Mata Air Keberanian

19.43.00


Masih duduk terpaku ditempat semula. Segelas kopi yang Ira pesan sudah amblas sejak tadi. Kedatangan pelayan Café mengantarkan pesanan kopi kedua Ira sejenak menghentikan lamunannya. Ira sedang diliputi rasa bimbang.

Bimbang untuk melepas karier yang telah lima tahun ini ia jalani. Apalagi karena prestasinya ia akan dipromosikan menjadi kepala bagian.

Kemarin suaminya berbicara dengan nada pelan dan sangat hati-hati meminta Ira untuk resign dari pekerjaannya dan fokus untuk di rumah mengurus keluarga. Untuk kesibukan di rumah, suaminya mengusulkan untuk bisnis cateringan kecil-kecilan.

Sudah satu minggu Rian anaknya tergolek di rumah sakit, penyakit typusnya kambuh. Seperti biasa eyangnya yang sangat menyayanginya menunggui dengan sabar. Begitu kuatnya ikatan batin antara eyang dan Rian kadang keberadaan Ira tak ada artinya bagi Rian.

--oOo--


Kadang hidup memberi kita pilihan yang menjadikan kita bimbang untuk memilih. Antara berhenti dan terus, antara ya dan tidak. Semua pilihan terasa berat dan abu-abu.

Tidak semua orang dianugerahi orang-orang yang senantiasa mensupport langkahnya. Beberapa orang mendapatkan dukungan dari Ayah, Ibu ataupun pasangan mereka, orang yang senantiasa menyemangati dengan kata-kata yang positif. Komentar seperti, “Kamu pantas untuk sukses” atau komentar bahwa, “Kamu lebih pandai diantara yang lain”.

Namun tidak ada aturan yang menyebutkan bahwa orang yang tidak mendapat support dari orang-orang terdekat dan tidak dianugerahi talent takut untuk mengambil keputusan besar.

Bagi Anda penggemar sepak bola tentu tidak asing dengan Roman Abramovich. Pemilik klub sepak bola Chelsea ini besar tanpa dukungan orang tuanya. Pria kelahiran Saratov, Rusia, 24 Oktober 1966 ini sejak kecil sudah yatim piatu. Sang ibu, Irina Abramovich meninggal tatkala dia masih berusia satu tahun. Dua tahun kemudian sang ayah Arkady Abramovich juga berpulang akibat kecelakaan kerja.

Orang suksespun memiliki ketakutan mengalami kegagalan. Akan tetapi ketika ketakutan akan kegagalan itu muncul mereka akan mencari mata air kepercayaaan dirinya.

Belajar dari orang-orang sukses, kita mencoba membuat mata air keberanian dalam diri kita meskipun dimulai dari kubangan kecil. Bukan dengan rencana besar ataupun langkah raksasa. Buatlah sebuah “kemenangan kecil”.

Untuk memulainya, buatlah tujuan yang realistis. Tujuan yang pasti dapat kita capai, raihlah tujuan itu kemudian nikmati keberhasilannya. Selanjutnya, buatlah tujuan yang lebih besar lagi, lebih menantang dan sedikit keluar dari zona nyaman. Ketika kita bisa beraihnya, nikmati kesuksesan itu. Sekecil apapun nikmatilah, hargai keberhasilan kita.

Lakukan demikian hingga secara perlahan namun stabil, keberanian dan kepercayaan diri kita selangkah demi selangkah terbentuk.

Namun ketika kemenangan kecil berubah menjadi kekalahan kecil, jangan kemudian menjadi takut. Pergilah ke mata air kepercayaan diri kita dan  berusahalah mengerti apa yang salah, buat tujuan baru dan mulai lagi.

Seiring berjalannya waktu, tujuan kita akan semakin besar dan besar. Sementara ketakutan akan kegagalan akan semakin kecil dan mengecil.

You Might Also Like

0 komentar