Anakku Mogok Sekolah

11.49.00

"Mi, mas Fathiin nggak enak badan." ungkap anak pertama saya di suatu pagi.


Sontak saya pegang keningnya, ternyata tidak panas. Ia hanya sedikit pucat. Lalu, saya pun bertanya,"Apanya yang sakit, Mas?"


"Mas Fathiin pusing, Mi."


"Oke, nanti Ummi bilang sama Ustadzah kalau hari ini mas Fathiin ijin. Sekarang istirahat, ya."


Anehnya, siang harinya Fathiin tak terlihat sakit. Ia bermain seperti biasa. Kejadian itu berulang esok harinya. Ia mengeluhkan rasa sakit yang berbeda, tapi siang harinya ia terlihat sehat.


Setelah beberapa kali kejadian itu berulang, saya menyimpulkan bahwa Fathiin pasti sedang mengalami masalah di sekolahnya. Saya lalu teringat sesuatu. Sebelum kejadian ia sakit mendadak di pagi hari, ia beberapa kali mengeluh ingin pindah sekolah. Awalnya saya pikir ini keluhan biasa karena ia baru pindah sekolah dan sedang dalam masa penyesuaian.


Pelan-pelan saya bertanya pada Fathiin mengapa ia terlihat tidak bersemangat berangkat sekolah. Sayangnya saya tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan sampai akhirnya saya berinisiatif untuk datang ke sekolahnya dan menemui wali kelasnya.


Ustadzahnya bercerita jika beberapa kali ia mendapatkan laporan dari murid yang lain jika Fathiin mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan dari salah satu temannya yang bernama A. Namun saat Fathiin ditanya oleh ustadzahnya untuk mengkonfrontasi informasi tersebut, Fathiin hanya menjawab," Nggak pa pa, Ustadzah."


Dari cerita ustadzahnya, saya yakin Fathiin menjadi korban bullying di sekolah. Pantas saja ia merasa sakit saat hendak berangkat sekolah. Sementara siang harinya ia terlihat sehat. Sakit yang dialaminya tentu karena stress. Sakit karena tekanan psikologis.


Dari informasi yang saya dapat dari internet, ternyata sebagian besar korban bullying tak berani mengungkapkan kekerasan yang dialaminya. Apalagi Fathiin termasuk anak yang introvert dan pemalu. Ia pasti tak berani melaporkan hal tersebut pada ustadzahnya maupun pada saya.



Apa itu bullying?


Setahun lalu, jika saya tak mengalami kejadian di atas, saya mungkin hanya sekilas tahu apa itu bullying. Tak pernah menyangka jika bullying ternyata berdampak sangat komplek.


Saat anak merasa tidak nyaman berada di sekolah, orang tua harus lebih sensitif dan waspada mengingat kasus bullying di sekolah sering terjadi pada anak-anak. Korban Bullying beresiko mengalami masalah kesehatan dan masalah psikologis di usia dewasa kelak. Bullying juga berpengaruh pada konsentrasi dan kepercayaan diri anak. Beberapa kali ustadzah mengeluhkan konsentrasi Fathiin yang sangat rendah. Rentangnya pendek sekali, hingga mengganggu proses belajarnya di kelas.


Lalu, apa sebetulnya bullying itu?


Bullying adalah sebuah bentuk kekerasan yang dilakukan oleh individu ataupun kelompok dengan menggunakan kekuasaan yang dimilikinya, sehingga korban merasa tertekan, trauma dan tidak berdaya.


Bullying fisik pada anak biasanya berupa tindakan memukul, mencubit, menampar ataupun memalak korban. Sementara bullying verbal berupa makian ataupun ejekkan. Sedangkan bullying dalam bentuk psikologis seperti mengintimidasi, mendiskriminasi, mengabaikan dan mengecilkan.



Apa yang harus dilakukan orang tua?


Dari pengalaman saya, saat orang tua mendeteksi adanya tindakan bullying pada anak, lakukan beberapa hal berikut ini;




  • Luangkan waktu untuk mendengarkan keluhannya. Biarkan ia menceritakan semua yang dialaminya dari A-Z, jangan diputus. Ketika akan mengajukan pertanyaan, ajukan pertanyaan yang tidak bernada introgatif hingga anak tidak merasa terpojok. Tunjukkan empati pada anak, sehingga ia merasa nyaman.  Apresiasi dan keterbukaan menjadi hal penting.



  • Sampaikan permasalahan ini kepada pihak sekolahan. Mintalah pada guru pengampu (wali kelas) untuk membantu menyelesaikan konflik tersebut dan memotivasi anak untuk berani melapor tindakan kekerasan yang dilakukan temannya kepada guru. Kerjasama dengan pihak sekolah sangat membantu penyelesaian permasalah ini.



  • Motivasi anak untuk melawan dengan cara yang cerdik. Jika bullying yang di dapat berupa kata-kata yang menghina, ajarkan anak untuk membalasnya dengan kata-kata yang berlawanan. Contohnya saat anak di sapa dengan kata-kata,"Hai anak TK". Jawab saja "Masalah buat lo." namun jika bullying yang diterima anak berupa perlakuan kasar, maka dorong anak untuk melawan. Jika ia tak berani, dorong anak untuk melaporkan kejadian itu pada guru pengampu.



  • Konsultasi ke psikolog. Berkonsultasi dengan psikolog juga penting jika hal ini di rasa sangat berat untuk di selesaikan dan si anak sulit untuk melepaskan kecemasan atas perilaku bullying yang dilakukan temannya.


Pelukan, perhatian dan motivasi dari orang tua sangat diperlukan saat anak mengalami tindakan bullying. Orang tua harus sabar mendampingi anak yang menjadi korban bullying. Seperti pengalaman saya, butuh waktu cukup lama untuk mengembalikan kepercayaan diri anak. Dorong dan yakinkan anak jika ia mampu melawan perlakuan tak menyenangkan yang ia terima di sekolah.  Ingat, jangan abaikan bullying sebab efeknya lebih berbahaya kelak ketika mereka dewasa.


You Might Also Like

23 komentar

  1. serem ya, mba, bullying itu. Aku juga dulu pernah jadi korban bullying waktu SD :'(

    BalasHapus
  2. dari dulu persoalan bullyinh jd isu serius dalam dunia pendidikan. saya juga khawatir bagaimana bila anak-anak saya sekolah kelak. Kalau sekolah, soalnya ada wacana kami didik secara homeschooling ajah. Kedekatan orangtua memang tetap primer ya Mbak. Anak-anak harus terbiasa mengungkapkan perasaan mereka dengan bebas dan tanpa rasa takut. Jadi teringat film bullying tentang anak pemain piano itu. Siapa ya...yg ayahnya Surya Saputra :)

    BalasHapus
  3. huff... kasus2 buliying itu selalu menyeramkan ya, bahkan meski yang takarannya kecil sekalpun. Kadang aku mikir, ini gambaran dari kondisi masayarakt sebenarnya bukan ya? kan sekolah itu masyarakat dalam porsi kecil.

    BalasHapus
  4. trus gimana dengan Fathiin sekarang? Semoga masalahnya cepat teratasi, ya

    BalasHapus
  5. Bersyukur ya Fathiin punya ibu yang cepat tanggap dan berinisiatif untuk mencari akar permasalahannya.
    Anak teman saya dulu juga gitu mbak, katanya sampai muntah2 kalau pagi karena nggak mau sekolah.

    BalasHapus
  6. Saya suka geram jika mendengar kata Bullying ...
    Ini mereka itu dapat dari mana sih ... ?
    Mereka tidak sadar efeknya bisa luar biasa terhadap psikis si anak ...

    Semoga saja ... sedikit demi sedikit... hal ini bisa hapus ...
    sehingga mereka bisa sekolah dengan penuh keriangan dan cinta kasih

    salam saya Mbak Ika

    BalasHapus
  7. segera konsultasikan dengan gurunya, Mbk.

    BalasHapus
  8. Saya termasuk korban bullying selama 3 tahun waktu SD
    Saya takut dipukul bola kasti,oleh karena itu saya berusaha memenuhi permintaan uang dari temanku yang galak kalau kasti.
    Ketika saya pangkat kapten si dia ketakutan waktu saya tilpun padahal saya ingin tanya kabarnya saja setelah sekian puluh tahun nggak ketemu

    Salam hangat dari Surabaya

    BalasHapus
  9. Pelukan, perhatian, dan motivasi dari orangtua memang sangat penting bagi anak korban bullying di sekolah. Semoga para orangtua memerhatikan hal ini.

    BalasHapus
  10. Aku juga pernaaaaah jadi korban Bullying, tapi aku takut bilang ke ortuku.

    BalasHapus
  11. secara psikologis, efek bullying bisa berakibat jangka panjang ya mbak

    BalasHapus
  12. anak sy juga. baru TK A. ga mau sekolah krn di kelas bnyk yg nakalin. cm krn msh sy tungguin seharian jd msh bs dibujuk n dibelain. meski bgtu sy sedih bngt lihat anak sy spt itu. tambhn lg guru ga bs nangani krn jml siswa tll bnyak. sampai skrg sy blum dpt solusinya. paling2 sy ajari anak sy utk melawan. hanya sj anak sy itu tipe pemalu. jd diajarin ngelawan balik pun dia milih mundur.

    BalasHapus
  13. Semoga Mas Fathin bisa segera pulih ya Mba Ika. Maturnuwun sudah di share informasinya..

    BalasHapus
  14. Dek Fathin, semoga bisa kembali semangat sekolah ya :)

    BalasHapus
  15. Tugas orang tua adalah menanamkan kepercayaan diri pada anak.

    BalasHapus
  16. saya juga pernah tuh waktu SD minta pindah sekolah.. bukan karena bullying sih, berantem biasa aja, biasa anak2 cewek :D

    beruntung fathiin mempunyai ummi yang peka dan & peduli :)

    BalasHapus
  17. kalau sekali2 itu kenakalan anak biasa, kalau jadi kebiasaan itu bibit2 preman, guru harus serius menanganinya...
    STOP bullying
    tulisan bermanfaat

    BalasHapus
  18. Adikku waktu dulu kls 1 SD prnh jadi korban bullying. Udah dilaporkan ke guru bbrp kali tapi tidak ditanggapi. Akhirnya naik kelas 2 oleh ibu saya dipindahkan ke sekolah yang lain. Alhamdulillah di sekolah yang baru tersebut lebih empati dan bisa memberikan terapi yang tepat untuk adik saya yang 'mantan' korban bullying. Kini beliau sudah kelas 2 SMA, dan secara mental jauh lebih kuat dan dewasa. Sering dipercayai untuk berbagai amanah di sekolah, bahkan sampai melindungi teman-temannya.

    BalasHapus
  19. Waah jadi inget pengalaman anak sulung sy yg dibully di sekolahnya. Langsung saja sy melapor pada gurunya. Lalu sang guru yang perhatian langsung menegur anak yg membully Aa dan disuruh minta maaf. Masalah selesai :)
    Saat naik kelas, Aa dibully lagi oleh anak lain. Sayang gurunya kurang perhatian meski saya sudah melapor. Anak yg membully juga kelihatan menjadi2. Akhirnya, Aa kami pindahkan sekolahnya :(
    Semoga masalah Fathin sudah selesai ya, Mak :)

    BalasHapus
  20. Kepekaan Jeng Ika dan kesigapan bertindak sungguh membantu Fathin. Salam hangat

    BalasHapus
  21. duh kayak aku jaman TK, males sekolah, soalnya ada anak yang suka ngejek2 gitu.. termasuk bully ga ya ituu?

    BalasHapus
  22. Alhamdulillah kalau si anak bisa berubah. Awalnya saya khawatir nanti kepercayaan dirinya rendah hingga dewasa. Ternyata contoh adikmu bisa berubah ya. Makasih ya, jadi lebih semangat lagi nih.

    BalasHapus
  23. trus sekarang fathiin gimana mbak? udah masuk sekolah lagi kah?

    BalasHapus