Godaan Dunia

19.37.00


Satu hal yang kadang  membuat saya bête ketika memiliki saudara yang berprofesi sama ialah, kita selalu tidak bisa memilah dan memilih pembicaraan. Kadang pertemuan keluarga yang nota bene acara santai tetep aja ngomongin masalah kerjaan.

Seperti pertemuan keluarga lebaran lalu, dari awalnya basa basi membahas omset penjualan barang-barang lebaran, tak terasa diskusi antara saya, adik laki-laki saya dan ipar laki-laki saya menjurus ke persaingan usaha yang mulai semakin komplek dengan munculnya pemain-pemain baru.

Satu pernyataan adik saya yang diamini ipar saya yang membuat saya sedikit terhenyak ialah ketika mereka bersepakat untuk bahu membahu  “bumi hangus” jika ada pesaing yang mencoba mengusik-usik wilayahnya.

Saya  yang selalu berprinsip “bukan banyaknya, tetapi berkahnya” rasanya sulit menerima teori dari mereka. “Kapitalis”, batin saya

Tiba-tiba saya teringat sebuah hadist yang selalu menjadi pegangan saya ketika hubbud dunia begitu bergejolak hebat.
عَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا تَزُولُ قَدَمُ ابْنِ آدَمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ عِنْدِ رَبِّهِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ خَمْسٍ عَنْ عُمُرِهِ فِيمَ أَفْنَاهُ وَعَنْ شَبَابِهِ فِيمَ أَبْلَاهُ وَمَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَ أَنْفَقَهُ وَمَاذَا عَمِلَ فِيمَا عَلِمَ - رواه الترمذي


Dari Ibnu Mas’ud ra bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Tidak akan dapat bergerak tapak kaki anak cucu Adam pada hari kiamat di sisi Allah SWT, hingga ia ditanya tentang lima perkara ; umurnya untuk apa dihabiskannya, masa mudanya digunakan untuk apa, hartanya dari mana ia memperolehnya, kemana ia belanjakannya, dan ilmunya apakah diamalkannya? (HR. Turmudzi).

Saya hanya membayangkan tatkala saya berdiri dimahkamah tertinggi kelak, mampukah saya mempertanggungjawabkan harta yang ada dalam genggaman saya?

Bukan hanya banyaknya, tapi caranya dan kemananya.

Mampukah diri ini meneladani sahabat Usman bin Affan seperti apa yang dikisahkan oleh Ibnu Abbas ra.

Suatu ketika disaat Abu Bakar menjadi khalifah, Hijaz terancam kelaparan. Madinah mengalami paceklik dan kesulitan memperoleh bahan-bahan makanan. Situasi ini menyebabkan aktivitas jual-beli di pasar sepi.

Datanglah serombongan kafilah Utsman bin Affan dari Syam. Kafilah terdiri dari 1000 ekor unta yang membawa gandum, minyak zaitun, kismis dan barang-barang lain yang diperlukan penduduk Madinah.

Para pedagang dan tengkulak langsung menyerbu Utsman bin Affan untuk membeli barang bawaannya.

“Apa yang kalian inginkan?” tanya Utsman

“Juallah barang dagangan itu kepada kami,” jawab salah seorang pedagang mewakili teman-temannya.

“Berapa keuntungan yang akan engkau berikan kepadaku?”

“Satu dirham,” jawab salah seorang diantara mereka.

“Dua dirham,” susul yang lain.

“Bisakah kalian menambahkan?” tanya Utsman

“Baik, empat dirham, bagaimana?”

“Bisakah ditambah lagi?” tanya Utsman

“Lima dirham!”

“Bisakah kalian menambahkannya lagi?” tanya Utsman

“Di madinah ini tidak ada pedagang selain kami. Siapakah yang akan memberikan keuntungan yang lebih besar dari kami?”  kata salah seorang pedagang.

“Allah SWT memberiku keuntungan sepuluh dirham untuk setiap satu dirham. Apakah kalian berani lebih dari sepuluh dirham?” tanya Utsman.

Karena tak ada satupun pedagang yang menyanggupi, maka Utsman berkata, “Kalau begitu, saksikanlah, bahwa semua barang dagangan dan bahan makanan yang aku bawa dari Syam, aku sedekahkan kepada seluruh fakir miskin dan penduduk Madinah yang membutuhkan. Ini aku lakukan karena Allah semata.”

ALLAHU AKBAR!!!


You Might Also Like

0 komentar