Jangan Lihat Kulitnya

16.48.00

[caption id="attachment_2413" align="aligncenter" width="300"]doc. google doc. google[/caption]

Jum'at Mubarok,

Ada sebuah kisah yang menarik tentang sepasangan suami istri yang ingin bertemu dengan rektor Harvard University. Mereka berpakaian sangat sederhana dan terlihat usang.

Demi melihat penampilan pasangan tersebut, sang sekretaris rektor  pun menjawab agak sinis ketika mereka bertanya apakah bisa bertemu dengan rektor saat itu. “Beliau sedang sibuk dan tidak bisa diganggu!” jawab sekretaris rektor.

“Baiklah, kalau begitu bolehkah kami menunggu sampai beliau punya waktu?” kata sang istri.

Selama 4 jam pasangan tersebut diabaikan oleh sang sekretaris dengan harapan pasangan tersebut segera pergi. Tanpa diduga, pasangan tersebut menunggu berjam-jam hingga membuat kesabaran sekretaris rektor menguap.

Dengan kekesalan yang memuncak,  akhirnya sekretaris tersebut menemui sang rektor dan memintanya untuk menemui pasangan tersebut agar cepat pergi.

Sang istri lalu mengemukakan tujuan kedatangannya. Maaf mengganggu kesibukan tuan,” ujarnya. Kami memiliki seorang anak yang meninggal karena kecelakaan pada tahun pertama kuliah disini, kami ingin mendirikan monument untuk mengenangnya” lanjutnya.

Betapa terkejut sang rector mendengar penuturan istri dari pasangan tersebut dan berkaya,”Jika semua orang yang pernah kuliah dikampus ini meninggal dan mendirikan patung, lama-lama tempat ini akan menjadi kuburan,” ujarnya.

Bukan begitu maksud kami tuan,” jawab sang istri. Kami akan menyumbang untuk pembuatan gedung di kampus ini,” lanjutnya.

Demi melihat penampilan pasangan ini, sang rector berkata dengan ketus,”Gedung? Apakah anda tahu berapa biaya yang dibutuhkan untuk membuat gedung? Kami telah menginvestasikan 7,5 juta dollar untuk membangun universitas ini.

Sepasang suami istri tersebut ternyata Mr. dan Mrs. Leland Stanford. Demi mendengar perkataan rektor, sang istri alias Mrs. Stanford berkata pada suaminya,”Kalau hanya 7,5 juta dollar mengapa kita tidak membuat universitas sendiri.”

Itulah sepenggal cerita awal berdirinya Stanford University.

***


Beberapa waktu yang lalu saya membaca di Koran Online, Kom***ana, ada seseorang yang menulis ketidak sukaannya terhadap cara berpakaian Bob Sadino karena dianggap tidak sopan. Bisa dibaca disini

Dalam sebuah buku tentang Bob Sadino yang terbit tahun 1998, Bob Sadino mengungkapkan alasan mengapa ia berpakaian seperti itu. Ia mengatakan bahwa petani bisa kaya dan orang kaya itu tidak selalu orang yang memakai dasi, pakaian klimis de el el.

Intinya, ia ingin orang paham bahwa orang yang berpakaian bagus dan berdasi itu tidak selalu pantas untuk dihargai.

Dalam siroh shahabat disebutkan bahwa Abdurrahman bin Auf, orang paling kaya di Madinah, ketika ia duduk bersama dengan para pembantu maka tak bisa dibedakan mana pembantu mana Abdurrahman bin Auf.

Sering kali kita terjebak dalam kesimpulan yang salah ketika menilai seseorang. Terutama ketika penilaian kita didasarkan atas penampakan luarnya.

Jangan pernah membayangkan seorang bos preman berpenampilan menyeramkan dengan tato disana sini. Karena pada kenyataannya bos preman biasanya berpenampilan rapi dan jauh dari kata menyeramkan. Tutur katanya pun halus dan tertata.

Itu berdasarkan cerita dari teman saya yang pernah berurusan dengan bos preman terkait proyek yang akan ia kerjakan.

Di era seperti sekarang dimana penampilan bisa dipermak sesuai keinginan si empunya, rasanya kita perlu lebih berhati-hati dalam menilai seseorang.

A13F1565CD481AA8AB2D3E0EA0589ED5

You Might Also Like

61 komentar

  1. Asalkan tidak buka-bukaan aurat tidak ada masalah, hanya selera saja yang beda

    BalasHapus
  2. Penampilan kadang tak sepenuhnya benar. Salam super

    BalasHapus
  3. jangan menilai kacang dari kulutnya... eh salah ya? hahahahah
    suhu entrepreneurship yg nyentrik...

    BalasHapus
  4. sepakat mbak, kadang penampilan luar itu tidak selalu mengambarkan kondisi sebenernya, jadi keingetan tetangga yg penampilannya biasa aja masuk restoran trus dicuekin, padahal dia orang kaya hehehe

    BalasHapus
  5. betul tuh, mba. kadang orang kaya itu nggak keliatan kayak orang kaya

    BalasHapus
  6. jangan menilai buku hanya dari covernya :)

    BalasHapus
  7. baru semalam ngobrol dengan sesama penumpang angkot ke rumah. di sini, kebanyakan lebih menyukai penampilan daripada yang ada di dalamnya (kemampuan & ketrampilan). Itulah kenyataan saat ini.
    Bob Sadino boleh dibilang sebenarnya ya nyentrik...

    BalasHapus
  8. Setuju, Mbak. Aku juga pernah dikira mau ngrampok sopir taxi sampai sopirnya kabur gara-gara penampilanku dulu :(

    BalasHapus
  9. Jadi ingat kalau saya berbelanja sesuatu di Mall. Ketika datang mengendarai mobil grand max bak terbuka, pakir pun dipersulit. Ketika dilain waktu datang dengan mobil satunya, pintu pun mereka bukakan.

    Kadang ketawa sendiri membayangkannya.

    BalasHapus
  10. Ha,,,ha,, jadi inget bang napi ya :D

    BalasHapus
  11. Yah, namanya juga manusia pak. Lagipula sepertinya media sangat memberi pengaruh. Kalo dilihat di sinetron khan orang kaya itu harus rapi jali, kulit kinclong, pake mobil keren.

    BalasHapus
  12. Wkwkwk, kalo inget pasti bawaannya pengen ketawa ya pak :)

    BalasHapus
  13. Mungkin karena budaya materialistik sekarang ini begitu kental ya mas

    BalasHapus
  14. Bukan salah yang beli karena kadang ga' bisa liat dalemnya. So, kita hanya bisa menilai covernya :lol:

    BalasHapus
  15. Mungkin lebih nyaman aja kali ya. Kalo keliatan punya apa-apa malah banyak yang pengen. Mending kalo mintanya baik-baik. Kalo pake kekerasan khan payah :)

    BalasHapus
  16. Hi,,hi,,terbukti yang punya restoran pelayanannya kurang memuaskann tuch :)

    BalasHapus
  17. Betul mas. Saya sebenarnya ya kurang sreg dengan celana yang dipake Bob Sadino. Kurang kebawah dikit biar aurotnya tertutup ;)

    BalasHapus
  18. ya.
    kalau kata Alex, penumpang kemarin itu, kita terbiasa sejak kecil tidak diajarkan mengenai efisiensi... itulah penyebabnya. dan untuk hal ini agak2 setuju.
    Contoh yang disebutkan itu: bahwa tanda orang sukses itu punya mobil. sejak kecil kita sering sekali diajarkan seperti itu. sadar atau tidak. jadi akhirnya berusaha membeli mobil.

    BalasHapus
  19. Kalau saya pribadi... Saya akan berusaha menyeimbangkan diri. Kalau saya tahu saya akan datang ke tempat di mana kerapihan sangat diperlukan, apalagi kalau yang menyambut saya juga berpenampilan rapi, saya akan menyesuaikan diri.

    Jadi: di lapangan (kalau lagi kerja lapang) pasti saya pakai baju lapang, kalau lagi santai pakai baju santai, kalau lagi acara formal pakai baju formal. Senantiasa menyesuaikan diri, selain untuk menghormati orang lain juga untuk menghormati diri sendiri :)

    BalasHapus
  20. Untuk menilai orang memang tidak mudah dan boleh sembarangan..
    Namun agar diri kita tidak salah dinilai orang, mbok ya jangan juga berpenampilan sembarangan alias jaga image lah.. Liat sikon lah.. Ya Mbak ee.. Semoga Mba penampilannya oke truus ya..

    BalasHapus
  21. Iya betul juga ya, ndak sadar ternyata saya juga kadang punya pikiran begitu :)

    BalasHapus
  22. Setuju mas... kita berpakaian kadang bukan cuma untuk diri sendiri tapi juga untuk menghormati orang lain, sesuai situasi dan kondisinya. Salam..

    BalasHapus
  23. Yang suka berpenampilan "kaya" itu biasanya malah orang yang kaya-nya nanggung atau OKB.
    Kalo yang beneran kaya malah suka nggak keliatan tuh

    BalasHapus
  24. Penampilan terkadang bisa mengelabuhi seseorang

    BalasHapus
  25. benar mba, yg bertato banyak belum tentu jahat, yg berdasi belum tentu baik... ^^

    BalasHapus
  26. he heh e oom bob sadino rada2 ekstrim deh santainya.

    tapi memang kadang2 suka tersepona deh ihat orang2 yang heboh bener penampilannya, tapi sembari mikir juga telah terjadi sesuatukah? yang kerap terjadi kalo high profit betulan biasanya penampilannya biasa2 aja. kenapa coba? he he he logikanya gak kaya2 kalo gak pelit kali ya mbak...

    salam
    /kayka

    BalasHapus
  27. Wkwkwkwk,, padahal biar kaya katanya suruh sedekah. Sebenernya kalo orang super kaya malah berpenampilan biasa ini terkait kenyamanan dan privacy aja.

    BalasHapus
  28. Iya,, penampilan luar sering menipu, maka waspadalah,,,waspadalah *Ala bang Napi*

    BalasHapus
  29. Betul banget pak. Biar kita tidak terkelabuhi makanya jangan terpesona penampilan luar. ya khan pak :)

    BalasHapus
  30. Aku mbak, T_T Emang fotonya khan mbak-mbak :D

    BalasHapus
  31. setuju nih sama komen mbak novi diatas.
    di pasar dekat rumah saya juga ada mbak bos preman gitu. uniknya dia juga orang 'kate', tapi pakaiannya cenderung rapih dan malah rajin shalat Jum'at di mesjid. haha :D

    BalasHapus
  32. Rajin shalat jum'at? Wah, mungkin tuch preman udah sadar kali Ham :)

    BalasHapus
  33. Penampilan b isa menipu, yang penting isinya ya :)

    BalasHapus
  34. Makanya mbak, mungkin skrg jamannya orang gonta ganti hape, laptop, tablet, motor, dan mobil biar dianggap kaya.

    BalasHapus
  35. Iya,,ya,, napa juga pada seneng di"angep" kaya. Berarti ga' kaya beneran khan? :lol:

    BalasHapus
  36. Iya, so pasti. Tapi kadang penampilan penting juga sich. Cuman jangan yang terlalu lebay :)

    BalasHapus
  37. barusan aku baca ayam kampus mbak ika, mereka tutur katanya santun,penampilannya juga sopan, dan jaga tingkah laku.

    BalasHapus
  38. Betul sekali mbak. Tampilan luar kadang emang beda jauh sama dalemnya :)

    BalasHapus
  39. yups...apalagi dibidang pekerjaan saya di toko, semua orang pasti dihargai dan jadi raja :D

    BalasHapus
  40. Apalagi zaman sekarang ya mbak..semua sudah bolak balik...jadi kulit tak lagi bs jadi jaminan :)

    BalasHapus
  41. Sepakat,, pembeli adalah raja :)

    BalasHapus
  42. Betul sekali. Mesti lebih jeli lagi :)

    BalasHapus
  43. wah bener pelajaran yang ok banget, mau koment kayaknxa udah d wakilin senta ama bloger2 yang lain,
    sakam kenal aja ya mba...
    saya suka ama blog2nya mba...

    BalasHapus
  44. Terimakasih kunjungannya. mudah2an ada pelajaran yang bisa diambil :)

    BalasHapus
  45. memang penampilan luar yang lebih mudah diubah malah menjadi acuan yang membentuk persepsi kita tntg org tersebut,

    berarti penampilan luar juga harus dijaga juga kan?

    BalasHapus
  46. Perlu juga tapi jangan sama isinya tidak mengikuti tampilan luarnya :)

    BalasHapus
  47. udah baca postingan di kompasiananya Mba dan kok saya males mau komen ya. Hihihi.
    Ada komentar yang oke dari tukang warung Gunawan Pramadianto:
    "bukannya sombong, pendapatan saya saat ini kok lebih besar daripada waktu pake celana panjang, sepatu kulit dan kemeja tiap hari ya…."
    Hihihihi. Duluuu mungkin sayaa akan berpendapat sama, tapi sekarang setelah pake dasi tiap hari ngantor kok rasanya geli baca postingan itu. :D

    BalasHapus
  48. Semua tergantung pilihan masing2 orang mas :)

    BalasHapus