Demam Habibie dan Ainun

03.48.00

doc. Google
    doc. Google



Film Habibie & Ainun yang rilis tanggal 20 Desember yang lalu telah menyedot perhatian masyarakat. Film yang diangkat dari novel dengan judul yang sama, ditulis BJ Habibie beberapa bulan setelah meninggalnya istri tercinta, Ainun Habibie.

Film ini bercerita tentang bagaimana Habibie & Ainun saling berpegang tangan, bahu membahu menghadapi rintangan hidup dalam bahtera rumah tangga yang mereka bina selama 48 tahun 10 hari.

Sebuah film apik ditengah masyarakat yang sudah mulai melupakan kesakralan ikatan perkawinan. Data yang dihimpun Republika dari Dirjen Badilag MA menyebutkan bahwa tingkat perceraian meningkat 10% setiap tahunnya sejak tahun 2005. Pada tahun 2010, terjadi 285.184 perceraian di seluruh Indonesia.  Sementara pada tahun sebelumnya, tingkat perceraian nasional masih di angka 216.286 perkara. Dari data perceraian pada tahun 2010, 91.841 perkara karena factor ketidak harmonisan dalam rumah tangga, 78.407 perkara karena tidak ada tanggungjawab pasangan dan 67.891 perkara disebabkan factor ekonomi.

Padahal jika kita telaah, dalam Al Qur’an perkawinan disebutkan sebagai mitsaqon gholidho. Sebuah perjanjian yang kuat, kokoh dan teguh. Bahkan ketika ikrar ijab qobul diucapkan, Arsy Allah bergetar. Hal ini menandakan betapa kalimat itu bukan kalimat sederhana yang diucapkan untuk kemudian dengan mudahnya ditarik kembali. Ataupun perjanjian sederhana yang suatu saat bisa kita ingkari.

Film ini mengajarkan betapa ikatan perkawinan tidak hanya didasarkan pada masih adanya rasa cinta atau tidak didalamnya. Cinta layaknya sebuah pohon, jika senantiasa dipupuk dan dirawat, maka ia akan tumbuh subur, kokoh dan akarnya pun kuat menghunjam ke tanah. Hingga ketika badai menerjang pohon pun tak akan tumbang. Ataupun masih adanya kesamaan prinsip hidup atau tidak. Tapi lebih kepada komitmen untuk menjaga keutuhan perkawinan.

Saya salut pada keputusan Ainun Habibie untuk menjadi ibu rumah tangga daripada berkarier demi keluarga. Seperti yang beliau ungkapkan,“Mengapa saya tidak bekerja? Bukankah saya dokter? Sangat mungkin saya bekerja waktu itu. Namun saya pikir buat apa uang tambahan dan kepuasan batin jika pada akhirnya diberikan pada seorang perawat pengasuh anak bergaji tinggi dengan resiko kami kehilangan kedekatan pada anak sendiri. Apa artinya tambahan uang dan kepuasan professional jika akhirnya anak saya tidak dapat saya timang dan bentuk pribadinya. Itulah sebabnya saya memutuskan menerima hidup pas-pasan. Bertahun-tahun kami bertiga hidup begitu,” lanjutnya.

Ainun mendedikasikan waktunya untuk melayani keluarga. Menemani suami dalam meniti karier dan membersamai buah hati mereka .

Sementara disisi lain, perjuangan Habibie pun sungguh luar biasa. Dalam catatan Ainun dalam buku SABJH diceritakan, karena penghasilan yang pas-pasan selain bekerja sebagai Asisten pada Institut Kontruksi Ringan Universitas, Habibie bekerja sebagai ahli konstruksi pada pabrik kereta api. Pagi-pagi Habibie berangkat ke pabrik, kemudian sampai malam di Universitas. Pukul 10.00 atau pukul 11.00 malam baru sampai rumah dan menulis disertasi. Kemana-mana naik bis, malah karena kekurangan uang untuk membeli kartu langganan bulanan, dua tiga kali seminggu Habibie berjalan kaki menggambil jalan pintas sejauh limabelas kilometer. Sepatu yang dipakai berlubang-lubang, baru pada musim dingin lubangnya ditambal.

Sebuah harapan besar film ini tidak hanya dinikmati sebagai tontonan tetapi juga sebagai penyadaran bagi kita bagaimana menjaga biduk rumah tangga agar tetap berlayar meski badai menerjang sampai kematian memisahkan.

You Might Also Like

0 komentar