Handicraft # 4P Jilid 1

18.56.00

[caption id="attachment_2301" align="aligncenter" width="461"]Gendhis doc. Google[/caption]

Ketika berbicara mengenai pemasaran tentu tak lepas dari apa yang namanya 4P yaitu; Product, Price, Placement dan Promotion. Sama halnya dengan produk lain, produk-produk handicraft pun harus memperhatikan hal tersebut.

Ok, langsung saja akan saya bahas masalah 4P ini. Kebetulan saya dapat bocoran dari Ferry Yuliana, owner Gendhis Bag yang kemarin profilnya sedikit saya kupas.

Product

Produk yang kita jual harus memiliki segmentasi yang spesifik. Kita harus menentukan pasar mana yang akan kita bidik. Menengah kebawah, menengah atau menengah ke atas.

Kita tidak bisa membidik pasar yang sama dengan produk yang sama pula.

Mengapa demikian?

Sebab selain akan menyebabkan kerancuan, biasanya masing-masing segmen memerlukan perlakuan yang berbeda.

Ambil contoh jika kita membidik segmen menengah kebawah. Hal mendasar yang mereka jadikan acuan untuk memilih sebuah produk adalah harga.

Kualitas sebenarnya juga menjadi  perhatikan mereka, tapi hal pertama mengapa mereka memutuskan untuk membeli sebuah produk, bisa dipastikan karena alasan harga produk yang mereka inginkan cukup rasional untuk kantong mereka :lol:

Lain halnya dengan segmen menengah keatas. Golongan ini tidak terlalu mempermasalahkan harga. Bagi mereka yang penting barang yang mereka beli bukan barang pasaran alias setiap orang punya.

Bahkan ada sekelompok orang dari golongan ini yang hanya mau membeli produk limited edition. Tahu khan berapa harga produk limited edition? Unlimited! Alias sering tidak rasional. Alasannya ya seperti yang saya ungkapkan tadi. Pokoknya ndak mau kalo ada yang ngembari atau menyamai.

Pernah suatu ketika Ferry membuat beberapa jenis tas yang masing-masing dibuat hanya berjumlah satu. Karena ini edisi khusus, selain produk dibuat dalam jumlah satu juga dicantumkan nama pembuatnya, bahan apa yang digunakan, dari mana asal bahan tersebut dan berapa lama proses produksinya.

Dari yang seharusnya berharga Rp 500.000 laku terjual dengan harga Rp 5.000.000. Pokoknya untuk limited edition suka-suka aku mau dijual berapa,” ungkap Ferry.

Balik ke produk, ketika produk kita mulai laris dipasaran, konsekuensi yang harus kita terima dengan lapang dada ialah kita harus rela produk kita ditiru orang lain. Inilah yang memunculkan istilah produk ori dan KW.

Ada sebuah tips dari Ferry ketika produk kita dijiplak. Tak perlu marah, dongkol dan sakit hati,” ujarnya. Biarin aja mereka mengekor kita, ekor khan tempatnya dibelakang. Yang penting kita jangan sampai mati inovasi. Kalau kita cepat berinovasi para pengekor akan kewalahan mengejar kita,” lanjutnya.

Hal lain yang perlu diperhatikan ialah MERK. Pilihlah merk yang mudah diingat pelanggan. Selain itu, jangan lupa mematenkan merk dagang kita ketika produk sudah diterima pasar. Ini penting agar merk dagang aman dari bajakan.

Sepele tapi harus diperhatikan. Pembungkus atau packaging produk juga sesuatu yang perlu diperhatikan. Packaging yang benar dapat mengangkat nilai sebuah produk. Hal ini tentu tidak luput dari segmen mana yang kita bidik.

[caption id="attachment_2344" align="alignright" width="207"]doc. Google doc. Google[/caption]

Jika yang dibidik segmen menengah kebawah, hal ini tidak terlalu berpengaruh signifikan. Beda halnya dengan menengah keatas.

Coba bandingkan pembungkus seperti apa bila kita berbelanja di sebuah dep store menengah bawah dengan berbelanja di Plaza Indonesia.

Oke lah barangnya sama-sama baju tapi bisa dibedakan bahan tas untuk menenteng baju yang dibeli?

Di dep store menengah bawah mungkin cukup dibungkus dengan plastik. Paling bagus jika memakai plastic tebal dengan logo dep store tersebut.

Beda jika kita berbelanja di Plaza Indonesia yang nota bene barang-barang yang dijual disana barang eksklusif bahkan super eksklusif. Banyak outlet merk-merk dunia didalamnya. Biasanya tas yang ditenteng untuk tempat baju kita berupa tas yang terbuat dari bahan kertas dengan design menarik. Betul bukan?

Nah, itulah pentingnya sebuah packaging. Mampu menaikkan pamor dagangan kita.

doc. Google

Berbicara sebuah produk, tak lepas dengan yang namanya pelayanan. Baik saat bertansaksi maupun pasca jual.

Nota yang masih mencantumkan kalimat ”Barang yang sudah dibeli tidak dapat dikembalikan”  sejatinya tidak mencerminkan pelayanan purna jual yang baik.

Perlu diperhatikan, garansi atas pembelian produk kita sangat berpengaruh pada loyalitas pelanggan.

Pemberian garansi sesungguhnya juga akan memberikan lebih banyak keberkahan karena unsur keridhoan dari penjual dan pembeli tercakup didalamnya.

Salam sukses :D



A13F1565CD481AA8AB2D3E0EA0589ED5



.


.


Note: Mohon maaf 4P baru saya bahas seputar produk. Sudah terlalu panjang. Yang lain menyusul ya. Mudah-mudahan t eman-teman tidak bosan membaca tulisan-tulisan saya. Be patient  ;)

You Might Also Like

32 komentar

  1. selalu menanti tulisan njenengan Mba Ika. :')

    BalasHapus
  2. Ada yah yg beli tas sampe berjut-jut begitu :D
    Teteh mah alhamdulillah ngga diberi kesukaan buat belanja belanji tas dan sepatu yg konon katanya hoby nya para perempuan... :)
    Jd ya tas itu itu saja ...sepatu ya itu lagi itu lagi :D
    Wilujeng berlibur mbak Ikaaa :)

    BalasHapus
  3. Mungkin orang-orang yang punya uang banyak Mbak. Jadi bingung mau dihabisin untuk apa. Masak mau buat beli kerupuk. Ntar abang tukang kerupuknya juga dibeli lagi.

    BalasHapus
  4. Terimakasih mas Dhani. Jadi lebih semangat nulis nich *GeEr.com*

    BalasHapus
  5. wow... ready to be an entrepreneur nih..

    BalasHapus
  6. post yang sangat bermanfaat...
    terima kasih..

    BalasHapus
  7. Alhamdulillah jika ada manfaatnya :)

    BalasHapus
  8. Siiip, secepatnya dimulai ya jo :D

    BalasHapus
  9. Hahahah gak bakat bisnis aku mbak...

    BalasHapus
  10. Iya, sering kali kami juga bertanya ketika membaca ”Barang yang sudah dibeli tidak dapat dikembalikan”, kok gitu ya caranya dalam memberikan pelayanan...

    BalasHapus
  11. mantab nih poin marketingnya walau belum semuanya dikupas

    BalasHapus
  12. Maaf dan tolong luruskan jika salah, 4 P itu bukannya dikenalkan oleh Hermawan Kertajaya ?

    BalasHapus
  13. Seinget saya waktu kuliah dulu itu teori dari eyang Philip Kotler pak :)

    BalasHapus
  14. Iya, jadi ndak berkah sebenernya. Karena tidak ada unsur ke ridhoan :)

    BalasHapus
  15. Wah ketinggalan baca info bagus niihhh..
    Kutunggu tulisan berikutnya Mbak...

    BalasHapus
  16. Ok. Sabar ya mbak :) Oya, email udah aku bales mbak

    BalasHapus
  17. Saya pernah membeli buku yang di dalamnya ada tulisan dipersilakan mengembalikan ke penerbit bila ada halaman yang terbalik, kosong, atau rusak. Bukan hanya ditukar dengan buku yang baru, tapi juga mendapatkan hadiah satu eks buku lagi dengan judul yang berbeda.

    BalasHapus
  18. wah,..... saya salah mungkin.

    Coba kalau ada waktu tak ubek2 buku lama.

    Matur nuwun sharingnya.

    BalasHapus
  19. Upaya penciptaan /pengkreasian suatu produk ...
    Upaya branding / penamaan suatu produk
    memang biasanya di mulai dari riset terlebih dahulu ...

    Akan lebih baik jika kita memang berasal dari segmen pasar yang dituju ... sehingga kita kurang lebih tau apa yang diingini oleh orang semacam kita ...

    Dan di era pemasaran saat ini ... segmentasi secara demografis dan strata sosial ekonomi ... sepertinya tidak cukup ... perlu dilihat juga profil psyshografis konsumennya ...
    harus digali lagi ...misalnya untuk kelas menengah yang profilnya seperti apa .. kelas menengah yang suka traveling, atau yang suka belanja ? ... family oriented ? loner ? socio activist ? friends oriented ? ... dan sebagainya ...

    Salam saya Bu

    BalasHapus
  20. Terimakasih tambahannya pak. Lebih memperkaya tulisan saya :)

    BalasHapus
  21. Oh ya? Wah berarti penerbitnya sudah menerapkan pelayanan yang baik tuch.

    BalasHapus
  22. Tapi kalo suka telat bw maap ya Mba. Hehehehe

    BalasHapus
  23. Saya tahu kesibukkan mas Dhani kok. Biar telat asal tetep stay tune ndak papa :)

    BalasHapus
  24. kotler deh.. hermawankertajaya kan penggemarnya philipkotler..

    BalasHapus
  25. Bukan mbak, ibu rumah tangga yang nyambi usaha :)

    BalasHapus
  26. Yap, betul sekali mbak eyang kotler :)

    BalasHapus
  27. oh iya... maaf, berarti saya salah. Terimakasih banyak yah

    BalasHapus