Urban Farming

13.11.00





Urban farming sebenarnya bukanlah ide baru. Jepang tercatat sebagai negara pelopor program ini. Keterbatasan lahan menyebabkan mereka harus berfikir kreatrif bagaimana mengolah lahan sempit dan terbatas agar tetap dapat memenuhi kebutuhan pangan mereka.

Kini karena perkembangan populasi global yang sangat pesat dan sumber daya yang semakin terbatas menjadikan teknik ini banyak diterapkan di beberapa negara. Di Bangkok, atap gedung pemerintahan dimanfaatkan sebagai ladang pertanian yang hasilnya masuk ke kas pengelolaan gedung.

Seperti apa sich pertanian urban?

Pertanian urban merupakan suatu praktik budidaya dan distribusi pangan dengan memanfaatkan lahan kosong ataupun lahan tidur diperkotaan untuk berkebun, beternak dan memelihara ikan.

Gilbert Ellis seorang profesor ilmu lingkungan, kesehatan dan mikrobiologi di Columbia University bersama para mahasiswanya telah mengembangkan program ini sejak tahun 1999. Mereka menyulap atap gedung di Manhattan untuk menggembangkan model pertanian ini. Dan ternyata, padi yang ditanam di beberapa gedung bertingkat di kota itu mampu memenuhi kebutuhan pangan bagi 2% penduduk Manhattan.

Bagaimana cara bertanam ala pertanian urban?



Anda bisa memanfaatkan halaman sempit yang anda miliki dengan menanam aneka sayur dan buah dengan menggunakan media tanam berupa polybag, kaleng bekas biskuit, paralon ataupun bambu. Anda bisa menggunakan teknik vertikultur untuk menyiasati sempitnya lahan.

Jika anda ingin belajar bercocok tanam secara instan, bergabunglah dengan Akademi Berkebun yang dikelola para penggiat Indonesia Berkebun yang dibuka setiap dua bulan sekali. Materi yang diajarkan di akademi ini mulai dari pengenalan jenis-jenis sayuran, cara bercocok tanam, pengendalian hama hingga cara memanennya serta marketingnya.

So, MARKIBUN, Mari Kita Berkebun :)

You Might Also Like

0 komentar