Bullying

19.46.00


Beberapa waktu lalu temen saya bercerita tentang konflik dua orang tua saat penerimaan rapor di sekolah anaknya.

Ceritanya ada seorang anak bernama Aulia (bukan nama sebenarnya) mengejek Indah (juga bukan nama sebenarnya) dengan mengatakan cacat gara-gara Indah memiliki kaki penuh koreng.

Singkat cerita Indah bercerita kepada bundanya. Mendengar cerita Indah, sang bunda tidak terima dan hari berikutnya ketika mengantar Indah ke sekolahan, bundanya Indah menemui Aulia dan memarahinya. Karena si Aulia tidak terima dimarahi bundanya Indah, ia pun bercerita ke mamanya.

Nah, kebetulan pas penerimaan rapor kemarin, dua ibu tadi secara tidak sengaja bertemu. Trus, terjadilah pertengkaran yang bisa dibilang memalukan. Gimana tidak memalukan, selain adu mulut, dua ibu tadi juga beradu fisik didepan murid dan wali murid lain :(

Bullying

Para orang tua kadang kurang memahami jika anaknya menjadi korban bullying di sekolah. Olok-olok dari teman sekelasnya kadang dianggap sesuatu yang lumrah pada anak-anak. Artinya hal itu hanya dianggap kenakalan anak-anak biasa. Padahal jika dicermati, tindakan bullying sangat berbahaya.

Contoh kasus bullying yang memakan korban pernah terjadi di Jepang. Yumi (12 tahun), putri keluarga Nakai memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dengan melompat dari kondominium yang ditinggali keluarganya. Keluarga Yumi tak menyangka Yumi akan melakukan tindakan senekad itu. Yumi termasuk anak ayah, ia suka jalan-jalan, pergi berenang dan main sky bersama sang ayah. Dari catatan harian yang ditemukan bundanya, Yuma merasa tertekan oleh ejekan teman-temannya, juga pelajaran di sekolahnya.

Lantas, apa sebenarnya bullying?

Bullying adalah sebuah bentuk kekerasan yang dilakukan oleh individu ataupun kelompok dengan menggunakan kekuasaan yang dimilikinya, sehingga korban merasa tertekan, trauma dan tidak berdaya.

Bullying fisik biasanya berupa tindakan memukul, mencubit menampar ataupun memalak. Sementara bullying verbal berupa makian ataupun ejekkan. Sedangkan bullying dalam bentuk psikologis seperti mengintimidasi, mendiskriminasi, mengabaikan dan mengecilkan.

Apa yang harus dilakukan orang tua?

Beberapa waktu yang lalu anak saya juga menjadi korban bullying. Dia mogok sekolah dan ingin pindah sekolah. Setelah saya bujuk-bujuk, dia bercerita bahwa ada dua teman yang mengancam akan memukulnya jika tidak mau bertukar pensil.

Selain itu, dia juga sering diolok-olok teman tersebut dengan sebutan “Anak TK” karena memiliki postur tubuh yang mungil.

Walaupun pada  akhirnya konflik dapat terselesaikan, tetapi rasa pede anak saya menurun drastis. Dia sering ragu-ragu ketika akan memutuskan sesuatu. Di kelaspun dia cenderung menjadi pendiam.

Minggu-minggu setelah itu, menjadi minggu yang penuh dengan motivasi dan perhatian. Alhamdulillah, saya sedikit lega setelah mendapat sms dari gurunya, "Selamat ya bu, mas Fathiin jadi star of the week untuk minggu ini karena sudah lebih mandiri, semangat, dan bertanggungjawab. Tadi waktu upacara maju kedepan bersama star dari kelas yang lain."

Berdasarkan pengalaman saya, ada beberapa hal yang harus dilakukan orang tua ketika anaknya menjadi korbang bullying.

    Sampaikan permasalahan ini kepada guru dan minta guru untuk membantu menyelesaikan konflik tersebut. Kerjasama dengan pihak sekolah sangat membantu penyelesaian permasalah ini. Yang kadang menjadi masalah, tidak semua sekolah care dengan permasalahn bullying, maka orang tua harus proaktif. Jika guru tidak bisa menyelesaikan permasalahan ini, mintalah pihak sekolah yang lain, misalkan kepala sekolah untuk membantu menyelesaikan permasalahan ini.

    Luangkan waktu mendengarkan keluhannya. Biarkan dia bercerita semua yang dialaminya dari A-Z, jangan diputus. Ketika akan mengajukan pertanyaan, ajukan pertanyaan yang tidak bernada introgatif hingga anak tidak merasa terpojok. Tunjukkan empati pada anak, sehingga ia merasa nyaman.

    Jangan berjanji pada anak jika tidak bisa menepati, anak butuh orang yang dapat diandalkan dan dapat dipercayai.


You Might Also Like

0 komentar