Balada Si Dul

20.07.00

remajaDalam seminggu ini, selain berita pengusaha tempe yang mogok produksi, juga dimeriahkan dengan berita kecelakaan yang menewaskan 6 orang. Dan yang menjadi tersangka dalam kecelakaan itu ialah bocah berumur 13 tahun, putra seorang musisi kenamaan yaitu AQJ atau biasa disebut Dul.


Sebagai seorang ibu yang memiliki 2 anak laki-laki, kejadian ini menjadi semacam introspeksi dalam mengasuh anak-anak. Saya tak ingin latah memberi komentar ataupun analisis tentang kasus tersebut. Mencoba berbagi kegelisahan sebagai seorang ibu.


Dalam berita disebutkan, Dul, usia 13 tahun, pulang mengantar pacarnya tengah malam menggunakan mobil dan menabrak pembatas jalan yang mengakibatkan terjadinya tabrakkan beruntun dari arah yang berlawanan hingga menyebabkan korban jiwa.


Anak berumur 13 tahun? Pulang tengah malam? Mengantar pacarnya, apa yang telah mereka lakukan?


Pertanyaan diatas seolah-olah tak mau pergi dari kepala saya. Oh, ya Allah, betapa beratnya menjadi ibu bagi Generasi Z.


***


Dalam masyarakat kita, sering saya mendengar sebuah ungkapan bahwa masa remaja adalah masa-masa pencarian jati diri. Betulkah demikian?




Masa remaja=masa pencarian jati diri



Salah besar jika kita menganggap masa remaja merupakan masa pencarian jati diri. Alasannya?


Pertama, menurut agama Islam, diusia baligh anak sudah terkena kewajiban menjalankan apa-apa yang diwajibkan agama. Shalat dan puasa yang sebelumnya hanya merupakan himbauan dan latihan, diusia baligh hal itu sudah tak berlaku.


Di usia baligh pula hukum mulai berlaku. Contohnya, sebelum usia baligh anak yang tidak melaksanakan shalat tidak terkena dosa, akan tetapi, saat menginjak baligh, jika ia tak melaksanakannya, maka ia terkena dosa.


”Rasulullah shallallaahu ’alaihi wa sallam menunjukku untuk ikut serta dalam perang Uhud, yang ketika itu usiaku empat belas tahun. Namun beliau tidak memperbolehkan aku. Dan kemudian beliau menunjukku kembali dalam perang Khandaq, yang ketika itu usiaku telah mencapai lima belas tahun. Beliau pun memperbolehkanku”. Nafi' (perowi hadits ini) berkata : "Aku menghadap Umar bin Abdul Aziz, pada saat itu beliau menjabat sebagai kholifah, lalu aku menceritakan hadits ini, lalu beliau (Umar bin Abdul Aziz) berkata : "Sesungguhnya ini adalah batas antara orang yang masih kecil dan sudah dewasa". (Shohih Bukhori, no.2664 dan Shohih Muslim, no.1868)


Imam Nawawi menjelaskan,hadits ini merupakan dalil bahwa batasan baligh adalah umur 15 tahun, dan ini adalah pendapat madzhab Syafi'i, Imam Al-Auza'i, Imam Ibnu Wahab, Imam Ahmad dan yang lainnya. Mereka menjelaskan bahwa dengan sempurnanya umur 15 tahun seseorang sudah dihukumi mukallaf meskipun belum pernah mimpi basah, maka hukum-hukum menyangkut kewajiban ibadah dan lainnya mulai diberlakukan baginya.


Imam As-Subki menjelaskan hikmah ditetapkannya umur 15 tahun sebagai batasan umur baligh karena pada umur itulah bangkit dan menguatnya syahwat seksual, begitu juga syahwat dalam hal-hal lain seperti makanan. Syahwat tersebut lah yang pada akhirnya mendorong seseorang untuk melakukan hal-hal yang tidak patut dikerjakan. Syahwat-syahwat tersebut harus dikekang dan dikendalikan dengan tali ketakwaan agar seseorang tidak menuruti syahwatnya dengan diberikan perjanjian-perjanjian dan juga ancaman. Selain itu, pada umur inilah kesempurnaan akal seseorang dan juga kekuatan fisiknya, karena itu diperlukan pengarahan berupa hukum-hukum yang mengikat karena kuatnya dorongan syahwat dan pemikiran dan dirasa sudah mampu nenerima hukuman apabila menyimpang.


Belajar dari sejarah kegemilangan Islam terdahulu


Imam Syafi’i terlahir dengan nama Abu Abdillah Muhammad bin Idris bin Al-Abbas bin Ustman bin Syafi’i bin al-Sa’ib bin ‘Ubaid bin Abd Yazid bin Hasyim bin Muthalib bin Abdi Manaf. Imam Syafi’i satu-satunya imam mazhab yang memiliki nasab murni Arab dan bersambung dengan nasab Rasulullah pada moyangnya, Abdi Manaf. Pada usia 15 tahun Imam Syafi’i sudah memberi fatwa.


Ibnu Sina yang lebih dikenal dengan Avicena telah hafal Al-Qur'an diusia 7 tahun.  Memahami metafisika dan dan semua filsafat Aristoteles diusia 8 tahun.


Sementara di zaman Rasulullah, Usamah bin Zaid bin Haritsah telah menjadi panglima perang di usia tak lebih dari 20 tahun. Usamah mulai ikut perang di usia 15 tahun saat perang Khandaq.


Sultan Muhammad Al Fatih sendiri menjadi Sultan Turki Utsmani pada usia 22 tahun dan menaklukkan benteng konstantinopel pada usia 24 tahun. Sementara Umar bin Abdul Aziz menjadi gubernur Madinah pada usia 23 tahun.


Apakah kita masih beranggapan jika remaja=masa pencarian jati diri?


Referensi:


http://fiqhkontemporer99.blogspot.com/2013/01/batasan-umur-baligh-bagi-laki-laki-dan.html

You Might Also Like

24 komentar

  1. mungkin itu dampak dari diberikannya fasilitas yang berlebihan ga pada tempatnya kali ya mba..membolehkan pulang larut malam..dan diberi fasilitas kendaraan yang memang bukan pada umurnya..

    BalasHapus
  2. Betul sekali, banyak yang mencetak prestasi tinggi di usia muda.
    "Remaja = masa pencarian jati diri"... itu sama dengan telat. Kalo hal tersebut disampaikan pada anaknya, maka sama dengan merestui anaknya berada dalam kondisi labil.

    BalasHapus
  3. saya kira peran orang tua sangat berpengaruh besar bagi para remaja ini :)

    BalasHapus
  4. Dan yang membuat saya sedih lagi adalah ...
    Sejak Juni kemarin ... yang bersangkutan sudah dikeluarkan dari sekolah ... (itu kata media yang mewawancarai Kepala Sekolah ex sekolah ybs)
    Mengapa dikeluarkan ? karena banyak tidak masuk sekolah ...
    Semakin sedih saya ...

    Mudah-mudahan anak ini (dan juga keluarganya) bisa menata hidupnya kembali
    Sekolah mungkin bukan segalanya ... namun saya rasa ... sekolah itu penting untuk perkembangan mental-intelektual dan sosial putra putri kita

    Salam saya Ibu

    BalasHapus
  5. parah banget sih emang kasus ini..

    BalasHapus
  6. Remaja dianggap masa pencarian jati diri, saya sih masih setuju. Soalnya dianggap anak-anak bukan, dewasa juga bukan. Yang saya soroti malahan bukan si anaknya, tapi orangtua. Pengawasan dan cara mendidiknya gimana :)

    BalasHapus
  7. kejadian yang menghebohkan ini ibaratnya adalah cermin bagi kita orang tua, betapa menjaga dan mengantarkan anak menuju kedewwasaan yang sesuai dengan tumbuh kembang anak adalah perkara yang sangat penting dan utama sebagai bentuk tanggung jawab orang tua.

    BalasHapus
  8. Betul sekali pak. Saya merasakan betapa beratnya tanggungjawab menjadi orang tua.

    BalasHapus
  9. Oalah, sebegitu parahnya ya ternyata

    BalasHapus
  10. Betul banget mbak :)

    BalasHapus
  11. Anak itu seperti kertas kosong, bagaimana menulisinya tergantung orang tuanya..
    Sampai dewasa pun masih ada lho orang yang merasa belum menemukan jati diri ^_^
    Saya juga hampir menuliskan postingan ini mba, tapi belum kesampaian *sok sibuk,hehe, merasa galau sebagai orang tua

    BalasHapus
  12. [bukan sok menganalisa ya] kalu anak dibesarkan dengan ibu ga bakal sama dengan anak yang dibesarkan dengan bapak.. apalagi yang punya materi.. dimana kebanyak anak lebih milih materi, lebih milih kenyamanan 'badan' dibanding 'rasa nyaman di hati'.. ini sering ku lihat di sodara sendiri..
    iya soal remaja = pencarian jati diri, tergantung ikut ibu apa ikutk bapak kalu bercerai.. ujian banget deh remaja jaman sekarang..

    BalasHapus
  13. Peran orang tua dalam perkembangan anak sangat penting ya, Mba. Gak dijooooorke. . .

    BalasHapus
  14. Rocker juga manusiaaaa....
    Anaknya juga manusia...
    Jangan samakan dengaaan...
    Pisau belatiii...

    #Kalau pisau belati dihujamkan, yang mati paling 1 orang, kalau anaknya rocker lupa ngerem, yang mati bisa 6... :|

    BalasHapus
  15. kalopun masih ada yg mencari jati diri, sebaiknya memang dibantu dan diarahkan terutama oleh org tua. Jgn biarkan mereka mencarinya sendiri. Iya kalo bener, kalo salah repot

    BalasHapus
  16. Anak yang mencari jatidiri karena orang tuanya tak bisa menunjukkan bagaimana hal seharusnya, atau barangkali orang tuan juga tidak tahu apa yang terbaik bagi sang anak. Pelajaran seperti ini (kecelakaan si Dul) memang pelajaran yang begitu mahal bayarannya (menyangkut nyawa banyak orang).

    BalasHapus
  17. memang sangat menyedihkan ya... dan sangat membanggakan melihat pendahulu muslim begitu sangat hebatnya di usia-usia muda. Pertanyaannya adalah orang tua seperti apa yang mampu mendidik sampai seperti itu. Ini yang mesti diungkap nih. Supaya kita selaku orang tua bisa belajar dari para orang tua yang telah menghasilkan manusia-manusia hebat. salam kenal..:D

    BalasHapus
  18. Betul sekali mas, musti hati2 lagi kasih fasilitas ke anak

    BalasHapus
  19. Miris mbak baca berita tetntang kasus itu....

    jadi cermin bagi kita semua..sebagai orang tua zaman z.. Insya Allah bisa..

    BalasHapus
  20. hmm, trgantung didikan orang tuanya ketika kecil, mba. kalau kecilnya bagus, biasanya dia punya basic agama yang bisa jadi pegangan. semoga generasi kita bisa menjaga anak dengan lebih baik ya. :)

    BalasHapus
  21. Si Dul emang sesuatu. karena si ortu yang juga sesuatu juga....
    jadi inget pas ke tukang cukur sama anak2 kemarin, si bapak komen kemungkinan semua ini karena si dani yang kurang shadaqohnya shg kena musibah si anaknya. juga, katanya harta klo sudah pergi, nggak pake pamit.
    agree.

    BalasHapus
  22. Kalo pamit ntar kita gendolin mbak ^^

    BalasHapus