Hangatnya Kopi Tubruk Sehangat Persahabatan

19.45.00

Diantara semua varian kopi yang ada, pilihan saya jatuh pada kopi tubruk. Kopi yang diseduh dengan bulir-bulirnya ini menawarkan sensasi dan cara meminum yang berbeda dari jenis kopi lain.

Kopi tubruk mengingatkan saya pada sebuah persahabatan. Hangatnya kopi tubruk sehangat persahabatan saya dengan mbak Lieshadie, sahabat sesama blogger yang bertemu di dunia tulis menulis ini. Dari awalnya saling colek diblog, hingga akhirnya saling berkunjung ke rumah.

Jujur, sejatinya saya bukanlah termasuk kopi maniak yang jika tidak meminumnya di pagi ataupun sore hari, kepala akan terasa pusing. Hanya pada level suka saja.

Kopi2


Ketika kejenuhan pada pekerjaan yang menumpuk seolah tak ada habisnya, ataupun saat kegiatan tulis menulis tiba-tiba terhenti karena mati ide, segelas kopi tubruk panas yang langsung dituang dari ceret yang masih mengepul mampu mendongkrak semangat sekaligus mampu menyegarkan pikiran hingga bisa kembali “ON. Kemepyar, begitu orang jawa bilang. Langsung melek seketika. Langsung fresh dibadan dan pikiran.

Tingkat kegemaran saya pada kopi yang hanya sebatas suka, erat kaitannya dengan budaya dimana saya dibesarkan. Ya, saya lahir dan besar didaerah Jogja dengan kentalnya budaya ngeteh disana. Sejak jaman kakek nenek dulu, kami terbiasa menikmati teh setiap pagi dan sore hari serta dalam setiap perjamuan. Ketika bertamu ataupun kedatangan tamu, teh menjadi teman camilan yang dihidangkan.

Kini, saya tinggal di Purworejo, daerah yang kental dengan budaya ngopi. Terutama kopi tubruk. Kopi sederhana yang bisa dinikmati dimana saja, kapan saja ini menjadi kopi favorit penduduk setempat.

Bagi sebagian besar penduduk, kopi tubruk tak hanya sebagai penawar kantuk semata. Ia menjadi minuman pilihan disetiap kesempatan mulai dari kongkow-kongkow bersama sahabat, menikmati kesendirian sampai sebagai minuman inti dari sebuah perjamuan dimeja makan.

Perbedaan kebiasaan ini tentu perlu disikapi dengan arif agar tidak menyinggung satu sama lain. Tak berbeda dengan sebuah persahabatan, tentunya akan banyak perbedaan yang dimiliki satu sama lain, akan tetapi justru perbedaan itu semakin merekatkan hubungan persahabatan.

Perbedaan menjadi kesempatan untuk saling mengisi. Jika salah satu gemar bercerita, maka jikalaupun yang lainnya tidak gemar bercerita juga, pastinya ia gemar mendengar. Disinilah indahnya sebuah persahabatan.

Persahabatan laksana kopi tubruk yang dapat dinikmati siapa saja, dari pejabat hingga rakyat jelata. Dimana saja, di café, kantor, angkringan, warung kaki lima maupun di sawah, nikmatnya kopi tubruk tetaplah sama.

Kapan saja kita ingin menikmatinya, entah pagi, siang, sore, malam, tengah malam ataupun dini hari, mencium aromanya, menyesapi harumnya kopi tubruk dan mengalirkannya ke tenggorokan, hmmm, sungguh nikmat tak terkirakan.

Persahabatan sejati tidak mengenal siapa loe siapa gue yang mengacu pada latar belakang, kekayaan, pangkat, usia ataupun status social. Persahabatan lebih pada terikatnya dua hati yang merasa klik satu sama lain.

Sama seperti persahabatan saya dengan mbak Lies. Perbedaan usia kami yang terpaut 7 tahun ternyata tak menghalangi kami untuk saling memahami satu sama lain. Tetap seru ketika bertemu dan ngobrol.

Rahasia kenikmatan menyeruput kopi tubruk bisa dirasakan saat kopi telah mengendap dibagian bawah gelas hingga terpisah antara kopi dan air. Perlu kesabaran lebih saat menunggu kopi mengendap dan terkumpul dibagian bawah gelas.

Adakalanya sebuah persahabatan memerlukan kesabaran ekstra untuk mengendapkan emosi ataupun ketidak nyamanan demi kelanggengan ikatan persahabatan karena kadang percikan-percikan api konflik tak dapat dihindari.

lies

Disaat kerinduan pada sahabat telah memuncak, pertemuan dengannya menjadi sesuatu yang sangat didamba. Tak jadi soal dimana pun kami bertemu, direstoran mewahkah ataupun diwarung kaki lima yang sederhana, kerinduan untuk bertemu tak terbendung lagi. Dan akhirnya kami pun memutuskan tuk bertemu diangkringan sederhana didepan kantor New Armada dijalan Purworejo-Kutoarjo untuk saling melepas rindu dan berbagi cerita.

 

Tulisan ini diikutkan dalam GA Lisa Gopar


Lisagopar

You Might Also Like

33 komentar

  1. Berarti disitu kentel budaya ngetehnya ya mbak

    BalasHapus
  2. Selamat menikmati ngupi2 ria :D

    BalasHapus
  3. Wkwkwk, sekali-kali narsis :D

    BalasHapus
  4. Kami berdua termasuk "THE NINE FROM THE NEW LADIES" lho Om ;)

    BalasHapus
  5. Apalagi kalo masih kebul-kebul

    BalasHapus
  6. Kopdar asyik dengan kopi ya mbak
    emang cocok kopi darat ketemu kopi tubruk ...
    wah aku belum kenalan sama mbak Lies ya ..., salam kenal dulu mbak Lies

    BalasHapus
  7. Iya mbak suka kopi tanpa ampas atau yang pas diseduh disaring ;).

    BalasHapus
  8. nikmatnya kopi dalam hangatnya persahabatan ... indah sekali ...
    *sekarang jadi tahu fotonya mbak Lies ... :D

    BalasHapus
  9. setiap membahas kopi tubruk saya jadi kangen ayah di Jakarta. Setiap pagi dan sore beliau selalu menyeruput kopi hitam itu..

    BalasHapus
  10. Kopi tubruk OK banget. Selingan pas saat teh hangat tak terhidang.

    BalasHapus
  11. Betoel, tak ada teh kopi tubruk pun jadi ;)

    BalasHapus
  12. Hi,,,hi,, inget kotahalaman ya. Bukan kampung halaman wong jkt khan kota besar :D

    BalasHapus
  13. Sebenernya bukan kopdar sich mbak. Kita udah sering banget ketemuan. Ntar salamnya aku sampein dech ;)

    BalasHapus
  14. Kalo saya mau bisa tidur nyenyak, saya harus minum kopi tuh.
    He he he!

    BalasHapus
  15. WWah berarti terbaik ya Eyang. Biasa orang minum kopi biar bisa melek :D

    BalasHapus
  16. wah sayang saya gak suka kopi,,, saya ngeteh saja dech mbak,,,
    sukses buat GA nya ya mbak,,,,

    BalasHapus
  17. Makasih,, besok kita ngeteh2 aja ya kalo ketemuan :D

    BalasHapus
  18. indahnya Mba Ika cara cerita tentang persahabatannya dengan Mba Lies dan pengumpamaannya dengan kopi. Ketemuan sama temen memang menyenangkan ya Mba. :)

    BalasHapus
  19. Betul mas,, bagi saya temen ya temen. Ndak masalah dia seperti apa, yang penting sreg dihati :)

    BalasHapus
  20. Baca ini bikin terharu karena I'm a coffee lover :')

    BalasHapus
  21. Wah senangnya bs kopi daratan :-D

    Meski di keluarga saya kental sekali budaya ngeteh pagi & sore, saya jg suka kopi tubruk Mba..setuju deh kl kopi tubruk sensasinya berbeda :-D

    BalasHapus
  22. Dulu saya suka menyeruput kopi tubruknya Si Bapak. Sering kali dia marah karena kopinya tinggal setengah.

    Tapi kopi favorit saya itu kopi yang ditambahi susu. Bisa tiga gelas saya mengkonsumsinya dalam sehari.

    BalasHapus
  23. Wah, dirimu berarti termasuk penikmat kopi sejati nich

    BalasHapus
  24. salam kenal...
    baru tahu kalo Purworejo kental budaya ngopinya, padahal deket lho, saya dari magelang... :)

    BalasHapus
  25. Iya, kapan2 main ke Purworejo ;)

    BalasHapus
  26. insya Allah... sekarang masih rame duren mbak?

    BalasHapus
  27. Tahun ini panennya ndak seperti kemarin. Cuman dikit, sekarang dah habis musim durennya :)

    BalasHapus
  28. Saat ini di beberapa daerah misalnya Payakumbuh Sumatera Barat, kopi masih menjadi jamuan persahabatan yang disajikan di meja-meja lapau. Dan semoga menjadi minuman persahabatan dan tentunya sudah saatnya kopi menjadi sandaran pendapatan rakyat kita

    BalasHapus