Godaan Dunia

00.53.00



Satu hal yang kadang  membuat saya bête ketika memiliki saudara yang berprofesi sama ialah, kita selalu tidak bisa memilah dan memilih pembicaraan. Kadang pertemuan keluarga yang nota bene acara santai tetep aja ngomongin masalah kerjaan.

Seperti pertemuan keluarga lebaran lalu, dari awalnya basa basi membahas omset penjualan barang-barang lebaran, tak terasa diskusi antara saya, adik laki-laki saya dan ipar laki-laki saya menjurus ke persaingan usaha yang mulai semakin komplek dengan munculnya pemain-pemain baru.

Satu pernyataan adik saya yang diamini ipar saya yang membuat saya sedikit terhenyak ialah ketika mereka bersepakat untuk bahu membahu  “bumi hangus” jika ada pesaing yang mencoba mengusik-usik wilayahnya.



Saya  yang selalu berprinsip “bukan banyaknya, tetapi berkahnya” rasanya sulit menerima teori dari mereka. “Kapitalis”, batin saya

Tiba-tiba saya teringat sebuah hadist yang selalu menjadi pegangan saya ketika hubbud dunia begitu bergejolak hebat.

عَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا تَزُولُ قَدَمُ ابْنِ آدَمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ عِنْدِ رَبِّهِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ خَمْسٍ عَنْ عُمُرِهِ فِيمَ أَفْنَاهُ وَعَنْ شَبَابِهِ فِيمَ أَبْلَاهُ وَمَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَ أَنْفَقَهُ وَمَاذَا عَمِلَ فِيمَا عَلِمَ - رواه الترمذي



Dari Ibnu Mas’ud ra bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Tidak akan dapat bergerak tapak kaki anak cucu Adam pada hari kiamat di sisi Allah SWT, hingga ia ditanya tentang lima perkara ; umurnya untuk apa dihabiskannya, masa mudanya digunakan untuk apa, hartanya dari mana ia memperolehnya, kemana ia belanjakannya, dan ilmunya apakah diamalkannya? (HR. Turmudzi).

Saya hanya membayangkan tatkala saya berdiri dimahkamah tertinggi kelak, mampukah saya mempertanggungjawabkan harta yang ada dalam genggaman saya?

Bukan hanya banyaknya, tapi caranya dan kemananya.

Mampukah diri ini meneladani sahabat Usman bin Affan seperti apa yang dikisahkan oleh Ibnu Abbas ra.

Suatu ketika disaat Abu Bakar menjadi khalifah, Hijaz terancam kelaparan. Madinah mengalami paceklik dan kesulitan memperoleh bahan-bahan makanan. Situasi ini menyebabkan aktivitas jual-beli di pasar sepi.

Datanglah serombongan kafilah Utsman bin Affan dari Syam. Kafilah terdiri dari 1000 ekor unta yang membawa gandum, minyak zaitun, kismis dan barang-barang lain yang diperlukan penduduk Madinah.

Para pedagang dan tengkulak langsung menyerbu Utsman bin Affan untuk membeli barang bawaannya.

“Apa yang kalian inginkan?” tanya Utsman

“Juallah barang dagangan itu kepada kami,” jawab salah seorang pedagang mewakili teman-temannya.

“Berapa keuntungan yang akan engkau berikan kepadaku?”

“Satu dirham,” jawab salah seorang diantara mereka.

“Dua dirham,” susul yang lain.

“Bisakah kalian menambahkan?” tanya Utsman

“Baik, empat dirham, bagaimana?”

“Bisakah ditambah lagi?” tanya Utsman

“Lima dirham!”

“Bisakah kalian menambahkannya lagi?” tanya Utsman

“Di madinah ini tidak ada pedagang selain kami. Siapakah yang akan memberikan keuntungan yang lebih besar dari kami?”  kata salah seorang pedagang.

“Allah SWT memberiku keuntungan sepuluh dirham untuk setiap satu dirham. Apakah kalian berani lebih dari sepuluh dirham?” tanya Utsman.

Karena tak ada satupun pedagang yang menyanggupi, maka Utsman berkata, “Kalau begitu, saksikanlah, bahwa semua barang dagangan dan bahan makanan yang aku bawa dari Syam, aku sedekahkan kepada seluruh fakir miskin dan penduduk Madinah yang membutuhkan. Ini aku lakukan karena Allah semata.”

ALLAHU AKBAR!!!

You Might Also Like

39 komentar

  1. iya mbak ika, saya sepakat sekali. Kadang kalau bahas pekerjaan jatuhnya ya ke gengsi dan mengabaikan berkahnya. hmmm..

    BalasHapus
  2. Inspirasi nih untuk menjalani rutinitas dalam berbisnis.

    BalasHapus
  3. Alhamdulillah, belajar dari para orang2 shalih. Biar hidup lebih nikmat :)

    BalasHapus
  4. Kadang juga orang menganggap rejeki hanya berupa harta.

    BalasHapus
  5. semoga kita bisa meneladani ya mbak...

    BalasHapus
  6. Aaamiiin,, mudah2an bisa diaplikasikan. Jika tidak hati2 dunia sering menjauhkan dari sang kholiq.

    BalasHapus
  7. Aamiin, semoga Mbak, kl sudah jauh denganNya, mau jadi apa kita?

    BalasHapus
  8. Tapi kayaknya yang sadar makin dikit :( Dan mudah2an kita termasuk yang sedikit itu Aaamiiin

    BalasHapus
  9. Jika semua saudagar seperti Utsman, tidak akan ada cerita rakyat miskin yang kelaparan..

    BalasHapus
  10. "Ini aku lakukan karena Allah semata" Subhanallah :')

    BalasHapus
  11. Itulah jika kecintaan pada Allah melebihi apapun di dunia ini

    BalasHapus
  12. Betul,, ndak usah banyak2. Cukup 5 orang seperti Utsman dan Abdurrahman bin Auf, Insya Allah Indonesia makmur. Ndak ada lagi berita busung lapar dan kemiskinan :)

    BalasHapus
  13. Iya Mba Ika. Cukup 5 orang saja.. Kalo begitu sekarang belom ada ya Mba Ika?
    Mulai dari diri sendiri dulu aja ya.. :D
    Maturnuwun Mba Ika.. :)

    BalasHapus
  14. Kaya'nya belum ada yang betul2 tulus. Kalo yang peduli rakyat kecil karena mau maju di Pilpres kaya'nya sudah ada pa :D

    BalasHapus
  15. teladan yang indah sekali
    tfs mbak

    BalasHapus
  16. teladan yang indah sekali
    trims sudah berbagi mbak

    BalasHapus
  17. Saya setuju! Cukup 5 orang seperti Utsman dan Abdurrahman bin Auf, Insya Allah Indonesia makmur. Ndak ada lagi berita busung lapar dan kemiskinan
    Sayangnya negara ini sudah menjadi negara bulan-bulanan para pejabat, yang menciptakan kemiskinan.

    Terima kasih tela mengunjungi halaman saya mbak Ika.

    salam hangat,
    mei

    BalasHapus
  18. Iya mbak, sama2. Terimakasih juga kunjungan baliknya :)

    BalasHapus
  19. Iya, sangat indah. Tinggal sekarang bagaimana kita bisa mencontoh.

    BalasHapus
  20. Godaan dunia memang benar2 berats. Tak hanya puas pada kondisi serba ada, malah menginginkan kondisi yang berkelebihan.
    Semoga kita bisa meneladani kisah2 para sahabat Rasul dan orang2 terdahulu. :)

    BalasHapus
  21. Iya,, kadang sudah berlebih juga masih kurang. Mudah2an kita termasuk yang terjaga dari fitnah dunia

    BalasHapus
  22. smg semua pedagang berfikir sama ya jeng, eh perdana mampir dimarih, adem liat yg hejo2, lam kenal yaaa :D

    BalasHapus
  23. Kunjungan slaturahmi....blog yang bagus

    BalasHapus
  24. Aaamiin, mudah2an. Terimakasih sudah mampir ya :) Oya, kalo liat yang ijo2, matanya jng ijo ya :D

    BalasHapus
  25. subhanallah.... mampu gak ya seperti utsman... semoga Allah menggerakkan hati saya supaya bisa seperti itu... makasih sharingnya mbak.. salam kenal yaaa

    BalasHapus
  26. Subhanallah....bener banget mb ika...aku maknyess banget baca ini...'media pengingat diri' makasih ya mb...Barakallah... :)

    BalasHapus
  27. Insya Allah mampu,, terimaksih kunjungan baliknya :)

    BalasHapus
  28. patut diteladani ya mbak :)

    BalasHapus
  29. yg pokok mmg brkahnya ya mb...

    BalasHapus
  30. Iya, asal berkah biarpun sedikit Insya Allah cukup :)

    BalasHapus
  31. bukan banyaknya, tapi berkahnya
    dan rezeki tak selalu berujud harta

    setuju sekali, Mbak Ika, salam kenal ya...

    BalasHapus
  32. kalo pake acara saing-saingan ga sehat kan biasanya diikuti oleh kecurangan. ya, semua tergantung pebisnisnya sendiri sih. smoga selalu dekat dengan Allah sehingga terhindar dari perilaku merugikan seperti itu ;)

    BalasHapus
  33. Iya,, biasanya harga jualnya dirusak. Siapa yang kuat ya dialah yang menang. Tapi kadang kalo gitu malah jadi was2. Takut salah itungan. Btw, tapi itu pilihan, kalo saya pilih yang berkah, yang ndak nyakitin orang lain :)

    BalasHapus
  34. I do believe all the concepts you've offered to your post. They are very convincing and can certainly work. Nonetheless, the posts are too brief for beginners. May you please prolong them a bit from subsequent time? Thanks for the post.

    BalasHapus