Berapa Keuntungan Yang Sebaiknya Diambil?

21.52.00


Pagi itu, matahari masih malu-malu menampakkan wujudnya. Seperti aktivitas ibu-ibu pada umumnya di pagi hari, saya pun demikian. Selesai dengan urusan dapur, saya beriap-siap pergi ke pasar untuk berbelanja aneka sayur mayur.


Tiba-tiba bumi di goyang sedemikian kencang hingga kaki saya hanya bisa melangkah sampai depan pintu. Jangankan melanjutkan langkah untuk menyelamatkan diri, bertahan agar tetap berdiri saja saya musti terjungkal ke kanan dan ke kiri.


Tak berapa lama, pagar setinggi 2,5 meter yang berada tepat di depan saya runtuh, tak kuasa berdiri lagi. Beruntung Allah masih menyelamatkan saya dan bayi mungil dalam gendongan saya. Pagar ambruk keluar hingga tak mencederai saya sedikit pun.


Hari itu tanggal 27 Mei 2006 pukul 05.55 Jogja di guncang gempa.


Tak hanya banyaknya korban dan rumah runtuh yang mencengangkan. Bahkan harga-harga barang pangan pun merangkak naik mencengangkan. Merangkak tak terkendali. Tempe yang biasanya 1.500 jadi 3.000, lele yang biasanya 12.000 per kilo melambung menjadi 25.000 perkilo. Bahkan mie instant yang harganya stabil ditempat lain bisa melambung menjadi 100.000 per karton.


Berbicara masalah keuntungan, dalam pandangan Wahbah al-Zuhaili, pada dasarnya, Islam tidak memiliki batasan atau standar yang jelas tentang laba atau keuntungan. Sehingga, pedagang bebas menentukan laba yang diinginkan dari suatu barang. Hanya saja, menurut beliau keuntungan yang berkah (baik) adalah keuntungan yang tidak melebihi sepertiga harga modal.


Sedangkan menurut sebagian ulama dari kalangan Malikiyyah membatasi maksimal pengambilan laba tidak boleh melebihi sepertiga dari modal. Mereka menyamakan dengan harta wasiat, di mana Syari’ membatasi hanya sepertiga dalam hal wasiat. Sebab wasiat yang melebihi batas tersebut akan merugikan ahli waris yang lain. Begitu pula laba yang berlebihan akan merugikan para konsumen (pembeli). Oleh sebab itu, laba tertinggi tidak boleh melebihi dari sepertiga.


Islam tidak memberikan standarisasi pasti terkait pengambilan laba dalam jual beli. Kendatipun demikian, sepantasnya bagi seorang muslim untuk tidak mendhalimi sesama muslim yang lain dengan mengambil keuntungan terlalu besar.


Harga yang sangat mahal karena keuntungan yang diambil sangat besar tentu sangat memberatkan pihak pembeli. Dalam hal ini, tidak akan ada istilah tolong menolong yang sedari awal sangat diwanti-wanti oleh Islam. Islam tidak melarang untuk mengambil keuntungan, namun dalam batas kewajaran.


Alangkah lebih baik jika kita meniru mu’amalah yang dilakukan Nabi, di mana beliau tidak jarang menyebutkan harga pokok barang agar konsumen (pembeli) tidak merasa rugi dan dipermainkan dengan harga. Dengan demikian, tidak ada pihak yang merasa dirugikan dan yang pasti sama-sama ridho.


 

You Might Also Like

36 komentar

  1. aku pernah dengar juga begini mbak, dalam berjualan tidak boleh ada 2 harga. contohnya harga barang A kalau cash sekian tapi kalau kredit sekian. Nah katanya itu tidak boleh ya mbak

    BalasHapus
  2. Yap sepakat sekali Mbak Ika, mengambil keuntungan memang harus mempertimbangkan banyak hal, selain nilai barang, bagaimana perputaran barang itu di masyrakat, ketersediaan dan kemudahan pengadaan barang dan seterusnya, tentu tidak melupakan prinsip-prinsip yang diajarkan Rasululloh SAW bagaimana berdagang yang jujur, dan ramah. Bagi saya yang pedagang pasar tradisional, lebih baik mengambil untung sedikit untuk mendapatkan pelanggan yang banyak.

    BalasHapus
  3. Betul mbak Lidya.

    Sedikit cerita, saya pernah beli bukunya Syafii Antonio. Dalam menetapkan harga jual beliau memberi strata diskon berbeda untuk pembayaran cash maupun tempo.

    Ambil contoh harga buku 2.500.000 (kebetulan buku beliau yang saya beli ensiklopedia). Untuk pembelian cash 20%, 3 bulan 10% dan maksimal tempo sampai enam bulan.

    Jadi harga pokoknya sama untuk pembelian cash maupun credit. Hanya strata disc saja yang berbeda.

    BalasHapus
  4. Betul sekali pak. Sedikit lebih berkah jauh lebih baik pak. Tapi apa yang dicontohkan Rosulullah dengan menyebutkan harga pokoknya terus terang saya sendiri masih berat melaksanakan pak. Kadang pembembeli menawar harga yang tidak rasional.

    BalasHapus
  5. kalau pembeli itu udah jadi pelanggan, apa diskonnya bisa lebih besar daripada pembeli baru, mbak?

    BalasHapus
  6. Baru tau tentang keuntungan sepertiga modal itu Bunda, makasih infonya ^^

    BalasHapus
  7. Boleh pak, kalau belajar dari Syafii Antonio yang penting harga pokoknya sama antar cash atau pun tempo. dan aturan ini juga berlaku untuk pembeli lama maupun baru.

    BalasHapus
  8. sepakat, saya juga akan berpikiran yang sama Mbak Ika. Berat untuk sangat berterus terang mengatakan modal pokok dari barang yang kita beli.

    BalasHapus
  9. wah menambah pengetahuan lagi nih. makasih banyak mba.
    coba tulis soal bank syariah dong mba. ingin tahu deh. :) *request*

    BalasHapus
  10. Insya Allah, saya cari referensinya dulu ya. Agak berat jue :)

    Tapi kalau masalah pinjam di Bank syariah saya punya sedikit pengalaman :p

    BalasHapus
  11. Iya pak, hal ini terkait mentalitas pengen untung sendiri pak. Dalam artian pembeli pengen dapat barang semurah mungkin tanpa memperhitungkan nasib si penjual.

    BalasHapus
  12. boleh juga tuh mba dishare pengalamannya. :)

    BalasHapus
  13. Tuntunan dari Nabi mengenai berapa besaran keuntungan yg boleh diambil tidak ada, jika para ulama ada yang menghitung keuntungan sebesar 1/3 dari modal itu bisa diterima. Namun jika Anda berdangang bermacam macam barang, tentu ada barang yg untungnya sedikit, ada barang yg berisiko cepat rusak, dan ada barang yg bisa untung besar. Menurut saya sulit kalau harus 1/3 masing2. Bisa kemahalan bisa juga kemurahan (merusak harga pasar). Jadi ada yg jauh dibawah 1/3 (misal modal 200ribu jual 205ribu) tapi ada juga yg 100% (berisiko dan sesuai pasaran).

    Namun dari pengalaman pada hasil akhirnya setelah terjual pukul rata semua nya memang keuntungannya sekitar 1/3 dari modal total yg terjual.

    Jadi kira-kira maksudku keuntungan perbarang tidak harus selalu paling tinggi 1/3, jadi harus bisa sistim silang dan sesuai pasarlah (risiko). Barang laku walaupun mdalnya besar tapi untungnya hanya bisa 5-10 rp, barang berisiko rusak untungnya harus 30% - 100%.

    Jaman sekarang jika kita menjual barang diatas harga pasar (untung besr) pasti tidak lama lagi dgn sendirinya tdk laku. Kira-kira begitulah pangalamannya.

    BalasHapus
  14. Terimakasih masukkannya pak.

    1/3 memang bukan harga mati karena di Islam pun tidak ada patokkan pastinya. Berdagang masalah muamalah yang dalam Islam pengaturannya setahu saya tidak saklak. Kalau pun ulama menetapkan 1/3 ya itu sebagai bahan masukkan buat kita.

    BalasHapus
  15. Saat ini kalau jualan memberitahukan HPP ke pelanggan ?

    BalasHapus
  16. saya baru tau soal ini "ngambil ke untungan di perbolehkan sampai sepertiga modal".

    terima kasih infonya mbak...

    BalasHapus
  17. iya. gitu. harga jual seharusnya lebih sepertiga dari harga modal. itu maksimal. kalau 20% atau 10% juga boleh. misalnya jajan harganya Rp 500. kalau 10 bungkus harganya 4500. jadi labanya 500. total 10 bungkus 5000. labanya 500/ 5000 = 10%. masih wajar dong ya?
    cuma sekarang harga-harga naik. harga pokok naik karena BBM naik. harga jual naik. semoga para pembeli sadar. tapi pembeli juga jadi gak bisa beli banyak. semoga kelak harga2 turun. kasihan penjual dan pembeli kalo harga2 naik.

    BalasHapus
  18. cukup jelas mbak penjelasannya

    BalasHapus
  19. ada konsep dalam ekonomi Islam yg namanya Antaroddin.
    bila terjadi kesepakatan mau berapa % pun keuntungan yg diperoleh maka itu boeh2 saja, intinya ada rasa suka sama suka dengan harga yg ditawarkan.

    BalasHapus
  20. Iya, terimakasih tambahannya :)

    BalasHapus
  21. haloo salam kenal dari buburasem :D

    BalasHapus
  22. Haloo juga. Lama tak bersua :)

    BalasHapus
  23. Walaupun pasti ada, namun jaman sekarang jarang menjumpai pedagang yg mau ngasih tau harga pokok barang yg dijualnya. Kalo pun mereka memberi tahu, biasanya juga nilainya dinaikin agar kita mau membeli seharga yg dia tawarkan ...

    BalasHapus
  24. Hidup jauh lebih mudah kalau cara menetapkan harga ini seperti yang dilakukan Nabi ya Mbak Ika. Tidak seperti sekarang, kelangkaan supplai saja sudah membuat produsen jerit-jerit :)

    BalasHapus
  25. Makasih banget infonya, tp kalo misal mau ngitung keuntungan sebuah proyek yg mungkin modalnya cm otak kita ja gmn ya, misal: Prosek IT personal: Bikin Software, Web dll.. Klo biaya listrik dan komunikasi kan relatif kecil jd yg paling besar ya modal otak. itu ngitungnya gmn?

    BalasHapus
  26. Benar, memberi harga juga harus manusiawi ya, Mba. ..
    Dengan kata lain "umum batir". . . :)

    BalasHapus
  27. Ooo..makanya suamiku menerangkan untuk pembelian property kredit sekian dan jika cash diberi diskon, bukan perbedaan harga ya Mba. Iya tuuuh, mengapa ya harga harus berbeda di tempat yang malah sedang tertimpa musibah.

    BalasHapus
  28. Kalau saya melihat dari sisi kemanusiaan ya. Rasanya kurang pantas kalau mengambil keuntungan sangat banyak di saat terjadi musibah.
    Namun untuk bisnis, rekan saya pernah cerita bahwa harga jual untuk industri biasanya minimal 5x dari modal.

    BalasHapus
  29. Baca http://www.eramuslim.com/ekonomi/bolehkah-berdagang-dengan-mengambil-laba-lebih-dari-30.htm#.Uy5vns59sXg

    BalasHapus
  30. wahhhh saya juga belajar nih mbak sungguh bermanfaat suka sama ambil untung sedikit tapi pelanggan banyak.....tapi kadang itu juga susah di terapkan di bisnis saya mbak hehe senang bisa nemu ini blog

    BalasHapus
  31. sangat memberi inspirasi artikelnya mba ika

    BalasHapus
  32. Sebaiknya kalau mengambil untung sewajarnya aja, mending untung standart tapi penjualanya banyak. daripada untung besar tapi penjualan sedikit..

    BalasHapus
  33. emang jaman sekarang ga ada pedagang yg mao ksh tau modal yg sebenarnya.
    saya jg pedagang, tp sy jg ga brani ksh tau modal saya.
    karena pembeli jg ga mgkin prcya sm pedagang.
    jd saya pikir, dari pd terlalu rendah di tawar, lebih baik ga sy jual.
    mgkin blm rizqi sy.

    BalasHapus
  34. hhu bingung juga ya...

    eh tapi dulu kayanya saya pernah baca kalo keuntungan ngga boleh lebih dari sepuluh persen.. salah baca apa ngga tuh, lupa soalnya

    BalasHapus