Kenapa Musti Antri

19.24.00

[caption id="attachment_8121" align="aligncenter" width="448"]Bebek Bebek berbaris rapi[/caption]

Tulisan ini sebenarnya sudah lama ngendon di draf. Tak kunjung tereksekusi karena si empunya sibuk ikutan kontes blog XD


Budaya antri yang terlihat sepele bagi kita ternyata tidak bagi negara-negara maju. Seorang teman yang kini tinggal di Eropa bercerita jika budaya antri diajarkan sejak dini. Sejak anak-anak di play group, mereka sudah diajarkan antri. Tergelitik dengan fenomena itu, teman saya pun bertanya pada guru anaknya, kenapa musti repot-repot mengajarkan budaya tersebut pada anak-anak. Bisa kebayangkan gimana repotnya mengajarkan anak pra TK untuk antri.


Bukan penjelasan yang di dapat, justru kalimat yang menusuk hati yang membuatnya gondok setengah mati, sekaligus tersadar. Si guru berkata,"Makanya negaramu ndak pernah maju, lawong ndak pernah diajarkan untuk antri! Sak enak udel e dewe" « terjemahan bebas versi saya :lol: »


Meskipun terlihat sederhana dan sepele, budaya antri ternyata mengajarkan berbagai sikap positif tak hanya bagi anak, juga orang dewasa diantaranya:


Sikap sabar


Antri mengajarkan anak untuk belajar sabar. Bersabar untuk menunggu giliran tentu sangat berat. Banyak hal bisa terjadi saat antri, panas, pegal, capek dan segala ketidak nyamanan akan berkumpul menjadi satu. Saat kelelahan mendera, bisa dipastikan emosi akan segera tersulut. Bagai kayu bakar kering yang diberi api, terbakar dan ludes dilalap api.


Sering kita mendapati berita di televisi, betapa banyak tindakkan anarkis yang dilakukan warga karena ketidak sabaran mereka. Karena sebab apapun, tindakkan anarkis sejatinya akan merugikan semua, diri sendiri juga orang lain.


Menghargai orang lain


Antri juga mengajarkan anak untuk menghargai hak orang lain. Sebagaimana pun pentingnya seseorang dikarenakan berbagai hal seperti, kekayaan, jabatan dan lain sebgainya, dan seberapa butuhnya seseorang, jika belum gilirannya maka ia tak boleh menyela, mengambil hak orang lain untuk kepentingannya sendiri, kecuali memang mendapat ijin dari si empunya.


Ada sebuah cerita nyata yang menggambarkan betapa rasa menghargai orang lain orang Indonesia itu rendah. Awal bulan september lalu di daerah wates kulon progo sedang marak diadakan pawai. Entah apa alasannya, hingga jalur utama dipilih sebagai jalur pawai. Walhasil antrian mobil, truk, tronton dan berbagai kendaraan lain hingga berkilo-kilo, terutama dari jalur timur, arah dari Jogja. Saya yang berada di lajur kedua antrian dibuat terheran-heran dan tak habis pikir dengan kelakuan beberapa pengendara. Karena tidak sabar, beberapa pengendara membuat lajur antrian sendiri. Lajur antrian bertambah menjadi tiga, sebab tak lama, mobil-mobil dibelakangnya mengikuti si pengendara tadi.. Padahal, hak masing-masing jalur jalan hanya dua lajur.


Tak berapa lama, ada pengendara lain membuat lajur antrian ke empat. Hingga akhirnya memenuhi jalur. Akibatnya, jalur dari arah berlawanan tak bisa bergerak karena jalur sudah dipenuhi kendaraan dari arah Jogja. Pun yang membuat 3 dan 4 lajur juga tidak bisa berjalan. Akhirnya jadi merugikan semua.


Empati


Dalam sebuah antrian, terkadang kita menemukan orang-orang yang butuh untuk didahulukan seperti, lansia atau orang yang sedang sakit. Empati pada orang lain untuk mendahulukan mereka akan terbentuk dari budaya antri.


 Masih menganggap budaya antri ga penting? Coba dipikir lagi, deh.

You Might Also Like

22 komentar

  1. Kalau ada yang suka nyerondol antrian saya akan langsung berdiri-ngeblock dia kalau dia protes saya akan jelaskan bahwasannya tadi dia juga melakukan apa yang saya lakukan, udah 2 kali saya lakukan ini dan kelihatannya orangnya malu. Karena kalau cuma diingetin kadang suka nggak ngeh "Pak ngantri" eh di diemin he he he

    BalasHapus
  2. Antri = sabar

    BalasHapus
  3. jangan sampai kalah sama bebek yang di pinggir kolam itu, mbak. :-)

    BalasHapus
  4. Belajarlah mengantri dari sekarang yo mbak Ika.. sebab sejatinya kita juga sedang mengantri.. hehe

    BalasHapus
  5. Mengubah kebiasaan itu memang harus dengan membiasakan :-) erima kasih Mba Ika sudah berbagi kebiasaan.

    BalasHapus
  6. Sama-sama Abi ^^

    BalasHapus
  7. Betul pak Yudhi ^^

    BalasHapus
  8. Sama, aku juga suka komplen sama yang suka nyerondol. Emang dikira kita perempuan trus bisa seenaknya

    BalasHapus
  9. Harus belajar dengan hewan bebek tuh Mba, kalau tidak mengerti juga ya, jangan sampai di hajar dengan cara hewan. he,, he,, he,,, Bagus Mba tulisannya.

    Salam ,

    BalasHapus
  10. pernah sauatu hari lagi ngantri puanjang banget di hy***market (maklum tanggal muda)
    ibu2 n bapak2 banyak yang belanjaan nya penuh,,,
    eehhh... pas 2 antrian di depan tiba2 ada ibu2 yang ga tau malu langsung melipir2 (nyerempet2) gitu ke kasir... aq sih cuma bisa hela nafas (ah biarin ajah), tapi yang ngantri di belakan nga pada protes...
    "Ih dasar ibu2 muka tembok, nggak liat apah segini antrian nya panjang bejubel"
    meskipun udah di sindir2 tapi tetep ajah muka nya rata, ga tau malu..
    Paling sering nih ya, aq di serobot sama bapak2 yang cuma beli rokok n minuman di minimarket (indo/alfa), pasahal aq udah di paling depan,,,bener2 nggak tau malu.

    halah,,, jadi curcol..

    BalasHapus
  11. Bukan muka tembok lagi kali, muka beton :D

    BalasHapus
  12. Hi..hi..hajarnya yang lembut ya pak

    BalasHapus
  13. benar, patut ditiru budaya barat yg "sangat menghargai dan sopan"
    pernah beberapa waktu lalu ada project dgn orang eropa,
    betapa sopan dan sabarnya mereka, menghargai orng lain dan tak suka cara instan. :)

    BalasHapus
  14. benar, patut di contoh budaya barat yang "sangat menghargai orang lain dan sopan"
    pernah beberapa waktu lalu ada project sama orang eropa.
    betapa sopan dan sabarnya mereka, tidak suka cara instan dan sangat ramah :)

    BalasHapus
  15. kalo g bisa sabar antri apa g malu sama bebek dan semut ^^

    BalasHapus
  16. Betul. Hewan aja bisa antri, masak manusia yang berakal tidak ^^

    BalasHapus
  17. Bebek berbaris rapi....
    Trim Jeng Ika, untuk menikmati postingan ciamik ini sy juga harus antri koq untuk bw. Salam

    BalasHapus
  18. antrilah di loket, untuk beli tiket #nyanyi
    salam kenal..

    BalasHapus
  19. Siiip :)

    BalasHapus
  20. Sama-sama mbakyu :)

    BalasHapus