Sudahkah Wudhumu Membekas?

18.17.00

Sering kali kita melakukan sebuah ibadah hanya sebatas ritual ataupun pengguguran kewajiban semata. Makna dibalik ibadah yang kita lakukan kurang kita resapi sepenuhnya. Sebuah contoh, ibadah puasa yang sejatinya akan mengasah kepekaan social kita, jarang terasa maknanya.

Bisa kita lihat, ketika bulan Ramadhan tiba, harga-harga SEMBAKO dipastikan merangkak naik. Sesuai hukum ekonomi, ketika permintaan lebih tinggi dari barang yang tersedia, bisa dipastikan harga akan mengalami kenaikkan.

Saat bulan Ramadhan, banyak pasar dadakan yang menjual aneka kudapan dan lauk pauk bermunculan. Menu berbuka menjadi demikian meriah dengan kehadiran kolak, es buah, es campur dan aneka kudapan penggugah selera lainnya. Lauk yang terhidang pun tak kalah menarik.

Akankah kita bisa merasakan betapa menderitanya saudara-saudara kita yang hidup dibawah garis kemiskinan? Ataukah kita bisa merasakan beratnya saudara-saudara kita yang mengungsi demi mempertahankan akidahnya?



Sebuah Identitas

Begitupun dengan wudhu, kita lebih sering memahaminya hanya sebatas syarat sahnya shalat. Tidakkah kita perfikir bahwasannya wudhu merupakan sebuah identitas kita?

Rasulullah SAW bersabda, “Aku sangat ingin sekiranya aku bisa melihat saudara-saudaraku.” Para sahabat berkata, “Bukankah kami ini saudara-saudara engkau wahai Rasulullah?” Rasulullah menjawab, “Kalian adalah sahabat-sahabatku. Adapun saudara-saudaraku adalah mereka belum ada.” Para sahabat bertanya lagi, “Bagaimana kelak engkau bisa mengenali bahwa mereka yang akan datang belakangan itu umat engkau.” Rasulullah menjawab, “Bagaimana menurutmu jika seseorang memiliki kuda yang dahinya putih bercahaya dan berada di tengah-tengah kuda-kuda lain yang semuanya hitam kelam pekat, tidakkah ia tahu yang mana kudanya?” Para sahabat menjawa, “Tentu wahai Rasulullah.” Rasulullah melanjutkan, “Begitulah mereka saudaraku itu, kelak mereka datang dalam keadaan bercahaya wajahnya dan putih pada daerah bekas wudhunya.”(HR Muslim)


Ya, wudhu ternyata sebuah identitas yang akan membedakan umat Muhammad SAW dengan umat-umat lain. Kelak ketika kita dikumpulkan di padang Mahsyar, diantara milyaran manusia yang menanti ditimbangnya amal perbuatannya, tentunya kita sangat mendambakan syafaat dari Rasulullah SAW.

Syafaat yang menyejukkan tatkala matahari berada satu kilan diatas kepala kita. Sungguh, hari yang sangat berat.

Balada Terompah Bilal

Dari Abu Hurairah ra, bahwasanya Nabi saw pernah bersabda kepada Bilal selepas sholat Subuh, “Ceritakan kepada saya satu amalan yang paling engkau andalkan dalam Islam, karena sesungguhnya pada suatu malam saya mendengar suara terompah  kamu berada di pintu surga”. Bilal berkata : “Saya tidak melakukan sesuatu apapun yang lebih baik melainkan saya tidak pernah bersuci dengan sempurna pada setiap saat, baik malam maupun siang hari kecuali saya selalu melakukan sholat sebanyak yang mampu saya kerjakan”. (HR. Al-Bukhari)

Bertautnya dua rindu

Rasulullah SAW bersabda, “Aku sangat ingin sekiranya aku bisa melihat saudara-saudaraku.” Para sahabat berkata, “Bukankah kami ini saudara-saudara engkau wahai Rasulullah?” Rasulullah menjawab, “Kalian adalah sahabat-sahabatku. Adapun saudara-saudaraku adalah mereka belum ada.”

Ah, identitas yang menautkan dua rindu. Rindu Rasulullah SAW pada kita, umat yang belum pernah bertemu dengan beliau dan kerinduan kita kepada Rasulullah SAW.

Masihkah kita meremehkan kualitas wudhu kita?

You Might Also Like

32 komentar

  1. terima kasih pencerahanya...

    BalasHapus
  2. Yap, tul banget pak. Ibadah yang terlihat sepele kadang bisa jadi investasi pahala kita :)

    BalasHapus
  3. Investasi pahala yah ? hehehe.... passive income pahala.

    BalasHapus
  4. biasanya kalo habis wudlu pada dihandukin ....

    BalasHapus
  5. saya masih senantiasa berharap wudhu saya semakin membekas
    terima kasih atas pencerahannya :)

    BalasHapus
  6. Mba, saya baru tau tentang hadist2 di atas. . .
    Terimakasih sudah berbagi ya, mba. :)

    BalasHapus
  7. makasih udh di ingatkan mbak ;-)

    BalasHapus
  8. iya,, sama-sama. Mudah2an bermanfaat :)

    BalasHapus
  9. Mudah2an harapan bisa menjadi kenyataan. Aaamiiin

    BalasHapus
  10. Kalo itu hadistnya lain ndin. Dan masalah dihandukin atau tidak, semua boleh, tergantung kemantapan hati. Kalo' hadist yang ini lebih ke menjaga wudhu. Artinya selalu dalam keadaan suci :)

    BalasHapus
  11. Rindu dengan Rasulullah SAW,,,rindu yang berbalas jika kita mengikuti sunnah2nya :)

    BalasHapus
  12. *benerin peci* habis baca aku jadi pengen wudhu dan shalat. makasih pencerahnnya Mbak :)

    BalasHapus
  13. Iya, sama2. terimaksih juga kunjungannya :)

    BalasHapus
  14. saya denger wudhu itu bisa melunturkan dosa... entah bener atau gak...emang lebih baik kalo bisa menjaga wudhu ya

    BalasHapus
  15. Bisa melunturkan dosa bener ham. Emang lebih baik penjagaan wudhunya :)

    BalasHapus
  16. hmmmm...Satu ilmu lagi di pagi Jumat....

    BalasHapus
  17. Alhamdulillah, mudah2an bisa di praktekkan :)

    BalasHapus
  18. Aamiiin...
    Terima kas9h Mbak Ikaaaaaaaa :)

    BalasHapus
  19. Malah sudah bener ngga ya wudluku?
    hehehhe....
    :D

    sALAM KUNJUNGAN PAGI

    BalasHapus
  20. Walah, kok bisa :D Terimakasih kunjungannya

    BalasHapus
  21. terima kasih mbak, telah berbagi...

    BalasHapus
  22. betul sekali identitas kita sebagai umat muslim yang membedakan kita dengan yang lain

    tfs mbak

    BalasHapus
  23. Terimakasih sudah mampir. Jauh2 dari Malaysia mau disuguhi apa ya :)

    BalasHapus
  24. ga pernah wudlu hahaha ga pernah batal sh :D

    BalasHapus
  25. Oh gitu ya, tapi kalo lebih sering berwudhu khan dosa2nya lebih banyak yang berguguran :)

    BalasHapus