Konsumen Cerdas Pilih Pangan Lokal

17.03.00

Beberapa minggu terakhir, tiba-tiba bawang merah dan bawang putih menjadi topik yang hangat dibicarakan oleh semua lapisan masyarakat. Mulai dari para ibu rumah tangga, pembantu, pedagang sayur mayur, pemilik restoran hingga para pengamat ekonomi yang menyatakan kenaikkan harga bawang menyebabkan inflasi.


Setelah sebelumnya harga daging meroket, sebelumnya lagi cabe yang menembus harga Rp 100.000 dan sebelumnya lagi harga kedele yang menyebabkan para produsen tempe berhenti beroperasi sejenak demi menunggu stabilnya harga kedele, kini giliran bawang merah dan bawang putih.


Ada dua kemungkinan penyebab melonjaknya komoditas pangan di Indonesia. Pertama, disebabkan factor teknis. Contohnya gagal panen karena tanaman terserang hama ataupun karena terjadi bencana alam seperti banjir. Kedua, by design. Artinya kelangkaan dibuat sedemikian rupa atau dengan bahasa gampangannya kelangkaan bahan pangan memang sengaja dibuat untuk menaikkan harga yang pada akhirnya akan menaikkan keuntungan para tengkulak ataupun pedagang besar.


Simbok2Dibukanya keran perdagangan bebas saat ini semakin mempermudah praktek permainan harga komoditas pangan. Ya, banyak kalangan menduga terjadi praktek kartel dibalik kelangkaan produk pangan di Indonesia.


Saya jadi tercenung demi mengingat ibu-ibu yang setiap pagi melintas didepan rumah saya dengan membawa berbagai bahan pangan yang mereka petik dari kebun sendiri untuk dibawa ke pasar. Adakah terpikir dalam benak mereka untuk mempermainkan harga seperti para pengimpor produk pangan?


Kualitas yang tidak sebanding dengan tampilan luarnya


Sebagai konsumen cerdas kita perlu memilah dan memilih makanan yang akan kita konsumsi. Apalagi dengan maraknya aneka impor produk pertanian sekarang ini. Tak hanya itu, sering kita tertipu dengan tampilan luarnya, contohnya buah-buahan impor.




[caption id="attachment_2757" align="alignleft" width="300"]Gambar diambil di http://ditjenspk.kemendag.go.id/ Gambar diambil di http://ditjenspk.kemendag.go.id/[/caption]

Kecantikan tampilan luar buah impor menjadikannya banyak dipilih oleh sebagian besar masyarakat dibandingkan buah lokal. Walaupun pada kenyataannya, cantik diluar belum tentu aman untuk dikonsumsi.


Ya, buah impor disinyalir banyak mengandung bahan pengawet yang berbahaya bagi tubuh. Selain mengandung zat lilin, buah impor juga mengandung formalin serta zat pewarna yang sangat bahaya bagi kesehatan.


Jika kita cermati, buah impor yang dikirim dari negara asal memerlukan waktu pengiriman lebih lama dibandingkan buah lokal. Belum lagi jika buah tersebut sedang tidak musim. Tapi anehnya buah impor yang sampai ke tangan kita terlihat masih sangat segar. Sebagai konsumen cerdas kita perlu lebih banyak menggali informasi keamanan pangan yang akan kita konsumsi.


Nasionalisme dan kedaulatan pangan


Bukan lautan hanya kolam susu, kail dan jala cukup menghidupimu


Tiada badai tiada topan kau temui, ikan dan udang menghampiri dirimu


Orang bilang tanah kita tanah surga, tongkat kayu dan batu jadi tanaman


By Koes Plus


Sesuatu yang sangat ironi telah terjadi di negara kita. Negara yang subur dengan berbagai keragaaman hayatinya menggantungkan pasokkan produk pangan dari impor. Sama seperti lagu "Kolam Susu" milik Koes Plus, slogan gemah ripah loh jinawi yang dulu sering didengungkan sepertinya semakin tak terdengar gaungnya.


Jika kita tidak berbenah dari sekarang artinya jika kita terus mengandalkan produk pangan impor, dikhawatirkan ketergantungan ini akan mengancam kedaulatan pangan bangsa.


Bayangkan jika suatu saat negara yang biasa mengekspor bahan pangan ke negara kita mengalami krisis pangan entah karena bencana alam, peperangan ataupun paceklik, bukankah mereka akan mementingkan keamanan stok pangan negaranya terlebih dahulu?


Akankah kita korbankan kedaulatan pangan bangsa kita demi mendapatkan produk dengan harga murah dengan kualitas yang tidak terjamin?


***


Tulisan ini diikutkan dalam lomba "Konsumen Cerdas" yang diselenggarakan oleh Direktorat Standardisasi dan Perlindungan Konsumen Kementerian Perdagangan


Banner_Konsumen_Cerdas

You Might Also Like

88 komentar

  1. Info lomba bisa dilihat di http://hkn2013.com/

    BalasHapus
  2. Mba Ika maaf kalau sulitnih.wordpress.com tidak bisa merespon Anda.
    Account sulitnih dah disuspend… Oleh wp..

    BalasHapus
  3. buah-buahn dan sayuran yang seharusnya menyehatkan malah jadi tidak menyehatkan ya mbak kalau ada bahan pengawet dan lain sebagainya. Smeoga menang ya mbak dikontesnya

    BalasHapus
  4. iya mbak....padahal kalau harga melonjak, petaninya juga belum tentu ikut kenaikan harga ya.....
    soal buah impor aku setuju, padahal soal rasa buah lokal lebih enak, tapi ya emang kalah penampilan aja
    sukses dengan lombanya mbak

    BalasHapus
  5. setelah kedelai, daging sapi, sekarang bawang, besok-besok entah apa lagi... aku menyimak aja lah mbak..

    BalasHapus
  6. Di Malaysia, menanam bawang merah, pastilah ia tak berbuah, tapi di sana tak pernah harga bawang semahal itu. Pernah2nya paling mahal itu mencecah RM. 10 dalam Rp. 30.000 ketika India terkena banjir besar. Lantas, adakah banyak salah dalam system di Negara kita? Wallahua'lam....

    Eniwe, salam kenal, Mbak ;0
    Sepertinya saya baru kemari :)

    BalasHapus
  7. Semoga menang yaaa mbak
    Ulasannya mengena, sayang dirumah sy g ada mbok2 yg metik sendiri jadi terpaksa harus menderita ngikuti naiknya harga yang hampir nyundul langit (dapur) :D

    BalasHapus
  8. moga menang ea mba, topik artikelny bagus. sesuai dgn keadaan saat ini...

    BalasHapus
  9. kereeeeennnnn tulisanya...semoga menang Mbak Ika...

    BalasHapus
  10. sebagai orang desa (wonogiri) saya juga sudah terlalu akrab dengan pangan lokal mba, lebih murah dan lebih sehat

    BalasHapus
  11. Jangan salah, bawang 90% masih impor lho :lol:

    BalasHapus
  12. Makasih mbak. Aaamiiin ya Robbal 'alamin

    BalasHapus
  13. terimakasih mas Bro. Aaamiiin, makasih banget doanya :)

    BalasHapus
  14. Aaamiiin makasih doanya

    Jangan nyundul2 nanti benjut (benjol) :D

    BalasHapus
  15. Di negara kita banyak yang mainin harga jeng :)

    BalasHapus
  16. Ni dah mulai cabe. Harga cabe dah mulai naik :(

    BalasHapus
  17. Makasih doanya Lidya, Aaamiiin :)

    BalasHapus
  18. Makasih doanya lulu. Aaamiiin

    Aku kalo buah juga suka yang lokalan :)

    BalasHapus
  19. yang pasti lebih sehat mbak ika ya? :)

    BalasHapus
  20. seger juga mbak.. jadi pengen nanem sendiri.. terus nikmatin sendiri juga.. :P

    BalasHapus
  21. Boleh juga tuch, ntar ujung2nya jadi pengusaha agro kaya' eyang Bob Sadino :)

    BalasHapus
  22. wuihh....aminnn.. mbak... nikmatin sendiri pasti enak.. kalo perlu tinggal petik aja..

    BalasHapus
  23. semoga menang lombanya:)) menarik:) karena ini byk dikeluhkan dr tanah air:( bahan pangan di kontrol oleh segelintir orang, pernah ada yg mengulas, untuk sebagian importir tentu saja,kran import sgt menguntungkan, mereka bs dpt untung milyaran, mana peduli nasip petani lokal*gemez* pastinya lah ada 'permainan' yg punya wewenang.
    *sbukannya mau banding2kan dgn negara sekarang saya tinggal* paling ga jd gambaran:S disini petani lokal sangat di suport pemerintah,bahkan untuk bahan pangan pokok,ada subsidinya sendiri,ada asuransi buat para petani,mereka dididik untu melek hukum*padahal di indo model penyuluhan2 gt dulu byk kan ya* kebutuhan dalam negeri kebanyakan ya produksi lokal,sebagin bahan pangan tropis aja yg import,tp didaerah turki yg agak 'panas' seperti antalya, mereka jg mulai mengembangkan produk2 tropis,dan tipikal orang turki kalo urusan buat 'cinta produk lokal' ga usah di suruh2, mereka agak sedikit gengsi kl beli produk negara org kl negara sendiri msh bisa produksi*saya ni beli bawang putih yg agak murah aja di teliti sm suami, tau produk china suruh buang:S mending mahal dikit tapi produk lokal,kebetulan mertua profesinya ya petani,jd 8bulan tinggal bareng mereka tau jg kehidupan petani lokal, tunjangan 3jutaan tiap bulan buat biaya hidup,lumayan banget.saya jd suka ngebayangin kedepan indonesia harusnya bs lbh baik dr turki,secara negara agraris dan lbh kaya alamnya, ga 4 musim kyk disini.

    BalasHapus
  24. canting_anggun24 Maret 2013 22.36

    itu gambar Mbah nya kayak yg lewat depan rumahku mbak, :D
    serasa pulang kampung

    BalasHapus
  25. Kalau by design mainin harganya gila2an ya. Jauh banget sama yang ini http://www.tempo.co/read/news/2013/03/19/092467985/Ini-Harga-Ideal-Bawang-Putih-Versi-Petani. Dan belum tentu petani yang cape-cape kerja keras ikut menikmati kenaikan, padahal kalau harga turun mereka ikut menderita :(

    BalasHapus
  26. Tulisannya pas banget. Memang kalau ngikutin berita mengenai harga komoditas yang ajrut-ajrutan begini bikin jengkel juga, selain berdampak kepada kestabilan rasa masakan juga kasihan sama para petani yang gak pernah ikut menikmati meroketnya harga berbagai produk pertanian. Padahal kan seharusnya mereka bisa memperbaiki kehidupannya kalau kenaikannya juga mereka nikmati.
    Anyway, semoga menang Mbak Ika :)

    BalasHapus
  27. Cabe, bawang, dll itu sebenernya bisa ditanam di depan rumah masing-masing. Hanya saja banyak yang tidak tahu caranya. Padahal klo setiap kita menanam suatu jenis tanaman berbuah (atau bersayur), pasti ketahanan kita akan lebih tinggi. Daripada pekarangan hanya ditanami bunga2an :).
    Sukses untuk Mbak Ika :).

    BalasHapus
  28. Aaamiiin, namanya RPL alias rumah pangan lestari

    BalasHapus
  29. Aaamiiin, terimakasih pak Chris

    Wkwkwk,, ternyata harga bawang bisa mempengaruhi kestabilan rasa :)

    BalasHapus
  30. Yah itulah ketidak adilan pemerintah.

    Makasih tambahan infonya :)

    BalasHapus
  31. Oya? Emang dirimu punya kampung :lol:

    BalasHapus
  32. petani dapet asuransi? Wow keren.

    Makasih tambahannya mbak :)

    BalasHapus
  33. Bawang dan cabe adalah bumbu yang penting dan termasuk yang paling dasar untuk smua. Gak ada dua bumbu itu, masakan ada yg kurang. Semoga harga-harga bisa stabil lagi dan Mbak Ika menang lombanya :)

    BalasHapus
  34. Alhamdulillah.... berarti aku cerdas dong ya hihihih

    BalasHapus
  35. kenaikan harga barang2 spt daging sapi, bawang, cabai memang perlu disikapi secara bijak, mbak. kalau saya nggak mau nyalahin siapa pun.
    sbg konsumen, saya punya tiga pilihan : memilih produk pangan lokal spt yg disarankan mbak Ika, nanam sendiri atau perlu kreatif cari tambahan penghasilan.

    BalasHapus
  36. di supermarket jarang ada buah lokal ya mba :(
    Moga kita ga milih makanan impor 'hanya' krn gengsi, dan smg mba Ika menang lombanya :)

    BalasHapus
  37. pintar gak sama dengan cerdas yah, hmpph .... cerdas memilih yuk dipilih :P

    Semoga menang kontesnya Bunda :)

    BalasHapus
  38. ahiyaa.. sekarang cabe juga ikut meroket.. duh. duh...
    mau memajukan petani lokal tantangannya beraat

    BalasHapus
  39. keren idenya, napa ga belanja ke ibuibu itu ya, berkebun sendiri, nanam sendiri dan bisa ditawar pun.. sekalian membantu.. daripada kita ribut heboh gegara bawang kemaren..
    semoga menang ya ika.. rajin ikut lomba nih..

    BalasHapus
  40. Wah bawang putih ikutan mahal juga toh mbak Ika? saya kira hanya bawang merah saja. Katanya tembus Rp.80.000 ya .. Loh loh cabai ikutan mahal juga?, harganya hampir serupa ditempatku sini mbak sekitar Rp.100.000. Harga tsb harga normal ya, bukan dinaik2in :D. Kalau mahal-mahal mendingan kita berkebun sendirilah buat kebutuhan keluarga sendiri ;).

    BalasHapus
  41. sedih amat ya
    apalagi kalo inget kita pernah mampu swasembada pangan
    udah kebukti gitu pun kenapa ya orde baru selalu dicap jelek semuanya
    emang apa bukti kesejahteraan dari jaman berjudul reformasi...?
    mumet ah...

    BalasHapus
  42. Sekarang pemimpin kita hanya memikirkan perut sendiri. Perut rakyat nomer 16 :D

    BalasHapus
  43. Sepakat Nel, Markibun, Mari berkebun :)

    BalasHapus
  44. Terimakasih mbak. Aaamiiin, iya nich. Lagi kecanduan lomba :)

    BalasHapus
  45. Banget,,, kompleks masalahnya.

    BalasHapus
  46. Aaamiiin, makasih doanya Mil :)

    BalasHapus
  47. Betul sekali. Gengsinya disingkirin dulu :)

    Aaamiiin, makasih doanya :)

    BalasHapus
  48. Aaamiiin,, mudah2an harga segera stabil :)

    BalasHapus
  49. Miris memang bacanya. Jafi inget Mbah saya yang dulu juga jualan "nyunggi ebor" berisi sayuran dan beraneka macam lauk mentah keliling kampung.
    Sukses ya Mba lombanya.. :)

    BalasHapus
  50. Iya, makasih mas Dhani. Aaamiiin :)

    BalasHapus
  51. Makanya aku mending masak sendiri!
    (Ngomong aja kagak punya duwit!)
    He he he!

    BalasHapus
  52. kebijakan mengimpor produk sayuran dan buah2an dari luar dalam jumlah sangat besar sehingga mematikan usaha petani lokal menurut saya bukanlah kebijakan yang bijak. mengantisipasi kondisi panen petani lokal yang gagal dengan upaya teknologi tetap guna maupun upaya fantastis lainnya sepertinya lebih baik, saya secara pribadi juga lebih suka belanja bahan kebutuhan rumah tangga di pasar tradisional yang banyak menjual produk lokal petani sendiri..

    tulisannya bagus banget mbak...semoga menang kontesnya ya..
    salam kenal :)

    BalasHapus
  53. Lebih irit dan higienis ya Eyang :)

    BalasHapus
  54. Aaamiiin, terimakasih doanya mbak.

    Saya dengar kebijakkan dari mentan juga sudah mengarah kesana mbak. Kita dukung dengan lebih memilih produk lokal :)

    BalasHapus
  55. yup, sepakattt (^_^)/

    BalasHapus
  56. Sinta Nisfuanna25 Maret 2013 21.57

    esainya membuka mata Mbak Ika. makasih ya :)

    BalasHapus
  57. Wah lagi ikut lomba ya mbak.
    Sukses ya mbak ;)

    BalasHapus
  58. Iya, makasih mas. Aaamiiin :)

    BalasHapus
  59. Ya benar itu. Masa' negara agraris bisa kekurangan pangan ? Saya sbg ibu rumah tangga jg sangat merasakan betapa mahalnya harga2 bahan pangan spt yg mba' paparkan di atas. Moga tulisan mba' bsa menang ya ? Salam

    BalasHapus
  60. Aku juga mulai mengganti buah-buahanku dengan yang lokal mbak. Btw semoga menang :)

    BalasHapus
  61. Aaamiiin, terimakasih. Ceritanya curhat ibu RT nich ;)

    BalasHapus
  62. Ia mbak, Ibuku juga bingung kalo pas belanja .... apa-apa sekarang mahal

    BalasHapus
  63. Coba tanam sendiri wae. Pake polybag. Cabe, tomat, sawi bisa kok. Lumayan pengiritan ;)

    BalasHapus
  64. guru saya dulu pernah mengatakan, kalo kita tukeran negara sama orang inggris, amrik, atau jepang, pasti mereka malah yang akan lebih makmur dari negara mereka sekarang ini. karena mereka pandai mengolah sumber daya yang ada di negara mereka. ayo Indonesia!

    BalasHapus
  65. Terutama sumber daya manusia ya pak ;)

    BalasHapus
  66. Setuju, kita sudah terlalu lelah dijarah dan dirampok oleh kepentingan asing. Saatnya bangsa kita mandiri secara ekonomi dan berdaulat secara politik. Apa kabar?

    BalasHapus
  67. perutku ga ada nomernya
    bukan rakyat kali ya..?
    :D

    BalasHapus
  68. issue penting tuh disini mbak, menggalakkan konsumsi produk lokal. padahal negara empat musim. ironis, bandingkan dgn negara kita yg akses mataharinya sepanjang tahun dan ibaratnya benih apapun dilempar ketanah bisa tumbuh tanpa harus dieman2.

    setuju mbak jadi konsumen memang harus cerdas. akseslah pertama2 produk paling dekat dgn kita. selain lebih segar krn tdk ditransport jauh2, dan yg tidak kurang pentingnya dengan membeli produk lokal kita mendukung peningkatan penghasilan petani setempat.

    problem lain yg saya amati adalah luas lahan pertanian yg terus menyusut dibanding dgn jumlah penduduk kita. gimana kita gak import terus. disini kalau kita lewat tanah pertanian gak tamat2 mbak ika luas banget gak disela2 sama bangunan. penduduk gak banyak, pake disela musim dingin tapi malah bisa ekspor.

    salam
    /kayka

    BalasHapus
  69. Sepakat banget Ka. Aku pernah liat kebun gandum disitu emang luas banget. Plus katanya dapet asuransi juga dari pemerintah

    BalasHapus
  70. Masak sich. Coba liat... :lol:

    BalasHapus
  71. betul sekali mbak petani2 yg ada di wilayah eu memang dapat paket bantuan spy bisa bertahan di bisnis yg tidak mudah ini.

    salam
    /kayka

    BalasHapus
  72. Disini bantuan untuk petani sebenernya juga ada tapi tidak optimal dan tidak tepat sasaran.

    BalasHapus
  73. termasuk buah-buahan lokal.... saya suka mangga pakel (mbawang), kokosan, sirsak, jambu biji, salak pondoh, dll....

    BalasHapus
  74. Pakel sama kokosan jarang yang jual sirsak apalagi dah jarang banget

    BalasHapus
  75. artikelnya menarik mengenai kiat-kiat menjadi konsumen cerdas memilih pangan lokal dan memang saat ini kita harus menjadi konsumen cerdas paham perlindungan konsumen agar tidak mudah ditipu para produsen2 “nakal” yang tidak bertanggung jawab.

    btw good luck y mbak lombanya. semoga menang

    BalasHapus
  76. Aaamiiin, terimakasih. Kalo kita ndak cerdas ntar jadi sasaran empuk penipuan terselubung produsen makanan :)

    BalasHapus