Masuk Neraka Siapa Takut!!!??? #DosaBlogger

12.55.00

Masuk Neraka Siapa Takut

Hajatan GA Blogs of Hariyanto bener-bener mengusung tema yang provokatif. Ada rasa ngeri saat mengetikkan judul tema blog. Siapa sih yang nggak keder kalau inget nereka. Tapi....nyatanya banyak orang yang keder hanya sesaat.


Mau bukti? Nggak usah jauh-jauh dan ngomongin orang lain. Lebih baik bermukhasabah dan mencoba berbenah.


Setiap minggu, minimal 1 kali dalam seminggu saya mengikuti kajian. Tepatnya setiap hari rabu siang. Pulang dari pengajian selalu saja punya semangat  untuk memperbaiki diri. Menambah hafalan ayat, memenuhi target minimal tilawah 1/2 juz, qiyamullail minimal 3 kali dalam seminggu dan 4 kali shalat Dhuha dalam seminggu. Semua niatan itu masih menyala-nyala saat pulang ke rumah. Hari berikutnya, tepatnya hari kamis, nyala itu mulai sedikit memudar dan semakin memudar hingga akhirnya benar-benar padam pada hari senin. Tepat 1 hari sebelum recharge iman. Ya, sehari sebelum menyetorkan tugas itu semua baru deh kelimpungan. Trus 5 hari lalu, ngapain aja coba??!!!


Kesalahan pertama dilanjutkan dengan kesalahan kedua. Tahu banyak target yang nggak terpenuhi lalu mereka-reka alasan yang sekiranya syar'i supaya hari rabu bisa ijin dari kajian. Malu sama temen-temen kalau ketahuan setorannya nggak ada yang terpenuhi. Lha kok malu sama temen-temen, malah bukan sama Allah. Please, deh. Hari gini, orang model begini banyak, kan? Kalau nggak banyak, ngapain koruptor semakin berjubel-jubel dan banyak yang antri! Belum selesai kasus A, pindah kasus B. Kasus B belum jelas juntrungannya pindah kasus C. Dan anehnya, nggak kenal laki nggak kenal perempuan. Lebih aneh lagi korupsinya berjamaah. Satu keluarga diajakkin korupsi.


Jadi inget kalimatnya Sayyidina Ali dalam sebuah khutbahnya,"Seandainya dibukakan tabir syurga dan neraka serta 'Arsy Allah di hadapanku, tak akan menambah sedikit pun keimanan dalam diriku!"


Maaf-maaf ya, ini kalimat tingkat tinggi dan berlaku hampir pada semua shahabat di jaman Rasulullah SAW. Terjemahan kalimat Ali bukan seperti yang berlaku saat ini. Mau syurga dan neraka tabirnya disingkap juga, maksiat tetep jalan, korupsi tetep asyik.




Seandainya dibukakan tabir syurga dan neraka serta 'Arsy Allah di hadapanku, tak akan menambah sedikit pun keimanan dalam diriku! ~Ali bin Abi Thalib



Kalimat Ali menggambarkan betapa setiap detik dalam hidup para shahabat dan shahabiyah senantiasa mampu memvisualisasikan syurga, neraka dan muroqobatullah (merasa senantiasa diawasi oleh Allah SWT). Mau bukti?


Kisah pertama, tentang wanita penjual susu.


Malam itu, kota Madinah sepi. Tak terlihat orang berlalu lalang ataupun terlihat orang sedang duduk ngobrol berkelompok. Madinah memasuki musim dingin. Wajar kiranya jika orang enggan untuk keluar rumah. Tapi tidak demikian dengan Khalifah Umar. Amanah ummat yang dibebankan diatas pundaknya justru membuat kedua matanya enggan untuk sekedar terpejam.


Lama ia berjalan bersama ajudannya, ia pun kelelahan dan berniat untuk beristirahat sejenak dengan bersandar di sebuah dinding rumah sederhana di sebuah perkampungan di Madinah. Tiba-tiba ia dikejutkan dengan percakapan antara seorang ibu dengan puterinya, pemilik rumah tersebut.


Si ibu berkata kepada putrinya,“Campurkan air pada susu yang mau kita jual, nak!”

“Bagaimana mungkin aku mencampurnya dengan air, bu. Bukankah Amirul Mukminin telah melarang para penjual susu untuk melakukan itu." jawab si anak.

“Penjual-penjual susu yang lain juga mencampur susu mereka dengan air. Sudahlah, nak, campur saja! Amirul Mukminin pasti tidak tahu apa yang kita lakukan!”

“Bu, jika Amirul Mukminin tidak mengetahuinya, maka Tuhan Amirul Mukminin pasti mengetahuinya.”

***

Kisah kedua. Ini kisah persaingan Abu Bakar dan Umar bin Khatab. Persaingan yang patut kita contoh.

“Hari ini saya akan mengalahkan Abu Bakar!!”ujar Umar bin Khattab dengan yakin. Saat itu Rasulullah SAW mendatangi para sahabatnya dan menganjurkan para sahabat untuk bersedekah sebagai modal untuk membiayai Perang Tabu.

Kali ini Umar bin Khattab betul betul ingin mengalahkan Abu Bakar dalam hal bersedekah untuk jihad, dan dia sangat yakin akan memenangi persaingannya dengan Abu Bakar, sebab jumlah harta yang dimiliki Umar bin Khatab saat itu jauh lebih banyak dibandingkan jumlah harta Abu Bakar. Dengan penuh semangat, Umar pulang ke rumahnya dan segera kembali dengan membawa setengah dari seluruh harta yang dimilikinya, lalu ia letakkan kehadapan Nabi.


Rasulullah sangat memahami keinginan Umar yang bersemangat luar biasa bersedekah dalam jihad, maka yang Rasulullah tanyakan adalah “Berapa yang telah engkau tinggalkan untuk keluargamu ?”


Umar pun menjawab “Telah aku tinggalkan separuh dari seluruh hartaku, wahai Rasulullah.”


Tak berapa lama, datanglah Abu Bakar dengan membawa harta yang jauh lebih sedikit daripada harta yang dibawa oleh Umar. Kemudian diletakkannya harta tersebut dihadapan Nabi. Rasulullah pun sangat memahami keinginan sahabatnya Abu Bakar yang ingin bersedekah dalam jihad. Lalu, Rasulullah SAW pun bertanya pada Abu Bakar,“Apa yang telah engkau tinggalkan untuk keluargamu, wahai Abu Bakar?”


Abu Bakar menjawab “Aku tinggalkan Allah dan Rasul-Nya untuk mereka!”


Umar yang mendengar penuturan Abu Bakar lalu berkata “Demi Allah, aku tidak dapat mengunggulimu setelah hari ini, wahai Abu Bakar!”


Tahukah kalian kawan, kejadian itu adalah kali ketiga Abu Bakar menyedekahkan semua hartanya setelah awal keislamannya dan saat hijrah bersama Nabi,


Dua kisah diatas memberi gambaran pada kita, betapa dunia tak ada artinya dibandingkan Allah dan Rasul-Nya. Ketika Allah dan Rasul-Nya memerintahkan sesuatu, yang keluar dari mulut mereka hanyalah perkataan Sami'na Wa Atho'na, kami mendengar dan kami taat. Tak peduli orang lain tahu atau pun tidak. Dan satu lagi yang perlu dicatat, mereka mempersembahkan yang terbaik yang mereka miliki untuk Allah dan Rasul-Nya. Maka tak heran jika akhlak Rasulullah dan para shahabatnya disebut Al Qur'an yang berjalan, sebab semua yang isi Al Qur'an telah include dalam diri mereka. sudah menjadi bagian dari hidup mereka.




[caption id="attachment_8651" align="aligncenter" width="507"]blog-im credit[/caption]

Mari bicara tentang kita, para blogger


Membaca postingan saya kali ini, pastinya kalian bertanya-tanya, kok nggak ada sinkronnya antara judul dan isi. Sabar sodara! Tulisan diatas baru prolognya. Sekarang kita masuk ke isinya. Lha kok panjang bener? Jangan salahkan saya sodara, salahkan pak Hariyanto yang memberi syarat GA ini minimal 1000 kata. Silahkan pak Hariyanto ditimpuk rame-rame :lol:


Lalu, dosa-dosa apa yang dilakukan para blogger? Ok, nggak usah berpanjang kata, mari kita pritili satu persatu dosa-dosa kita.


Pertama, lihatlah apa yang kamu tulis! Seberapa sering kita menulis tulisan yang tidak bermanfaat? Curhat geje, menulis nyerempet hal-hal yang berbau porno atau apapun yang tidak memberi manfaat pada pembacanya. Ingat, apa yang kita tulis, itu pun tak luput dari pertanggungjawaban kita di yaumul hisab nanti.


Tidakkah kita sadari, menulis sesuatu yang bermanfaat termasuk amal jariah?


"Apabila Manusia mati maka terputuslah amalnya kecuali karena tiga hal, 1. Shadaqah jariyah, 2. Ilmu yang bermanfaat, atau 3. Anak shaleh yang mendoakannya". (HR. Muslim)

Tulisan yang memberi kemanfaatan untuk orang lain Insya Allah akan menjadi amal yang akan mengalirkan pahala bahkan saat kita telah beristirahat untuk selamanya. Yuk, mulai sekarang tulis postingan yang bermanfaat. Tak selalu harus menginspirasi hingga membuat orang lain tergugah, yang terpenting minimal kita tidak membuat tulisan yang sia-sia dengan menulis hal-hal yang nggak penting.

Kedua, lihatlah berapa waktu yang kalian habiskan! Seberapa sering waktu kita habis untuk ngeblog?

Coba diingat-ingat, kapan kita disibukkan dengan dunia blog. Pagi, siang, sore, malam, mencuri-curi waktu saat bekerja di kantor ataukah 1/3 malam terakhir. Pertanyaan selanjutnya, apakah saat kita asyik ngeblog segala kewajiban kita sudah kita penuhi? Kewajiban pada orang tua bagi yang masih tinggal dengan orang tua. Kewajiban pada anak dan suami bagi seorang istri. Kewajiban pada anak dan istri bagi seorang suami dan kewajiban pada atasan bagi yang ngeblog dengan mencuri-curi waktu bekerja. Ataukah kita tak mengindahkan kewajiban kita pada sang khaliq dengan asyik menulis di sepertiga malam-Nya dengan alasan lebih hening, lebih mudah menulis dan mengindahkan waktu sepertiga malam untuk bermunajat pada-Nya. Ini penting untuk di evaluasi, sebab bagi saya pribadi, ngeblog itu nyandu. Sama seperti main game. Sering lupa waktu.


Saya tak bermaksud menunjuk siapapun sebab tulisan ini adalah cerminan saya pribadi. saya ingin menjewer telinga saya sendiri sebelum Allah yang menjewer saya. Saya yang meninggalkan sepertiga malam terakhir untuk bermunajat pada Allah demi mengejar setoran lomba. Lek-lekan demi menulis hingga lupa tuk bermunajat pada-Nya.


Dari Ibnu ‘Abbas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Manfaatkan lima perkara sebelum lima perkara : Waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu, Waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu, Masa kayamu sebelum datang masa kefakiranmu, Masa luangmu sebelum datang masa sibukmu, Hidupmu sebelum datang kematianmu.” (HR. Al Hakim dalam Al Mustadroknya, dikatakan oleh Adz Dzahabiy dalam At Talkhish berdasarkan syarat Bukhari-Muslim. Hadits ini dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani dalam Al Jami’ Ash Shogir)




“Manfaatkan lima perkara sebelum lima perkara : Waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu, Waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu, Masa kayamu sebelum datang masa kefakiranmu, Masa luangmu sebelum datang masa sibukmu, Hidupmu sebelum datang kematianmu.”



Kawan, Allah SWT begitu manisnya mengingatkan kita untuk memanfaatkan waktu sebaik mungkin dan memanfaatkannya sebaik mungkin dengan amal-amal yang akan mengantarkan kita pada derajat taqwa dalam Surat Al 'Asyr ayat 1-3.


"Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, Kecuali orang yang beriman dan orang-orang yang yang mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat dan menasehati supaya menetapi kesabaran.


Postingan ini semata-mata untuk menyadarkan diri sendiri. Bukan bermaksud untuk menyentil siapapun. Jika ada yang merasa tersentil, berarti itu pertanda baik, sebab itu tandanya Nur Aini (baca nurani~cahaya mata hati) kita masih menyala.


Fastabiqul khaira!





Jumlah kata : 1485

Referensi ;

Al Qur'an & Hadist

http://imamkamal24.wordpress.com

http://rahmawan.com

 

You Might Also Like

29 komentar

  1. JazakiLlah khoir mbak Ika sudah mengingatkan kembali...
    Mudah2an saya bisa memanfaatkan waktu lebih optimal lagi, semoga kita tidak termasuk golongan orang2 yg merugi..aamiin.

    BalasHapus
  2. Alhamdulillah, terimakasih sudah berkenan berpartispasi,
    dengan ini artikel sudah resmi terdaftar sebagai peserta.... (sambil bawa tameng untuk melindungi diri dari timpukan ramai-ramai para blooger)... .. salam santun dari Makassar :-)

    BalasHapus
  3. mbak ....~_~...
    Terimakasih susah berbagi renungan

    BalasHapus
  4. Hal yang harus dipertimbangkan saat mempublish sesuatu adalah dari sisi manfaat dan dampaknya bagi banyak orang. Agar aman di dunia akhirat baiknya memang harus membagi sesuatu yang positif dan bermanfaat ya..
    Trims buat sarannya ...

    BalasHapus
  5. Aku Jadi malu mbak, hahahaha... Secara gtu kan isi blog aku jg byk yg geje hihih... Semoga menang GA nya ya mbak... :)

    BalasHapus
  6. Tersindir, mabk. Mudah2an aku lebih bisa membagi waktu sebaik2nya tanpa mengabaikan yang lain. Ngeblog hanya selingan.

    BalasHapus
  7. waa..makasih sudah diingatkan mba. Aku juga suka gitu, semangat menyala kalau abis pengajian, terus mulai kendur perlahan-lahan. Apa itu berarti harus lebih sering ikut pengajian ya?

    BalasHapus
  8. baiklah..

    *tetep pengen ngecurhat geje tapi.. :D

    BalasHapus
  9. disentil demi kebaikan gak apa-apa mbak :)

    BalasHapus
  10. ngeliat judul nya tadi udah sport jantung duluan nih mbak :O

    semoga kita selalu dzikrullah...

    BalasHapus
  11. emm...neraka?? "jika surga dan neraka tak pernah ada", saya lebih suka dengan yang nyata ga pake "jika" karena memang jelas surga dan neraka itu ada, bukankah begitu mak?

    BalasHapus
  12. jadi inget waktu nih .. kalau hidup gak hanya buat ngabisin waktu didepan layar .. hehehe , salam kenal mbak ika..

    BalasHapus
  13. Kena deh gue, Mba Ika makasih atas peringatannya. Memang bener kata guru2 ngaji sesungguhnya ad Dien dibangun diatas nasihat.

    BalasHapus
  14. panjang dan lebarrrr... syarat makna.
    semoga bisa menjadikan tulisan ini sbg pelajaran.

    BalasHapus
  15. Dosa saya selama menulis postingan motivasi, tak kekeuh melaksanakannya. Motivasi yang saya tulis untuk diri sendiri dan teman-teman seharusnya saya praktekan dulu baru ditulis. Tapi lebih sering saya tulis dulu baru praktekan. Jadinya sering tak konsisten dan termehek-mehek dihadapan teori sendiri :)

    BalasHapus
  16. Meletakkan ngeblog pada jalurnya, melalui azas manfaat dan prioritas. Tersentil indah nih Jeng Ika, trim pengingatnya. Salam

    BalasHapus
  17. Aduuuh,,mba ikaaaa,,*ambil bantal buat nutupin wajah*

    BalasHapus
  18. Huwaaa... jadi tersindir nih.. hehehe
    Terima kasih sudah berbagi di blog yg indah ini :D

    BalasHapus
  19. alhamdulilah sudah diingatkan dalam kata-kata terkhirnya semoga menjadi bermnfaat dan nasihat yang langsung masuk dihati untuk selalu bermunajad kepada sang pencipta

    BalasHapus
  20. Hiks .... kena jewer juga ...

    BalasHapus
  21. Setuju Mbak dengan tulisan ini. Terimakasih

    BalasHapus
  22. wah.. sukses dengan kontesnya Mbak Ika ya. Aku suka tuh dengan cerita si pejual susu. Walaupun Amirul mukminin tidak tahu kita mencampur susu, tapi Tuhan tahu..

    BalasHapus
  23. apakah kami bisa memasang banner iklan buat website kami: tokodvdislami.com????

    BalasHapus
  24. Membacanya, saya juga sedang menjewer telinga sendiri sebelum nanti dijewer di pengadilan-Nya. Terima kasih banyak ya, Mbak Ika, mak jleb neh...

    Salam dari Jogja dan semoga sukses dalam kontes ini.

    BalasHapus
  25. Tulisan yang harus menjadi bahan renungan bagi setiap blogger yang suka menulis, dan ternyata lebih rentan ya Mba. Karena yang tah hanya dirinya dan Tuhannya saja yang tahu.

    BalasHapus
  26. bagian itu aku disentil. aku berharap semoga cerpen2ku bisa memberikan manfaat bagi orang-orang dan memberikan hal yang penting. semoga diterima. makanya di dalamnya aku kadang sisipi tutorial (buat yang jeli). cuma nanti mbak nilai ya?
    menulis cerpen cinta itu penting nggak sih? mohon jawabannya.

    BalasHapus
  27. Menulis cerpen cinta itu penting! Hanya saja cinta seperti apa yang ditulis, itu yang patut direnungkan.
    Apakah mungkin menulis cerita cinta yang sesuai dengan koridor agama? Sangat mungkin. Saya memiliki banyak teman-teman yang menulis novel 'idealis'. Hanya saja, pilihannya adalah, pangsa pasarnya (pembaca yang menyenangi novel seperti yang saya sebut) tidak banyak. Tapi beberapa novelis islami tetap memasukkan nilai-nilai islam kedalam novel mereka secara samar walaupun itu novel pesanan penerbit yang tidak ada kaitannya dengan novel islami.

    Selamat menulis, maaf jika ada kata yang tidak pas. :)

    BalasHapus