Inspiring Teacher dari Swedia

18.31.00

[caption id="attachment_2723" align="aligncenter" width="560"]Rahman Sudiro PhD beserta tamu dari Swedia Rahman Sudiro PhD beserta tamu dari Swedia[/caption]

Parent School kali ini lebih special dibanding biasanya karena pembicara merupakan kepala daerah, kepala sekolah dan guru-guru dari Swedia. Mereka datang atas biaya Pemerintah Swedia sepenuhnya untuk berbagi tentang bagaimana system pendidikan dan sarana prasarana pendukung pendidikan yang diterapkan di Swedia.

Sesuatu yang perlu digali dari pemaparan mereka ialah bagaimana membentuk anak yang memiliki tanggungjawab belajar. Di Swedia, tanggungjawab belajar ada dipundak siswa sepenuhnya. Artinya orang tua tidak perlu memaksa anak-anak untuk belajar. Mereka sudah memiliki kemauan dan kesadaran belajar sendiri.

Setiap awal semester murid didampingi orang tua dan guru membuat IUP, sebuah singkatan dalam bahasa Swedia yang dalam bahasa Indonesia diterjemahkan dengan sebutan Rencana Pertumbuhan Individual. Kalau ingat kuliah dulu, semacam bimbingan dari dosen untuk menentukan mata kuliah apa yang akan diambil disemester tersebut.

Mungkin inilah sebabnya mengapa anak-anak disana memiliki semangat belajar yang tinggi. Salah satunya karena mata pelajaran yang mereka pelajari merupakan mata pelajaran yang mereka inginkan.

Mrs Daniella, Kepala Sekolah Osterodskolen juga mengungkapkan bahwa setiap hari Jum’at ada sesi dimana anak diminta untuk mengungkapkan ketidak nyamanan yang ia rasakan selama satu pekan di sekolah. Sesi ini berlangsung 1 jam lamanya. Hal ini dilakukan agar anak mampu mengungkapkan ketidak nyamanan yang ia rasakan dan agar tumbuh empati dari teman yang lain. Selain itu, sesi ini juga dimanfaatkan untuk mengasah kemampuan berbicara, mendengar dan berdiskusi siswa.

Di Swedia bukan murid yang belajar dari guru akan tetapi sebaliknya, guru dituntut belajar dari murid. Murid tidak harus menjawab secara benar dan jawaban tidak harus seperti yang dicontohkan guru. Nah, dari sinilah guru belajar dari murid. Guru dituntut untuk menggali pola pikir murid atas jawaban yang murid berikan. Rasanya ini sesuatu yang sangat langka dalam proses belajar mengajar di negara kita.

Acara parenting school kemarin juga dimeriahkan pentas seni oleh murid yang mengikuti ekstra seni music dan paduan suara.

[caption id="attachment_2724" align="aligncenter" width="560"]Performance murid-murid SDIT LHI Performance murid-murid SDIT LHI[/caption]

A13F1565CD481AA8AB2D3E0EA0589ED5

You Might Also Like

36 komentar

  1. Lain ladang lain belalang ya mbak :)

    BalasHapus
  2. Anak mbak sekolah dimana? Sepertinya asik-asik ya kurikulumnya :D

    BalasHapus
  3. Sinta Nisfuanna17 Maret 2013 22.00

    suka banget bagian dimana anak diajak mendiskusikan mata pelajaran yang diinginkan. Seru ya kalau Indonesia seperti itu juga

    BalasHapus
  4. Banget mbak. Anak tidak terbebani belajar :)

    BalasHapus
  5. Iya El, tapi tak ada salahnya kita belajar ke tetangga kampung :)

    BalasHapus
  6. Mbak, coba nulis ide ini di kompasiana, mumpung ada lomba ide menyelaraskan pendidikan di Indonesia...cekidot Mbakk...

    BalasHapus
  7. Ok dech, cekidot. Makasih info ne yu :D

    BalasHapus
  8. klo di INA diskusinya gag jauh sma POMG yg urusannya melulu ttg money and pleasure... klo pun ada yg brpihak pd anak didiknya, itu pun hanyalah segelintir..

    BalasHapus
  9. iya,setuju.kalo di indonesia seperti itu pasti anak-anak pada semangat belajarnya karena apa yang mereka pelajari sesuai dengan keinginan mereka. trus guru-gurunya perhatian lagi.

    BalasHapus
  10. Aaamiiin,, makasih doanya Sha :)

    BalasHapus
  11. Wkwkwk, anda belum beruntung :)

    BalasHapus
  12. Banget,,,,banget,,,banget pokoknya :D

    BalasHapus
  13. Beda jauh banget sama sistem pendidikan kita ya mbak :(

    BalasHapus
  14. Kalau anak didik bisa memilih sendiri pelajaran yg disukai, jd semangat belajar ya mbak ;).

    BalasHapus
  15. guru dituntut belajar dari murid ... nah ini dia yang penting dan membuktikan, kalau guru nggak selalu benar dan murid nggak selalu salah :-)

    BalasHapus
  16. sebenernya juga di Indonesia harus begitu, tp kadang budaya & doktrin tempo dahulu yang membuat perkembangan pendidikan kita, hanya jalan di tempat :(

    BalasHapus
  17. Betul sekali pak. Guru wajib menggali pola pikir anak didiknya. Ketika salah diarahkan dan ketika benar didukung :)

    BalasHapus
  18. Iya betul. Makanya disana masing2 anak beda tingkatan untuk setiap mata pelajaran.

    BalasHapus
  19. Setahu aku beberapa sekolah sudah mulai dengan model demikian, cuma memang belum mulus banget penerapannya. Sementara di sisi lain pola pikir di sini juga masih agak susah menerima model belajar mengajar yang seperti itu :(

    BalasHapus
  20. Berarti perlu lebih gencar lagi sosialisasinya ya pak

    BalasHapus
  21. Rasanya memang perlu begitu, Mbak. Sosialisasi tidak hanya ke guru, tapi juga ke orang tua, supaya pola pikir yang cenderung "otoriter" seperti jaman dulu bisa diubah, dari yang semula hanya mengajar dan menggurui menjadi berdiskusi sambil belajar.

    BalasHapus
  22. Betul sekali pak. Di sekolah anak saya demikian juga pak. Wali murid selalu diberi pengarahan dari sekolah.

    BalasHapus
  23. pernah dibahas sama pakar pendidikan juga dimari dalam satu seminar.. eh pakar pendidikan apa pakar parenting ya? sama aja kali ya.. katanya sih soal budaya dan "daya tangkap" anakanak kita berbeda sama di belahan barat, jadi ga bisa disamain.. tapi bisa diadaptasikan dengan aplikasi yang disesuaikan dengan kebiasaan..
    daku suka bagian dimana anak2 lebih diperhatikan minat dan bakatnya.. tapi minat dan bakat kan tergantung lingkungan dimana dia tumbuh, kalu orangtuanya pemusik, anaknya keikut deh, kalupun ga keikut pasti ada yang menjadikan motivator si anak pengen jadi apa..
    bisa panjang ceritanya nih..
    kangen daku blogwalking kemanamana.. sehatsehat ika?

    BalasHapus
  24. Alhamdulillah sehat mbak. Mbak tintin juga kemana ajaaaaa. Dicariin kemana2 ndak ketemu :)

    BalasHapus
  25. Nama sekolahnya boleh tau? hehe

    BalasHapus
  26. saya mengalaminya sendiri nih mbak ika :) generasi saya generasi teksbuk. gak pede kalo gak sesuai buku. begitu sampe disini tobat deh dipaksa utk menjawab dgn pemikiran dan kata2nya sendiri. intinya gak ada jawaban yg salah. sepanjang kita bisa memberikan resonansi atas jawabannya. gak usah gitu anak kecil sekalipun kalo diinterview jawabannya bisa terstruktur, gak noleh2 ke ortunya minta dukungan....

    aduh nyambung gak ya ini komennya :)

    salam
    /kayka

    BalasHapus
  27. Nyambung banget Kay. Apalagi itu pengalaman pribadi :)

    BalasHapus