Peran Orangtua Dalam Mengantisipasi Dampak Trend Mobile Internet

18.00.00


Seorang sahabat beberapa waktu lalu bercerita mengenai anak laki-lakinya yang berusia 7 tahun. Saat menonton televisi bersama, tiba-tiba sang anak berkata,"Ma, (maaf) burungku berdiri kalau lihat itu," sambil menunjuk iklan salah satu produk lotion yang memamerkan keindahan kaki modelnya dari pangkal kaki hingga ujung kaki. Si anak terangsang melihat tubuh wanita seksi yang ada di televisi.


Sahabat saya mengakui jika ia kecolongan. Kurang jeli dalam mengawasi anak semata wayangnya saat bermain game di internet menggunakan smartphone. Bahkan si anak sengaja diberi fasilitasi gadget agar tak merasa kesepian saat ditinggal ayah dan ibunya bekerja. Ia tidak tahu situs apa saja yang telah dibuka anaknya selain game.


Perkembangan teknologi komunikasi kini memudahkan siapapun untuk mengakses internet dengan mudah, murah dan cepat, tak terkecuali anak-anak dan remaja. Sudah menjadi hal yang biasa jika anak-anak dan remaja kini dibekali dengan gadget seperti smartphone, handphone dan tablet dengan berbagai alasan seperti agar memudahkan orang tua komunuikasi dengan anak ataupun untuk mengikuti tren.


Hasil riset Yahoo di Indonesia yang bekerja sama dengan Taylor Nelson Sofres pada tahun 2009 mengemukakan bahwa pengguna terbesar internet adalah usia 15-19 tahun, sebesar 64 persen. Riset itu dilakukan melalui survei terhadap 2.000 responden. Sebanyak 53 persen dari kalangan remaja itu mengakses internet melalui warung internet (warnet), sementara sebanyak 19 persen mengakses via telepon seluler.


Kini, seiring makin terjangkaunya harga smartphone, tentunya angka pengguna internet melalui telepon seluler semakin banyak. Rantang usianya pun semakin dini sebab kini anak-anak yang berusia dua tahun pun sudah terbiasa bermain handphone.


Menurut survei yang dilakukan BlogHer terhadap 1.000 wanita, terungkap 1 dari 4 ibu mengaku anak-anak mereka mulai bermain handphone sejak mereka berusia 2 tahun. Seperti dikutip dari NY Daily News, begitu menginjak empat tahun, 32% anak sudah mengenal dan memakai smartphone. 25% anak usia empat tahun dan lebih muda juga sudah memakai iPod. 23% ibu yang disurvei mengaku mereka menggunakan handphone sebagai mainan untuk mengalihkan perhatian anak-anak mereka .




[caption id="attachment_5807" align="aligncenter" width="290"]Gambar diambil disini Gambar diambil disini[/caption]

Tak mudah menjadi orang tua masa kini. Orang tua harus berperan aktif mengawasi dan membimbing anak dalam menggunakan internet, sebab tak semua informasi yang ada di internet baik dikonsumsi oleh anak. Berikut beberapa peran orangtua dalam mengantisipasi dampak tren mobil internet:


1. Batasi penggunaannya


Tak semua informasi yang ada di internet baik dikonsumsi anak-anak. Sebagai orang tua kita harus pintar dan jeli saat anak bermain gadget. Mengakses internet harus disesuaikan dengan usia masing-masing anak. Berikut tingkatan usia serta pendampingan seperti apa yang harus diterapkan oleh orang.


Usia 2-4tahun. Di rentang usia ini, orangtua wajib mendampingi anak saat mereka mengakses internet. Pada usia ini, anak belum bisa diberi pengertian mana saja yang boleh ia akses. Pendampingan orang tua sangat penting mengingat satu kata yang tak ada kaitannya dengan pornografi pun bisa mengarah kesana. Seperti pengalaman saya dulu. Saat anak saya berusia 3.5 tahun, tanpa saya ketahui ia bermain Blackberri milik saya dan mengetikkan kata ABI, ternyata informasi yang keluar berisi gambar bintang porno bernama ABBI yang nyaris topless.


Usia 4-7 tahun, Pada rentang usia ini anak sudah bisa diberi sedikit kelonggaran untuk mulai mengakses internet sendiri namun tetap dalam pengawasan orangtua. Mereka belum boleh mengakses internet tanpa dampingan orang tua. Batasi konten apa saja yang boleh di akses anak.


Usia 7-10 tahun, Pada rentang usia ini, anak bisa mulai didorong untuk eksplorasi internet sendiri. Orang tua mulai memberikan edukasi filtering pada anak. Orangtua secara tegas membatasi dan menjelaskan konten mana saja yang boleh dan tidak boleh untuk diakses. Komunikasikan dengan baik agar anak betul-betul mengerti mengapa sebuah konten boleh atau tidak boleh


2. Perketat pengawasannya


Sebagai orang tua kita pun harus peduli dan melindungi anak dari dampak buruk yang ditimbulkan internet. Berikut beberapa hal yang bisa dilakukan para orang tua agar anak aman saat berinternet.




  • Install software parental control untuk mengawasi penggunaan internet pada anak saat Anda tidak ada di rumah.

  • Ganti DNS Anda dengan DNS yang bisa memblokir situa berbau Pornografi dan SARA

  • Jangan pernah memberi fasilitas internet untuk anak di kamarnya, karena sulitnya perhatian dan pengawasan.

  • Lakukan kontak dan bantuan pengawasan internet bagi anak kepada layanan ISP yang sedang Anda gunakan.


3. Perkuat peran agama


Kemudahan dalam mengakses berbagai informasi melalui internet bagaikan pisau bermata dua. Selain banyak manfaat yang didapatkan, juga terdapat bahaya yang mengancam. Pornografi, cyber crime, penculikan, juga kecanduan internet merupakan bahaya yang harus diperhatikan orang tua.


Penguatan peran agama sejak dini bukan lagi sebagai kewajiban melainkan kebutuhan untuk membendung dampak negatif internet bagi anak. Penguatan ini tentunya tak hanya sebatas teori semanta. Pembinaan akhlak perlu diimbangi dengan pengokohan aqidah yang tercermin dari ibadah yang dilakukan.


4. Ajak anak berdialog


Biasakan mengajak anak berdialog. Bercerita mengenai apa saja termasuk aktivitas anak dalam mengakses internet. Kita tak mungkin melarang anak untuk bersinggungan dengan internet. Kedekatan anak dan orang tua memudahkan orang tua memasukkan nilai-nilai positif pada anak tanpa perlu memaksa dan mengancam.


Tulisan ini diikut sertakan dalam Lomba Blog "Peran Orangtua Dalam Mengantisipasi Dampak Trend Mobile Internet" yang diselenggarakan oleh DP-TALK


BANNER-LOMBA-BLOG-DPTALK


.


Sumber:


http://lombablog.dariperempuan.com/ketentuan-lomba/


http://www.beritasatu.com/iptek/87579-ada-65-juta-pengguna-internet-di-indonesia-tahun-2012.html


http://wolipop.detik.com/read/2011/08/10/154152/1700907/857/23-ibu-gunakan-hp-sebagai-mainan


http://www.isowap.com/2012/12/bahaya-internet-bagi-anak.html


 

 

You Might Also Like

46 komentar

  1. umur tujuh tahun itu-nya sudah bisa berdiri? huwaaaa. saya baru tahu nih

    BalasHapus
  2. Ika Koentjoro21 Juli 2013 18.55

    Iya, makanya kudu ati-ati banget. Aku juga batesin banget anak-anak buat internetan. mending aku download-in film apa yang dia inginkan. Daripada salah buka malah berabe

    BalasHapus
  3. Memang urusan internet dan gadget ini makin lama bikin orang tua makin repot juga selain tentu ada sisi positifnya. Makin repotnya karena usaha untuk memblokir situs-situs yang tidak seharusnya dimasuki anak-anak semakin susah karena kadang namanya tidak mengindikasikan isinya. Aku pernah menemukan satu situs dengan nama yang sangat "jinak" tetapi isinya luar biasa "liar"

    BalasHapus
  4. Itulah saya sering mempertanyakan (karena belum punya anak sendiri) kalau teman atau saudara ada yang memberi anaknya gadget penuh dengan fasilitas internetnya. Apalagi kalau mereka juga bekerja.
    Ada yang memang lebih memantau dengan mendownloadkan aplikasi untuk anak-anaknya dan selama mereka bekerja, gadget itu dibawa oleh mereka dulu. Pas pulang baru diberikan ditemani bermain. Tapi ada juga yang tidak.

    Semoga menang mba dalam GA-nya.

    BalasHapus
  5. Memangnya pada usia berapa anak baru bisa ereksi? (berdiri itu ereksi kan maksudnya?)
    Bukannya usia segitu memang sudah bisa berdiri ya?
    Lalu apa hubungannya penis ereksi dan nonton tv dengan bermain games di internet?

    BalasHapus
  6. tantangan orangtua zaman sekarang :3 dulu waktu aku sd aja kayanya masih mainan yang diluar bareng temen tetangga rumah. skrg yaa :(

    BalasHapus
  7. Kalau tidak di belikan HP bisa jadi akan minder krn teman2nya sdh banyak yang bawa, tetapi kalau dibelikan bisa jadi malah asik dengan HPnya. dilema buat orangtua.
    BTW sukses buat lombanya..

    BalasHapus
  8. Kemudahan yang selalu perlu dibarengi dengan pengawasan nih Jeng Ika. Sukses dalam lomba blog ya Jeng, Salam

    BalasHapus
  9. Internetnya bisa dipasang perangkat ramah untuk anak, jadi ya tidak akan bisa membuka halaman dewasa :grin: .

    BalasHapus
  10. Ika Koentjoro22 Juli 2013 00.15

    Iya betul, benar-benar dilematis.

    BalasHapus
  11. Ika Koentjoro22 Juli 2013 00.18

    Mohon maaf, untuk usia pastinya saya kurang tau. Kalau melihat fenomena anak SD memperkosa anak TK atau teman perempuannya mungkin anak sekarang lebih cepat matang organ sekundernya. Inilah bahayanya pornografi.

    BalasHapus
  12. Ika Koentjoro22 Juli 2013 00.19

    Sama pak. Merengung dan tercenung

    BalasHapus
  13. Ika Koentjoro22 Juli 2013 00.19

    Betul sekali pak. Saya juga pernah punya pengalaman seperti itu

    BalasHapus
  14. Ika Koentjoro22 Juli 2013 00.20

    Sepakat mbak Prih.

    BalasHapus
  15. Ika Koentjoro22 Juli 2013 00.21

    Iya, untuk amannya begitu Nel

    BalasHapus
  16. Ika Koentjoro22 Juli 2013 00.22

    Jelas semakin berat :(

    BalasHapus
  17. Ika Koentjoro22 Juli 2013 00.22

    Kuncinya pada kontrol dan pemberian pemahaman :)

    BalasHapus
  18. sepertinya umur segitu sudah bisa berdiri, setidaknya di pagi hari.

    tapi alasan kenapa si anak ngomong gitu yang belum ngerti, apa dari mainan tabletnya ada game yang maengarah ke hal2 yang menjurus atau gimana?

    BalasHapus
  19. BTW, lombanya buat ibu2 aja yah?

    BalasHapus
  20. Ika Koentjoro22 Juli 2013 11.06

    Buat bapak juga bisa kok

    BalasHapus
  21. Ika Koentjoro22 Juli 2013 11.08

    Banyak, permainan game internet juga film porno yang tak sengaja ia tonton dan gambar-gambar porno.

    BalasHapus
  22. tugas kita bersama mbak untuk mendidik mereka, karena anak -anak itu akan menghadapi era yg berbeda dgn era orangtuanya

    BalasHapus
  23. Ika Koentjoro22 Juli 2013 16.40

    Betul sekali pak yudhi. Tantangannya semakin berat

    BalasHapus
  24. Maaf anda tidak menjawab pertanyaan saya
    Tapi lagi-lagi melompat pada kesimpulan (jump to conclusion)

    BalasHapus
  25. huwaaa.... ngeri juga yah mba klo seperti itu. butuh pendampingan orang tua klo pegang gadget..

    BalasHapus
  26. hhmm.. memang gak bisa menutup mata pada perkembangan teknologi dan pastinya tantangan kita sebagai orangtua makin besar ya...

    Good luck ya ngontesnya :)

    BalasHapus
  27. Benar, Pak Bukik. Memang ada anak yang usia segitu bisa ereksi.
    Usia anak untuk bisa ereksi tergantung kematangan sang anak, ada yang cepat ada yang lambat.
    Seberapa cepat matangnya tergantung frekuensi bagaimana si anak mendapatkan informasi / tayangan dewasa atau sesuatu yang belum pantas untuknya. Sehingga ketika melihat kaki mulus imajinasinya akan terbang saat ia pernah melihat tayangan dewasa sebelumnya.
    Atau juga karena matang secara alamiah, yang ditandai dengan mimpi basah.

    Ketika si anak melihat iklan, sebisanya dipantau terus. Di lain sisi, patut menghargai keterus-terangannya. Kemudian bangun dialog yang baik dengan tidak men-tabu-kan makna "ereksi". Orangtua perlu kreatif dalam hal ini. Jangan biarkan kondisi tidak terbangun dialog antara ortu dengan anak soal "ereksi".
    Dari dialog tersebut kita bisa menggali apa penyebab sang anak bisa ereksi, peristiwa apa yang pernah dialaminya, dll. Sehingga kita bisa mengarahkan (memberi solusi) agar sang anak sibuk pada kegiatan-kegiatan yang positif, dan pelan-pelan membatasinya menonton teve, terlebih bila tanpa pengawasan. Disampaikan dg bahasa yg halus, mudah diterima si anak. Yang secara langsung ini bagian dari penyampaian pendidikan seks dari ortu ke anak.

    BalasHapus
  28. Terimakasih. Sy jadi semakin termotivasi untuk full mengurus anak dan terus meningkatkan kualitas keilmuan sebagai seorang ibu.

    BalasHapus
  29. kalo sy, sebagai pengguna linux, cukup blok saja web2 porno dan membatasi penggunaan internet. 7 tahun udah biasa burung berdiri. lah anak sy yg baru satu tahun aja kalo pagi burungnya berdiri. normal mah itu

    BalasHapus
  30. Ika Koentjoro23 Juli 2013 13.50

    Bukan berdiri karena alamiah seperti di pagi hari. Anak laki-laki saya pun demikian. Tetapi berdiri karena terangsang karena berimajinasi setelah melihat bodi perempuan. Untuk anak umur 7 tahun apakah ini wajar?

    BalasHapus
  31. Hehehee...saya salah satu yang mengalaminya.... Karena Harsya sudah menanyakan hal itu ke saya.... sempat cerita sedikit sepertinya sama Mbak Ika, tapi tidak detail....
    Jangan panik itu adalah jurus utama....
    saya memang agak terkejut mendengarnya waktu itu, karena Ayahnya bekerja jauh dan saya sebagai perempuan tidak mengalami hal tersebut...
    Tetapi Alhamdulillah anak saya bertanya pada saya, itu menunjukkan bahwa dia terbuka kepada saya sebagai ibunya dan saya menjelaskan dengan bahasa yang saya pikir dia akan mengerti setelah saya bertanya ke Ayahnya "apakah mungkin...?? because it's too fast i think..."
    Kemudian ayahnya menjelaskan kepada saya dan saya mencari beberapa informasi di internet juga dan jawabannya adalah WAJAR SEKALI...
    Itu sama hal-nya dengan pertanyaan "Adik itu dari mana asalnya yaaa....???" dan itu WAJAR....

    Anak laki-laki memasuki masa baligh pada usia 10-15 tahun, sedangkan anak perempuan 12-15 tahun... Disamping itu akan ada usia pra baligh antara 7-10 tahun.... Jadi Harsya dan mungkin beberapa anak lain sudah masuk pada fase pra-baligh.... Di fase inilah menurut saya peran orangtua menjadi sangaaaat besaaaar.... Menjadi teman anak adalah salah satunya....
    Mungkin sebagai Ibu saya tidak pernah mengalaminya bahkan ayahnya agak lupa-lupa ingat.... heheheheheeh....

    Setelah membaca informasi itu dan ngobrol dengan Ayahnya saya berhasil bicara dan menjelaskan pada Harsya "Mas...itu sama kok seperti ketika Mas Athar di pagi hari kedinginan.... mau pipis penisnya ngacung kan...?" (Maaf saya selalu membiasakan penyebutan alat kelamin dengan nama sebenarnya kepada anak... Karna ada beberapa alasan....)
    Saya pikir karna itu bukan terangsang.... tapi fase wajar.... yaitu pra-baligh tadi....

    Saya shock juga waktu awal mendengarnya.... heheehe....
    Tapi saya pikir tidak boleh panik karna cepat atau lambat saya akan mengalaminya....
    Saya sudah cukup membatasi anak dari TV, Gadget, bahkan PS pun tidak punya.... :D
    Lingkungan kami tinggal pun dan sekolah pun Insya Allah mendukung untuk tidak berkegiatan "aneh-aneh".... (satu sekolah dengan Mas Fathiin yaa....)
    Buat saya adalah dasar pengetahuan "Boleh dan Tidak Boleh" serta alasannya serta pengetahuan agama itu adalah yang UTAMA....

    Mungkin link ini bisa membuka wacana Ayah...Bunda untuk bisa lebih terbuka dan semoga anak-anak terbuka pada orangtuanya....:D

    http://hatimuslimah.wordpress.com/mempersiapkan-anak-memasuki-usia-baligh/

    http://www.islamquest.net/id/archive/question/fa6945

    http://rifahmahmud.staff.stainsalatiga.ac.id/2013/01/31/mendidik-anak-menuju-taklif/

    BalasHapus
  32. Ika Koentjoro23 Juli 2013 19.09

    Waaah, panjang kali lebar kali tinggi bunda. Terimakasih tambahannya :)

    BalasHapus
  33. xixixixixix....semoga bermanfaat sharingnya...

    BalasHapus
  34. Iyaa...harus hati-hati banget, sekali anak pegang internet sendiri kita nggak tahu kemana larinya. Makanya kalau online harus diawasi, di ruang bersama. Game pun kudu ati2 banget ngasihnya.
    betul Mbak, dialog dan penguatan agamanya yang sangat penting.

    BalasHapus
  35. thanks for share Bund..
    berguna banget ^_^

    BalasHapus
  36. Setelah baca ini akang langsung diskusi sama istri lho Mba, terima kasih sharingnya :-)

    BalasHapus
  37. Ika Koentjoro24 Juli 2013 03.20

    Sama-sama kang :)

    BalasHapus
  38. Ika Koentjoro24 Juli 2013 03.21

    Sama-sama :)

    BalasHapus
  39. Ika Koentjoro24 Juli 2013 03.21

    Sepakat :)

    BalasHapus
  40. Jgn percaya sama yg namanya dunia maya. Jgn bangga kalau anak bs akses internet. Pernah bikin artikel yg sama di blog tp dr seminar yg berbeda..

    BalasHapus
  41. Walaupun saya agak kurang arif mengenai hal nie... tapi artikel nih memberi imput baru kepada saya... terima kasih atas penulisan yg bermanfaat nie... teruskan berkarya.. :)

    BalasHapus
  42. Ika Koentjoro31 Juli 2013 13.41

    Sama-sama, terimakasih kunjungannya

    BalasHapus
  43. 1. Ada yang satu tahun sudah bisa. Tidak ada batasan pasti karena tergantung anak yang berssangkutan
    2. Ya kalau sudah bisa ya bisa
    3. Hubungannya begini :
    Mayoritas ereksi terjadi pada saat adanya dorongan seksual yang timbul bisa dikarenakan hal yang disengaja maupun tidak. Penyebab yang disengaja antara lain adalah menonton film biru atau sengaja berkhayal tentang wanita cantik dengan pakaian ketat nan seksi. Saya memang tidak pernah main games online di internet, tapi saya sering melihat gambar di depan warnet game online menampilkan perempuan yang pakaiannya kurang bahan. Maka saya pikir pemain game-nya pun kurang lebih seperti itu.
    Nah kalau keseringan nonton seperti itu, ya wajar saja to melihat kaki orang seksi di tipi jadi penyebab tidak sengaja yang berdiri?
    Semoga bisa menjawab pertanyaan Pak Bukik :)

    BalasHapus
  44. Terimakasih tambahannya mbak :)

    BalasHapus