Kuliner Kaki Lima: Sate Laler

sate laler_1

Nggak terasa sudah dipenghujung bulan Februari. Pas tanggal 29 ini hukumnya wajib bikin postingan soalnya baru 4 tahun lagi bisa nemu tanggal 29 :P Pas lihat-lihat postingan di bulan Februari ini kok ya sebagian besar ngulas kuliner. Padahal postingan kali ini saya juga pengen ngomongin kuliner juga. Salah satu kuliner yang ada di pasar Beringharjo.


Orang-orang yang datang ke Jogja dan berbelanja baju batik di pasar Beringharjo pasti nggak afdol kalau nggak mencicipi pecel yang dijajakan di depan pasar. Ada satu kuliner yang seringkali luput dari pengamatan pengunjung. Padahal kuliner ini kini mulai punah. Mulai susah dicari. Namanya, sate laler (lalat). What'?!!! Sate dari lalat gitu maksudnya?


Bukan... sate ini bahan dasarnya bukan lalat tetapi dari lemak yang dalam bahasa Jawa disebut Gajih. Konon katanya, ukurannya yang kecil-kecil yang menyebabkan ini disebut sate laler. Tapi... kemarin yang saya beli kok potongannya gedhe-gedhe ya. Ah.. sudahlah, apa arti sebuah namya yang penting enyak dan langsung lep. :D




[caption id="" align="aligncenter" width="400"] Penampakan sate Laler[/caption]

Sate ini juga memiliki nama lain yakni sate koyor. Nah, kalau ini memang mendekati penampakan satenya. Jadi gajih yang sudah dibumbui dan dibakar teksturnya koyor-koyor (duh, susah mencari padanan kata dalam bahasa Indonesia). Cara menyantapnya berbeda dengan sate pada umumnya. Sate laler harus makan selagi panas karena kalau menunggu dingin akan jadi ngendal gajih, beku keras.


Sate Laler memiliki cita rasa gurih bercampur legit yang berasal dari bumbu gula merah, bawang merah, dan bawang putih. Tekstur gajih yang kenyal dan berminyak menimbulkan sensasi di mulut. Si sate akan langsung lumer di mulut. Ada kepuasan tersendiri saat menikmati kuliner satu ini. Sate Laler biasa disajikan dengan lontong. Dengan harga 2.000 per tusuknya, makanan ini tergolong murah. Nggak heran jika sate ini juga disebut sate kere.


Sayangnya, sate laler kini makin berkurang peminatnya karena alasan menyebabkan kolesterol tinggi hingga ketakutan akan kegemukan. Tapi, untuk sebagian orang sate gajih tetap merupakan makanan favorit. Buat yang penasaran dengan sate Laler ini, bisa dijumpai di area selatan pasar Beringharjo. Tak apalah sesekali menyantap yang berlemak :D


Menghabiskan Malam di Angkringan

angkringan1


Awal saya pulang kampung dan menetap di Jogja lagi saya sedikit heran dengan maraknya bisnis angkringan di Jogja. Angkringan yang dulunya merupakan tempat makan andalan mereka dengan strata menengah ke bawah ini makin menjamur saja. Yang lebih mengherankan, bukan saja sepeda dan motor butut yang ada di parkiran angkringan. Kini mobil-mobil mewah pun ada di parkiran angkringan. Hah? Angkringan naik pangkat! Weleh.. weleh.. bener-bener wolak walik e jaman *roaming :D


Usut punya usut, ternyata angkringan jadi jujugkan berbagai kalangan untuk menghabiskan malam karena daya tarik WIFI gratisnya. Bahkan ada juga angkringan yang menyediakan tv proyektor di moment-moment tertentu untuk nobar. Magnet wifi gratis membuat angkringan di beberapa titik selalu penuh. Terutama angkringan yang berada tak jauh dari kawasan kampus dan kos-kosan.


Fenomena ini wajar adanya, karena konon katanya Jogja termasuk daerah yang "boros" kuota internet. Berapapun kuota yang disediakan selalu habis. Rumor ini saya dapat saat mengikuti launching jaringan 4G dari salah satu operator seluler beberapa waktu lalu. Dan, salah satu penggunanya adalah mahasiswa yang belajar di kota gudeg ini.


Angkringan5


Keberadaan angkringan ini juga bisa menjadi alternatif menghabiskan malam buat wisatawan yang berkunjung ke Jogja. Dari pantauan saya, berikut beberapa angkringan yang sayang untuk dilewatkan saat ke Jogja:




  • Angkringan Pak Jabrik. Angkringan ini lebih dikenal dengan sebutan angkringan KR. Bertempat di salah satu teras Harian Kedaulatan Rakyat, angkringan ini tak pernah sepi pengunjung. Bahkan akan semakin membludak saat weeken tiba. Menu andalan angkringan ini relative sama dengan angkringan lain, yakni nasi kucing dengan aneka lauk seperti sambal teri, oseng tempe, oseng ati, oseng jamur, mercon jamur, sambal tomat, dll.

  • Angkringan Lek Man. Angkringan yang satu ini terkenal dengan minuman spesialnya berupa Kopi Jos yang ditempatkan dalam segelas kopi disajikan panas dengan diberi arang yang masih menyala. Kopi campur arang yang menyala pastinya unik dan menarik. Lek Man adalah putra dari Mbah Pairo yang konon kabarnya merupakan salah satu pedagang angkringan pertama di Jogja yang telah berjualan sejak tahun 1950-an. Selain karena kelegendarisannya, Angkringan Lek Man tak pernah sepi pengunjung karena berada tak jauh dari stasiun Tugu.

  • Angkringan Bonbin. Sesuai namanya, angkringan Bonbin terletak tak jauh dari kebun binatang Gembira Loka. Daya tarik angkringan ini karena nasi kucingnya selalu hangat pas banget disandingkan dengan teh panas maupun kopi panas.

  • Le Waroenk. Nama boleh kebarat-baratan tapi nuansa tetap lokal. Angkringan gaya baru ini terletak di Jl. Cik Di Tiro, Jogja. Tak seperti angkringan pada umumnya, Le Waroenk mengkombinasikan karakteristik angkringan dan tempat nongkrong a la cafe dengan tidak meninggalkan benda ikoniknya berupa angkringan. Untuk urusan menu angkringan ini juga lebih variatif ketimbang angkringan lain. Selain nasi kucing dengan topping sambel teri dan oseng tempe, Le Waroenk juga menyajikan  Nasi Rendang Tempe dan Nasi Sapi Lada Hitam yang dibungkus a la nasi kucing.


Nah, itu tadi beberapa rekomendasi angkringan versi saya. Kamu punya angkringan favorit juga? Yuk, share dimari ya :)

Kulineran Khas Ndeso di Sego Simbok

sego simbok2

Menempati bangunan kuno dengan pintu dan jendela besar khas bangunan Belanda, memasuki resto yang satu ini akan terasa sejuk dan asri. Resto Sego Simbok sejatinya saya lewati hampir setiap akhir pekan saat mengantar anak-anak les Matematika di daerah Universitas Gajah Mada. Tapi baru minggu lalu, saya kunjungi bersama keluarga.


Awalnya saya tidak menyadari keberadaan resto ini sampai seorang sahabat merekomendasikan resto ini saat saya bertanya padanya, resto-resto apa saja yang berada di pusat kota dengan harga yang terjangkau kantong plus memiliki ruang pertemuan yang nyaman. Benar saja, karena resto ini memiliki kriteria yang saya sebutkan, akhirnya Sego Simbok pun menjadi resto yang digunakan untuk #arisanilmu bulan Februari lalu.




[caption id="attachment_16844" align="aligncenter" width="650"]Beberapa kudapan yang bisa dipilih Beberapa kudapan yang bisa dipilih[/caption]

Resto yang berada diruas Jl. Jend. Sudirman Jogja ini menawarkan sajian khas ndeso. Cara penyajiannya cukup unik. Peralatan makan yang digunakan bukan piring yang terbuat dari beling, melainkan menggunakan daun pisang. Hmm.. tentunya ini menambah cita rasa masakan yang disajikan.


Menu nasi yang bisa dipilih diantaranya sego oseng tempe, sego sambel teri dan sego khas sego simbok. Nasi di resto ini juara, teksturnya pulen dan pas di lidah. Jika ingin menambah lauk dan sayuran, resto Sego Simbok juga menyediakan aneka lauk dan sayuran yang disajikan di atas tungku yang berderet di samping meja kasir. Salah satu sayur yang langsung membuat saya berbinar-binar adalah semur jengkol sodara! Sebagai pecinta jengkol, saya nggak mungkin luput mengambil si jengkol ini. Hahaha..


Minuman yang ditawarkan juga cukup beragam, mulai dari teh dan jeruk es/panas, lemon tea, wedang jahe, wedang secang, beras kencur dan kunir asem, serta masih banyak lagi. Camilan yang bisa dipilih juga banyak, mulai dari pisang goreng, bakwan, tempe mendoan, pastel dan rosiles.


Lalu, bagaimana dengan harga yang dibanderol? Tenang, untuk sego sambel teri dan oseng tempe dibanderol 3.000 saja. Sementara untuk sego khas sego simbok dibanderol lebih mahal karena isiannya lebih komplit. Untuk camilan dan minumannya dibandrol aman buat kantong juga kok. Pokoknya, selepas makan di resto Sego Simbok, perut kenyang kantong aman :D


***


Sego Simbok


Jl. Jend. Sudirman (200 meter barat perempatan Jl. Cik Di Tiro-Jl. Jend. Sudirman), Jogja


Buka pukul: 10.00 – 23.00 WIB

Mendadak Seleb!

http://2.bp.blogspot.com/-zZkePgsJ7TQ/VmthlyJvRHI/AAAAAAAAAEw/FZ9wwXntP8o/s1600/niche-blog-untuk-wanita.jpg


Bulan Februari lalu, blog ini dan saya sebagai pemiliknya ramai diperbincangkan sekitar dua puluhan blogger. Bukan.. bukan karena menang lomba apalah. Bukan juga karena blog ini masuk dalam deretan blogger nge-hits sejagat maya. :D Blog ini jadi perbincangan karena keluar sebagai blog yang akan diulas di #arisanblog yang diselenggarakan oleh blogger-blogger yang tergabung dalam Kumpulan Emak Blogger yang berdomisili di Jogja.


Ceritanya, emak-emak blogger Jogja ingin mengaplikasikan ilmu yang didapat dari #arisanilmu bulan Januari lalu tentang optimasi SEO. Dari ilmu yang disampaikan mak Carra di #arisanilmu itu, disebutkan bahwa backlink yang didapat dari blog di luar blog tersebut akan menaikkan DA dan PA blog. Nah, dari sanalah munculah ide untuk mengadakan #arisanblog. Jadi, nama blog yang akan di review akan dikocok setiap bulan oleh anggota yang mengikuti #arisanblog. Sayangnya, dengan berbagai alasan tidak semua emak blogger Jogja bisa ikut andil dalam #arisanblog ini. Tapi lumayanlah, 24 emak yang ikut serta berarti pas 1 tahun #arisanblog berakhir.


Saya mendadak merasa menjadi seleb karena beberapa emak menyodorkan list pertanyaan yang harus saya jawab. Semacam wawancara gitu, deh. Sebagian pertanyaan yang saya terima terkait hobi food photography yang saya tekuni akhir-akhir ini. Mulai dari apa alasan saya memilih food photography, bukan fotografi jenis lain seperti landscape ataupun portrait, hingga pertanyaan teknis seputar foto makanan seperti lensa kamera apa yang saya gunakan untuk memotret, juga bagaimana mensetting kamera SLR. Alhamdulillah, semua pertanyaan berhasil saya jawab dengan mudah.


Beberapa tulisan yang dibuat emak-emak blogger yang mereview blog ini dan saya secara pribadi membuat saya tersenyum karena cerita lucu awal pertemuan saya dengan blogger yang bersangkutan ataupun cerita kekonyolan yang pernah kami lalui. Ada juga postingan yang mebuat saya terharu dengan cerita persahabatan di dunia maya yang saya jalani dengan blogger tersebut. Wis, pokok e campur aduklah saat bacanya.


Nah, pastinya penasaran dong apakah blog saya benar-benar bisa naik Page Autority-nya setelah di review. Jawabannya, iya! Beneran naik dan ini bikin saya jadi jingkrak-jingkrak. Blog ini lama saya tinggalkan karena mulai bosan dengan aktivitas nge-blog hingga PA terjun bebas. Alhamdulillah dengan adanya #arisanblog, PA blog ini mulai terkatrol kembali. Sekarang saya jadi tambah semangat nge-blognya.


Happy Monday, kawan! Yuk, ah semangat ngeblog :D

Segarnya Manisan Carica Khas Dieng Wonosobo

carica

Siapa yang tak kenal sedapnya manisan Carica. Manisan Carica yang banyak ditemukan di daerah Wonosobo ini terbuat dari buah Karika, pepaya gunung atau karika (sering ditulis carica, Vasconcellea cundinamarcensis) yang merupakan kerabat pepaya yang tumbuh di dataran tinggi basah, 1.500–3.000 m di atas permukaan laut.


Tanaman ini memiliki nama yang berbeda ditiap daerah. Di wilayah Wonosobo tanaman ini biasa disebut Carica, sementara di Bali tanaman ini disebut Gedang Memedi. Karika sebetulnya bukan buah asli Indonesia, melainkan berasal dari dataran tinggi Andes, Amerika Selatan yang dibawa oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda saat Perang Dunia ke II.


Meski memiliki bentuk buah yang mirip dengan buah pepaya, Carica memiliki rasa yang asam serta memiliki getah yang cukup banyak sehingga harus dicuci minimal sebanyak tiga kali terlebih sebelum dikonsumsi maupun diolah. Buah Carica lebih sering diolah menjadi manisan Carica sebagai oleh-oleh khas Wonosobo.


Selain nikmat dikonsumsi sebagai minuman, buah Carica juga memiliki beberapa manfaat bagi tubuh, diantaranya;




  • Melancarkan pencernaan. Buah Carica yang mengandung Vitamin C dan serat yang tinggi yang memiliki khasiat untuk melancarkan pencernaan dalam tubuh. Konon kabarnya, warga Wonosobo memakan buah ini secara mentah dengan rutin sebagai asupan untuk melancarkan pencernaan mereka. Tak hanya dapat melancarkan pencernaan, kandungan papain dalam buah carica juga dapat berguna untuk menetralkan pH dan membunuh bakteri jahat dalam usus.

  • Menyehatkan mata. Buah Carica juga dapat menyehatkan mata karena mengandung Vitamin A. Banyak yang berpikir kalau Vitamin A hanya ada dalam wortel bukan? Buah Carica dapat menjadi asupan lain untuk menggantikan wortel agar mata tetap sehat. Khususnya bagi anda yang tidak menyenangi sayuran wortel.

  • Membantu metabolisme tubuh. Buah Carica juga memiliki khasiat melancarkan metabolisme dalam tubuh karena kaya akan nutrisi, serat, Vitamin, juga Kalsium yang membantu tubuh untuk selalu prima dan terhindar dari virus juga bakteri. Khususnya karena keberadaan Vitamin B Kompleks yang ada didalamnya. Selain itu, kandungan zat agrinin dalam buah Carica dapat menghambat tumbuhnya sel kanker dalam tubuh.

  • Menjadi kosmetik dan skin care. Tidak hanya nikmat dikonsumsi, buah Carica juga dapat dijadikan sebagai bahan kosmetik dan skin care karena senyawa didalamnya dapat membentuk kolagen dalam tubuh. Kolagen yang dihasilkan dapat membuat kulit menjadi mulus dan terhindar dari penuaan dini seperti menghindari kerutan pada wajah maupun tubuh. Mengkonsumsi secara rutin pastinya akan berefek besar pada kulit.

Avocado Sauce

Hello Monday...


Senin selalu menjadi hari sibuk, termasuk buat IRT plus plus seperti saya. Nggak sesibuk mereka yang bekerja dikantor sih. Saya sibuk ngoprek-oprek anak-anak buat siap-siap sekolah. Dan ini yang sering kali butuh kesabaran lebih! Huft..


Setelah sabtu dan minggu libur, biasanya anak-anak suka males-malesan kalau disuruh mandi dan siap-siap ke sekolah. Resiko sekolah yang menerapkan libur sabtu dan minggu itu gini. Kelamaan liburnya.


Ngomongin aktivitas apa untuk mengisi akhir pekan lalu, saya dan keluarga nggak kemana-mana. Hari sabtu saya bereksperimen di dapur dengan membuat saus alpokat. Bikin saus ini karena tema #52WFPP minggu lalu adalah saus. Coba bikin saus yang berbeda karena saus tomat ataupun saus sambal sudah terlalu mainstream :D


Awalnya saya mau membuat Guacamole, saus cocol kental berbahan utama alpukat yang berasal dari Meksiko. Di tempat asalnya, guacamole dibuat dengan molcajete yang mirip cobek dan ulekan. Tapi pas lihat bumbunya, jadi nggak sreg di hati. Kalau dilihat dari bumbu yang diperlukan, si Guacamole memiliki rasa gurih yang dominan. Takut nggak ada yang mau makan selain saya, akhirnya saya pilih saus alpokat untuk topping salad yang memiliki rasa manis dan segar.


Ngulik dari google cari-cari saus alpokat untuk salad yang pas dihati, saya nemu resepnya di web sajian sedap. Bikinnya gampang, bahan-bahannya pun mudah didapat. Kemarin sempet saya pakai buat saos burger ternyata rasanya juga yummy... Oya, untuk resep ini saya mengganti air perasan sunkis dengan yogurt karena kebetulan nggak ada sunkis di rumah.


Beberapa hal yang perlu diperhatikan saat membuat saus avocado diantaranya, pilih alpokat yang berdaging tebal dan benar-benar matang. Untuk mengetahui kematangan buah alpokat yaitu dengan mengocok-ocok buahnya. Jika berbunyi (karena bijinya terlepas dari dagingnya), tandanya alpukat sudah matang.


sauce avocado


Bahan Saus:
50 ml minyak zaitun
100 ml air jeruk sunkis (saya pakai yogurt)
2 sendok makan air jeruk lemon
1/4 sendok teh garam
1 sendok makan gula pasir


Cara membuat:




  1. Saus, aduk rata minyak zaitun, air jeruk sunkis, air jeruk lemon, garam, dan gula pasir.

  2. Tata letus, paprika merah, avokad, jeruk bali, dan jagung manis pipil dalam mangkuk. Siramkan saus. Sajikan.

Do Your Best


Spageti Lokal resto


Trying hard is not about being the best, but it's about doing your best ~ Tika Nilmada



Sudah hampir 2 tahun saya mengenal fotografi makanan. Dari yang awalnya hanya untuk mempercantik blog dengan foto-foto indah, sampai akhirnya saya benar-benar jatuh cinta dengan food photography. Awalnya saya menggunakan kamera mirrorless merk Samsung selama hampir satu tahun.


Selama menggunakan kamera mirrorles tersebut, sayangnya mode yang saya gunakan hanya mode auto. Waktu itu saya bener-benar buta tentang kamera. Eforia bisa memotret menggunakan kamera dengan hasil yang luar biasa (menurut saya waktu itu) melupakan saya untuk mempelajari apa saja isi kamera yang saya gunakan.


Entah mulai kapan saya berkeinginan kuat untuk memiliki kamera SLR. Yang jelas, waktu itu saya beranggapan, memotret menggunakan SLR lebih keren hasilnya dibandingkan menggunakan kamera mirrorless. Selain itu, kendala lainnya yakni harga lensa kamera mirrorless yang sangat mahal. Waktu itu, harga lensa makronya harganya dua kali harga kamera yang saya miliki. Padahal sekarang kembali menggunakan kamera mirrorless lagi :D


Menggunakan kamera SLR ternyata lebih rumit ketimbang kamera mirrorless. Banyak tombol-tombol yang harus diketahuo fungsinya. Saya sempat mutus asa dan memutuskan untuk berhenti memotret karena kualitas foto yang saya hasilkan sama saja dengan saat saya menggunakan kamera mirrorless. Selama hampir satu bulan saya sempat tak mau menggunakan kamera SLR karena hal tersebut.


Lama kamera dianggurkan karena masalah ketidakmampuan saya memahami kamera yang saya gunakan, suami memotivasi saya untuk belajar dan bertanya pada orang-orang yang telah menggunakan SLR. Waktu demi waktu berjalan, saya belajar kamera secara mandiri dengan membaca berbagai ulasa menggenai kamera SLR. Apa sih shutter speed, ISO dan Aperture dan lain sebagainya, hingga suatu ketika saya menemukan sebait kalimat indah di IG-nya Tika Nilmada yang menjadi penyulut semangat saya untuk tak berhenti belajar dengan usaha yang terbaik yang saya miliki.


Yap, trying hard is not about being the best, but it's about doing your best! Dan, saya percaya, belajar untuk menjadi yang terbaik akan membuat kita menjadi yang terbaik. Entah itu hasil dari seribu kali memotret. Maka, saya pun semakin semangat mengasah ilmu fotografi walaupun sampai saat ini foto-foto yang saya hasilkan belum bisa disebut yang terbaik.

Belajar Domain Authority di #Arisanilmu Jogja

Saya termasuk emak yang kudet. Nggak pernah ngecek DA ataupun PA yang sekarang lagi happening jadi pembicaraan blogger. Baru sadar dengan kedua makhluk tadi setelah sebuah brand tanya berapa DA dan PA saya. Alhamdulillahnya sesuai dengan batas minimum yang brand tersebut tetapkan.


Tapi.. ngomong-ngomong DA dan PA itu konon katanya bisa naik turun tergantung banyak hal. Jadi harus dikelola sebaik mungkin. Nah, ini dia yang bikin saya bingung. Nggak ngerti sama sekali gimana ngelolanya. Alhamdulillah, bulan Januari lalu saya masih dipercaya menjadi arranger #arisanilmu KEB Jogja. DA dan PA pun menjadi tema yang diusung dengan pembicara Carrolina Ratri.


Bertempat di Alive Fussion Dinning Jl Timoho, acara berlangsung cukup meriah. Peserta membludak. Kursi yang sedianya saya siapkan buat 20 orang nggak cukup. Selain ada tambahan beberapa anggota baru KEB Jogja, juga karena tema yang diusung sangat menarik. Anggota emak-emak blogger Jogja yang sudah lama eksis semua hadir. Termasuk dua bumil yang sudah mendekali HPL.


Berhubung saya jadi seksi sibuk di acara ini, saya nggak sempet nyatet. Jadi maaf kalau beberapa hal tidak ada penjelasannya. Tapi jangan khawatir, untuk yang tidak ada penjelasannya mudah dipahami kok.




Apa sih sebenernya Domain Authority itu?


Domain Authority (DA) adalah standar atau barometer dari tingkat kepercayaan Google terhadap situs atau blog. DA sangat dipengaruhi 3 hal, yakni usia domain, popularitas blog dan jumlah artikel yang di publish.


Trus, gimana cara meningkatkan DA?




7 Cara Meningkatkan DA:



  1. Tingkatkan SEO
    -Gunakan keyword dengan smart dalam url, judul, paragraf pertama dan kategori. Jadi, harus pinter-pinter pilih keyword.
    -Permalink blog
    -Mobile friendly. Ini terkait dengan desain blog. Blognya harus di desain mobile friendly.
    -Navigasi yang baik.
    -Optimasi gambar.
    -Panjang tulisan 800 kata, 1000 kata lebih baik. Makin panjang makin baik.

  2. Buat konten yang menarik (berkualitas).
    Begitu menariknya sampai semua orang share atau menautkannya (viral). How?
    - Jadilah trend-rider
    - Buat tulisan yang kontroversial. Ingat pepatah, kalau ingin terkenal kencingi sumur zam-zam. Sayangnya tulisan kontroversial tidak bisa bertahan lama. Jadi pilihannya tetap buatlah tulisan yang berkualitas.
    - Visually attractive. Lengkapi tulisan dengan foto, infographic dan video yang menarik.

  3. Internal - linking

  4. Cek broken links dan backlink di www.brokenlinkcheck.com dan www.backlinkwatch.com. Seimbangkan antara link yang masuk blog dan link yang keluar.

  5. Tambahkan backlink berkualitas melalui blogwalking dan komentar. Manfaatkan juga social media untuk share artikel.

  6. Mengurangi high bounce rate. Untuk mengetahuinya bisa di check di Google Analytics

  7. BERSABARLAH!


 

Mencicipi Sate Klatak Pak Pong Imogiri

sate-klathak-pak-pong


Sate Klatak pak Pong ini sejatinya sudah melegenda. Pun sudah banyak yang mengulasnya. Sayangnya baru beberapa minggu lalu saya akhirnya mencicipinya. Saya kurang suka daging-dagingan. Selain itu, saya paling malas kulineran di malam hari. Setelah seharian disibukkan dengan aktivitas rumah tangga dan mengurus toko, ba'da maghrib badan rasanya sudah minta diistirahatkan.


Beberapa minggu lalu, saudara dari Malang datang menginap di rumah. Nah, karena merekalah akhirnya saya menyambangi sate Klathak Pak Pon. Ceritanya mereka minta diantar wiskul yang berada tak jauh dari rumah saya. Sate Klathak yang mereka pilih. Demi menjamu tamu secara paripurna, ba'da maghrib yang biasanya saya gunakan buat leyeh-leyeh saya ikhlaskan untuk mengantar mereka.


Pas sampai lokasi, saya surprise lihat antrian pengunjungnya. Ternyata ruame banget. Nggak mau menunggu terlalu lama, saya pun langsung memesan 4 porsi sate klathak, 1 porsi tongseng untuk tamu saya dan 1 porsi nasi goreng kambing untuk suami. Sementara saya, cukup jeruk panas.


Malam itu, kami memilih tempat duduk yang strategis. Berada persis di pinggir sawah. Bisa mendengar suara kung kodok dari katak yang bersahut-sahutan. Samar-samar terdengar jangkrik yang mengerik. Sementara yang lain menikmati hidangannya, saya menikmati suasananya.


Dari beberapa menu yang dipesan, saya mencicipi semuanya. Iya, semuanya saya cicipi. Katanya nggak doyan, kok nyicip. Wekeke.. Penasaran aja kayak apa rasanya. Paling ngeri-ngeri sedap pas coba sate klatahaknya. Makan pakai tusuk jeruji roda motor itu jadi terbayang gathot kaca, otot kawat tulang besi. Nggak nyambung ya, Qiqiqi..


Buat lidahku, yang paling enak itu nasi gorengnya. Bumbunya pas, daging kambingnya juga empuk. Kalau tongsengnya juga lumayan. Buat yang nggak suka masakan manis, tongseng pak Pong manisnya nggak menggigit kok. Sedang-sedang saja. Sementara untuk sate Klataknya sendiri, buat saya sih terasa kurang. Mungkin karena bumbunya hanya garam dan merica. Tapi itu bisa disiasati dengan menyiram sate dengan kuah tongseng ataupun kuah gulai.


***


Sate Klathak Pak Pong


Jl Stadion Sultan Agung (Jalan Imogiri Timur Km 7, Wonokromo), Bantul, DIY

Demam Sepeda BMX

Semester dua ini saya dan suami sepakat membelikan anak-anak sepeda. Kami menganggap anak-anak sudah waktunya belajar mandiri. Saya juga ingin mengajarkan tanggungjawab pada Fathiin untuk menjaga adiknya yang masih kelas 1 SD.


Hari yang ditunggu pun tiba. Anak-anak diajak bapaknya ke toko sepeda untuk memilih sepeda yang mereka inginkan. Dari rumah saya sudah berpesan untuk membeli sepeda lipat saja supaya bisa dimasukkan mobil saat bepergian. Ternyata adik bersikeras memilih sepeda BMX yang bikin emaknya galau karena over budget. Harganya melebihi dana yang kami siapkan. Hiks. Beberapa kali negosiasi, si adek tetep kukuh pengen beli sepeda BMX. Akhirnya menyerah. Si BMX diangkut juga ke mobil.


Dasar emaknya nggak gahol. Sepeda BMX sekarang nge-hit lagi karena ada sinetronnya. Saya dan keluarga sebenernya jarang banget nonton tv. Tapi ya namanya anak-anak, biarpun mereka jarang nonton tv karena temen mainnya sering cerita tentang sinetron ini dengan berbagai akrobatik yang dilakukan pemainnya,  otomatis si bocah tertarik juga. Dan ternyata semua anak kampung yang sebaya anak-anak saya mempunyai sepeda jenis BMX. Bahkan di lapangan belakang rumah, ada lintasan yang dipakai buat beraksi para BMX lover. Pantes setiap sore lapangan rame bener.


Sepeda BMX


Imbas dari demam sepeda BMX ini, sepeda BMX hadiah dari sebuah produk biskuit ternama yang sudah lama teronggok tak terurus di gudang difungsikan lagi sama anak-anak. Sepeda yang tak terurus tadi mereka bersihkan. Setelahnya, sepeda mereka warnai menggunakan piloks. Setelah di cat si sepeda jadi lumayan terlihat bagus. Nggak terlihat lagi buluknya :D