Sukses Menjadi Mompreneur

18.13.00

Menjadi mompreneur dan memiliki kantor di rumah, tentu menjadi impian hampir setiap wanita yang telah berkeluarga dan memiliki anak.


Berpenghasilan meski di rumah, bekerja sambil mengasuh dan mengawasi anak pastinya menyengkan, bukan.


Bekerja di rumah bukan berarti tak memiliki kesibukkan layaknya pekerja kantoran. Jika tak bisa mengelola dengan baik, kesibukkan kerja dengan rumah tangga akan tumpang tindih. Pada akhirnya ada salah satu yang akan terkorbankan, entah usaha yang dijalankan ataupun keluarga.


Berkantor di rumah bukan berarti minim masalah dan kendala. Terkadang dalam kondisi tertentu berkantor di rumah jauh lebih sibuk dibandingkan dengan pekerja kantoran. Di saat- saat tertentu, ada kalanya seorang pengusaha di tuntut untuk bekerja lebih dari 24 jam sehari, lebih dari 7 hari dalam seminggu. Walaupun itu tadi hanya perumpamaan, kebayang kan gimana repotnya.


Kondisi diatas pernah saya alami saat usaha diujung kebangkrutan. Waktu 24 jam sehari rasanya kurang. Pekerjaan rumah keteter. Anak tak terurus. Pokoknya betul-betul crowded.


Apapun di dunia ini pasti ada unsur suka dan dukanya , begitu pula menjadi mompreneur. Sama seperti pekerja kantoran, mompreneur juga memiliki masalah yang tak kalah peliknya. Beberapa kendala yang dihadapi mompreneur diantaranya, pertama, mismanagement. Mismanagement yang saya maksudkan disini ialah ketidak mampuan dalam mengelola dengan baik antara kebutuhan kerja dan kebutuhan keluarga.


Walaupun bekerja di rumah, tak jarang pekerjaan akan menyita waktu dan perhatiaan kita, hingga kewajiban mengurus keluarga menjadi terbengkalai. Apalagi jika semua masih dikerjakan sendiri. Walaupun memiliki karyawan, terkadang disaat-saat tertentu pekerjaan yang harus dikerjakan melebihi kapasitas. Disinilah komitmen untuk mempriorotaskan keluarga dipertaruhkan.


Kedua, jenuh dengan rutinitas harian. Berkantor di rumah berarti melakukan semua aktivitas di dalam rumah. Entah aktivitas kerumahtanggaan seperti memasak, mengurus anak-anak dan menemani anak belajar, ataupun aktivitas yang berkaitan dengan usaha yang dijalankan, seperti menerima pelanggan, mengerjakan pesanan, perencanaan usaha dan lain sebagainya.


Berkutat dengan semua aktivitas di rumah sepanjang waktu tentu sangat membosankan. Perlu diingat, kebosanan yang tak ter-manage dengan baik bisa menurunkan produktivitas kerja.


Saat kebosanan memuncak, refreshing bersama keluarga menjadi solusi jitu. Tak harus pergi mengunjungi tempat-tempat wisata, pergi ke pemancingan bersama keluarga, jalan-jalan ke Mall, ataupun sekedar berkunjung ke tempat saudara, sudah cukup menghilangkan kepenatan akan rutinitas harian.


Sesekali mintalah ”Me Time” pada suami untuk memberi jeda pada aktivitas harian. Pergi sendiri ke tempat-tempat yang menyenangkan atau berkumpul dengan sahabat bisa menjadi alternatif ber-me time.


Jika diperlukan, ubah tata letak furnitur kantor. Tambahkan beberapa tanaman hidup agar kantor terasa segar. Jika memungkinkan, cat ulang dinding kantor agar terasa suasana yang berbeda.


Ketiga, skill dan pengetahuan tak berkembang. Walaupun berkantor di rumah dan menjadi bos atas usaha kita sendiri, kita tetap perlu untuk meng-upgrade kemampuan dan keilmuan kita. Jangan pernah menjadi katak dalam tempurung.


Persaingan bisnis kini bergerak cepat. Jangan sampai kita kalah saing dengan competitor hanya karena pengetahuan kita tertinggal dengan pesaing. Mengikuti seminar dan training menjadi agenda wajib. Membaca buku-buku yang menambah wawasan serta motivasi juga sangat diperlukan.


Keempat, tak memiliki target. Bekerja di rumah dengan segala ke”nyamanannya” kadang membuat kita lupa untuk menetapkan target-target pada usaha yang dijalankan agar semakin berkembang.


Ada banyak faktor yang menjadi penyebabnya antara lain, pertama, kelelahan karena waktu kita tersita untuk mengurusi rumah tangga dan usaha. Kedua, kurang ilmu juga dapat menjadi penyebabnya. Gagap menghadapi tantangan dan peta bisnis yang senantiasa berubah-ubah. Ketiga, rendahnya motivasi, menganggap cukup dengan apa yang telah dicapai.


Walaupun memiliki usaha di rumah, prinsip ”mengalir mengikuti arus” sebaiknya dihindari. Kita harus tetap membuat target-target agar usaha semakin berkembang. Misalnya, target perluasan usaha seperti kapan mulai menambah outlet baru, kapan membuat produk 2nd merk untuk segmen yang berbeda dan masih banyak lagi.


Seiring berkembangnya usaha yang kita miliki, harapannya akan semakin banyak tenaga yang kita rekrut. Itu artinya, kita membantu mengurangi pengangguran di negeri ini.


Salam sukses,


 

 

 

 

 

 

 

You Might Also Like

27 komentar

  1. Kalau anak-anak minta snack yg ada di dalam gudang itu, hitungannya dalam pembukuan apakah masuk ke pos pembelian?

    BalasHapus
  2. Aku selalu kagum sama ibu-ibu yang bisa punya banyak kegiatan tapi tetep bisa mengurus keluarga. Sekarang aja masih single udah riweuh begini, gmn ntar klo aku dah berkeluarga ya. Mana kerjaanku juga bukan di kantoran, yang kadang mengharuskan 24 jam ON terus. Tapi intinya gak boleh ngeluh ya Mbak, insyaallah smua bisa dijalani.

    Trims sharingnya ya Mbak Ika *hug

    BalasHapus
  3. Saya ngantornya juga di rumah, Mbak Ika. Makanya kebosanan jadi sahabat setia saya. Jadi alternatifnya untuk keluar rumah cuma buat jalan-jalan :)

    BalasHapus
  4. Makasih share nya mbak... Mantap infonya :)

    BalasHapus
  5. Ternyata mempunyai usaha di rumah tak semudah yang dibayangkan. Memang orang yang belum mengalaminya tak akan pernah tahu tantangan berwirausaha di rumah. Terima kasih tambahan wawasan-nya Mba Ika :-)

    BalasHapus
  6. Saya sedang merintis usaha nih, Mbak.
    Semoga sebelum saya berkeluarga & mempunyai anak, usaha sudah mapan.
    Soalnya, managemen waktu saya masih tumpang tindih.
    Hehe

    Terima kasih sharingnya. :)

    BalasHapus
  7. Siiip, lebih dini lebih baik :)

    BalasHapus
  8. Iya bi, semua pasti ada enak dan ndak enaknya.

    BalasHapus
  9. Bosannya pakai banget mbak Evi :(

    BalasHapus
  10. Iya betul, ngeluh ga nyelesain masalah malah nambah masalah

    BalasHapus
  11. Kebetulan ndak ngecer pak. Kalau anak-anak pengen bisanya mereka beli di warung. Tp sejauh ini jarang juga mereka jajan. Kali udah eneg liat tiap hari :)

    BalasHapus
  12. selalu salut sama mompreneur. sungguh.

    BalasHapus
  13. ternyata begitu ya.. Dari dulu aku punya angan2 bisa ngantor di rumah, ternyata ga mudah ya. Banyak juga hambatan dan tantangannya. Harus lebih menyiapkan diri nih.

    BalasHapus
  14. hmmmm enak banget yah, banyak snack2 yang menggoda di rumah hehehehe. sukses terus ya mbak

    BalasHapus
  15. Hik, jadi terharu

    BalasHapus
  16. wah kerepotan sekali jika harus mengurus usaha dan keluarga.

    Memangnya jenis usaha seperti apa saja yang cocok buat mompreneur?

    BalasHapus
  17. Kalau jenisnya sih apa saja bisa. Syaratnya bisa menyeimbangkan urusan rumah tangga dan pekerjaan saja. Tapi jujur, tetep lebih enak jadi mompreneur kerimbang kerja kantoran. Kesibukkan hanya pada saat-saat tertentu saja.

    BalasHapus
  18. Iya, makasih. Aaamiiin

    BalasHapus
  19. ada sebuah kebanggaan sendiri ketika kita mampu menjadi seorang enterpreneur, tidak bergantung pada orang lain karena kita sendirilah yang memotivasi diri untuk tercapainya sebuah kesuksesan

    BalasHapus
  20. Betul, hambatan dan rintangan biasa dan bukan untuk dihindari tetapi dihadapi!

    BalasHapus
  21. sepakat kak ika, bisnis jangan ibarat air mengalir... harus dikembangkan

    BalasHapus
  22. Tosh, asek ada yang sepakat :)

    BalasHapus
  23. saat bisa menghasilkan uang sendiri dengan jalan dagang, memang nikmat ya mbak. thx sharingnya :)

    BalasHapus
  24. Iya, sama :)

    BalasHapus
  25. Hi Bunda Ika.. Salam kenal, saya Resy.. masih baru banget kalau soal tulis menulis blog yang isinya pengalaman jalan-jalan dengan travelmate setia saya, yaitu suami :).. Kalau senggang waktunya silahkan mampir ke blog saya ya, Bun.. http://rkhresna.blogspot.com terima kasih :)

    BalasHapus