Ayat Berbalas Ayat

19.42.00

Mbak, tuku o boxku. Barang e apik kabeh

(Mbak, belilah box saya. Barangnya bagus semua)

Ra ono wong dodol muni elek. Kabeh wong dodol mesti muni dagangan e apik. He…he…

(Tidak ada pedagang yang mengatakan barang dagangannya jelek. Semua pedagang pasti mengatakan dagangannya bagus)

Ora mbak, tenin boxku apik. Tak jamin wis. Tur meneh keuntungan e meh tak nggo gawe rumah tahfidz

(Tidak mbak, box saya bagus. Saya jamin. Lagipula keuntungannya mau saya pakai untuk membuat rumah tahfidz)

Keuntungan e? Ngopo ra sak pok e sisan?”

(Keuntungannya? Mengapa tidak modalnya sekalian?)

Wah, Rasulullah karo sahabat we ora ngono kok!

(Wah, Rasulullah dan sahabat saja tidak demikian)

"Tidak juga," jawab saya. "Umar menginfakkan kebunnya karena terlambat shalat berjamaah," lanjut saya.

"Aku durung iso!" Mung menungso biasa," jawabnya

(Aku belum bisa. Aku cuma manusia biasa)

Percakapan dengan adik laki-laki saya terhenti demi mendengar suaranya meninggi. Diskusi saya cukupkan sampai disitu sambil menunggu situasi kondusif untuk kembali berdiskusi.

***


Terpekurku dikeheningan sepertiga malam ini. Ayat yang sebelumnya sudah berkali-kali ku baca ini, entah mengapa tiba-tiba begitu menyita perhatianku.


“Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.


(QS. Ali ‘Imran [3]: 92)


Ku ulang dalam gumam lirih,"Nafkahkanlah sebagian harta yang kamu cintai?"


"Kenapa mesti sebagian harta? Sebagian khan banyak!"


"Mengapa harus harta yang dicintai? Bukankah itu berat?"


"Lalu, jika saat ini usahaku dalam keadaan limbung akankah mendapat kelongggaran?" tanyaku dalam hati.


Entah mengapa, bayangan ayat ini berkelebat dalam benakku.



انْفِرُوا خِفَافًا وَثِقَا


"Berangkatlah kamu baik dalam keadaan ringan maupun berat....

(At Taubah: 41)


Dan aku pun kembali tercenung dan tergugu. Memohon kekuatan pada sang Maha Hidup, Sang Maha Memiliki.



Ya Rahman...

Ya, Rahiim..

Ya muqollibal Qulub..Tsabbit qolbi ala diinik.. Wa'alaa tho'atik..

A13F1565CD481AA8AB2D3E0EA0589ED5

You Might Also Like

43 komentar

  1. Teguhkanlah hati Mba Ika di JalanMu Ya Robb..

    BalasHapus
  2. Kalo saya masih belajar berinfak,mbak.jadi setiap gaji saya, ga sebagian sih,baru 2.5%nya saya infakkan. kapan ya bisa berinfak dengan sebagian harta yang dimiliki?kok kayaknya berat ya mbak,apalagi kebutuhan atau rencana kedepan yang membuat saya berpikir untuk lebih memilih menabung daripada berinfak banyak.fiuh...,

    BalasHapus
  3. Pingin sekali kali melihat kecap nomer dua. Haha.... gak nyambung.

    BalasHapus
  4. Aaamiiin, makasih banget Utie. jadi terharu T_T

    BalasHapus
  5. Berat dan Ringan sejati tergantung kekuatan iman Nicc. Keimanan berarti keyakinan kita betapa Allah itu Maha Kaya

    BalasHapus
  6. Iya ya pak,, semua pasti bilang no. 1.

    Oh, ada pak yang ndak nomer 1. malah no.16 alias puyer 16 :lol:

    BalasHapus
  7. Huhuhu.. maturnuwun Mba Ika...

    BalasHapus
  8. iya juga ya,jadi ngapain takut untuk berinfak lebih besar lagi. kalo gitu saya mau belajar menaikkan infaknya lebih dari 2.5%, sapa tau lama-lama bisa jadi 50%.amin.

    BalasHapus
  9. Walah, lha kok mas dhani ikuta T_T

    BalasHapus
  10. Tapi aku pernah loh mbak membeli nanas penjualnya jujur. Waktu menimbang dia bilang ini nanasnya jelek udah busuk, gak jadi dijual bu. Akhirnya aku beli buah yang lain deh

    BalasHapus
  11. subhanaAllah, memang sebaiknya kalo berjualan begitu. Biar barokah ;)

    BalasHapus
  12. apik tenan mbak postingan e... inspiratif, mudah2an tambah semangat infaq shodaqoh e

    BalasHapus
  13. Mbak Ika... Maaf saya mau tanya, maklum pemahaman agamanya masih nol besar, sebahagian itu setengahnya kah atau sebagian dari harta yg kamu miliki, yaitu bagian dari apa yg kita miliki? Karena setiap harta yg kita miliki itu ada bagian untuk fakir miskin... Mohon sekali mbak Ika menjelaskan... Matur nuwuuuun...
    Pokoknya mah mbak Ika, apa yg kita infaqkan semoga saja niatnya krn Allah SWT.. Ikhlas saat memberi.
    ’Sungguh, Tuhanku melapangkan rezeki dan membatasinya bagi siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya.’ Dan apa saja yang kamu infakkan, Allah akan menggantinya dan Dialah Pemberi Rezeki yang terbaik.” (QS Saba, 34: 39)

    BalasHapus
  14. makasih mba postingannya...bacanya jadi diam berulang kali pada ayat-ayat itu...

    BalasHapus
  15. Terimakasih bukunya yah..... http://waoso.wordpress.com/2013/04/04/halaman-pertama-situs-waoso/

    BalasHapus
  16. Nek Mbak Ika ini tausiyahnya selalu mantebbb !!!!

    BalasHapus
  17. kata Ust. Yusuf Mansur, kalo usaha lagi limbung, sedekahnya perlu diperbanyak, mbak

    BalasHapus
  18. Wa mayyuqo suha nafsihi.. fa ulaaaika humul muflihuun..

    BalasHapus
  19. menyimak ustadah cantik ceramah :D

    BalasHapus
  20. Semoga Allah memberkahi Mbak Ika sekeluarga :')

    BalasHapus
  21. baiklah ustadzah..
    sebagian itu ga perlu separoh kan? semampu kita.. yang penting iklas dan nawaitu..

    BalasHapus
  22. jangan masuk kuping kanan keluar kuping kiri lho :D

    BalasHapus
  23. Betul pak, tapi dalam tatanan praktek lumayan berat. Butuh keyakinan ektra

    BalasHapus
  24. mayyuqo suha artinya apa ya pak. Maaf saya hanya sedikit2 mengerti bahasa arab.

    Nafsihi = dirinya. sementara Wa= dan

    Kalimat belakang saya tahu

    BalasHapus
  25. Wah, ini pasti blog pak Sarib yang lain ya ;)

    BalasHapus
  26. Sama-sama mas. Saling mengingatkan dalam kebaikkan :)

    BalasHapus
  27. Jika merujuk pada siroh sahabat, Abdurrahman bin Auf biasa membagi hartanya untuk 3 hal. 1/3 untuk disedekahkan/diinfakkan, 1/3 untuk melunasi utang2 orang muslim yang tidak mampu membayar utangnya dan 1/3 ia gunakan untuk keperluan dirinya.

    Bahkan suatu kali ketika madinah dilanda paceklik, Usman yang pulang dari berdagang menginfakkan semua hartanya.

    Cerita itu bisa dibaca di http://ikakoentjoro.wordpress.com/2012/10/27/godaan-dunia/
    dan disini http://ikakoentjoro.wordpress.com/2012/08/25/slow-motion-kesuksesan-bisnis-abdurrahman-bin-auf/

    Mudah2an bermanfaat mbak :)

    BalasHapus
  28. Siip, tambah banyak tambah bagus. Dan yang penting ikhlas ya :)

    BalasHapus
  29. Halaman pertama. Blognya mau dibagi dua, yang awal hanya untuk berbicara anak.

    Kalau tentang tulis menulis di blog yang baru. Sesuai namanya "Waoso". Hehe....

    BalasHapus
  30. Siip, sukses buat pak Sarib :)

    BalasHapus
  31. udah kondusif mbak? gimana hasilnya?

    BalasHapus
  32. Ooopsss...,hampir lupa iklhlasnya,hehehehe,"Ikhlas...,ayo mandi...udah sore nih,nanti kakak dimarahin ibu.." #lho?
    maaf...saya khilaf...#soimah mode:on

    BalasHapus
  33. Itu bukan curhatan aku Sha. Cuman perumpamaan aja :p

    BalasHapus
  34. Buruan mandi, udah bau banget. bau acem :p

    BalasHapus
  35. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang orang yang beruntung (al-hasyr 9)

    BalasHapus
  36. Subhanallah,, terimakasih pak :)

    BalasHapus