Misteri Kematian Adolf Hitler

20.49.00

Postingan ini merupakan rangkuman dari buku Rahasia yang terkuak Hitler mati di Indonesia karya Ir. KGPH. Soeryo Georitno, M.Sc demi memenuhi rasa penasaran sahabat blogger saya Ely. Beberapa waktu yang lalu Ely memposting tulisan Mengunjungi rumah bekas Adolf Hitler yang kemudian saya komentari jika Hitler mati di Indonesia. Karena penasaran, Ely meminta saya menuliskan bukti-bukti kematian Hitler di Indonesia.

Karena keterbatasan waktu, saya membagi tulisan dalam dua postingan, yaitu beberapa versi kematian Hitler dan bukti-bukti Hitler di Indonesia. Dalam tulisan yang kedua, saya akan banyak memuat foto-foto koleksi pribadi sang penulis mengenai Adolf Hitler. Harapan saya mudah-mudahan Ely dan teman-teman sabar menunggu postingan saya yang kedua :D

Beberapa versi kematian Hitler

    Versi Jerman


    Foto sebelah kiri Hitler berumur 71 tahun dan sebelah kanan berusia 79 tahun

Dalam versi ini, Hitler disebutkan tewas bunuh diri dengan cara menembak dirinya sendiri dan minum racun sianida pada 30 April 1945, saat Jerman diduduki oleh Uni Soviet. Menurut kesaksian salah satu perawat Hitler dan petinggi Nazi lainnya, Flegel, menjelang kejatuhan Nazi, Hitler semakin gelisah dan paranoid.

Pada tanggal 29 April 1945, untuk terakhir kalinya Hitler keluar dari kamar pribadinya didalam bunker. Wajahnya tampak semkin lusuh, tangannya yang selalu bergetar disimpan di balik punggungnya, dan tubuhnya semakin condong membungkuk ke depan.

Menurut Flegel, Hitler saat itu baru merayakan ulang tahun ke-56, tapi wajahnya tampak lebih tua dari usia sebenarnya. Kepada para pembantu setianya, termasuk Flegel, Hitler mengucapkan selamat tinggal. Dia menyalami semua orang yang telah sekian lama menemaninya di dalam bunker. Hitler menanyakan satu sua pertanyaan singkat sebelum kembali ke kamar pribadinya bersama Eva Braun, wanita yang dinikahi Hitler 40 jam sebelum kematiannya.

Keesokkan harinya, sekitar pukul 15:30, terdengar tembakan dari kamar Hitler. Sang Fuhrer bunuh diri setelah minum racun sianida. Hitler menembak kepalanya, dan Eva Braun menghabisi nyawanya dengan minum racun sianida.

    Versi Rusia

Seorang pejabat tinggi dinas rahasia Rusia, KGB, mengklaim bahwa Adolf Hitler mengakhiri hidupnya tidak dengan menembak dirinya, tetapi dengan meminum racun sianida. Seperti yang dinyatakan oleh Letnan Jenderal Vasily Khristofarov, staf arsip untuk dinas keamanan FSB Rusia,”Paramedis militer Uni Soviet kala itu telah memastikan, bahwa Hitler dan Eva Braun tewas setelah minum racun sianida pada 30 April 1945.

Terdapat sisa-sisa pecahan kapsul di mulut, dan aroma tajam kacang almond pahit dari jasad Hitler dan Eva. Jika terbukti benar, klaim pejabat KGB dapat meruntuhkan mitos Hitler menghabisi nyawanya dengan menembak diri sendiri di dalam bunker. Selain itu, keaslian sebuah pecahan tulang tengkorak yang diduga milik sang dictator yang disimpan lembaga arsip Rusia diragukan keasliannya.

    Menurut pendapat umum

Analisis DNA telah dilakukan pada tulang tengkorak yang diduga milik Hitler oleh peneliti Amerika. “Kami tahu tengkorak itu berhubungan dengan seorang perempuan berusia antara 20 sampai 40 tahun,” kata ahli arkeologi Nick Bellantoni dari Universitas Connecticut, AS, dikutip dari Dailymail. Tulang itu kelihatan sangat tipis, sementara tulang tengkorak laki-laki cenderung lebih kuat. Dan persambungan di mana lempeng tengkorak itu menyatu, tampak berhubungan dengan seseorang yang berusia kurang dari 40 tahun. Sedangkan Hitler pada April 1945 berusia 56 tahun.

Bellatoni mengatakan,”tengkorak itu tidak mungkin milik Braun, yang berusia 33 tahun. Tidak ada laporan yang menyebutkan bahwa Eva Braun menembak dirinya atau ditembak,”katanya.

Dengan adanya hasil tes DNA tersebut, berarti sejarah kematian Hitler kembali menjadi sebuah misteri.

Adolf Hitler dan Eva Braun yang ada di bungker adalah palsu

Pada awal tahun 1944, menurut laporan dari agen-agen rahasia Inggris M15, Hitler selalu menggunakan orang lain untuk menyamar sebagai dirinya. Hal tersebut pernah terbukti ketika pada bulan Juli tahun 1944, saat itu Hitler dan Duber AS bertemu dan berbincang-bincang.

Pada bulan Oktober 1944, Hitler palsu berpidato di hadapan rakyat jerman untuk memberi semangat. Suara yang berpidato tersebut berasal dari suara asli hitler yang bersembunyi di dalam kamar di Reichstag, sedangkan Hitler palsu hanya berpura-pura berpidato.

Tindakan untuk memalsukan diri ini bertujuan untuk keamanan Hitler dari ancaman musuh. Hitler dan orang-orang terdekat seperti Heinz Linge, Menpen Goebbels, Himmler, Goring dan pimpinan tertinggi Gestapo saja yang mengetahui tentang Hitler palsu.

Bukti-bukti  Hitler berada di Indonesia dan mati di Indonesia


Seperti yang ditulis di majalah Mangle, dalam stenografi Hitler yang diberi judul “Kurze zeitliche Darstellung der personlinchen Belangungen durc die Alliierten und lokalen “Autorintaten” in Salzburg 1946”, menceritakan tentang kaburnya Hitler dari Salzburg ke Graz, menuju batas Austria lalu ke Yugoslavia, selanjutnya ke Beograd, dari Beograd terus ke Sarajewo. Kemudian dari Sarajevo menuju Roma sampai menerima paspor dengan nomor 2624/51. Dengan paspor itulah Hitler masuk ke Indonesia.

Ada empat hal yang melatar belakangi Indonesia dipilih Hitler sebagai tempat persembunyian;

    Indonesia tidak memilki hubungan diplomatic dengan Israel. Tidak adanya hubungan diplomatic antara Indonesia dan Israel menjadikan Israel sulit untuk masuk ke Indonesia untuk menangkap Hitler. Para tokoh Nazi yang bersembunyi di Amerika latin terbukti terendus keberadaannya oleh agen Israel. Seperti Adolf Eichman misalnya, ia bersembunyi di Argentina sejak tahun 1950 sampai 1960 dan diculik oleh orang Israel.

    Tahun 1940-an Indonesia masuk ke dunia Internasional, dan pada saat itu pula Indonesia merupakan negara baru. Sebagai negara baru, tentu struktur kenegaraan, pemerintahan, dan system birokrasi yang baru memudahkannya masuk ke Indonesia.

    Mayoritas penduduk Indonesia beragama Islam yang anti Yahudi. Sikap anti Yahudi ini sama dengan sikap politik pemerintahan Indonesia yang anti Israel. Hal ini sama dengan sikap politik Hitler yang anti semit.

    Perang Dunia II telah usai, sementara Indonesia pada tahun 1949 merupakan satu-satunya negara yang masih perang melawan Sekutu (musuh Hitler).  Sehingga masih sangat terlihat bagaimana politik Bung karno yang sangat anti Barat yang kemudian memisahkan diri dari dunia barat dengan membentuk politik Non-Blok. Hal ini sangat menguntungkan Hitler yang anti-bolsewisysteme.

Salam,

You Might Also Like

0 komentar