Bisnis Modal Dengkul

05.25.00


Doc. Google

Sobat blogger percaya dengan judul diatas?

Ungkapan yang sering digunakan para trainer kewirausahaan sebagai bahasa marketing mereka agar training mereka laku di pasaran bak kacang rebus.

Siapa sich yang tidak mau gratisan. Semua orang ketika ditanya pasti semua menjawab mau atau bersedia.

Tapi jika sobat blogger bertanya kepada saya, apakah saya percaya dengan ungkapan diatas?

101% saya jawab TIDAK PERCAYA. Kenapa saya tidak percaya? Meminjam pepatah jawa, Jer basuki mowo beo. Atau kita juga bisa memakai pepatah yang kebarat-baratan, No pain no gain. Artinya kurang lebih sama. Tidak ada yang gratis! Semua berbayar! :D

Dari pepatah yang kita dapatkan dari Timur maupun Barat, jelas disebutkan bahwa bila ingin memulai berbisnis mau tidak mau kita harus memiliki modal. Nah, kali ini saya ingin menggali masalah permodalan ini lebih dalam. Bukan untuk memberi tahu sobat blogger bagaimana cara mudah mendapatkan fasilitas modal dari perbankkan. Tapi lebih pada mengoptimalkan apa yang ada dalam diri kita yang sudah dikaruniakan Allah SWT.

Saya membagi modal menjadi dua, Tangible capital dan Intangible capital. Istilah ini murni karangan saya sendiri setelah merenung di kamar mandi tatkala sedang BAB :D

Tangible capital merupakan modal yang terukur atau modal yang bisa dinilai secara material. Contoh, uang, mobil, perhiasan ataupun barang dagangan. Sementara Intangible capital merupakan modal yang tidak bisa dinilai secara material. Artinya sulit mengukurnya. Mau tahu contohnya?

Comunication Skill

Jika sobat blogger memiliki kemampuan berkomunikasi dan menyakinkan orang secara baik, hal tersebut bisa menjadi modal dalam memulai sebuah usaha.

Belum lama ini saya menjual produk IT tanpa modal uang sepeserpun. Tapi pasti tetep bermodal, tapi bukan modal dengkul tentunya tapi mulut :D

Saya membuat kesepakatan dengan seorang programer untuk menjualkan produknya. Saya mendapatkan fee sejumlah tertentu dari 1 unit produk yang  berhasil saya tawarkan. Walaupun tidak banyak, Alhamdulillah separoh biaya uang gedung anak saya yang mesti saya bayar sudah tercover dari usaha sampingan saya ini. Ssst, padahal ini cuman iseng lho!

Relationship

Memiliki banyak teman berarti sebuah peluang bagi kita untuk menjual sesuatu kepada mereka. Dalam bahasa bisnisnya, teman merupakan pasar yang bisa kita garap. Kita tinggal memilah dan memilih kira-kira produk apa yang bisa masuk ke A atau produk apa yang bisa diterima si B.

Jaman sekarang, jika sobat blogger ingin menjual sesuatu tanpa memiliki uang untuk modal sangat-sangat mungkin dilakukan. Teknologi saat ini sangat mendukung hal tersebut. Hanya memanfaatkan social networking yang kita miliki, kita bisa menjual barang apapun secara reseller. Caranya, cukup pajang barang dagangan di facebook ataupun di BB. Jika ada teman memesan barang tersebut baru kita pesankan setelah pelanggan membayar terlebih dahulu.

Ini tidak menutup kemungkinan bagi sobat blogger yang berprofesi sebagai pegawai. Waktu istirahat siang bisa dimanfaatkan untuk menawarkan sample barang dagangan. Jika keberuntungan sedang berpihak saat itu juga bisa langsung deal. Atau bisa juga kita follow up setelah jam kantor.

Asih salah seorang teman saya yang bekerja di Departemen Keuangan juga memiliki usaha catering kecil-kecilan. Awalnya hanya iseng. Kebetulan ia memiliki hobi memasak. Setiap menemukan resep baru ia selalu meminta teman-teman kantornya untuk mencicipi dan memberikan komentar atas masakannya. Tanpa sadar ia telah memberikan tester kepada calon pembeli. Dari mulut ke mulut kemahirannya memasak diketahui teman sekantornya. Dan kini, setiap teman kantornya akan mengadakan hajatan, entah pengajian ataupun acara lain, mereka selalu memesan pada teman saya tersebut.

Salam sukses,

You Might Also Like

0 komentar