Pengusaha Cilik

19.30.00

Hari jum’at adalah hari yang selalu ditunggu-tunggu anak saya. Setidaknya ada tiga alasan mengapa ia begitu mencintai hari tersebut. Alasan pertama, hari itu saya menjemputnya untuk pulang ke Purworejo. Setelah 5 hari jauh dari orang-orang yang dicintainya, saat pulang ke rumah pastinya merupakan saat yang sangat dirindukannya.

Alasan kedua, hari itu juga ia mengikuti les robot. Bisa membuat robot merupakan impiannya sejak dulu. Ia terinspirasi film transformer.

Dan alasan yang ketiga ialah pada hari itu di sekolahnya diadakan kegiatan market day. Siswa yang berminat untuk berjualan disediakan lapak untuk berjualan. Dan itu pertanda tambahan uang jajan untuknya. Ya, untuk sementara ini saya tidak meminta kembali uang hasil dagangannya. Saya hanya mengingatkan padanya untuk menabung uang yang ia dapat. Sedangkan barang yang tidak laku dibagi pada teman atau siapa saja yang membutuhkan.

Paling tidak ada dua hal positif dari keputusan saya tersebut. Pertama, ia merasakan bahwa berdagang itu menyenangkan. Baginya menyenangkan karena dengan cara itu ia akan mendapatkan uang banyak yang bisa ia gunakan untuk jajan dan sedikit untuk menabung.

Tidak hanya anak, kita pun sebagai orang dewasa akan lebih bergairah jika pekerjaan yang kita kerjakan sesuai dengan passion kita. Dalam berbisnis pun passion memegang peranan penting. Ketika kita berbisnis sesuai dengan kegemaran atau hobi kita, semua menjadi menyenangkan. Ya, cinta menjadikan apapun terasa indah :D

Hal positif kedua, anak saya lebih memahami barang-barang yang dimininati teman-temannya. Ya, jika barang yang ia jual tidak laku itu artinya ia tidak mendapatkan tambahan uang saku. Jadi ia belajar mengamati produk apa saja yang laku dijual di “pasar”nya.

Jika biasanya saya hanya kulakan (belanja-pen bahasa jawa) barang yang akan dia jual, khusus jum’at kemarin kami membuatnya sendiri. Kebetulan hari kamis tanggal merah, hingga kami memiliki waktu membuat sesuatu untuk dijual keesokkan harinya.

Seperti rencana yang telah kami buat beberapa hari sebelumnya, kamis malam kami akan membuat jus jambu. Dari awal hinggai akhir proses produksi, saya hanya mengarahkan saja. Membiarkannya berkreasi dan merasakan bagaimana membuat sebuah produk. Dan inilah aksinya.

aku

Selamat berjuang pengusaha kecilku. Jadilah pengusaha yang selalu memberi kemanfaatan dan menginspirasi orang lain  :)

A13F1565CD481AA8AB2D3E0EA0589ED5

You Might Also Like

37 komentar

  1. Senangnya kalau passion-nya sudah mulai terbentuk sedari kecil Mbak Ika. :D

    BalasHapus
  2. wah bgs tu .
    motivasi sejak kecil.

    BalasHapus
  3. calon enterpreneur sukses :)

    BalasHapus
  4. Salut deh sama semangatnya...... ayo teruskan biar jadi wirausaha yang bisa memberi manfaat bagi orang lain yang membutuhkan.

    BalasHapus
  5. Aaamiiin. Sementara semangat untuk mendapatkan tambahan uang jajan :D

    BalasHapus
  6. Aaamiiin,, makasih doanya Mil :)

    BalasHapus
  7. Sengaja dibentuk biar kedepan lebih mudah. Yah,, walaupun banyak hal yang harus dibayarkan :D

    BalasHapus
  8. Tapi kalau memang minatnya sudah terlihat dari sekarang, hal-hal pendukung minatnya itu tentu bisa dipersiapkan dari sekarang kan Mbak. :D

    Jadi, selangkah lebih dulu. :D

    BalasHapus
  9. bekerja sesuai passion seringkali akan membuahkan hasil yang lebih baik ...
    Selamat berjuang untuk pengusaha kecil ...

    BalasHapus
  10. kalau sedari kecil, anak sudah dididik untuk tidak menjadi pemalu, insyaAllah besarnya juga akan lebih mandiri lagi...

    BalasHapus
  11. Bener mbak, bekerja sesuai passion sunguh menyenangkan, jadi kayak lagi menikmati hobi
    Jadi inget mbak, dulu waktu SD juga ada kegiatan jualan begitumbak, ganti

    BalasHapus
  12. Pengusaha kecil itu kelak akan sukses, kenapa ? Karena dia magang semenjak ada didalam perut. Hehehe.....

    Ah.... bicara Purworedjo jadi ingat desa Pangen Juru Tengah, KH. Badruddin.

    BalasHapus
  13. He..he..he tau aja sich pak :D Oya, saya kok belum familiar dengan KH. Badruddin ya. Sebelah mana tuch pak.

    BalasHapus
  14. Betul El. Untung rugi pikir belakangan yang penting Happy :D

    BalasHapus
  15. Aaamiiin, asal ndak malu2in ya :D

    BalasHapus
  16. Yap, betul sekali jadi lebih semangat

    BalasHapus
  17. Ds. Pangen juru tengah. Dari alon alon ke barat, lalu belok kiri. Ada masjid dan pesantren kecil disana.

    Tapi sepertinya pesantren itu tutup, karena anak anak beliau sekarang ada di Jakarta semua.

    Hiks...... tempatku belajar tinggal kenangan.

    BalasHapus
  18. Oalah,, kalo saya di Sucen Juru Tengah pak :)

    BalasHapus
  19. gantian saya ndak tahu mana itu sucen.

    Saya asli jawa tengah bagian timur, sering berkelana saja.... bahkan sampai di tempat lahirnya WR Supratman. HEhehe

    BalasHapus
  20. WR Supratman bukannya lahir di Purworejo pak

    BalasHapus
  21. Betul, yang dimaksud adalah saya pernah berkeliling ke Purworejo hingga rumahnya WR., Supratman. Di tengah hutan, diatas bukit sekitar 10 km jauhnya dari Celapar. Saya pernah kesana.

    Bahkan pernah jalan jalan sampai puncak Gunung Kukusan.

    BalasHapus
  22. Wah,, musti hunting ke situ nich. Saya dah 5 tahun disini belon pernah ke sono pak :)

    BalasHapus
  23. Saya dulu survey di pegunungan sebelah timur kali progo, jadi masih teringat beberapa tempat yang spesial.

    Karena waktu itu sbg mahasiswa pas pasan, makanya tidurnya nomaden dari masjid ke masjid dan dari pesantren ke pesantren. Paling tidak pernah memiliki saudara di 3 pesantren dan 1 masjid disana.

    Dua tahun yang lalu mengajak anak dan istri silaturahim kesana, tapi tampaknya semua sudah berubah. Sudah tidak ada lagi yang kenal.....

    BalasHapus
  24. Waah,, punya banyak pengalaman donk pak. Salah satu rahasia sukses pak Sarib karena sering silaturahim kali ya

    BalasHapus
  25. Silaturahim memperpanjang umur dan rejeki, katanya sih......

    Ah.... jadi malu nih.

    Sukses kan proses yah ? Sukses kan bermanfaat bagi orang lain yah ?

    walau ada yang mengartikan sukses sebagai "uang".

    BalasHapus
  26. Wah selamat, mbak. Putranya langsung praktek dan terjun langsung jadi pengusaha.

    BalasHapus
  27. Ingin juga ngajarin anak-anak seperti itu mbak... tapi kok disini orang masih mandang rendah ya.... malah ada yang bilang " kayak kekurangan duit aja, sampai anak-anak disuruh jualan..." akhirnya.. anak-anakku nggak mau lagi ... :(

    BalasHapus
  28. Mungkin sekali-kali perlu tutup kuping kali ya. Yang penting anak pinter. Ntar kalo sukses banyak yang niru :)

    BalasHapus
  29. Terimakasih pak,, saya coba didik sejak kecil agar besok lebih mudah mengarahkan pak :)

    BalasHapus
  30. pengen juga ngajari anak-anak berwirausaha dari kecil. makasih tulisannya mbak, makin menginspirasi

    BalasHapus