Menembus Batas, Meraih Cita-Cita

04.45.00

Belajar dari orang yang sederhana kadang lebih mengena dihati. Orang yang berpikir sederhana biasanya tidak memberikan kita teori-teori yang kadang tidak membumi alias sulit diterapkan. Orang sederhana lebih sering mengungkapkan apa yang mereka rasakan ataupun mereka pernah lakukan.

Belajar dari Budi Setiadi berarti belajar untuk tetap opstimis dalam kondisi apapun. Ia menjawab alasan sebagian besar alasan orang miskin yang tidak memberikan pendidikan setinggi mungkin pada anak-anaknya. Ya, alasan ekonomi yang sering digunakan orang miskin untuk tidak menyekolahkan anaknya ia patahkan dibuku ini.

Layout dan gaya bahasa yang dipaparkan dalam buku ini memang kurang menarik, tetapi esensi yang disampaikannya mampu menginspirasi kita untuk tetap optimis menyekolahkan anak di sekolah yang terbaik.

[caption id="attachment_2635" align="aligncenter" width="300"]doc. google doc. google[/caption]

Profil

Budi setiadi adalah seorang ayah yang memiliki 6 orang anak yang memiliki prestasi luar biasa. Tiga diantaranya telah mengenyam pendidikan di universitas. Putri sulungnya kini sedang melakukan penelitian sebelum ia melanjutkan program magisternya di Jerman. Putri keduanya sedang mengenyam pendidikan di Teknik Mesin ITB. Sedangkan putra ketiga sedang belajar di Fakultas Teknik Jurusan Teknik Geodesi UGM.

Budi Setiadi merupakan pegawai pasar atau lebih tepatnya anggota HPPK (Himpunan Pedagang Pasar Klewer) yang pekerjaaannya menarik iuran ke ratusan pemilik kios di pasar klewer Surakarta. Diluar pekerjaannya, Budi Setiadi kerja serabutan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangganya. Dan total penghasilan yang ia dapat RP 450.000 perbulan.

Keterbatasan yang tak menghalangi impian

Minimnya penghasilan yang didapat tak menghentikan impiannya untuk menyekolahkan anak setinggi mungkin.

Tak hanya terkendalan biaya, lingkungan tempat tinggal Budi pun tergolong “tidak sehat” untuk perkembangan putra putrinya. Ya, tempat tinggalnya merupakan “daerah hitam”. Praktik molimo begitu nyata tersaji disini.

Begitu besar perhatian Budi terhadap pendidikan putra putrinya, dengan gaji Rp 450.000 perbulan kadang ia sisihkan Rp 200.000 untuk berkonsultasi dengan psikolog jika ia membutuhkan saran psikolog ketika ia menghadapi masalah dengan tumbuh kembang putra putrinya. Walaupun dengan itu tak jarang keluarganya makan tanpa lauk alias makan nasi dengan garam. Bahkan lebih sering berpuasa.

Dari hasil konsultasinya dengan psikolog, bakat dan minat putra putrinya telah ia ketahui sejak kecil. Disinilah kunci suksesnya mengantarkan putra putrinya ke jenjang pendidikan tinggi.

Kesuksesan Budi Setiadi merupakan buah dari kegigihan ikhtiar dan kekuatan doa. Sebuah contoh nyata yang sangat mungkin kita tiru.

A13F1565CD481AA8AB2D3E0EA0589ED5

 

 

,

,

Note: Tulisan ini jauh dari lengkap. Jika teman-teman blogger ingin mengetehui lebih lanjut, silahkan membeli bukunya.

You Might Also Like

50 komentar

  1. woah keren tuh pengalaman pakbudi mengantarkan anak2nya mendapat pendidikan layak, padahal gajinya segitu ya, dibawah UMR tuh.. salut..
    bukunya keren tuh.. mo kasih tahu temen ah.. buat referensi parenting dia..

    BalasHapus
  2. Iya mbak. Terus terang saya betul-betul terinspirasi :)

    BalasHapus
  3. suka deh ada yang berfikir out of the box.. batasan bukan hambatan.. banyak jalan menuju roma.. dan ga pernah menyerah..

    BalasHapus
  4. Iya mbak. Tetap semangat tuk berjuang :)

    BalasHapus
  5. "Tulisan ini jauh dari lengkap. Jika teman-teman blogger ingin mengetehui lebih lanjut, silahkan membeli bukunya.."

    hiks lagi bokek..

    BalasHapus
  6. wah... reviewnya kurang nih... hehehehehe.
    baca judulnya jadi ingat film serial singapura dulu. Menembus Batas. tapi ceritanya beda banget sama buku ini... (ini lagi komen apa sih???)
    tapi salut sama Pak Budi Setiadi... makasih rekomendasi bukunya mba. Boleh juga mba baca bukunya Eloy. belum selesai sih saya. tapi ceritanya bagus.

    BalasHapus
  7. wah .. aku juga mau ngetik hal yang sama nih :)

    BalasHapus
  8. salut banget, dengan penghasilan segitu, masih 'perlu' ke ahli psycologi segala. padahal itu kan bisa dianggap nomor kesekian. but saking care-nya beliau untuk mendapat advise terbaik buat pendidikan sang anak, dibelain juga.
    malu, aku aja gak pernah consultasi ke psikolog soal bakat anak.

    BalasHapus
  9. Mbak Ika dah baca bukunya? Itu anak2nya pak budi sekolahnya pd ikut program beasiswa ya? Klo scr logika, gaji segitu kan gak cukup utk nyekolahin anak...

    BalasHapus
  10. Di blog saya belajar untuk memahami apa yang ditulis, bukan siapa yang menulis.Di pasar saya belajar memahami arti kehidupan yang sebenarnya, bukan retorika.

    BalasHapus
  11. walau gajinya di bawah UMR, tapi membawa berkah, mbak. bisa menyekolahkan anak hingga perguruan tinggi.
    Bisa jadi, pak Budi Setiadi ini amalan2 spiritualitasnya dan ibadahnya konsisten.

    BalasHapus
  12. 450ribu perbulan? sanggup bayar psikolog 200 ribu?

    BalasHapus
  13. Dakwah beliau kuat pak. Mungkin dari situ keberkahan yang ia dapat. Oya, ada satu tambahan lagi, Pak Budi itu seorang mualaf pak :)

    BalasHapus
  14. Betul sekali pak Sarib. saya sepat untuk yang ini :)

    BalasHapus
  15. Betul mbak, rata2 putra putri pak budi mendapat beasiswa :)

    BalasHapus
  16. Pak Budi emang konsen di pendidikan putra putrinya mbak Ina :)

    BalasHapus
  17. Wah, ternyata kita sehati ya El :)

    BalasHapus
  18. Betoel, contoh nyata yang bisa jadi panutan

    BalasHapus
  19. Kalo reviewnya kepanjangan jadi ga' enak sama yang punya buku :)

    BalasHapus
  20. Wkwkwkwk, kalo terlalu lengkap ntar saya dimarahi yang punya buku :)

    BalasHapus
  21. wahh keren banget yachh...penghasilan segitu tapi anak2nya jadi sarjana semua....bener2 hebatt....mudah2an orangtua yang lain bisa terispirasi dari kisah nyata ini....

    BalasHapus
  22. Aaamiiin, mudah2an banyak yang terinspirasi dengan bapak yang sederhana ini :)

    BalasHapus
  23. Ayo beli,, dijamin ndak rugi kok :)

    BalasHapus
  24. Mau ah main ke rumah Mbak Ika ah..minjem bukunya..

    BalasHapus
  25. wow, meski mualaf, beliau telah memberikan keteladanan bagi kita, mbak. terutama dalam hidup prihatin demi keberhasilan anak2nya

    BalasHapus
  26. faisal menyukai ini..ceritanya dan sederhanya :)

    BalasHapus
  27. Ya pak, betul sekali. Cita2 harus diperjuangkan mesti harus "berdarah-darah"

    BalasHapus
  28. ini buku kan yah?? aku keknya pernah baca pas maen ke gramed mba tp gak tuntas dan gak tahu deh apa buku ini yah?? hehe lupa

    BalasHapus
  29. keren mbak sangat memotivasi

    BalasHapus
  30. inspiratif sekali. Perjuangan untuk lebih baik yang sangat layak diacungi jempol untuk Pak Budi

    BalasHapus
  31. Betul pak, dan cerita ini sangat menginspirasi saya. Biar kami hidup cukup anak harus sekolah disekolah Internasional karena saya pengen banget anak2 bisa sekolah di Eropa. Yah, namanya juga cita2, harus setinggi mungkin khan pak :)

    BalasHapus
  32. Keren banget Mba Ika kisahnya. hebat banget ya, jadi kepikiran nih mau niru beliau..

    BalasHapus
  33. Bener mas. Bener2 inspiratif pak Budi

    BalasHapus
  34. aku pernah baca di gramed hehe

    BalasHapus
  35. Saya sudah baca buku "Menembus Batas" walaupun belum tamat..
    Subhanallah sangat semangat Pak Budi untuk menyekolahkan anak'nya yang bukan hanya sekedar formalitas

    BalasHapus
  36. Iya, betul banget. Saya jadi terinspirasi dengan beliau

    BalasHapus
  37. I just hope whvoeer writes these keeps writing more!

    BalasHapus