Benarkah Suju lebih hebat dari Muhammad Al Fatih

19.59.00

Dari Abdullah ibnu Amru ibnu Al ‘Ash. Suatu ketika, sahabat Rasulullah SAW yang zuhud, putra penakluk Mesir itu pernah bertanya,“Manakah yang lebih dulu dibebaskan, Konstantinopel ataukah Roma? Rasulluah menjawab “Kota Heraclius lebih dulu.Yang menaklukkannya adalah sebaik-baik pasukkan dan pemimpinnya adalah sebaik-baik panglima” (HR Ahmad bin Hanbal)

Hadist yang disampaikan Asy-Syeikh Aaq Syamsuddin kali ini menggugah jiwa Muhammad Al-Fatih kecil, menggelorakan semangatnya untuk merebut konstantinopel.

Kalaupun tidak bisa menjadi sebaik-baik panglima paling tidak ikut dalam barisan sebaik-baik pasukan pikirnya.

Kamis, 26 Rabiul Awal 857 H pasukan Sulthan Al-Fatih tiba di Konstantinopel. Dia berdiri dihadapan pasukkannya dan mulai berkhutbah.

“Saudara-saudaraku dijalan ALLAH.”

“Amanah yang dipikulkan ke pundak kita menuntut hanya yang terbaik yang layak mendapatkannya.”

“700 tahun lamanya nubuat Rasulullah telah menggerakkan para mujahid tangguh, tetapi ALLAH belum mengijinkan mereka memenuhinya”

“Aku katakan pada kalian sekarang, yang pernah meninggalkan shalat fardhu sejak balighnya silahkan duduk”

Begitu sunyi, tak seorangpun bergerak.

“Yang pernah meninggalkan puasa Ramadhan silahkan duduk.”

Hening…….

“Yang pernah mengkhatamkan Al Qur’an melebihi satu bulan silahkan duduk.”

Beberapa gelintir orang menekuk kaki (duduk).

“Yang pernah kehilanggan hafalan Al Qur’annya silahkan duduk.”

Banyak yang menangis sedih dan terduduk.

“Yang pernah meninggalkan shalat malam sejak balighnya silahkan duduk.”

Tinggal sedikit yang berdiri.

“Yang pernah meninggalkan puasa Ayyamul Bidh silahkan duduk.”

Tinggal satu orang yang berdiri dan ia adalah Muhammad Al-Fatih.

…..0O0…..



Muhammad Al Fatih merupakan sosok pemuda luar biasa yang terlupakan oleh generasi muda saat ini. Sosoknya mungkin kalah tenar dengan Suju (Super Junior) ataupun boyband lain dan mungkin banyak dari generasi kita yang tidak mengenal sosoknya.

Bangsa besar adalah bangsa yang tidak  melupakan sejarah. Bangsa yang tidak melupakan pahlawannya. Dan sesungguhnya sejarah Islam telah menorehkan begitu banyak tinta emas dan sosok-sosok panutan yang patut kita contoh.

Muhammad Al Fatih adalah sosok luar biasa, menjadi Sultan Turki Utsmani pada usia 22 tahun dan menaklukkan benteng konstantinopel pada usia 24 tahun.

Ada beberapa hal yang bisa kita pelajari dari kesuksesan Muhammad Al Fatih diantaranya;

Visi besar orang tua
Para khalifah dan pemimpin Islam selalu berusaha menaklukkan Kostantinopel. Usaha pertama dilancarkan tahun 44 H di zaman Mu’awiyah bin Abi Sufyan Radhiallahu ‘anhu. Akan tetapi, usaha itu gagal. Upaya yang sama juga dilakukan pada zaman Khilafah Umayyah. Di zaman pemerintahan Abbasiyyah, beberapa usaha diteruskan tetapi masih menemui kegagalan termasuk di zaman Khalifah Harun al-Rasyid tahun 190 H.


Selepas daulah Utsmaniyyah mencapai perkembangan yang lebih maju, semangat berjihad kembali bergelora. Hasrat dan kesungguhan ditunjukkan oleh Sultan Murad II yang tak lain adalah ayahanda Sultan Muhammad Al Fatih. Perjuangan Sultan Murad II mengalami kegagalan.

Hingga visi besar itu beliau tanamkan dalam diri Muhammad Al Fatih kecil sehingga menimbulkan keinginan yang kuat baginya meneruskan cita-cita ayahandanya.

Belajar Al Qur’an sebelum belajar yang lain
Sebelum belajar kepada Syeikh Aaq Syamsuddin (Syeikh Ak Samsettin) tentang ilmu agama, matematika, falak, sejarah dan ilmu peperangan, beliau belajar Al Qur’an pada Syeikh Al-Kurani. Ayahnya memberi kuasa kepada  Syeikh Al-Kurani untuk memukul Muhammad Al Fatih jika membantah perintah gurunya.

Selain Muhammad Al Fatih beberapa penghafal Al Qur'an mempunyai prestasi gemilang. Dan inilah sebagian penghafal Al Qur’an yang mempunyai prestasi gemilang;

Imam Syafi’I (150 H-240 H), hafal Al Qur’an diusia 7 tahun dan pada usia 10 tahun beliau sudah hafal kitab hadist Al Muwatha’ karya Imam Malik bin Anas.

Imam Ath-Thabari (224 H-310 H), hafal Al Qur’an diusia 7 tahun, usia 8 tahun menjadi imam shalat dan mulai menulis hadist pada usia 9 tahun.

Ibnu Qudamah (541 H-620 H), hafal Al Qur’an diusia 1 0 tahun

Ibnu Sina (370 H-428 H), hafal Al Qur’an diusia 5 tahun. Umur 8 tahun mempelajari metafisika.

Imam Nawawi hafal Al Qur’an sebelum baligh

Imam Ahmad bin Hambal hafal Al Qur’an sejak kecil.

Ibnu Khaldun (732 H-808 H) hafal Al Qur’an usia 7 tahun

As- Suyuthi (w;911 H) hafal Al Qur’an umur 8 tahun, umur 15 tahun hafal kitab al-Umdah, Minhaj al- Fiqh wa al Ushul, Alfiyah ibn malik.

Umar bin Abdul Aziz hafal Al Qur’an saat masih kecil.

Ibnu Hajar al Atsqalani (w:852 H)  hafal Al Qur’an usia 9 tahun.

Jika kita amati daftar diatas, maka akan kita temukan bahwasanya tidak semua penghafal Al Qur’an hanya berkutat pada ilmu-ilmu agama.

Di dunia barat Ibnu Sina lebih dikenal dengan nama Avicenna, seorang ilmuwan, filsuf dan juga dokter. Beliau adalah bapak pengobatan modern dimana karya-karyanya menjadi rujukkan di bidang kedokteran selama berabad-abad. Beliau ilmuwan multidisipliner yang telah mengarang 450 buku mengenai bidang kimia, fisika, kedokteran, sastra, theology, psikologi, astronomi, geologi, music, politik, engineering  dan filsafat.

Ibnu Khaldun seorang sejarawan, sosiolog dan ekonom muslim yang teori-teorinya masih hidup hingga hari ini.

Imam Syafi’i terlahir dengan nama Abu Abdillah Muhammad bin Idris bin Al-Abbas bin Ustman bin Syafi’i bin al-Sa’ib bin ‘Ubaid bin Abd Yazid bin Hasyim bin Muthalib bin Abdi Manaf. Imam Syafi’i satu-satunya imam mazhab yang memiliki nasab murni Arab dan bersambung dengan nasab Rasulullah pada moyangnya, Abdi Manaf. Pada usia 15 tahun Imam Syafi'i sudah memberi fatwa.

Umar bin Abdul Aziz menjadi gubernur Madinah pada usia 23 tahun.

Sultan Muhammad Al Fatih sendiri menjadi Sultan Turki Utsmani pada usia 22 tahun dan menaklukkan benteng konstantinopel pada usia 24 tahun.

Pendidikan yang berkualitas
Sejarah Islam telah membuktikan bahwa sistem pendidikan Islam telah mencetak sosok yang luar biasa di usia yang sangat muda. Dan inilah sistem pendidikan Islam yang telah mencetak generasi emas;

- 8-10 tahun hafal Al qur’an 30 juz.

- Belasan tahun hafal kitab hadist, fiqih, bahasa dan ilmu-ilmu lainnya.

- 20an tahun menjadi orang besar di masyarakat dengan prestasi gemilang.

Sejak kecil, Sulthan Murad II ayah Al-Fatih telah memilihkan guru yang luar biasa. Seperti kita ketahui setelah Al Fatih belajar Al Qur'an pada Syeikh Al-Kurani beliau belajar pada Syeikh Aaq Syamsuddin (Syeikh Ak Samsettin).

Nama asli Syeikh Aaq Syamsuddin (Syeikh Ak Samsettin) adalah Muhammad bin Hamzah Ad-Dimasyqi Ar-Rumi. Nasabnya bersambung dengan Khalifah Abu Bakar. Beliau telah hafal Al Qur'an diusia 7 tahun.

Syeikh Aaq Syamsuddin (Syeikh Ak Samsettin)  mengajar Al-Qur'an, As-Sunah, fikih, ilmu Islam dan bahasa. Beliau menguasai 6 bahasa diantaranya; Arab, Persia dan Turki. Beliau juga mengajar sejarah, astronomi, matematika dan seni berperang.

Al Fatih memiliki guru yang luar biasa. Tidak hanya mengajar, Syeikh Aaq Syamsuddin (Syeikh Ak Samsettin)lah yang menemukan potensi yang dimiliki Al Fatih. Beliaulah yang meyakinkan Al Fatih bahwa Al Fatihlah yang dimaksudkan oleh Rasulullah SAW dalam hadist diatas.

Referensi

-          Wikipedia

-          Biografi Imam Syafi’i oleh Dr Tariq Suwaidan

-          www.cahayasiroh.com

Gambar diambil disini

You Might Also Like

0 komentar