Demam Cinta Habibie & Ainun

21.54.00

[caption id="attachment_2047" align="alignright" width="216"]doc. Google doc. Google[/caption]

Film Habibie & Ainun yang rilis tanggal 20 Desember yang lalu telah menyedot perhatian masyarakat. Film yang diangkat dari novel dengan judul yang sama, ditulis BJ Habibie beberapa bulan setelah meninggalnya istri tercinta, Ainun Habibie.

Film ini bercerita tentang bagaimana Habibie & Ainun saling berpegang tangan, bahu membahu menghadapi rintangan hidup dalam bahtera rumah tangga yang mereka bina selama 48 tahun 10 hari.

Sebuah film apik ditengah masyarakat yang sudah mulai melupakan kesakralan ikatan perkawinan. Data yang dihimpun Republika dari Dirjen Badilag MA menyebutkan bahwa tingkat perceraian meningkat 10% setiap tahunnya sejak tahun 2005. Pada tahun 2010, terjadi 285.184 perceraian di seluruh Indonesia.  Sementara pada tahun sebelumnya, tingkat perceraian nasional masih di angka 216.286 perkara. Dari data perceraian pada tahun 2010, 91.841 perkara karena factor ketidak harmonisan dalam rumah tangga, 78.407 perkara karena tidak ada tanggungjawab pasangan dan 67.891 perkara disebabkan factor ekonomi.

Padahal jika kita telaah, dalam Al Qur’an perkawinan disebutkan sebagai mitsaqon gholidho. Sebuah perjanjian yang kuat, kokoh dan teguh. Bahkan ketika ikrar ijab qobul diucapkan, Arsy Allah bergetar. Hal ini menandakan betapa kalimat itu bukan kalimat sederhana yang diucapkan untuk kemudian dengan mudahnya ditarik kembali. Ataupun perjanjian sederhana yang suatu saat bisa kita ingkari.

Film ini mengajarkan betapa ikatan perkawinan tidak hanya didasarkan pada masih adanya rasa cinta atau tidak didalamnya. Cinta layaknya sebuah pohon, jika senantiasa dipupuk dan dirawat, maka ia akan tumbuh subur, kokoh dan akarnya pun kuat menghunjam ke tanah. Hingga ketika badai menerjang pohon pun tak akan tumbang. Ataupun masih adanya kesamaan prinsip hidup atau tidak. Tapi lebih kepada komitmen untuk menjaga keutuhan perkawinan.

Saya salut pada keputusan Ainun Habibie untuk menjadi ibu rumah tangga daripada berkarier demi keluarga. Seperti yang beliau ungkapkan,“Mengapa saya tidak bekerja? Bukankah saya dokter? Sangat mungkin saya bekerja waktu itu. Namun saya pikir buat apa uang tambahan dan kepuasan batin jika pada akhirnya diberikan pada seorang perawat pengasuh anak bergaji tinggi dengan resiko kami kehilangan kedekatan pada anak sendiri. Apa artinya tambahan uang dan kepuasan professional jika akhirnya anak saya tidak dapat saya timang dan bentuk pribadinya. Itulah sebabnya saya memutuskan menerima hidup pas-pasan. Bertahun-tahun kami bertiga hidup begitu,” lanjutnya.

Ainun mendedikasikan waktunya untuk melayani keluarga. Menemani suami dalam meniti karier dan membersamai buah hati mereka .

Sementara disisi lain, perjuangan Habibie pun sungguh luar biasa. Dalam catatan Ainun dalam buku SABJH diceritakan, karena penghasilan yang pas-pasan selain bekerja sebagai Asisten pada Institut Kontruksi Ringan Universitas, Habibie bekerja sebagai ahli konstruksi pada pabrik kereta api. Pagi-pagi Habibie berangkat ke pabrik, kemudian sampai malam di Universitas. Pukul 10.00 atau pukul 11.00 malam baru sampai rumah dan menulis disertasi. Kemana-mana naik bis, malah karena kekurangan uang untuk membeli kartu langganan bulanan, dua tiga kali seminggu Habibie berjalan kaki menggambil jalan pintas sejauh limabelas kilometer. Sepatu yang dipakai berlubang-lubang, baru pada musim dingin lubangnya ditambal.

Sebuah harapan besar film ini tidak hanya dinikmati sebagai tontonan tetapi juga sebagai penyadaran bagi kita bagaimana menjaga biduk rumah tangga agar tetap berlayar meski badai menerjang sampai kematian memisahkan.

A13F1565CD481AA8AB2D3E0EA0589ED5

You Might Also Like

66 komentar

  1. belum nonton aku mba...btw mana email nya??

    BalasHapus
  2. Sangat seneng dengan kata kata ini ----> Saya salut pada keputusan Ainun Habibie untuk menjadi ibu rumah tangga daripada berkarier demi keluarga. Seperti yang beliau ungkapkan,“Mengapa saya tidak bekerja? Bukankah saya dokter? Sangat mungkin saya bekerja waktu itu. Namun saya pikir buat apa uang tambahan dan kepuasan batin jika pada akhirnya diberikan pada seorang perawat pengasuh anak bergaji tinggi dengan resiko kami kehilangan kedekatan pada anak sendiri. Apa artinya tambahan uang dan kepuasan professional jika akhirnya anak saya tidak dapat saya timang dan bentuk pribadinya. Itulah sebabnya saya memutuskan menerima hidup pas-pasan. Bertahun-tahun kami bertiga hidup begitu,” lanjutnya.

    BalasHapus
  3. aku dah ntn mba, salut sm pengorbanan ainun :)

    BalasHapus
  4. Setuju banget Mba kalo cinta itu ibarat pohon dan dibutuhkan kesabaran untuk memupuk dan mengairi pohon itu agar tumbuh subur. Semoga kita bisa selalu menyuburkan tali perkawinan kita masing-masing Mba Ika.
    Pengen beli bukunya dulu deh sebelum nonton film ini.. :D

    BalasHapus
  5. pengen ada filem "pakne zedeen n bune" yaaah 20an taon lagi laaaah :)

    BalasHapus
  6. Aku sudah nonton mbak ikaaaa. bersama bidan milaaa.. Kita kopdaran di jogja ahad kemaren
    dan aku juga punya bukunya :D

    Wew, kutipan yang sama di postinganku yang lalu..[http://wp.me/p1qFVY-6M]

    BalasHapus
  7. Dilanjut pake BBM aja ya Ras :)

    BalasHapus
  8. Biasaaaaaa Ndin. Kamu khan selalu nunggu yang gratisan. Kabooor :D

    BalasHapus
  9. Iya pak. Banyak wanita yang melupakan peran utamnya karena sibuk berkarier. Termasuk yang lagi nulis ini. Hi...hi... :)

    BalasHapus
  10. Iya, Ye. Btw, Kemarin pas nonton sapu tangannya bisa diperes ga' :D

    BalasHapus
  11. Beli bukunya lebih sip mas. Saya juga lebih seneng bukunya daripada filmny :)

    BalasHapus
  12. Yaaah, bikin pelm sendiri aja Deen :)

    BalasHapus
  13. Anda belum beruntung. Ha...ha.. :D

    BalasHapus
  14. Iya, kopdaran kalian bikin ngiri aja. kapan kita kopdaran Fah?

    BalasHapus
  15. hehee.. itu sudah agak lama cita-citanya mbak. Kebetulan mila tu dulu kuliah di jogja, jadi sekalian reuni sama teman2nya.. :D
    Aku lumayun sering ke kebumen mbak.. kan nglewatin yaks?

    BalasHapus
  16. Ho o, kapan2 mampir ke gudangku Fah. Tapi jangan kaget ya, namanya gudang kalo rapi kaya'nya aneh :)

    BalasHapus
  17. semoga film ini menginspirasi keluarga indonesia. khususnya lelaki ya mbak ika ketika sukses gak lupa daratan.

    BalasHapus
  18. Kemarin pengen nonton tp gk sanggup antrian panjang beli tiketnya hahaha nunggu dvd nya aja kali yah :) salam kenal mbak ika

    BalasHapus
  19. hahaha ditempatku ga ada bioskooooopppp

    BalasHapus
  20. sama, berasa 'tersindir'... semoga saya bisa jadi ibu yang baik

    BalasHapus
  21. aku belum nonton sih, tp sudah baca. mengharukan sekali. tapi tetap pengen nonton, karena peran si Reza sewaktu menjadi Habibi banyak dipuji orang --" pasti bagus ya

    BalasHapus
  22. Wah..saya belumbaca bukunya dan juga belum nonton filmnya,Mbak.. wah,ketinggalan kereta ini..

    BalasHapus
  23. Betul, penyadaran pada kaum laki-laki bahwa kesuksesannya juga karena dukungan kita para istri :)

    BalasHapus
  24. Biasa kalo film lagi booming. Liat pake DVD lebih santai kali ya

    BalasHapus
  25. Sedikit, hi..hi.. Tapikan saya bisnis di rumah pak. Walau sibuk masih bisa mantau anak :D

    BalasHapus
  26. Masak sech? Berarti kampung banget dunk :D

    BalasHapus
  27. Aaamiiin, saling mendoakan ya In :)

    BalasHapus
  28. Iya, Reza dipilih karena kualitas aktingnya. Kalo BCL lebih ke komersilnya. Pssst, ini menurut contekan berita di Republika lho

    BalasHapus
  29. Waduh, bener2 ketinggalan kereta decj :D

    BalasHapus
  30. Luar biasa nih, angkat jempol buat ibu rumah tangga yang bisa nyambi sebagai CEO.

    Bisnisnya apa yah ? hehe..... kalau tidak keberatan sih.

    BalasHapus
  31. Mohon ijin untuk copy paste beberapa bagian tulisan ini, bukan sekarang, melainkan esok lusa.

    BalasHapus
  32. Gak ada bioskop di sini Mbak. Hiks !

    btw, emang kayaknya pilemnya bagus ya...resensi dari Mbak Ika jadi pengin nonton pilemnya..

    BalasHapus
  33. [...] ibu Ainun dalam film tersebut. Salah satu sumber yang menurut saya bisa dipercaya adalah  blognya ikakoentjoro dan blognya [...]

    BalasHapus
  34. aku belum nonton mbak...tapi temen-temen udah recomended bgt terus pesennya gini 'kalo nonton Habibie & Ainun harus ajak suami'...hehe

    BalasHapus
  35. Kalo nonton sekarang masih penuh. Mending ntar aja :)

    BalasHapus
  36. Iyalah, rugi kalo nonton sendiri :) di rekomendasikan untuk couple

    BalasHapus
  37. Distribusi makanan ringan pak. Tahun ini sudah memasuki tahun ke 17

    BalasHapus
  38. Nonton ntar2 aja Lies. Sekarang masih penuh terus :)

    BalasHapus
  39. Pak SBY waktu nonton sampai terharu dan menangis, mbak

    BalasHapus
  40. Iya pak, kira2 kapan pak Yudhi nonton filmnya :) Kalo di hutan ada bioskop ndak pak? :D

    BalasHapus
  41. Bukunya sudah saya beli, mbak. Yg duluan baca malah istri saya. Saya cuma dengar ceritanya saja. Kalau mau nonton bioskop, harus turun ke kota dulu :-)

    BalasHapus
  42. Wiiih.... luar biasa, webnya ada ? kan sekarang banyak yang dijual via onlin.

    BalasHapus
  43. Saya udah nonton mbaaak...
    bagus banget mbak..

    BalasHapus
  44. aku belum nonton,
    alasannya, karena tidak adanya tetangga yg bisa dititipin anak-anak... huwaaa huwaa :'((

    BalasHapus
  45. masih dalam rangka alias berusaha

    BalasHapus
  46. Ndak ada webnya pak, Off Line aja pak.

    BalasHapus
  47. Hi,,hi,, titipin ke eyangnya aja :)

    BalasHapus
  48. AKU SUDAH Menikmati filmnya mba......

    BalasHapus
  49. Emang mantap mbak, pas ngeliatnya juga dibayari temen separo harga, menambah kemantapan. Hihihihi :)

    BalasHapus
  50. Alhamdulillah,,,, mudah2an dapet pencerahan :)

    BalasHapus
  51. Harusnya yang udah sepuh, ntraktir yang masih abege mbak. *eh :)

    BalasHapus
  52. Nunggu keluar di tv atau sudah ada vcd yang di rental, ngelihat antusiasnya orang nonton film ini jd males antri tiket.

    BalasHapus
  53. Tanpa sadar kamu termasuk orang yang ngantri gratisan :D

    BalasHapus
  54. Film ini memang bagus

    and yes ...
    tragedi sepatu bolong itu memang sangat menyayat ... ini sekaligus memberikan pelajaran bagi kita semua ... bahwa perjuangan pak Habibi dan Ibu Ainun itu memang berat ...
    Kesuksesan yang mereka raih ... tidak jatuh dari langit

    salam saya Bu Ika

    BalasHapus
  55. Filmnya keren. Ostnya juga keren.

    dan aku terlambat membeli bukunya. :(

    tapi sekarang buku udah, film juga udah. :D

    BalasHapus
  56. Waaaah,, udah komplit donk :)

    BalasHapus