Sebuah Penghargaan

20.42.00

Minggu yang cerah, Joko mengajak Ira, putri semata wayangnya berjalan-jalan di taman kota. Seperti biasa, setiap hari libur taman kota selalu ramai. Selain ramai pengunjung yang ingin menikmati suasana liburan, juga ramai pula pedagang yang jajakan aneka barang.

Saat sedang beristirahat dibangku taman, mereka melihat seorang ibu penjual bakul nasi yang sudah tua sedang menawarkan dagangannya pada para pengunjung taman. Beberapa orang yang ditawarinya menolak untuk membeli.

[caption id="attachment_1994" align="aligncenter" width="300"]doc. google doc. google[/caption]

Ketika pedagang itu menghampiri Joko dan putrinya, Jokopun bertanya padanya,”Berapa harga bakul nasi ini, nek?

Sepuluh ribu rupiah,” jawab si nenek pedagang bakul nasi.

Berapa bakul nasi yang nenek bawa?”, tanya Joko lagi.

Lima belas biji, nak,” jawab si nenek.

Siapa yang membuat bakul nasi ini, nek?”

Suami dan anak saya, nak. Sejak penyakit katarak membutakannya sepuluh tahun lalu, sayalah yang menggantikannya berjualan bakul nasi ini.” jawab si nenek.

Ok, saya beli semua bakul ini,” lanjut Joko sambil memberikan dua lembar uang seratus ribuan pada nenek penjual bakul.

Maaf nak, saya tidak punya uang kembalian. Dari tadi pagi belum ada yang membeli bakul nasi saya. Uang pas saja, nak.”

Kembaliannya buat nenek saja,” jawab Joko.

Oh, kalo begitu terimakasih sekali, nak. Suami saya pasti senang sekali, hari ini bakul nasi yang saya bawa habis terjual,” jawab si nenek dengan girangnya.

Putri Joko menyimak percakapan antar Joko dan si nenek penjual bakul dengan seksama. Ia merasa heran dengan apa yang ayahnya lakukan.

Sesampainya di mobil, Ira pun bertanya pada Joko,”Mengapa ayah membeli bakul nasi sebanyak ini? Bukankah satu saja cukup untuk kita, yah?”

“Ya, betul,” jawab Joko singkat.

“Lalu, untuk apa bakul nasi sebanyak ini?”

“Hmm, nanti kita berikan pada tante, budhe atau tetangga saja,” jawab Joko.

“Jikalau ayah kasihan dengan nenek tadi, mengapa tidak ayah beri uang saja. Tak perlu kita beli bakul sebanyak ini,” lanjut Ira dengan penuh keheranan.

Nak, bakul nasi ini yang membuat suami si nenek yang telah buta karena penyakit katarak. Bisa saja ayah memberinya uang tanpa membeli bakul nasinya. Akan tetapi jika suaminya tahu bakul nasinya masih banyak, ia akan sedih karena menganggap hasil karyanya tidak laku.”

“Ira sayang, jika suami nenek tadi tahu bakul nasinya habis terjual, maka ia akan lebih bersemangat lagi membuat bakul nasinya karena apa yang dia hasilkan dihargai orang. Jikalau hari ini kamu tidak mengerti apa yang ayah sampaikan, suatu saat mudah-mudahan kamu mengerti apa yang ayah maksud,” lanjut Joko.

***


Sebuah penghargaan kecil yang kita berikan mungkin besar buat orang lain. Penghargaan yang menjadikan orang lain lebih bersemangat untuk berkarya dan menampilkan kemampuan terbaiknya. Termasuk pada anak-anak kita. Apresiasilah prestasinya sekecil apapun, tak selalu sesuatu yang bersifat akademisi ataupun prestasi dalam sebuah kompetisi.

Selamat menikmati akhir pekan bersama keluarga sobat :D

A13F1565CD481AA8AB2D3E0EA0589ED5

You Might Also Like

41 komentar

  1. bagus mbak ceritanya,,,
    saya setuju dengan cerita di atas,, kalau kita kasihan dan pingin membantu orang yang sedang berjualan,, lebih baik di beli barang dagangannya bukan memberi uang dengan cuma-cuma,

    BalasHapus
  2. Betul sekali. Itu juga merupakan bentuk penghargaan kita Mit :)

    BalasHapus
  3. Iya, kadang dengan hanya memberikan uang, sebagian orang akan merasa harga dirinya diperlakukan tidak dengan semestinya :) Bagus ceritanya mbak Ika.

    BalasHapus
  4. Terimakasih Om. Dengan cara seperti ini kita berarti memberikan pancing bukan ikan :)

    BalasHapus
  5. sering kayaknya mendengar ini. tapi versinya beda-beda. hehehe.
    makasih mba sharingnya.

    BalasHapus
  6. subhanallah.. terharu membacanya

    BalasHapus
  7. rancak bana uni :)

    BalasHapus
  8. inspirasi Sabtu sore... saya komentar ini semoga termasuk menghargai hasil karya (tulisan) mbak Ika yaaa... hehe
    happy weekend mbak Ika :)

    BalasHapus
  9. Ceritanya langsung makjleb dihati mbak *terharu*

    BalasHapus
  10. nak ira, belajar yang rajin ya, nanti ayah ajarin ira bikin bakul nasi sebagai bekal.. *loh kog?

    BalasHapus
  11. Cerita bagus.. :') pelajaran bagus nih, banyak dari kita (termasuk saya) yang belum ngerti soal menghargai karya orang lain

    BalasHapus
  12. memberi penghargaan kepada karya seseorang, akan sangat membantu untuk menyalakan semangat orang itu dalam menjalani kehidupannya ya Mbak. Cerita yang sangat inspiratif..

    BalasHapus
  13. Bagus,menginspirasu banget ceritanya...

    BalasHapus
  14. hasil karya yg dihargai........sangat menyentuh hati dan menginspirasi.... sekaligus memberi solusi

    BalasHapus
  15. Batul mbak Nina. membantu menyalakan semangat orang lain berarti membantunya untuk bangkit :)

    BalasHapus
  16. Nah, sekarang saatnya menghargai orang lain ya say :)

    BalasHapus
  17. Wkwkwk, ada2 wae mbak Tinsyam :)

    BalasHapus
  18. Betul mbak. Komen termasuk penghaegaan buat penulisnya. Ada juga lho mbak yang cuman like terus2an. Ga' tau dibaca pa ndak yang penting like :(

    BalasHapus
  19. Betul mas, ini cerita memang sudah biasa diceritakan di FB dan saya ceritakan lagi sesuai "bahasa" dan versi saya. Kalo ibarat musisi saya mengaransemen ulang cerita :)

    BalasHapus
  20. Sepakat aku dgn koemntarnya sis Mita nih :)

    BalasHapus
  21. sukaaa sekali dengan tulisan ini ... penghargaan yang tepat memang akan memberikan dampak yang besar ...

    BalasHapus
  22. sepakat sama mba. ^^
    terkadang orang tua malas mengapresiasi prestasi kecil anaknya.
    Padahal itu bisa jadi sangat besar untuknya. :(

    BalasHapus
  23. Seringkali perspektif kita terhadap orang2 cacat atau lemah adalah mereka hanya bisa mengharapkan pemberian orang lain. Padahal banyak juga orang seperti mereka yang tidak ingin mengharap belas kasihan orang lain dengan terus berkarya.

    BalasHapus
  24. Betul sekali, jika mereka diberi kesempatan kadang prestasinya melebihi kita yang normal.
    Saya baca buku2nya pak Chatib Munif jadi super ngiri karena banyak menceritakan para disabilitas yang punya prestasi luar biasa. Ada yang tuna rungu tapi bisa menyelesaikan S2 di Australia.

    BalasHapus
  25. Betul, yang diapresiasi hanya hal2 akademik semata seperti nilai matematikanya 9 de el el.

    BalasHapus
  26. Suka lupa mengapresiasi buah hati sendiri....# tujes diri sendiri !!!

    BalasHapus
  27. salam kenal mbak ika..:)
    nice story pesan moral yang bagus untuk diambil hikmahnya...
    semoga kita selalu diberi kepekaan untuk menyayangi dan bisa membantu sesama samampu yang kita bisa...

    BalasHapus
  28. Sebuah kebaikan pasti akan menjadi benih kebaikan pula kelak.

    BalasHapus
  29. Menanam padi tumbuh padi, menanam angin datang badai :)

    BalasHapus
  30. Iya,,, terimakasih dah berkunjung ya :)

    BalasHapus
  31. Walah, jangan tujes tujesan mbak :)

    BalasHapus