Etika Berkomentar di Blog

03.29.00


Gambar diambil di Google

Beberapa waktu yang lalu seperti biasa, ketika saya bersilaturrahim ke beberapa blog tetangga untuk saling sapa, sampailah saya di blog milik Om trainer. Postingan Om Trainer di blognya kali ini membuat saya tertegun dan berhenti untuk beberapa saat lamanya. 

Om Trainer sedang mereview beberapa komentar yang sudah masuk mulai dari bulan Januari 2012.

Kriteria komentar yang Om Trainer review adalah komentar yang relevan dengan isi postingan, menarik, bermanfaat, santun, simple, unik, lucu dan tentunya outhentik.

Beberapa komentar yang dipilih Om trainer antara lain komentar dari Yori.

saya juga gak punya alergi makanan atau obat om, setidaknya sejauh ini nggak ada, alhamdulillah…

Kalau boleh menambahkan informasi, ada reaksi alergi obat yang sangat hebat yang bisa menyebabkan sekujur badan melepuh. Namanya Steven Johnson Syndrome. Reaksi alergi ini harus segera ditangani secara medik, ini emergency.

Bwt, setelah saya pikir2 om, ternyata saya ada alerginya juga. Alergi kesombongan dan kebohongan *eh, nggak masuk ya..  

Simpel bukan ? … tapi berguna bagi saya !

(dan juga bagi yang lain)

Komentar ini dikemukakan Yori ketika mengomentari postingan Om Trainer tentang “Alergi”.  Atau sebuah komentar yang kocak dari Titik Sutanti ketika Om Trainer memposting tulisan “Menolak Telepon”

Sales: “Pagi Pak, mau menawarkan kartu kredit… bla bla bla…”
Tmn: “maaf, saya sedang nyetir. Telpon lagi nanti.”
Sales: “Oh begitu. Baik Pak.”

Satu jam kemudian.

Sales: “Siang Pak, saya yang tadi mau menawarkan kartu kredit… bla bla bla…”
Tmn: “Oh ya, tapi maaf, saya sedang nyetir.”
Sales: “Oh gitu ya, Pak. Kalau gitu nanti sy telpon lagi.”

Sorenya.

Sales: “Selamat sore….”
Tmn: “Anda yang mau menawarkan kartu kredit ya? Saya sedang nyetir ini..!.”
Sales: “Kok nyetir terus sih Pak?”
Tmn: “Lho, saya kan sopir angkot!”

Itu sekedar cerita dari kawan, Om. Kemarin sempat dapat telepon begitu juga. Lalu saya bilang saja kalau sy belum butuh. Sudah, gitu saja. 

Kalau boleh jujur, komentar yang saya tulis di blog sahabat mungkin tidak sepenuhnya memenuhi criteria Om Trainer. Outentik dan santun sich iya. Relevan dengan isi postingan, hmmm kadang-kadang kalo lagi hank mungkin ndak nyambung :D Untuk kategori simple sepertinya saya menduduki urutan pertama karena kadang saat memberikan komentar terlalu simple.

Tapi untuk kategori  menarik, bermanfaat, unik, dan lucu kayaknya masih jauh dech.

Komentar seperti criteria dari Om Trainer pernah ada di blog saya. Komentar dari Ely dan mas Iwan Yulianto. Komentar yang membuat postingan saya tidak adem ayem alias lebih hidup.

Ely Meyer berkata:

12 November 2012 pada 9:17 am (Sunting)

mbak kalau mnrtku orang boleh menulis apa saja, dgn bukti bukti yg dikira benar, cuma buatku pribadi, Hitler ini khan penjahat dunia, kalau benar dia meninggal dan dikubur di Indonesia, knp tidak ada pernyataan resmi dari pemerintahan Indonesia ? juga tidak ada pernyataan resmi dari pemerintahan Jerman ? di sini saya belum pernah mendengar sedikitpun berita ttg kuburan Hitler di sana, andai semua itu benar, pasti byk stasiun TV sini yg berbondong bondong ke sana buat meliput, jadi mungkin saya baru percaya kalau memang Hitler dikubur di sana kalau sudha ada pernyataan resmi dari ke dua pemerintahan, tentunya dgn bukti bukti akurat mbak

Iwan Yuliyanto berkata:

12 November 2012 pada 5:35 pm (Sunting)

mbak Ely, kesaksian bahwa Hitler itu meninggal dunia di Indonesia pertama kali saya baca di Harian Nasional Jawa Pos yg dimuat secara berseri pada tahun 1983, kemudian dimuat lagi th 1988. Berhubung saat itu saya masih SD, maka gak begitu intens ngikutin beritanya.

Ada sebuah novel bagus, judulnya: “The Escaped” karya Rizki Ridyasmara, yang lebih banyak mengungkap fakta sejarah tentang Hitler dan pasukan tentara Nazi yang dikuburkan di komplek makam Nazi di Bogor. Banyak sekali catatan kaki dan foto-foto sbg bukti otentik yg disampaikan dalam novel itu. Saya rekomendasikan novel ini untuk dibaca.

Baiklah, mari kita tunggu pemaparan selanjutnya dari mbak Ika. Monggo dilanjut, mbak

Mohon maaf buat teman-teman blogger jika komentar saya masih jauh dari bermutu. Sebelumnya saya belajar menulis dengan baik. Kini saatnya saya harus belajar memberi komentar yang bermutu.

By the way, apapun komentar teman-teman di blog saya, saya ucapkan banyak terimakasih. Komentar kalian yang menjadi penyemangat saya untuk terus menulis.

Salam hangat dari saya,

You Might Also Like

0 komentar