Kupatan

11.50.00

Kupatan 1Tahun ini 8 tahun sudah saya tinggal di Purworejo. Namun, dalam rentang waktu itu, saya baru satu kali mengikuti shalat Idul Adha di mushola belakang rumah. Bukan anti sosial, hanya saja, saya kok lebih sreg shalat Ied di lapangan. Selain terkait budaya (shalat Ied di Jogja sebagian besar dilakukan di lapangan), juga terasa benar-benar meriah jika shalat Ied dilakukan di lapangan.


Kebetulan Idul Adha ini Fathiin, anak pertama saya, mendapat tugas untuk mengobservasi jumlah kambing kurban yang ada disekitar rumah, untuk dijadikan laporan penelitian. Laporan penelitian ala anak kelas 2 SD tentunya. Akhirnya, jadilah kami sekeluarga shalat Ied di mushola belakang rumah yang hanya sejengkal langkah.


Selepas shalat Ied ternyata ada tradisi makan bersama yang disebut kupatan. Makanan ditaruh diatas tampah, yang akan diberikan pada masing-masing kelompok. Untuk jumlah kelompok terserah. Bisa 8 orang, 5 orang bahkan tiga orang, yang penting harus dihabiskan. Jika tidak habis panitia menyediakan kantong plastik untuk dibawa pulang. Saya biasa menyebutnya, kirmah alias mikir omah untuk makanan yang dibawa pulang.




[caption id="attachment_8456" align="aligncenter" width="480"]Kelompok bapak-bapak Kelompok bapak-bapak[/caption]

Makanan yang disajikan berisi, kupat, bothok, mie, sambel tempe, olahan dari daging kambing dan oseng tempe. Daging kambing yang dimasak bukan daging kurban, melainkan kambing akikah yang telah disembelih sore hari sebelumnya dan di olah untuk disajikan setelah shalat Ied.


Uniknya, cara makannya tidak menggunakan piring dan sendok melainkan menggunakan daun pisang dan tangan. Saya tidak berani tanduk (nambah), bukan karena jaim, tetapi karena ada sedikit rasa jijik. Membayangkan makanan di ambil bermacam tangan, kok tiba-tiba terasa mual. Mungkin karena belum terbiasa ya XD Walaupun saya lulusan pondok, karena kebetulan pondok saya termasuk pondok modern, maka. tradisi makan bersama dalam satu tampah tidak pernah dilakukan.


Alhamdulillahnya, saya mendapat jatah mengambil makanan terlebih dahulu. Agak canggung sebenarnya, karena saya lihat, sayalah yang paling muda diantara kelompok, tentunya selain anak-anak.


Di kampung, seseorang dihormati karena 3 hal, usia, jabatan dan kekayaan. Dan disebabkan salah satu dari ketiga itulah yang akhirnya membuat saya mendapatkan jatah mengambil makan lebih dulu walaupun saya masuk dalam kelompok simbah-simbah.




[caption id="attachment_8457" align="aligncenter" width="480"]Kelompok saya Kelompok saya[/caption]

You Might Also Like

21 komentar

  1. sebuah pengalaman yang unik ya Mba Ika,
    seru juga makan bersama dalam satu wadah, usahakan ambil yang pertama dulu biar bukan bekas orang ambil :)

    BalasHapus
  2. Kupatan ini mirip makan bajambanya orang Minang, Mbak Ika, unik ya di kampung Mbak Ika tinggal masih ada tradisi ini :)

    BalasHapus
  3. wah.... seru. kalau di sini sepertinya nggak ada tradisi khusus selepas shalat ied. kalau makan-makannya mungkin pas zhuhur ketika istirahat saat proses penyembellihan dan pembagian hewan qurban.

    oh iyah.... judul buku saya yang mbak tanyakan beberapa waktu lalu adalah "Jejak-jejak yang Terserak". Bisa dibeli di gramedia terdekat :)

    BalasHapus
  4. tradisi berbagi hidangan dan makan bersama saat kupatan memang membawa keberkahan.

    BalasHapus
  5. Tradisi kupatan itu sungguh budaya yang Guyub ya Bu ...

    Salam saya

    BalasHapus
  6. di kampung saya, kupatan ramenya hanya pas idul fitri saja, membuat dua kali yaitu pas hari H dan seminggu setelahnya yang dikenal dengan riyoyo kupatan.
    Shalat ied, lebih terasa nikmatnya memang kalo dikerjakan di lapangan

    BalasHapus
  7. Iya, saya tahunya kupatan ya pas shalat Ied pak Pakies.

    BalasHapus
  8. Betul Om :)

    BalasHapus
  9. Insya Allah kalau pas ke Gramed aku tengok2 mas :)

    BalasHapus
  10. Masing-masing daerah ada juga ya mbak, cuman namanya aja yang berbeda

    BalasHapus
  11. Sepakat, cuman kalau tidak dipersilahkan malu juga mbak ^^

    BalasHapus
  12. Lain ladang lain kinjengnya Mbak Ika..

    BalasHapus
  13. sama tuh kalu di ungaran juga ada tradisi kupatan, makan ramerame di musolah, tapi kita sukanya solat ied di lapangan, ato mesjid yang luas lapangannya..
    di jkt ga pernah ketemu tradisi begini.. indah ya..

    BalasHapus
  14. Tradisi yg unik ya mbak...
    Saya mungkin akan seperti mbak juga bila diajak makan bersama seperti ini. Mungkin ada rasa jijik mengingat tangan saling bergantian mengambil makanan yg ada di tampah. Tapi kalo sudah berkali-kali ikutan, mungkin pula rasa jijik itu sirna...

    Salam,

    BalasHapus
  15. Iya mbak, seru dan enaknya makan gratis, hi..hi..hi..

    BalasHapus
  16. jadi kangen kampung halaman mbak,, di kota besar sekarang tradisi kayak gtu mah langka sekali.. :cry:

    BalasHapus
  17. Iya ya, dikota besar tradisi sudah banyak yang ditinggalkan ya

    BalasHapus
  18. untung mbak ika ngambil pertama ya (walaupun bersama kelompok simbah2... jelas bukan karena USIA) jadi gak ngambil makanan bekas2 tangan orang lain...

    BalasHapus
  19. Iya, mana ada yang tambah pula. Rada ngeri juga :D

    BalasHapus
  20. tradisi yang unik... menyenangkan sekali rasanya....

    BalasHapus