Benarkah Suju lebih hebat dari Muhammad Al Fatih

21.56.00

Dari Abdullah ibnu Amru ibnu Al ‘Ash. Suatu ketika, sahabat Rasulullah SAW yang zuhud, putra penakluk Mesir itu pernah bertanya,“Manakah yang lebih dulu dibebaskan, Konstantinopel ataukah Roma? Rasulluah menjawab “Kota Heraclius lebih dulu.Yang menaklukkannya adalah sebaik-baik pasukkan dan pemimpinnya adalah sebaik-baik panglima” (HR Ahmad bin Hanbal)


Hadist yang disampaikan Asy-Syeikh Aaq Syamsuddin kali ini menggugah jiwa Muhammad Al-Fatih kecil, menggelorakan semangatnya untuk merebut konstantinopel.



Kalaupun tidak bisa menjadi sebaik-baik panglima paling tidak ikut dalam barisan sebaik-baik pasukan pikirnya.

Kamis, 26 Rabiul Awal 857 H pasukan Sulthan Al-Fatih tiba di Konstantinopel. Dia berdiri dihadapan pasukkannya dan mulai berkhutbah.

“Saudara-saudaraku dijalan ALLAH.”

“Amanah yang dipikulkan ke pundak kita menuntut hanya yang terbaik yang layak mendapatkannya.”

“700 tahun lamanya nubuat Rasulullah telah menggerakkan para mujahid tangguh, tetapi ALLAH belum mengijinkan mereka memenuhinya”

“Aku katakan pada kalian sekarang, yang pernah meninggalkan shalat fardhu sejak balighnya silahkan duduk”

Begitu sunyi, tak seorangpun bergerak.

“Yang pernah meninggalkan puasa Ramadhan silahkan duduk.”

Hening…….

“Yang pernah mengkhatamkan Al Qur’an melebihi satu bulan silahkan duduk.”

Beberapa gelintir orang menekuk kaki (duduk).

“Yang pernah kehilanggan hafalan Al Qur’annya silahkan duduk.”

Banyak yang menangis sedih dan terduduk.

“Yang pernah meninggalkan shalat malam sejak balighnya silahkan duduk.”

Tinggal sedikit yang berdiri.

“Yang pernah meninggalkan puasa Ayyamul Bidh silahkan duduk.”

Tinggal satu orang yang berdiri dan ia adalah Muhammad Al-Fatih.

…..0O0…..



Muhammad Al Fatih merupakan sosok pemuda luar biasa yang terlupakan oleh generasi muda saat ini. Sosoknya mungkin kalah tenar dengan Suju (Super Junior) ataupun boyband lain dan mungkin banyak dari generasi kita yang tidak mengenal sosoknya.

Bangsa besar adalah bangsa yang tidak  melupakan sejarah. Bangsa yang tidak melupakan pahlawannya. Dan sesungguhnya sejarah Islam telah menorehkan begitu banyak tinta emas dan sosok-sosok panutan yang patut kita contoh.

Muhammad Al Fatih adalah sosok luar biasa, menjadi Sultan Turki Utsmani pada usia 22 tahun dan menaklukkan benteng konstantinopel pada usia 24 tahun.

Ada beberapa hal yang bisa kita pelajari dari kesuksesan Muhammad Al Fatih diantaranya;

  • Visi besar orang tua


Para khalifah dan pemimpin Islam selalu berusaha menaklukkan Kostantinopel. Usaha pertama dilancarkan tahun 44 H di zaman Mu’awiyah bin Abi Sufyan Radhiallahu ‘anhu. Akan tetapi, usaha itu gagal. Upaya yang sama juga dilakukan pada zaman Khilafah Umayyah. Di zaman pemerintahan Abbasiyyah, beberapa usaha diteruskan tetapi masih menemui kegagalan termasuk di zaman Khalifah Harun al-Rasyid tahun 190 H.



Selepas daulah Utsmaniyyah mencapai perkembangan yang lebih maju, semangat berjihad kembali bergelora. Hasrat dan kesungguhan ditunjukkan oleh Sultan Murad II yang tak lain adalah ayahanda Sultan Muhammad Al Fatih. Perjuangan Sultan Murad II mengalami kegagalan.


Hingga visi besar itu beliau tanamkan dalam diri Muhammad Al Fatih kecil sehingga menimbulkan keinginan yang kuat baginya meneruskan cita-cita ayahandanya.

  • Belajar Al Qur’an sebelum belajar yang lain


Sebelum belajar kepada Syeikh Aaq Syamsuddin (Syeikh Ak Samsettin) tentang ilmu agama, matematika, falak, sejarah dan ilmu peperangan, beliau belajar Al Qur’an pada Syeikh Al-Kurani. Ayahnya memberi kuasa kepada  Syeikh Al-Kurani untuk memukul Muhammad Al Fatih jika membantah perintah gurunya.

Selain Muhammad Al Fatih beberapa penghafal Al Qur'an mempunyai prestasi gemilang. Dan inilah sebagian penghafal Al Qur’an yang mempunyai prestasi gemilang;

Imam Syafi’I (150 H-240 H), hafal Al Qur’an diusia 7 tahun dan pada usia 10 tahun beliau sudah hafal kitab hadist Al Muwatha’ karya Imam Malik bin Anas.


Imam Ath-Thabari (224 H-310 H), hafal Al Qur’an diusia 7 tahun, usia 8 tahun menjadi imam shalat dan mulai menulis hadist pada usia 9 tahun.


Ibnu Qudamah (541 H-620 H), hafal Al Qur’an diusia 1 0 tahun


Ibnu Sina (370 H-428 H), hafal Al Qur’an diusia 5 tahun. Umur 8 tahun mempelajari metafisika.


Imam Nawawi hafal Al Qur’an sebelum baligh


Imam Ahmad bin Hambal hafal Al Qur’an sejak kecil.


Ibnu Khaldun (732 H-808 H) hafal Al Qur’an usia 7 tahun


As- Suyuthi (w;911 H) hafal Al Qur’an umur 8 tahun, umur 15 tahun hafal kitab al-Umdah, Minhaj al- Fiqh wa al Ushul, Alfiyah ibn malik.


Umar bin Abdul Aziz hafal Al Qur’an saat masih kecil.


Ibnu Hajar al Atsqalani (w:852 H)  hafal Al Qur’an usia 9 tahun.


Jika kita amati daftar diatas, maka akan kita temukan bahwasanya tidak semua penghafal Al Qur’an hanya berkutat pada ilmu-ilmu agama.

Di dunia barat Ibnu Sina lebih dikenal dengan nama Avicenna, seorang ilmuwan, filsuf dan juga dokter. Beliau adalah bapak pengobatan modern dimana karya-karyanya menjadi rujukkan di bidang kedokteran selama berabad-abad. Beliau ilmuwan multidisipliner yang telah mengarang 450 buku mengenai bidang kimia, fisika, kedokteran, sastra, theology, psikologi, astronomi, geologi, music, politik, engineering  dan filsafat.

Ibnu Khaldun seorang sejarawan, sosiolog dan ekonom muslim yang teori-teorinya masih hidup hingga hari ini.

Imam Syafi’i terlahir dengan nama Abu Abdillah Muhammad bin Idris bin Al-Abbas bin Ustman bin Syafi’i bin al-Sa’ib bin ‘Ubaid bin Abd Yazid bin Hasyim bin Muthalib bin Abdi Manaf. Imam Syafi’i satu-satunya imam mazhab yang memiliki nasab murni Arab dan bersambung dengan nasab Rasulullah pada moyangnya, Abdi Manaf. Pada usia 15 tahun Imam Syafi'i sudah memberi fatwa.

Umar bin Abdul Aziz menjadi gubernur Madinah pada usia 23 tahun.

Sultan Muhammad Al Fatih sendiri menjadi Sultan Turki Utsmani pada usia 22 tahun dan menaklukkan benteng konstantinopel pada usia 24 tahun.

  • Pendidikan yang berkualitas


Sejarah Islam telah membuktikan bahwa sistem pendidikan Islam telah mencetak sosok yang luar biasa di usia yang sangat muda. Dan inilah sistem pendidikan Islam yang telah mencetak generasi emas;

- 8-10 tahun hafal Al qur’an 30 juz.

- Belasan tahun hafal kitab hadist, fiqih, bahasa dan ilmu-ilmu lainnya.

- 20an tahun menjadi orang besar di masyarakat dengan prestasi gemilang.

Sejak kecil, Sulthan Murad II ayah Al-Fatih telah memilihkan guru yang luar biasa. Seperti kita ketahui setelah Al Fatih belajar Al Qur'an pada Syeikh Al-Kurani beliau belajar pada Syeikh Aaq Syamsuddin (Syeikh Ak Samsettin).

Nama asli Syeikh Aaq Syamsuddin (Syeikh Ak Samsettin) adalah Muhammad bin Hamzah Ad-Dimasyqi Ar-Rumi. Nasabnya bersambung dengan Khalifah Abu Bakar. Beliau telah hafal Al Qur'an diusia 7 tahun.

Syeikh Aaq Syamsuddin (Syeikh Ak Samsettin)  mengajar Al-Qur'an, As-Sunah, fikih, ilmu Islam dan bahasa. Beliau menguasai 6 bahasa diantaranya; Arab, Persia dan Turki. Beliau juga mengajar sejarah, astronomi, matematika dan seni berperang.

Al Fatih memiliki guru yang luar biasa. Tidak hanya mengajar, Syeikh Aaq Syamsuddin (Syeikh Ak Samsettin)lah yang menemukan potensi yang dimiliki Al Fatih. Beliaulah yang meyakinkan Al Fatih bahwa Al Fatihlah yang dimaksudkan oleh Rasulullah SAW dalam hadist diatas.



 

 

 

Referensi

-          Wikipedia

-          Biografi Imam Syafi’i oleh Dr Tariq Suwaidan

-          www.cahayasiroh.com

Gambar diambil disini

You Might Also Like

19 komentar

  1. mungkin karena sudah berbeda masa, generasi dan kondisi zaman, jadi banyak yang melihat sejarah hanya sebatas sejarah saja. sekedar tau bahwa pada zaman dulu ada cerita ini itu, ada sosok orang hebat dg kelebihan ini itu juga. that's it ... jarang ada yang menjadikannya figur idola yang digilai seperti boyband sekarang.

    aku termasuk ga yaaaaa??? :-P

    BalasHapus
  2. Kalo ngga salah, Muhammad Al Fatih sudah hafal Al-Qur'an sejak usia 16 tahun. Menjadi Sultan pada usia 19 tahun dan menaklukan Konstantinopel pada usia 21 tahun.

    Sultan Mehmed II alias Muhammad Al Fatih is a great leader!

    BalasHapus
  3. Yap, great leader. Terimakasih sudah mampir :)

    BalasHapus
  4. Saat ini baru setengah buku yang saya baca tt Sultan Mehmed II ini, pengen buru2 nyelesein :)

    BalasHapus
  5. Siip, saya terispirasi banget sama Muhammad Al Fatih.

    BalasHapus
  6. ceritanya memang menginsirasi.

    BalasHapus
  7. Bersyukur nemu blog ini Mba Ika. Bermangaat banget bagi-bagi ilmunya. Menangis terharu bacanya. Kalau suju mah, emang mereka hebat? suka geleng-geleng kepala ngelihat ada yang lari-lari ngejar ato antri nonton konsernya. Hehehehe... :)

    BalasHapus
  8. Suju bagi saya secara subyektif sich ndak hebat. Cuman sekarang ini mereka menjadi icon dan idola buat anak muda masa kini. Saya mencoba membandingkan idola masa kini dengan pemuda2 Islam jaman dulu. Kita bisa mengatakan sesuatu lebih baik khan dasarnya sesuatu itu dibandingkan dengan yang lain. Oya, saya tunggu kritikan atas tulisan-tulisan saya ya mas dani :)

    BalasHapus
  9. Aku udah nonton tuh filmnya, di buat sendiri oleh sineas Turki, tp byk negara negara barat yg menentang filmnya

    BalasHapus
  10. Ada filmnya ya,, kebetulan itu judul buku. Malah belum tau kalo ada film dengan judul yang sama :)

    BalasHapus
  11. Nice post.

    Sangat miris kegemilangan yg pernah ditorehkan pahlawan2 islam terkubur krna ktidakpedulian kita akan pentingnya sejarah.
    hingga kita tidak mengenal sejarah agama kita sendiri.

    Mari songsong kebangkitan islam..

    BalasHapus
  12. Yuk,, mulai dari diri kita sendiri ya :)

    BalasHapus
  13. mungkin para pemuda masa kini yang ngefans sama suju dikarekan kurangnya pendidikan pengetahuan tentang orang orang hebat jaman dulu,pelajaran disekolah juga kurang begitu menjelaskan sejarah islam, malah lebih memihak barat, contohnya dengan lebih menjelaskan tentang cristoper columbus dan perang salib, padahal sejarah positif lainnya masih banyak.

    BalasHapus
  14. Betul sekali,, pendalaman sejarah islam masih sangat2 kurang. Entah karena fasilitas kurang mendukung atau minat terhadap sejarah kurang. Padahal membaca sejarah ternyata mengasyikkan. Bisa belajar dari kesuksesan orang-orang terdahulu.

    BalasHapus
  15. ada satu garis yang perlu kita cermati. mmm (entah benar atau enggak), sy kok merasa bhs saat ini, kita ini terlalu terkotak - kotak dengan definisi anak -anak versi textbooklah, ksepakatan lah dll. mengingat pada jaman dulu, pemuda yang kalau sekarang dibilang anak -anak sudah menorehkan prestasi luar biasa, sementara sekarang mereka masih dibilang anak -anak, belum bisa dibilang bertanggungjawab sm dirinya sendiri. bukannya itu malah "mengkerdilkan" anak2 jaman sekarang? jaman dulu umur delapan th sudah blajar perang, sekarang masih ngefans koboi junior. :) teruslah menulis begini mbak.

    BalasHapus
  16. Anak2 jaman dulu jauuuuuh lebih dewasa daripada anak2 sekarang.

    BalasHapus
  17. Aslkm, Bu,

    Sekalian kalau ibu bisa bantu saranin ke Team Creator Google Doodle agar tanggal 29 Mei 2014 Besok dimunculkan icon Alfatih2, saya sudah coba tapi belum tahu hasilnya, kita tunggu aja hari H nya. Sekalian sharing memang benar mendidik anak muda sekarang jauh lebih berat dan tantangan yang mereka hadapi dari anak muda jaman dahulu, tapi selama kita masih berpegang pada agama Allah, maka seperti janji-Nya dalam salah satu ayat Qur'an; "kita sudah berpegang pada buhul tali yang kokoh dan tidak akan putus". Demikian, Bu Jzklh atas web nya.

    BalasHapus
  18. Pengen ikutan berpartisipasi tapi saya nggak tahu caranya utk memberi saran team creator google doodle

    BalasHapus