saya bayarkan jika menggunakan pinjaman dari bank konvensional. Hijrah menggunakan ekonomi syariah selain menguntungkan juga menenteramkan hati karena lebih barokah.


Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Karya Tulis Ekonomi Syariah yang diadakan oleh Pusat Komunikasi Ekonomi Syariah bekerjasama dengan Bank Indonesia


gres-website9


Referensi:
Prof. Jusmaliani, M.E.,dkk, Bisnis Berbasis Syariah, Bumi Aksara

Prof. Dr. H. Veithzal Rivai, SE., M.M., MBA., dkk, Islamic Transaction Law in Business, Bumi Aksara

Siti Najma, Bisnis Syariah dari Nol, Hikmah Mizan

http://www.eramuslim.com.my/pengertian-tujuan-prinsip-prinsip-ekonomi-islam/

http://www.eramuslim.com/peradaban/ekonomi-syariah/pilar-pilar-ekonomi-islam.htm#.Up1UOCcgQd0

http://www.republika.co.id/berita/syariah/keuangan/12/01/12/lxo2dq-ekonomi-syariah-solusi-jitu-pengentasan-kemiskinan

http://www.shariacenter.com/

You Might Also Like

22 komentar

  1. Iya betul banget Mbak, Masih banyak yg belum mau menggunakan ekonomi syariah.

    BalasHapus
  2. Wuiiii....tulisan mantep pancen oyeee...semoga menang ya mb Ika

    BalasHapus
  3. Di sekitar saya juga masih banyak yang meyakini bahwa bank syariah sama saja dengan bank konvensional, Mbak.

    BalasHapus
  4. Good writing mak... moga menang. :)))

    BalasHapus
  5. saya termasuk yang belum percaya krn dpt bocoran klo bank syariah yang merupakan cabang bank konvensional, judulnya aja yg syariah, tp prakteknya tetap konvensional.. katanya sih, saya jg blum nyari tau lebih jauh hehe..

    BalasHapus
  6. walah wong mbak Ika juga jago menulis ekonomi syariah gitu kok hehehe....kalo aku mah masih banyak teorinya ketimbang menampilkan prakteknya. Yuk kita dukung ekonomi syariah agar tidak ada lagi GAP antara si miskin dan si kaya....semoga sukses mbak lombanya

    BalasHapus
  7. Sekarang tugas dari pemerintah dan juga perbankan syariah utk mensosialisasikan bahwa bank syariah bukan semata labeling saja.

    BalasHapus
  8. Waah London? Kok bisa? Saya baru tau....

    BalasHapus
  9. kalau dibandingkan,bagi hasil bank syariah erkadang lebih tinggi dari bank konvensional, mbak

    BalasHapus
  10. Tulisan mbak ika memang bagus, analisis dan penjabarannya komplit. Terlepas dari itu semua yang saya tahu bahwa peraturan bank dunia yang melarang adanya dua bank central dalam satu negara merupakan kendala tersendiri bagi bank syariah sehingga dia tetap harus menginduk pada bank konvensional yang ada., dan disinilah orang cenderung menganggap sama saja dengan bank konvensional.
    Sukses untuk karya tulisnya.

    BalasHapus
  11. bank syariah ya. pengen punya tabungan disana. tapi dari fasilitas belum menunjang. semoga tahun2 kedepan makin sukses jadi tidak semata2 labeling atau channeling saja.

    BalasHapus
  12. Aku dong sekeluarga sudah menggunakan produk syariah semua loh . Btw keren tulisannya

    BalasHapus
  13. Postingan seperti ini yang sesungguhnya diperlukan oleh masyarakat luas termasuk akang sendiri, sebagai edukasi untuk kemudian diikuti tindakan nyata ber-ekonomi syari'ah. Akang sendiri masih sulit terlepas dari jeratan ekonomi konvensional :-(

    BalasHapus
  14. Wih... lengkap banget Mak Ika...
    Semoga menang ya.

    BalasHapus
  15. memang Jakarta adalah kota dengan penduduk muslim terbanyak, demikian juga dengan Indonesia dalam skala besar, namun walau demikian tidak semua muslim mau menjalankan syariah agama secara kaffah, mereka lebih cenderung memilih jalur sekuler...jadi tak heran bila ekonomi syariah kita ketinggalan dengan London...., selamat berlomba, semoga menjadi yang terbaik.... salam :-)

    BalasHapus
  16. Kebetulan pas di Cilodong Depok kemarin, saya juga mengikuti seminar yang salah satu pembicaranya dari Gres. Dan saya baru mendapatkan wawasan dari penjelasan pemateri bahwa bank syariah di Indonesia sangat jauh dari London dan Malaysia. Malaysia, sangat ditopang Pemerintah, itulah kenapa bank syariah disana maju snagat pesat. Sedangkan di Indonesia, bank syariah hanya dikembangkan dari kekuatan ekonomi rakyat sehingga perkembangannya lebih lambat

    BalasHapus
  17. sy udh pernah py tabungan di bank Syariah, sayangnya bbrp kali drepotin dan dikecewakan. Ya, semoga ke depannya bank Syariah lebih baik lagi

    BalasHapus
  18. meskipun Indonesia, khususnya Jakarta kalah oleh Kota London, namun itu bukan berarti kita kalah dalam menjalankan perekonomian Islam, semoga hal ini bisa memicu kita untuk lebih memajukan lagi ekonomi syariah di negri ini, kalau bukan kita umat muslim se indonesia yang melakukannya, lalu kepada siapa lagi kita bisa berharap

    BalasHapus
  19. pusat ekonomi syariah dunia di London ?

    Waaahh saya baru tau ini ...
    Terima kasih atas info dan pengetahuannya ya Mbak

    Salam saya

    BalasHapus
  20. Negeri kita memang aneh. Mayoritas memang muslim, tapi yang muslim tersebut malah yang paling alergi kalau syariat islam ditegakkan di negaranya sendiri :(

    BalasHapus
  21. Saya tertarik dengan tulisan anda yang berjudul "Ekonomi Syariah Barokah & Menguntungkan".
    Saya juga mempunyai tulisan yang sejenis mengenai Ekonomi Syariah yang bisa anda kunjungi di Informasi Tentang Ekonomi Syariah

    BalasHapus
  22. artikel anda sangat menarik sekali, saya juga mempunyai tulisan sejenis mengenai jurnal serupa yang bisa anda kunjungi Disini Happy Sharing

    BalasHapus