Pembukuan Untuk Usaha Kelas Teri, Perlukah?

17.17.00

Asih sahabat saya yang bekerja di Departemen Keuangan memiliki usaha sampingan catering dan kue kering yang laris manis saat mendekati lebaran.

Siapapun yang ingin memesan kue keringnya, harus memesan terlebih dahulu sebelum puasa. Sebab awal puasa ia sudah tidak menerima pesenan lagi karena pesanan sudah overload.

[caption id="attachment_2540" align="alignleft" width="210"]doc. google doc. google[/caption]

Ya, meski usaha sampingan dan usaha rumahan, tak kurang 300 toples dengan berbagai jenis kue kering yang ia buat menjelang lebaran.

 

Kini, tujuh tahun sudah usaha tersebut ia geluti, tapi anehnya ketika saya bertanya bagaimana perkembangan usahanya, ia terlihat bingung menjawabnya.

Ia tidak tahu pasti berapa keuntungan yang didapatkan dari bisnisnya selama ini. Dari cerita yang ia sampaikan, saya menemukan 2 masalah mengapa hal ini terjadi. Dan permasalahan ini umum terjadi pada usaha skala kecil.

Tidak adanya pembukuan

Jika diibaratkan seseorang yang akan melakukan sebuah perjalanan, pembukuan merupakan peta yang akan memberi tahu jalan mana yang harus ia lalui. Apakah ke utara, selatan, timur ataupun ke barat.

Lap KeuPembukuan yang jelas akan memberi kita informasi yang bisa kita gunakan tatkala akan mengambil sebuah keputusan terkait masa depan atau keberlangsungan usaha yang kita geluti.

Dari yang sederhana seperti perlukah menambah karyawan ataukah perlu menambah jenis barang dagangan.

Sampai pada keputusan yang memerlukan kajian mendalam seperti perluasan ataupun penambahan outlet, berinvestasi dibidang lain dan lain sebagainya.

Pencatatan yang diperlukan pun sesungguhnya sangat sederhana dan simpel. Hanya berupa catatan penjualan, pembelian, pendapatan serta pengeluaran. Inipun bisa kita modifikasi sesuai kebutuhan.

Bercampurnya modal dengan uang pribadi

Hal ini terjadi karena tidak adanya pencatatan ataupun pembukuan yang rapi.

Yang sering terjadi, karena ketiadaan catatan yang jelas, uang pribadi masuk ke dalam modal ataupun sebaliknya modal digunakan untuk keperluan pribadi hingga sulit untuk mengukur seberapa berkembang usaha yang kita miliki.

So, apakah masih terpikir bahwa pembukuan tidak penting?

Salam sukses :D

A13F1565CD481AA8AB2D3E0EA0589ED5

 

.

.

Note; Next time saya akan buatkan contoh riil catatan yang simpel dan informatif

You Might Also Like

68 komentar

  1. Setuju :) Pencatatan, sesederhana apapun itu sangat diperlukan :)

    BalasHapus
  2. perlu mbak ... salah satunya biar ga kecampur sm uang pribadi, biar jelas juga pengeluaran & pendapatannya

    BalasHapus
  3. Setuju nih, dg ndin...walo dalam prakteknya susah juga sih...#pengalaman pribadi hehehe

    BalasHapus
  4. padahal pembukuan itu penting. aku inget dua puluh tahun lalu, saat ibuku punya usaha kios bensin eceran yang amat sangat kecil. beliau mencatatnya secara detil :)

    BalasHapus
  5. Betul mbak, rumit dan tidaknya tergantung kita :)

    BalasHapus
  6. Siip, udah dipraktekkan ya Ndin ;)

    BalasHapus
  7. Iya Om. Karena angka juga bisa bicara :D

    BalasHapus
  8. Noted! Apalagi di hp udh byk appsnya

    BalasHapus
  9. yah, masa kalo usaha harus pinter akuntasi dulu kak T.T

    BalasHapus
  10. Namanya usaha, sekecil apapun usaha Anda, catatan pembukuan itu suatu keharusan..
    Rumit ataupun sederhananya pembukuan Andalah yang menentukan...
    Tentunya dengan berkembangnya usaha, semakin banyak yang perlu dicatat mengenai keuangan usaha... dan biasanya tambah jadi rumit.
    Jadi mumpung masih sederhana.. Do it lah.. Dari sekarang.. Trim Mba tulisannya..

    BalasHapus
  11. wah jadi inget ibu saya nih mbak ika. waktu ditanya nenek saya yg canggih itung2annya gak bisa menjabarkan datanya dengan akurat. cuma untung gitu, tapi untungnya tambah banyak apa statis aja, apa sebenernya gak untung krn campur aduk sama uang keperluan rumah tangga gak jelas sdah...

    artinya saya mendukung sekali sekecil apapun, pembukuan itu penting.

    salam
    /kayka

    BalasHapus
  12. Benar banget,mbak. waktu saya usaha pulsa. tak ada pembukuan,saya jadi kalang kabut karena modal,keuntungan,dan uang pribadi bercampur. saya juga tidak tau berapa keuntungan yang saya dapat. setelah itu,saya melakukan pembukuan barulah bisnis saya ini bisa tertata rapi. tak taunya saya mengalami kerugian,jadinya saya ga bisnis pulsa lagi.hehehehehe. mungkin saya ga berbakat ya mbak untuk berbisnis?

    BalasHapus
  13. Iya, gue setuju. Gue ada niatan buka usaha, dan kalo kesampaian (mohon do'anya, amiinn) gue bakal sewa ahli manajemen keuangan. sudah banyak perusahaan yang kolaps gara-gara pengelolaan keuangan yang asal-asalan. nggak cuma yang kecil, yang besar juga banyak!

    BalasHapus
  14. perlu sekali, mbak. saya meski kerja ikut orang, belum jadi wirausahawan spt mbak ika, selalu mencatat pengeluaran harian di buku notes. jenis pengeluaran, tanggalnya dan nilai rupiahnya. Misal beli bensin, servis kendaraan, voucher pulsa, tiket, sumbangan, belanja untuk keluarga. Tiap bulan direkap berapa total pengeluaran.
    Ini saya lakukan spy bisa tahu mana pengeluaran yg penting dan nggak penting. Juga untuk buat anggaran bulan berikutnya.

    BalasHapus
  15. perlu sekali,, namun kadang usaha sampingan jarang terfokuskan penghitungannya,, ada orderan jadi.. di lhat rasa ada untung, jalan.. dan juga kadang karena sampingan, maka waktunya pun waktu sisa, ketika banyak orderan atau kerjaan lain, tak bisa lagi fokus pada penghitungan,, di rasa masih ada modal, maka tetap jalan..
    beda dengan pekerjaan utama, tentu lebih di perhitungkan..
    mungkin selain waktu, perlu juga pemejeman waktu.. kasih waktu mengitung pemasukan, pengeluaran, mau pun cadangan.. kalau terlihat untungnya sekian banyak, (walaupun uang habis di pakae keperluan lain),, kan senang juga..
    Allahu a'lam..

    BalasHapus
  16. sejak nyambi wirausaha, saya udah berusaha memisahkan keuangannya, lalu saya buat pencatatan sederhana sehingga bisa saya ketahui keuntungan bersih saya pada 1 periode. Dan sekarang saya memulai usaha baru pun juga saya pisahkan keuangannya dari usaha pertama dan keuangan rumah tangga, tetapi pencatatannya masih sederhana.
    berharap segera bisa membuat catatan yang lebih bagus

    BalasHapus
  17. bener Mbak.. kalau perlu, dipisah rekening untuk uang pribadi dan uang untuk usaha :)

    BalasHapus
  18. Tetap penting juga ya,, misal ada pesanan kayak saya walau hanya pesan 1 produk,, kalo gak ketulis ya bisa lupa..heheheee

    BalasHapus
  19. saya sales amatir tapi ngga pernah lepas dari buku mba...
    bisa kacau deh tanpa catatan...

    BalasHapus
  20. Iya, pinter2 manfaatin tehnologi ya mbak :D

    BalasHapus
  21. Tidak harus mahir, yang penting bisa. Pembukuannya tidak harus serumit seperti perusahaan besar :)

    BalasHapus
  22. Wow, nenekmu keren banget ya :)

    BalasHapus
  23. Kalo skala kecil ndak usah pake ahli manajemen. Akuntansi sederhana dan modifikasi sendiri juga bisa kok :)

    BalasHapus
  24. Bagus Zedeen, nanti suatu saat kita belajar "membaca" angka ya.

    BalasHapus
  25. Wkwkwkwk, iya betul sekali. Biarpun cuma atu harus tetep mendapat pelayanan prima :)

    BalasHapus
  26. Waaah, hebat. Calon orang sukses nich. Aaamiiin :D

    BalasHapus
  27. terus terang, kalo ada pembukuan dan melihat angka2 dan catatan2nya bikin setress dan jiper.. sebaliknya ga punya pembukuan malah lebih tenang tentrem dan kadang terheran2 juga ko bisa menuhi kebutuhan2 tdk terduga hihihhii...entahlah :D

    BalasHapus
  28. oh, gitu ya! hmmm oke Mbak, makasih saranx! :-)

    BalasHapus
  29. Hmmm ya, adanya pembukuan memang kadang membuat rumit tapi dengan adanya pembukuan juga sangat membantu dalam membuat keputusan :D

    BalasHapus
  30. mbak... sorry.. lg ngetest... hihihihi... [...] Mbak ika [...] nyambung ga ya? pls cek dong hahahaha...

    BalasHapus
  31. tulisannya memang sangat terkesan bahwa sang penulis adalah 'enterpreneur' banget. saya yg orang akuntansi so pasti setujuh banget, pembukuan itu harus. wajib! gimana bayar zakat klo ga tau untung berapa? pajak? juga dunk....

    BalasHapus
  32. saya aamiinkan lagi mba....
    sukses juga buat mba...

    BalasHapus
  33. aku bangeeeeeeeeeeeetttttttttttt....terimakasih ilmuneee :D

    BalasHapus
  34. Aaamiiin juga. Mudah2an 2 malaikat juga mendoakan :)

    BalasHapus
  35. Mencoba untuk berbagi ilmu dengan bahasa yang mudah dimengerti mbak. Mencoba mensosialisasikan akuntansi itu mudah. Mohon dibantu untuk diberi masukkan ya mbak :)

    BalasHapus
  36. Ok, bentar ya. kebetulan nich jaringannya lelet beudh.

    BalasHapus
  37. Iya, ntar aku silaturahim dech :)

    BalasHapus
  38. Yap betul. Biarpun ibu rumah tangga perlu juga pencatatan anggaran belanja keluarga :)

    BalasHapus
  39. Sama-sama Raaaas. Sukses buat kamu Ras :)

    BalasHapus
  40. Usaha sampingan bila diseriusi mungkin bisa jadi usaha pokok mbak. Khan lebih banyak jenis usahanya jadi lebih baik. Seinget saya teori investasi menyebutkan "jangan menaruh telur dalam keranjang yang sama" kalo keranjang yang satunya jatuh tidak semua telur pecah :)

    BalasHapus
  41. Waaah, pak Yudhi salut dech. selain agenda yang tertata rapi ternyata keuangannya juga terkendali :)

    BalasHapus
  42. Bukan tidak bakat. Untung rugi dalam bisnis sudah biasaaaa. Yang penting ada keinginan untuk bangkit :)

    BalasHapus
  43. susah kalu usaha ini dimulai karena hobi, bukan karena pengen punya penghasilan tambahan.. padahal itu kesempatan ya..
    daku suka dapat pesanan ayam kodok kalu arisan.. jadi duit ayam kodok tidak dicampur dengan duit pribadi, ada amplop terpisah.. jadi daku tahu berapa keuntungan yang daku dapat.. biasanya daku sedekahin.. dan kalu banyak pesenan, daku minta bantuan adik, bagi hasil dengan adik..
    belum mikir mo bisnis ayam kodok sih, karena emang hobi masak, bukan pinter masak, tapi suka memasak..

    beda kalu mikirnya mo cari penghasilan kan.. kalu mendapat penghasilan tetep dan pengen bikin kue, ya bingung aturnya..

    BalasHapus
  44. Bisa juga kok dimulai dari hobbi mbak.

    BalasHapus
  45. mindsetnya yang kudu diubah ya..
    adanya pekerja tetep yang suka hobi membuat kue misalnya, ternyata kuenya lahir manis, dan keluar lah dari pekerjaannya.. usaha kuenya malah bangkrut tuh.. *baca di kontan, dan disitu dikasih tahu apa yang salah.. juga solusinya..

    BalasHapus
  46. Yap, yang namanya usaha bangkrut, sukses, rugi untung itu biasa :)

    BalasHapus
  47. ha haha iya mbak sakti deh ;) beliau itu mantan guru mbak ika, ibunya almarhum ayah saya. ketika beliau meninggal umurnya 91 tahun mbak. tapi sak cicit2 nenek masih sanggup ngajarin matematik tsk tsk... itung2an mesti luar kepala.

    salam
    /kayka

    BalasHapus
  48. Sip, mudah2an cucunya juga ketularan pinternya :D

    BalasHapus
  49. setuju banget mba. perlu pembukuan kecil...
    nah kalau merasa susah catatnya... bisa kok sewa pembukuan freelance (saya bersedia loh) dengan harga murah. hehehehe. *promo terselubung*

    tapi memang butuh, setidaknya suatu saat mau planning - mau dibawa ke mana - bisa tahu posisi sekarang sendiri sudah seperti apa.

    BalasHapus
  50. Siapa yang butuh bantuan akuntan ni Ryan bersedia membantu tentunya dengan fee ya. Udah aku iklanin Yan :)

    BalasHapus
  51. Kalo dapet proyek gara2 iklan ini jangan lupa cipratin eyke ya *ngarep.com* :lol:

    BalasHapus
  52. dari awal memang penting banget Mba pembuatan pembukuan untuk usaha. Meskipun dalam bentuk paling sederhana sekalipun, karena kalau tidak maka gak akan ada catatan bagaimana bisnisnya berkembang. Bukan begitu? Apalagi ketika bisnis sudah berkembang dan membutuhkan tambahan modal. investor akan minta untuk melihat pembukuan ya Mba? *setahu saya sih gitu*

    BalasHapus
  53. Betul sekali mas. Tapi sering banyak pengusaha mengabaikan ini karena yang terbayang njimetnya dulu. Padahal bisa dibuat sederhana yang penting esensinya

    BalasHapus
  54. menurut saya dia bukannya tidak tahu mau njawab apa tapi emang malu malu untuk menjawab jujur tentang perkembangan usahanya

    BalasHapus
  55. Mungkin juga ^^

    BalasHapus