Bullying

18.30.00



Beberapa waktu lalu temen saya bercerita tentang konflik dua orang tua saat penerimaan rapor di sekolah anaknya.

Ceritanya ada seorang anak bernama Aulia (bukan nama sebenarnya) mengejek Indah (juga bukan nama sebenarnya) dengan mengatakan cacat gara-gara Indah memiliki kaki penuh koreng.

Singkat cerita Indah bercerita kepada bundanya. Mendengar cerita Indah, sang bunda tidak terima dan hari berikutnya ketika mengantar Indah ke sekolahan, bundanya Indah menemui Aulia dan memarahinya. Karena si Aulia tidak terima dimarahi bundanya Indah, ia pun bercerita ke mamanya.



Nah, kebetulan pas penerimaan rapor kemarin, dua ibu tadi secara tidak sengaja bertemu. Trus, terjadilah pertengkaran yang bisa dibilang memalukan. Gimana tidak memalukan, selain adu mulut, dua ibu tadi juga beradu fisik didepan murid dan wali murid lain :(

Bullying

Para orang tua kadang kurang memahami jika anaknya menjadi korban bullying di sekolah. Olok-olok dari teman sekelasnya kadang dianggap sesuatu yang lumrah pada anak-anak. Artinya hal itu hanya dianggap kenakalan anak-anak biasa. Padahal jika dicermati, tindakan bullying sangat berbahaya.

Contoh kasus bullying yang memakan korban pernah terjadi di Jepang. Yumi (12 tahun), putri keluarga Nakai memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dengan melompat dari kondominium yang ditinggali keluarganya. Keluarga Yumi tak menyangka Yumi akan melakukan tindakan senekad itu. Yumi termasuk anak ayah, ia suka jalan-jalan, pergi berenang dan main sky bersama sang ayah. Dari catatan harian yang ditemukan bundanya, Yuma merasa tertekan oleh ejekan teman-temannya, juga pelajaran di sekolahnya.

Lantas, apa sebenarnya bullying?

Bullying adalah sebuah bentuk kekerasan yang dilakukan oleh individu ataupun kelompok dengan menggunakan kekuasaan yang dimilikinya, sehingga korban merasa tertekan, trauma dan tidak berdaya.

Bullying fisik biasanya berupa tindakan memukul, mencubit menampar ataupun memalak. Sementara bullying verbal berupa makian ataupun ejekkan. Sedangkan bullying dalam bentuk psikologis seperti mengintimidasi, mendiskriminasi, mengabaikan dan mengecilkan.

Apa yang harus dilakukan orang tua?

Beberapa waktu yang lalu anak saya juga menjadi korban bullying. Dia mogok sekolah dan ingin pindah sekolah. Setelah saya bujuk-bujuk, dia bercerita bahwa ada dua teman yang mengancam akan memukulnya jika tidak mau bertukar pensil.

Selain itu, dia juga sering diolok-olok teman tersebut dengan sebutan “Anak TK” karena memiliki postur tubuh yang mungil.

Walaupun pada  akhirnya konflik dapat terselesaikan, tetapi rasa pede anak saya menurun drastis. Dia sering ragu-ragu ketika akan memutuskan sesuatu. Di kelaspun dia cenderung menjadi pendiam.

Minggu-minggu setelah itu, menjadi minggu yang penuh dengan motivasi dan perhatian. Alhamdulillah, saya sedikit lega setelah mendapat sms dari gurunya, "Selamat ya bu, mas Fathiin jadi star of the week untuk minggu ini karena sudah lebih mandiri, semangat, dan bertanggungjawab. Tadi waktu upacara maju kedepan bersama star dari kelas yang lain."

Berdasarkan pengalaman saya, ada beberapa hal yang harus dilakukan orang tua ketika anaknya menjadi korbang bullying.


  • Sampaikan permasalahan ini kepada guru dan minta guru untuk membantu menyelesaikan konflik tersebut. Kerjasama dengan pihak sekolah sangat membantu penyelesaian permasalah ini. Yang kadang menjadi masalah, tidak semua sekolah care dengan permasalahn bullying, maka orang tua harus proaktif. Jika guru tidak bisa menyelesaikan permasalahan ini, mintalah pihak sekolah yang lain, misalkan kepala sekolah untuk membantu menyelesaikan permasalahan ini.



  • Luangkan waktu mendengarkan keluhannya. Biarkan dia bercerita semua yang dialaminya dari A-Z, jangan diputus. Ketika akan mengajukan pertanyaan, ajukan pertanyaan yang tidak bernada introgatif hingga anak tidak merasa terpojok. Tunjukkan empati pada anak, sehingga ia merasa nyaman.



  • Jangan berjanji pada anak jika tidak bisa menepati, anak butuh orang yang dapat diandalkan dan dapat dipercayai.


You Might Also Like

50 komentar

  1. Memang masalah bullying ini jadi masalah yang susah-susah gampang ditangani, apalagi kalau si korban terlalu takut untuk bercerita, bahkan pada orang tuanya sendiri :(

    BalasHapus
  2. Edisi parenting nih. Hehe
    Bagus untuk para orangtua nih. Yang belum orangtua jg gpp kan ;)

    BalasHapus
  3. yang suka di terima anak saya olok olok dari temen sepermainanya di lingkungan tempat tinggal... seringnya di olok olok masalah nama tidak hanya oleh mereka temen sebayanya kadang oleh orang dewasa juga..

    BalasHapus
  4. Iya, yang belum menikah untuk bekal kalau punya anak kelak :)

    BalasHapus
  5. Iya pak, seringnya memang si korban sulit untuk terbuka. Tapi kalau orang tua cermat, biasanya terlihat dari gerak gerik anak pak. Contoh, anak jadi males sekolah, pengen pindah sekolah de el el

    BalasHapus
  6. Kalo mau referensinya baca buku "Mendidik karakter dengan karakter". Disitu ada cerita si anak yang cacat menjadi korban bullying dan ibunya memotivasi luar biasa hingga ia mampu meraih sarjana di 3 Universitas berbeda.Si ibu mengatakan pada anak tsb, bahwa si anak hanya cacat kakinya saja. Sementara si pengolok2 cacat otaknya, untuk kelanjutannya coba baca buku tadi ya kang :)

    BalasHapus
  7. Terimakasih banyak ilmunya yah,

    BalasHapus
  8. nulis lagi yang banyak yah ? biar saya banyak baca.

    BalasHapus
  9. waktu masih kecil mungkin blm begitu berasa, tapi kalo udah gede, semua memori itu bakal nampak jelas dan menjadi trauma tersendiri :-(

    #pengalaman :sad:

    BalasHapus
  10. kebetulan murid sya tidak ada kasus seperti ini

    tapi selalu saya ingatakan terus sih karena kadang diluar lingkup ini kita tak pernah tau bukan ?

    BalasHapus
  11. penjelasannya keren banget, tapi kurang sreg ama judulnya...

    BalasHapus
  12. Makin berat ya tugas orang tua itu, apalagi perilaku spt ini, bisa melalui dunia maya... lewat tulisan yg bisa dibaca ribuan orang.
    Empati dan simpati perlu lebih ditanamkan lagi, berlaku seperti sahabat dgn anak yang sudah remaja, itu yg sedang saya lakukan trhd 3 anak gadis saya yg sudah mulai remaja dan dewasa.
    Terima kasih buat postingannya :)

    BalasHapus
  13. Terimaksih juga sudah berbagi. Kebetulan anak saya laki2 semua. jadi dapet ilmu nich dari dari mbak Wie :)

    BalasHapus
  14. Enaknya diberi judul apa ya :) Menerima kitik dan saran kok

    BalasHapus
  15. Terimakasih motivasinya pak. Ditunggu kritik dan sarannya pak :)

    BalasHapus
  16. Iya betul, mudah2an tidak terkendala bahasa ukhti :)

    BalasHapus
  17. Sama-sama, anak jaman kiwari mah ngga bisa diperlakukan saklek ya Mbak, apalagi anak2 saya gede disini waahh harus banyak bersabar, tarik ulur dengan mereka.. kompromis diplomatis hehehe..tapi untuk hal2 yg berkaitan dengan nilai2 agama mah saya agak kejam eh galak hehehe
    Anak saya mau 17 thn, pola pikirannya spt orang Jerman, kadang bikin emak pabaknya pusiiing :D
    tp sejauh ini alhamdulillah dia masih nurut sama emak bapaknya, semoga saja seterusnya.aamiin.
    Sepertinya sikap spt ini berlaku juga untuk anak laki-laki mbak Ika :)

    BalasHapus
  18. duuhh ngga bisa di edit...bapak maksudnya bukan pabak..ko kebulak balik gini nulisnya :D

    BalasHapus
  19. untuk calon orang tua donk :P

    BalasHapus
  20. PR terbesarku ndin. Anakku masih minder :(

    BalasHapus
  21. Waduh, jangan2 belum makan nich :D

    BalasHapus
  22. Se7 banget mbak. Masalah lain bisa kompromi, tapi kalo masalah agama,,, hmmmm, ga' bisa ditawar-tawar.

    BalasHapus
  23. Tugas kita ya Mbak, para orang tua membangun komunikasi dng anak, jd kalau mereka dapat masalah sprt di bully, bisa segera dicari jalan keluarnya...

    BalasHapus
  24. aku, sampe segede ini masih minder mba :-(

    BalasHapus
  25. Thanks info dan sharing nya mba Ika. Btw blog nya pindah yah mba? Kynya wkt itu pk blogspot yah :D

    BalasHapus
  26. hehehe... sepertinya masih ngebayangin Indomie rebus :D

    BalasHapus
  27. hehe. sempet juga sih ngerasain di-bulying. :3 tapi, emang itu bergantung sama dukungan orangtua dan orang sekitar. keren postingannya :))

    BalasHapus
  28. Yap betul banget. Ditunggu kritik dan sarannya ya :)

    BalasHapus
  29. Dulu waktu awal2 ngeblog pakai blogger. Tapi baru dapet 1 postingan males pake kode HTML trus pindah :)

    BalasHapus
  30. Prinsipnya anak tidak hanya butuh materi. Perhatian dan waktu kita juga mereka butuhkan. Jika dari kecil sudah terbiasa terbuka dengan kita. Besok kalau sudah besar tidak mudah terpengaruh teman, karena jika ada masalah mereka larinya ke orang tua :)

    BalasHapus
  31. Bu Elly Risman pernah menyampaikan katanya pelaku bullying sebenarnya anak-anak yang mengalami masalah di rumah. Disarankan agar anak kita berani stand out dan melawan langsung pelaku bullying. Saya dulu melakukannya ketika SD. Saya lawan anak yang menurut temen-temen paling jagoan dan alhamdulillaah setelah itu bullyingnya berhenti.

    BalasHapus
  32. Bersyukur sekali jika pada akhirnya berani melawan mas. Tetapi pada kenyataannya banyak yang akhirnya tidak PD. Ya, minimal orang tua mendorong anak untuk mau terbuka jika anak menjadi korban bullying hingga permasalah cepat teselesaikan

    BalasHapus
  33. Banyak baca buku2 motivasi ndin. Oya, kamu ndak alergi buku khan :D

    BalasHapus
  34. haha aku baca diinternet aja mba :D

    BalasHapus
  35. Setuju, sebisa mungkin orang tua memang mencegah anaknya terlibat dari lingkaran bullying, entah sebagai korban atau pelakunya. Banyak orang tua yang kurang sadar bahwa apa yang ada disekitar anak bisa mempengaruhi sikap anak tersebut dalam bersosialisasi. Seperti permainan yang mengandung kekerasan (video game atau PC game) atau terpapar sinetron Indonesia yang terkenal suka mengumbar bentuk kekerasan dan ditayangkan di jam keluarga.

    Kadang malah banyak orang tua merasa, saat anak tidak pernah mengeluh tentang teman-temannya, orang tua menganggap anaknya baik-baik saja. Namun setelah diselidiki malah si anak tersebut jadi pelaku bullying. Jadi mudah-mudahan 'awarness' yang dibangun ada dari dua arah. Bukan hanya mencegah munculnya korban tapi juga pelaku. :)

    BalasHapus
  36. wahhh...klo aq mbak, SD dibuli terusss sampe pindah SD masih ttp dibuli...klo pulang ngadu sambil nangsi malah dimarahi Papa trus dsuruh lawan balik pake rante sepeda..haduuuh...g mngkin jglah aku krjain y kan???ckckc...

    BalasHapus
  37. Bener Mba Ika, keterbukaan terhadap orang tua memang penting, paling ga bisa membantu untuk memupuk kepercayaan diri anak ya Mba Ika..

    BalasHapus
  38. Ya, mungkin belum tau masalah Bullying. Jadi penanganannyapun jauh dari solusi :)

    BalasHapus
  39. Betul sekali, setuju mbak Chita. Dan pihak sekolahpun juga mesti peduli ketika ada pengaduan dari pihak wali murid. Ini juga kadang jadi masalah. Guru terlalu dibebani materi ajar sehingga kondisi murid kurang terperhatikan :)

    BalasHapus
  40. hahaha...mngkin papa anggap aku anak cowok kaliii

    BalasHapus
  41. Kunjungan malam....
    Salam kenal

    BalasHapus
  42. Papamu positif thinking kamu bisa nyelesain sendiri kali ya :)

    BalasHapus
  43. hahaha..iy kali...tp hasilnya nggak..anaknya ttp pngecut..g berani nantangin murid satu kelas buat bikin pengadilan di lapangan upacara bndera...

    BalasHapus