Strengthen The Image

12.00.00

Membaca postingan Om Trainer yang berjudul “Double the Usage” menginspirasi saya untuk membuat analisa “sotoy” ala Om Trainer :lol:

Ada sebuah produk yang memiliki konsumen sangat sangat sangat loyal. Mengapa saya katakan sangat-sangat loyal?

Jika produk lain tidak memberi penjelasan secara gamblang efek samping produknya, produk ini jelas-jelas mencantumkan efek samping serta masalah yang akan timbul jika menggunakannya.

Tapi anehnya, konsumen produk ini tetap saja membelinya. Bahkan penggunanya cenderung meningkat.

Mau tahu produknya? Yap, betul sekali. Tidak lain dan tidak bukan produknya ialah ROKOK :lol:


Berdasarkan penelitian Komnas Perlindungan Anak tahun 2007 didapatkansekitar  91,7 persen anak usia 13-15 tahun mulai merokok.* Dan parahnya, hal ini terjadi karena mereka terpengaruh iklan rokok.



Dalam iklan digambarkan seorang perokok itu keren. Tercermin dari model yang ganteng, badan oke. Mampu melewati rintangan, bahkan bisa menjinakkan hewan liar. Ataupun dengan merokok jadi bisa asyik rame-rame.**

Sesuatu yang diulang-ulang secara otomatis akan terekam kuat dalam otak manusia. Sengaja ataupun tidak.

Ya, iklan rokok memang dahsyat. Bahkan menimbulkan multiple loyalties *istilah buatan saya sendiri*. Blunder loyalitas. Mulai dari petani, produsen, penjual hingga user.

Beberapa waktu yang lalu petani tembakau memprotes PP No. 109 tahun 2012 tentang pengamanan bahan yang mengandung zat adiktif berupa produk tembakau bagi kesehatan.

Mereka mengancam akan golput dan tidak mau membayar pajak. Menurut Kepala Dinas Perkebunan Jawa Tengah, Tegoeh Wynarno sikap petani ini dinilainya terlalu berlebihan. Karena PP Tembakau tidak akan merugikan petani karena hanya mengatur iklan dan sertifikasi produksi.***

Okelah jika dikatakan bersu’udzon, bisa dipastikan siapa yang menggerakkan para petani yang lugu-lugu ini? Yap, betul sekali. Pastinya produsen ikut andil didalamnya.

Selain petani dan produsen, penjual pun memiliki loyalitasnya yang tak kalah kuatnya. Menurut kabar di pasar yang sering saya dengar,  jika seorang pedagang besar ingin mendapatkan tempo dari pabrik rokok, ia harus menjaminkan sertifikat tanah senilai tertentu. Padahal tempo yang ia peroleh hanya 3 hari, maksimal 1 minggu.

Cerita tentang pedagang rokok kecil tentu beda dengan pedagang besar. Pedagang kecil harus membayar secara kontan bahkan kadang harus inden untuk membeli produk ini.

Produk inilah yang sering membuat suami saya gondok setengah mati ketika menggantikan salesnya yang tidak masuk dan hanya diberi senyuman serta ucapan,”Maaf, belum bisa setor dulu mas, belum ada uang” ee tak berapa lama ia mengeluarkan uang 5 juta untuk membayar rokok.

Analisi “sotoy” ini lah yang menyadarkan saya mengapa urusan rokok begitu komplek dan sulit dihentikan walaupun institusi agama tertinggi negeri ini *MUI* telah mengharamkannya.

.

.

Note;

Untuk para perokok dilarang gondog ya. Ini hanya analisa sotoy ala saya :lol:

Sumber:

*Pos kota

** Mengutip tag line iklan rokok.

*** Tempo.co

You Might Also Like

0 komentar