Sekolah Berkarakter

19.32.00

Sudah menjadi sebuah kelaziman, jika anak akan menghadapi ujian, orang tua juga pasti terkena imbasnya. Kadang orang tua justru lebih panas dingin dibandingkan anaknya yang akan mengerjakan ujian. Ya, ujian menjadi momok yang mengerikan di negeri ini.

Saya mempunyai pengalaman menarik dengan sekolah anak saya. Sama seperti ibu-ibu yang lain, dua minggu sebelum ujian saya sudah mendesak guru untuk memberikan kisi-kisi yang akan muncul pada ujian nanti.

Jawaban sang guru membuat saya jadi lebih mencintai sekolah ini,”Bu, pelajari saja worksheet yang pernah disampaikan guru. Anak tidak usah ditekan untuk belajar. Natural saja. Lagi pula untuk kelas 1 sampai 3 kami lebih menekankan pada pendidikan karakternya.”

Sekolah anak saya memang sedikit berbeda dengan sekolah lain. Dari kelas 1 sampai kelas 3, anak tidak diberikan PR, tidak pula dibebani dengan buku-buku yang akan memberatkan punggungnya.

[caption id="attachment_2177" align="alignright" width="300"]Piagam Piagam[/caption]

Sekolah ini lebih menanamkan pada anak bahwa sekolah itu menyenangkan.

Dan pada penerimaan rapor kemarin, anak saya mendapat piagam atas prestasi kesabaran yang ia miliki selama ini. Bukan karena nilai matematikanya 10 ataupun nilai bahasa Indonesianya 10.

Tambahan muatan pendidikan karakter yang dicanangkan Menteri Pendidikan, M Nuh mudah-mudahan tidak hanya berhenti pada tataran konsep tapi benar-benar teraplikasikan disekolah-sekolah dinegeri ini, agar pendidikan di Indonesia lebih bermartabat.

A13F1565CD481AA8AB2D3E0EA0589ED5

You Might Also Like

30 komentar

  1. Selamat buat Fathiin Abdul Hamid atas achievement-nya.
    Putri-purtiku masih dibebani dg PR - PR dan tugas kelompok sepulang sekolah. Kasihan juga melihatnya. Apalagi kalo dibarengi dg ulangan.

    BalasHapus
  2. Sukaaaa dengan cara belajar seperti ini Mbak...karena modal kehidupan tak melulu soal Matematika yang bernilai 100, tapi juga kecerdasan karakter seseorang yang menentukan kesuksesan masa depanya.

    BalasHapus
  3. Selamat buat ananda Fathiin atas achievement-nya.
    Ngomong-ngomong jarang lho Mbak orang tua yang tidak mementingkan nilai akademis anak-anaknya. Kayanya kalau anak-anaknya gak mendapat nilai tinggi belum puas. Jadinya lagi-lagi anak yang terbebani.

    BalasHapus
  4. beda banget ya mbak sama sekolah2 negeri yang biasa...yang terkadang materinya terlalu sulit,....

    BalasHapus
  5. model sekolahnya unik deh, suka

    BalasHapus
  6. Iya, sekolah Internasional :D

    BalasHapus
  7. Iya Izz, ini sekolah pake sistem yang diterapkan di swedia :D

    BalasHapus
  8. Bagi saya orang sukses bukan hanya karena nilai akademisnya tinggi. Steve Wozniak sama Steve Jobs pinteran wozniak tapi lebih sukses Jobs pak :D

    BalasHapus
  9. Sekolah putri pak Iwan sekolah khas sekolah di Indonesia. Membebani murid :D

    BalasHapus
  10. Setuju dengan sistem pembelajaran seperti ini.
    Dengan sekolah berkarakter siswa tidak harus selalu dipacu dengan mata pelajaran yg banyak dan disudutkan dengan nilai.

    BalasHapus
  11. Yap,, betul sekali. Sukses khan tidak hanya terpatok pada nilai ujian bagus :)

    BalasHapus
  12. Yep, ini yg dari dulu menjadi sesuatu yg agak ganjil pada pendidikan di Indonesia.

    BalasHapus
  13. Saya yakin se yakin-yakinnya
    "Piagam" tersebut akan terus tersemat didalam hati anak Bu Ika ...
    dan akan terus diingat ...
    karena terus diingat ... makan akan terus dikerjakannya ... karena terus dikerjakannya ... maka akan menjadi kebiasaannya ... seterusnya demikian akhirnya menjadi karakter ... Sabar

    Saya rasa ini patut dicontoh sekolah-sekolah lainnya ...

    Salam saya Bu Ika

    BalasHapus
  14. Bagus sekali cara sekolah menghargai muridnya. Pendidikan karakter dimulai dengan cara seperti ini, mbak

    BalasHapus
  15. Ini dia sebuah terobosan. Sepertinya emotional intelegence lebih diasah dahulu di sekolah ini. Hal yg sering "dilupakan" karena kebanyakan asyik mengejar kecerdasan intetelegence.
    Salam kenal, salam persahabatan selalu...

    BalasHapus
  16. Saya rasa ini memang bagus daripada menekankan pada nilai akademik doang, nanti anak akan merasa tertekan dalam belajarnya. Apalagi kalau diberi PR yang demikian banyak dari pelajaran di sekolah.

    BalasHapus
  17. wow, sekolahnya outstanding ...
    selamat untuk Fathiin Abdul Hamid atas prestasinya ya ...

    BalasHapus
  18. Sekolah ini merupakan sekolah idealis. 3 profesor UGM mencoba membuat formulasi sekolah yang ideal. Tidak hanya mengkritik atas buruknya mutu pendidian di Indonesia, tapi juga membuat rule model sekolahnya.

    BalasHapus
  19. Yap, sekolah ini hasil kolaborasi 3 profesor :D

    BalasHapus
  20. Karakter diasah sebagai pondasi pak :D

    BalasHapus
  21. Betul pak. Murid bukan dianggap barang mati :D

    BalasHapus
  22. Betul sekali pak, sangat-sangat membekas buat anak saya hingga ketika kemarahannya meledak saya hanya katakan padanya,"Bintang kesabaran, sabar ya." kemarahannya pelan2 mereda

    BalasHapus
  23. Di negeri kita, jarang ada sekolah yg menerapkan penghargaan non akademik spt itu.

    BalasHapus
  24. *˚**îγα™**˚* pak,, masih berpatokan dengan nilai akademik :)

    BalasHapus
  25. Padahal untuk hidup, nggak cukup hanya mengandalkan nilai akademik ya, mbak

    BalasHapus
  26. Sekolah seharusnya tempat belajar untuk hidup, bukan belajar untuk mendapat nilai bagus dengan ujian.
    Saya suka sekolah yang seperti ini :)

    BalasHapus
  27. Hmmm,, saya juga suka konsepnya. Makanya dibelalain anak saya supaya bisa masuk ke sekolah ini

    BalasHapus
  28. wow, sekolah dimana tuh mba?? ajib beneer..

    BalasHapus